Misalnya ... Aku Cinta Kamu

1177 Kata
Telinga Sarah berdenging karena pekikan teman-temannya. Dirinya sendiri malu setengah mati. Ia tak menyangka kalau Morgan akan bisa mengombal seperti itu. Kalau seperti ini Sarah akan mendapatkan gangguan dengan jantungnya. “Kalian dengar, kan?!” Pekikan pertanyaan dari teman sebangku Sarah terdengar kembali. Ia menguncang-guncang bahu Sarah hingga ia merasa sangat pusing. “Sudah, Tri!” mohon Sarah pelan. Ia merasa pusing dan ingin muntah sekarang. Ia tidak bisa menyalahkan Morgan kali ini. Sarahlah yang berinisiatif mengeraskan suara panggilan. Ia benar-benar tak menyangka Morgan akan mengucapkan perkataan yang menjadi boomerang untuknya. Jantungnya benar-benar tidak aman. “Misalnya … aku mencintamu.” Sarah memejamkan mata segera. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Teman-temannya masih berisik di sekeliling mengoda. Ia bersalah, sangat salah. “BERISIK!” Sarah terlonjak beberapa centimeter dari kursinya. Segera Sarah menoleh ke belakang pada Gema yang menatap tajam ke arah mereka. Ia menelan ludah susah payah. Suasana hati Gema memburuk lagi. Sudah seperti itu sejak kemarin, hingga Sarah jadi heran sendiri. Saat Gema keluar dari kelas, Sarah mengikuti dari belakang. Tri teman sebangku Sarah sempat mencegah. Namun, ia merasa harus menyusul dan menanyakan pada teman dari kecilnya apa yang terjadi. Tak mungkin suasana hati Gema memburuk tanpa alasan. Sepanjang pertemanan mereka, ia tahu Gema orang yang penyabar. Ia melihat Gema pergi ke belakang sekolah. Ada beberapa tempat duduk memang di taman belakang. Sarah sesekali juga pergi ke sana saat akan ulangan dan butuh ketenangan menghapal pelajaran. Di sana tidak ada yang akan datang dan membuat keributan. Tempat yang sangat cocok untuk menenangkan diri dan bersembunyi. Sarah melihat Gema tidur terlentang di bangku panjang yang terbuat dari besi. Bangku yang terletak di bawah pohon mangga tersebut memang cocok untuk tempat tidur siang. Lamat-lamat Sarah mendekat. Ia tidak mau Gema kaget dan kemudian menghindar. Di luar dugaannya, Gema tahu kedatangan Sarah. Begitu Sarah cukup dekat dalam jangkauannya, pemuda itu bangun dari posisi tidur dan duduk tegap. Matanya tak berkedip menatap Sarah. “Aku tidak tahu kamu sebenarnya punya masalah apa,” kata Sarah. Tanpa ragu ia duduk di samping Gema, menyandarkan punggungnya dengan nyaman di sandaran kursi. Gema tak menyahut di sampingnya untuk waktu lama. Sarah juga tidak lagi mengatakan apa-apa. Jika Gema butuh waktu untuk membicarakan masalahnya, ia akan memberikan sebanyak yang diperlukan. Mereka bersahabat sejak kecil, sedikit tambahan waktu tak berarti apa-apa. “Aku suka padamu.” Sarah tersenyum dan menoleh. “Aku juga suka padamu. Kalau tidak, mana mungkin aku berteman dengan patung sepertimu.” Gema terlihat kembali kesal. Tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih. Ia berdiri dan mondar-mandir di depan Sarah. “Bukan seperti itu!” tegasnya. Gema manatap Sarah hampir tidak berkedip. Ia lalu memalingkan wajah gusar setelah beberapa saat. “Kenapa harus Morgan?” tanyanya dengan suara lirih. Sarah berusaha menahan senyumannya. Ia mengerti masalahnya sekarang. “Kamu takut aku akan lupa jika punya teman sepertimu, kan?” Lalu ia tertawa. Ia tak menyangka Gema merajuk dengan alasan yang terkesan kekanak-kanakan. “Aku akan mengatakan pada Morgan, dia pasti akan mengerti.” Sarah berkata dengan yakin. “Aku yang tidak mengerti! Kenapa kamu harus pacaran dengan Morgan!” Gema berteriak frustrasi dan meninggalkan Sarah begitu saja. “Kenapa aku pacaran dengan Morgan? Tentu karena aku suka padanya,” gumam Sarah pelan. Ia berjalan mengikuti gema. Lalu di dalam pikirannya mengema perkataan Morgan tadi dan kembali Sarah merasa sangat malu. Ia sudah melakukan kesalahan, kesalahan besar. *** Morgan memang tercipta untuk membuat mata orang lain memandangnya kagum. Kulit putih, hidung mancung, rahang yang kokoh, tinggi sempurna, apapun yang dikenakan terkesan sangat cocok seolah-olah pakaian tersebut dibuat memang untuknya. Ia sempurna sehingga semua gadis berhenti selama beberapa saat untuk menikmati keindahan dan terpekik tertahan sebelum melarikan diri karena Morgan menoleh. Hal ini yang sudah Morgan lakukan sedari tadi, berdiri sambil menyadarkan bokongnya ke jok motor dan memperhatikan setiap siswi yang keluar dari gerbang sekolah. Mungkin saja di antara gerombolan tersebut ada Sarah. Ketika pada akhirnya menangkap visual Sarah. Ia juga menemukan Gema yang berjalan dengan langkah lambat dan panjang di belakang kekasihnya. Morgan menahan senyuman melihat Sarah yang berlari kecil mendekatinya. “Kamu terlambat,” katanya sambil menyerahkan helm. “Ini kencan kedua kita hari ini. Oh, jangan biarkan teman-temanmu ikut serta kali ini. Oke?” Wajah Sarah langsung memerah. Ia pasti ingat kembali kejadian memalukan di mana Morgan mengatakan kalau mencintainya di telepon saat jam dua belas siang tadi. “Jangan mengodaku,” ingat Sarah. Ia berdehem sedikit sebelum mengatakan ini. Jika tidak ingat siapa Sarah, Morgan tentu sudah memeluk gadis itu saat ini juga. Selain lucu Sarah juga sangat mengemaskan. “Ah … penjagamu boleh pulang. Katakan padanya aku akan mengatarmu sampai selamat di rumah,” tambah Morgan sambil melirik Gema yang belum juga beranjak dari belakang Sarah dari tadi. Gema memalingkan wajah dan berlalu. Sarah hanya menatap punggung Gema yang menjauh menyeberangi jalan. “Kenapa wajahmu jadi tidak enak seperti itu?” tanya Morgan penasaran. Ia jadi ikut-ikutan memandang punggung Gema yang menjauh dan menyipitkan mata ketika pemuda itu berbalik menghadap ke arah mereka. “Dia membuat masalah denganmu?” duga Morgan. “Tidak.” Sarah menjawab dengan cepat. Ia menepuk tangan Morgan untuk menarik perhatian pemuda itu. “Aku bahkan tidak tahu apa yang dipikirkannya.” Sarah mengerucutkan bibirnya sambil mengernyit memohon pengertian. Morgan mengangkat tangannya, menyentuh bibir Sarah sedikit supaya tak berekspresi seperti itu. Gadis itu jadi semakin mengemaskan sekarang. Ia bukannya tak bisa menebak apa yang membuat Gema tidak senang terhadapnya. Sikap teman Sarah yang dijulukinya penjaga sangat terbaca jelas. Bahkan orang yang tidak tahu hubungan Sarah dan Gema akan menebak dengan benar dalam sekali lihat. Gema menyukai Sarah. Bukan rasa suka seorang teman kepada teman lainnya. Akan tetapi, rasa suka terhadap lawan jenis. Entah Morgan beruntung atau tidak, Sarah sepertinya tidak pernah sadar akan hal tersebut. Kalau tidak status pacar Sarah pasti tidak akan jatuh padanya. Morgan juga mengatakan kalau Gema bodoh. Seharusnya si penjaga tersebut mengambil kesempatan yang jelas terbentang di dalam jalur persahabatan mereka. Namun, Morgan bersyukur Gema tidak melakukannya. “Mau kuberitahu apa yang membuatnya kesal?” tanya Gema. Gestur tubuh Sarah mendadak berubah. Sepertinya Sarah sangat terganggu dengan sikap tidak menyenangkan yang Gema tunjukkan. Dengan antusias ia bertanya pada Morgan. Hanya saja Morgan tidak benar-benar ingin memberitahu Sarah apa yang terjadi. Ini masalah Gema dan Sarah. Morgan tidak punya hak untuk ikut campur dan sok tahu. Sebagai laki-laki ia menghargai apa yang berusaha disembunyikan Gema. “Dia pasti tidak menyangka kamu punya pacar tampan sepertiku.” Morgan asal jawab pada akhirnya. “Gema bukan orang seperti itu!” Sarah tidak terima temannya dijelekkan. Ia memukul lengan Morgan pelan sebagai hukuman. “Dia mungkin hanya takut temannya terluka.” Ini jawaban paling logis yang bisa dikatakan Morgan selanjutnya. Ia mengusap puncak kepala Sarah dengan sayang. “Ah … kenapa aku harus membicarakan pria lain dalam kencan kita?” tanyanya terlihat kaget selanjutnya. Ia lalu menyerahkan helm pada Sarah lagi, menawarkan untuk membantu memakai dengan benar dan mendapat penolakan. Tak lama ia membawa gadis cantik tersebut dengan motornya. Mungkin aku akan singah sebentar di taman dan pacaran. Kami kan sedang kencan, pikirnya sambil tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN