Hidup ibarat sebuah buku, Tuhan yang menyediakan pena yang kita sebut sebagai takdir, tapi kita lah penulisnya yang disebut dengan nasib. Semua orang memiliki jalan dan takdir masing-masing.Takdir selalu memiliki jalannya, entah berakhir tawa atau berderai air mata. Baik tawa atau pun air mata, sudah dilalui oleh Felix dan Hazel, hingga akhirnya mereka bisa bersatu kembali. Felix yang begitu mencintai Hazel memilih pergi menjauh dari kehidupan wanita itu, karena merasa takdir telah mempermainkan mereka. Ia pergi menghilang, bertaruh dengan takdir dengan judul jodoh tak akan kemana. Bukankah sejatinya hidup itu adalah sebuah penantian? Maka di dalam kesepian dan kesunyiannya, Felix memilih menunggu. Menunggu untuk takdir kembali mempertemukannya dengan hidupnya, Hazel. Takdir telah menghu

