Rahasia Kecil Sarah
Morgan berusaha menahan senyum. Ia tidak bisa tertawa dan kemudian membuat suasana yang sudah bagus ini mendadak canggung. Akan tetapi, melihat kepolosan di wajah Sarah ini akan menjadi perjuangan yang berat. Bagaimana mungkin Morgan bisa bertahan kalau dengan yakin gadis itu mengatakan sangat menyukainya.
“Maafkan aku ....” Tawa yang sudah ditahannya dengan berlapis-lapis kenangan tidak menyenangkan akhirnya jebol juga. Ia menutup wajahnya yang kini memerah. Ia bisa merasakan panas di seluruh tubuhnya.
“Ka-mu tertawa.”
Sarah, gadis cantik yang mengusik perhatian Morgan saat berkunjung ke bekas sekolahnya tergagap bicara. Wajahnya tak kalah merah dengan Morgan. Bedanya, Sarah tak berusaha menyembunyikan rasa malu dengan telapak tangannya. Mungkin karena itulah, gadis tersebut bertambah cantik.
Morgan menangkap pergelangan tangan Sarah begitu gadis itu berbalik dan akan melarikan diri. Mengakui perasaan saja membutuhkan keberanian besar, apalagi selepas itu si penerima pengakuan malah tertawa. Morgan siap dipukul karena membuat suasana yang tadinya bagus terasa begitu memalukan.
“Jangan lari! Jika kamu lari, semuanya jadi sia-sia saja, kan?” Morgan berkata pelan.
Ia menarik Sarah untuk berdiri di posisi semula. Tidak seperti tadi, kepala gadis cantik yang baru mengakui cintanya pada Morgan tertunduk malu.
“Maaf, harusnya aku tahu kalau kamu tidak suka padaku,” kata Sarah pelan.
Sebenarnya sudah ada beberapa orang yang mengatakan pada Sarah jika dirinya bukan tipe Morgan. Pertama, teman-teman sekelas yang juga menaruh perhatian pada senior mereka yang sudah kuliah tahun keempat ini. Kedua, sahabat Sarah berpendapat Morgan hanya bermain-main dengannya. Namun, Sarah tak mendengarkan salah satunya dan tetap memilih mengakui perasaannya. Ia yakin Morgan juga menaruh hati padanya.
“Kenapa?” tanya Morgan.
Sarah tak mengerti dengan pertanyaan Morgan. Ia mengangkat kepala dan menatap pemuda tersebut. “Apanya yang kenapa?”
Sarah hanya bisa mengangkat kepala sebentar karena malu. Pernyataan cintanya tadi berputar-putar disekelilingnya dan membuatnya segera mencari cara untuk tengelam atau bersembunyi.
“Kenapa kamu bisa suka padaku?” tanya Morgan.
Sarah tidak bisa menjawabnya. Ia tidak punya alasan yang jelas. Hanya saja jantungnya berdetak cepat setiap kali berada di dekat Morgan.
“Karena kamu tampan.”
Jawaban Sarah membuat Morgan tertawa keras. Ia memeganggi perutnya sedemikian rupa. Sarah menjadi semakin malu.
“Ja-ngan tertawa!” teriak Sarah gagap. Wajahnya merah padam.
“Aku tahu kalau aku tampan.” Morgan dengan cepat mengendalikan diri dan menegakan tubuhnya lagi. Tawanya yang tadi sudah menghilang dan yang tersisa hanya senyuman saja di bibirnya. “Kamu juga cantik.”
Sarah pasti salah dengar. Semua orang selalu memujinya manis, tetapi tidak pernah melontarkan kata cantik. Jadi ia merasa Morgan sedang berbohong. Mungkin karena ia baru saja mengatakan kalau Morgan tampan, tetapi ia kan sama sekali tidak berbohong. Morgan memang tampan untuk ukuran Sarah.
Morgan berkulit putih, tingginya kira-kira 170 cm. Ia memiliki rahang yang kokoh dan hidung yang tinggi. Alis matanya tebal dan hitam, dengan sorot tajam. Jika kamu seorang wanita dan berpandangan dengan Morgan, maka kamu akan jatuh cinta. Begitulah kekuatan tatapan yang dimiliki Morgan.
“Loh, sekarang kamu jadi pendiam ya?”
Morgan menundukkan kepalanya. Rasanya jantung Sarah mau berhenti saja. Tanpa pikir panjang ia berbalik dan lari kabur. Ia tak mau mendengar jawaban dari mulut Morgan. Ia hanya mau menyelamatkan hidupnya saja. Jika terus-terusan berdebar-debar seperti ini kesehatan Sarah pasti terganggu pada akhirnya.
***
Gadis itu akhirnya kabur. Morgan mengerucutkan bibir menahan tawa. Lucu sekali melihat tingkah polos gadis kelas tiga SMA Nusantara tersebut. Morgan tidak lupa dengan gadis semacam itu. Ia mengenalinya dengan cepat di antara barisan karena wajah yang cantik.
Saat masuk ke kelas tempat kesekian untuk mengenalkan universitas tempatnya kuliah, dari badge nama di atas kantong pada kanan, Morgan tahu nama gadis cantik yang berdiri di tengah upacara tersebut Sarah. Sarah Aditya. Aditya mungkin adalah nama ayahnya. Namanya begitu umum sehingga mungkin Morgan akan lupa. Namun, sialnya ia tidak lupa. Apalagi kemudian Sarah jadi sering terlihat olehnya.
Sekolah Sarah dan universitas tempat Morgan kuliah berdekatan—mereka selalu turun di halte yang sama saat pagi dan berpapasan. Keadaan itu dipertahankan Morgan cukup lama. Sampai-sampai teman-temannya menjadi Morgan yang jalan kaki dari Halte menuju gedung kuliah sebagai olokan. Untung saja alasan lainnya tidak diketahui oleh para manusia purba tersebut.
Lalu hari ini Sarah menyatakan cinta padanya. Morgan kaget sekaligus senang. Sarah cantik dan tidak ada yang bisa menyangkal hal tersebut.
Namun, kelucuan ekspresi malu-malu yang ditampilkan gadis 18 tahun tersebut menyenangkan untuk dilihat sehingga Morgan tak keberatan untuk mengoda sedikit. Pada akhirnya ia sedikit menyesal karena Sarah kabur begitu saja tanpa mendengar jawabannya.
“Apa aku terlalu keterlaluan, ya?” tanya Morgan pada dirinya sendiri.
Ia mengaruk kepala dan berjalan menuju motornya kembali. Ia pasti bisa bertemu dengan Sarah lagi. Tinggal menunggunya di halte yang sama besok.
Langkah Sarah terhenti. Di antara banyak orang entah sejak kapan ia memiliki kemampuan untuk menemukan Morgan. Pemuda yang sedang kuliah di tahun keempat tersebut duduk di halte. Mungkin sedang menunggu kedatangan Sarah. Walau pikirannya langsung menampik dugaan tersebut, tetapi bagaimana jika benar. Mau disembunyikan di mana wajahnya kini.
“Sarah, kita harus turun.”
Sahabatnya Gema berbisik di telinga Sarah. Ia jadi meloncat kaget dan teralihkan. Kemudian ia mendapat ide melihat topi dan jaket dengan kepala milik Gema.
“Pinjam jaket sama topi.” Tanpa persetujuan kedua benda itu langsung ditarik dan dipakai, diatur sedemikian rupa supaya wajah Sarah tidak kelihatan.
Gema mendengus di belakang Sarah dan tidak bertanya. “Ayo turun! Semua orang akan marah kalau kamu terus-terus saja berdiri di pintu,” keluh Gema.
Tak lama Sarah bisa mendengar dengungan protes dari orang-orang di belakang. Mereka tidak suka dengan tindakan Sarah yang berdiri di dekat pintu dan belum juga turun.
Sarah menghela napas dalam dan melangkahkan kaki ke tangga bus. Syukur saat kakinya menampak lantai beton Morgan tidak menoleh padanya. Seorang teman sedang mengobrol dengannya.
Hari ini Sarah selamat. Ia berdoa besok Morgan akan menyerah dan tidak akan muncul di halte.
“Kamu sedang sembunyi dari siapa?” tanya Gema.
Mereka telah masuk ke halaman sekolah. Jaket dan topi milik Gema telah kembali ke tangan pemiliknya.
“Memang aku terlihat sedang sembunyi?” tanya Sarah pura-pura tidak tahu.
Jika ia mengaku sedang sembunyi dari Morgan, maka Sarah harus menceritakan aksinya yang kemarin. Gema jelas-jelas menentang aksi itu. Menurutnya Morgan adalah playboy kelas kakap yang harus dihindari Sarah.
“Aku melihat Morgan di halte.”
Sarah menghela menelan ludah susah payah. Sebagai teman yang kenal sejak kecil, Gema memang lebih tahu apa yang ada dalam pikiran Sarah ketimbang keluarganya sendiri. Gema selalu berhasil menebak apa yang membuat Sarah senang dan yang membuatnya sedih. Bahkan orang pertama yang menebak dirinya suka pada Morgan adalah Gema.
“Memangnya kenapa kalau dia dihalte. Halte itu tempat umum,” kilah Sarah sama sekali tidak menyakinkan.
Gema berjalan mendahului Sarah. Ia mengangkat bahu tanda tak peduli. Akan tetapi, kalimatnya mencerminkan hal lain. “Aku berpikir mungkin kamu tidak merahasiakan sesuatu padaku,” kata Gema.