Menangkap Sarah

1081 Kata
Menunggu adalah kegiatan yang sangat menyebalkan. Karena kita hanya bisa menebak-nebak kapan yang ditunggu datang, tetapi tak punya kepastian hal tersebut muncul dengan segera. Ini adalah bus keempat yang berhenti setelah ia duduk di sana hampir sejam. Bus datang setiap lima belas menit sekali, kemudian berputar kembali ke bawah menuju pusat kota. Untuk sampai ke gedung jurusannya sendiri, Morgan harus naik bus kembali di halte ini. Namun, ia adalah halte pemberhentian Sarah. Jadi ia tidak akan beranjak dari sini sampai bisa berbicara dengan gadis itu. Kenapa ia harus sekeras kepala ini bertemu dengan Sarah? Ia belum menyampaikan jawaban atas pertanyaan Sarah kemarin karena gadis itu keburu kabur. Ia tak mau kehilangan kesempatan memiliki pacar secantik Sarah. “Tumben naik bus?” Perhatiannya jadi teralihkan dari pintu bus yang sudah terbuka dan belum ada satu penumpang pun yang turun. Ia menduga mandeknya karena Sarah yang tak mau melangkah maju. “Cuma sedang ingin,” jawabnya. “Oh, aku pikir motormu rusak lagi.” Belakangan ini ia memang memberi alasan seperti itu kepada teman-temannya yang bertanya kenapa tidak mengendari motor. Namun, jika ia berhasil bertemu dengan Sarah hari ini, ia akan mengunakan motornya besok. Tentu dengan Sarah sebagai penumpang di belakang. Ia tak sabar merasakan laju motornya yang lambat karena ada Sarah di belakang. Mereka mungkin akan mengobrol banyak hal. Deru mesin mobil membuat Morgan menoleh ke arah mobil. “Sialan!” umpat Morgan. Ia mengumpat cukup keras untuk disadari oleh semua orang di sekitarnya. Ia tak peduli dengan tatapan tidak senang dari gadis-gadis yang kebetulan ada di sana. Morgan kehilangan kesempatan. “Sarah biasa pulang jam berapa ya?” gumam Morgan tanpa sadar. Ia menatap beberapa siswa SMA Nusantara yang masih berdiri di balik jalan menunggu temannya. *** Itu memang tatapan Gema yang biasa. Tatapan tak peduli dengan sekitar, tetapi tetap menakutkan. Sarah sudah biasa. Namun, kali ini ditatap dengan intens seperti itu dalam waktu lama tidak menyenangkan. Sarah duduk pada deretan ketiga di dekat dinding sebelah dalam. Gema duduk di paling belakang. Artinya Gema duduk di belakang Sarah. Walau tidak melihat langsung tajamnya tatapan Gema, ia merasakan dengan kulitnya. “Jangan menatapku seperti itu!” Sarah dengan frustrasi berteriak pada Gema. Pemuda teman kecil Sarah itu hanya tersenyum sedikit sebelum memalingkan wajah dan melambai pada teman sekelas yang mengajaknya ke kantin. Ajakan basa-basi saja memang, karena Gema hanya akan mengekori Sarah ke manapun pergi. “Kamu punya rahasia bukan?” tanya Gema. Tatapannya masih tajam seperti sebelumnya, menguliti Sarah sedikit demi sedikit. “Apa aku tidak menyembunyikan apapun!” elak Sarah. Sarah lekas berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Gema di kelas sendirian. Sebenarnya Sarah tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan Gema. Gema memiliki langkah yang lebih panjang darinya dan cepat. Ke manapun Sarah lari sampai saat ini Gema selalu berhasil menyusul. “Kamu tidak bisa merahasiakan apapun cukup lama dariku,” kata Gema dengan suara datar. Seperti yang Sarah katakan tadi, Sarah tidak pernah bisa meninggalkan Gema. Hanya perlu beberapa detik bagi teman kecilnya mengejar Sarah. Sarah berhenti berjalan dan cemberut. Ia ingin sekali melayangkan satu pukulan ke wajah tampan Gema. Akan tetapi, ia tidak ingin mencoba dan kemudian dijatuhkan dengan cepat. Ini seperti permainan petak umpet yang sering dimainkan bersama adik perempuannya saat kecil. Ia akan menjadi penjaga dan adiknya adalah orang yang harus ditemukan. Ketika itu Morgan dengan cepat menemukan adiknya. Dalam permainan petak umpet kali ini tidak begitu. Sebagai penjaga yang haris mencari dan menangkap si pemain lain, Morgan kesulitan untuk menemukan Sarah. Gadis yang kemarin baru saja menyatakan cinta padanya sangat jago bersembunyi. Ia menjadi kesal setengah mati dan bertekad akan menangkap Sarah apapun yang terjadi. Morga sudah kembali menunggu di halte pemberhentian bus. Sarah pasti bisa ditangkapnya. Ia bahkan bolos kelas pada jam ini untuk itu. Kalau tadi pagi ia terang-terangan duduk di halte. Sekarang ia berdiri di pos polisi yang ada di simpang jalan. Kebetulan pos tersebut kosong. Satu persatu siswa mulai terlihat keluar dari gerbang SMA Nusantara. Morgan mulai akan menyerah untuk hari ini, tetapi sekelebat ia melihat Sarah berjalan keluar dengan seorang pemuda. Bukannya dia kemarin menyatakan cinta padaku? Morgan bertanya dalam hati tak percaya dengan apa yang baru saja dilihat. Ia mengusap wajahnya kasar, mendorong dirinya untuk turun dari tempat duduk dan berjalan gontai ke halte. Bukankah Morgan harus memberi jawaban pada Sarah. Ia tidak bisa membuat Sarah menunggu lebih lama lagi. Sarah tersentak saat melihat Morgan muncul. Gadis itu seolah akan lari. Namun, Morgan menghapus kemungkinan itu dengan berdiri di jalan keluarnya. “Sepertinya kita harus bicara?” kata Morgan. Wajah Sarah mendadak pucat. Ia mengalihkan tatapan pada pemuda yang tadi berjalan dengannya, meminta pertolongan. “Kemarin kamu memberiku pertanyaan, sekarang waktuku untuk menjawabnya, kan?” tambah Morgan. Sebenarnya ia bisa saja menarik Sarah dari perlindungan pemuda dengan tatapan congkak ini. Akan tetapi, itu tidak baik untuk permulaan hubungan. Morgan akan menjadikan Sarah sebagai kekasihnya, perlakuan egoisnya hanya akan membuat Sarah ketakutan saja. “Sepertinya Sarah tidak harus pergi denganmu. Kalau kamu memang ingin mengatakan sesuatu sebaiknya di tempat ini saja.” Morgan sudah menduga ini akan terjadi. Ia dan si congkak di sebelah Sarah tidak cocok. Mereka ibarat air dan angin. Satu sama lain hanya akan membuat kemungkinan kebakaran besar. Dialihkan pandangannya pada Sarah. Jika lama-lama memandang si congkak hanya akan membuat Morgan kehilangan kendala diri dan melayangkan pukulan. “Jadi jawabannya di sini saja?” tanya Morgan meminta persetujuan. Ia tak mau dituduh sebagai pemuda tak tahu malu nantinya. Bukankah pernyataan cinta itu bersifat pribadi. Maka dari itu ia meminta izin pada pihak yang terlibat terlebih dahulu. “Yakin?” tanya Morgan sekali lagi. Wajah Sarah yang pucat tadi sudah kembali normal terlihat. Ia merengut dan jelas-jelas mengangguk. Kilat matanya mengatakan untuk jangan lagi bermain-main. Morgan menyerah jika memang seperti itu yang diinginkan Sarah. “Baiklah.” Morgan memejamkan mata, mengusap rahangnya sedikit dan berdehem sebelum bicara. “Aku mau jadi pacarmu.” Tempat mereka berdiri mendadak hening. Morgan bisa melihat Sarah melongo. Informasi yang didapatkan darinya pasti butuh Diproses otak Sarah. “Ka-mu barusan bilang apa?” Si congkak di samping Sarah menginterupsi keheningan. Ia sepertinya mendapatkan kejutan lebih banyak dari seharusnya. Wajahnya menjadi pucat dan secara berkala pandangannya berpindah dari Morgan dan Sarah. Sarah menutup wajahnya. Morgan bisa melihat telinga gadis pemberani yang kemarin mengungkapkan cinta memerah. Sekali lagi ia ingin tertawa, tetapi tak tega. “Kenapa kamu bilang begitu di halte,” kata Sarah lirih. “Kamu yang suruh, kan?” jawab Morgan jujur. Lagi pula ia tidak ingin menyembunyikan status pacaran mereka dari siapapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN