Gema yang Cemburu

1047 Kata
Kejadian selanjutnya tidak bisa dibilang sangat romantis. Harusnya ia bisa berpelukan dengan Morgan atau paling tidak berpegangan tangan sepanjang jalan bersama setelah Morgan menerima pernyataan cintanya. Akan tetapi, Morgan malah menjawab pertanyaannya yang kemarin di halte bus di depan beberapa teman kelas dan adik kelasnya. Sarah malu sekali. Jika ada lubang di halte dan Sarah bisa muat di sana, ia pasti akan memilih masuk. Yang paling menakutkan adalah Gema. Walaupun mengantar pulang Sarah seperti biasa, tetapi tak sepatah kata yang diungkapkan padanya. Sarah tidak mengerti dengan ekspresi teman masa kecilnya. Namun, hati kecilnya meminta ia untuk tidak mencoba bertanya. “Makasih,” kata Sarah sambil tersenyum manis. Gema hanya merlirik Sarah sedikit dan pergi. Sarah menelan ludah susah payah. Ia bertanya-tanya apa kesalahan fatal yang sudah dilakukan selain berbohong. Bukannya Sarah pembohong. Ia adalah anak yang jujur. Ia akan mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. Namun, terkadang Sarah memilih tak mengatakan apa-apa. Seperti saat ia kehilangan uang jajannya saat kelas enam SD. Alih-alih dituduh cerobah, Sarah lebih suka dituduh boros. Toh, mama dan papanya akan tetap memberikan Sarah tambahan uang jajan walaupun sedikit mengomel. Ia anak tunggal, tidak ada orang lain yang akan menikmati hasil kerja keras kedua orang tuanya selain dirinya. Akhirnya tak tahan dengan pikirannya sendiri, Sarah menghubungi Gema. “Jadi hari ini aku salah apa?” tanya Sarah langsung. Sarah tahu kalau panggilannya sudah diangkat walau tidak sepatah kata pun terdengar dari seberang panggilan. Saat ia mengajukan pertanyaan pun hanya lenguhan yang didengarnya sebagai jawaban. “Kamu tidak sedang di toilet, kan, Gema?” tanyanya kembali mencoba mencairkan suasana. Gema sering mengunakan candaan seperti ini kalau Sarah yang cemberut. “Jangan hubungi aku!” Alasan Gema tidak mau bicara pasti masalah besar. “Aku akan ke rumahmu. Sungguh. Aku akan sampai lima menit lagi,” putus Sarah segera. Ia langsung menganti pakaian, tidak mengindahkan pelayan rumah yang menanyakan soal makan siang dan kabur keluar. Ia hanya menggunakan baju kaos longar dan sendal jepit berbulu yang nyaman. “Loh … Sarah, ada apa?” Mami Gema langsung muncul di halaman. Ia mengenakan sarung tangan karet dan sebuah cankul kecil tergeletak di kakinya. Seonggok rumput liar juga ada di dekat cangkul. Rupanya ia sedang menghabiskan waktu dengan cara merawat halaman. Dibandingkan dengan halaman Sarah yang gersang, halaman rumah Gema memang cantik dan tertata rapi. “Gema lagi ngambek, Tante,” katanya. Lalu ia menyeberangi halaman dan masuk melalui pintu depan. Rumah Gema sudah seperti rumahnya sendiri. Rumah mereka berhadap-hadapan, jadi jika Gema atau Sarah ingin menemui satu sama lain, mereka hanya tinggal menyeberang saja. Mereka juga memperlakukan rumah satu sama lain seperti rumah sendiri. “Gema!” pekik Sarah yang kesal. Sarah baru akan sampai di pintu ketika, beda pipih kotak yang terbuat dari kayu tersebut tertutup. Gema jelas-jelas menutup semua akses untuk Sarah. “Jangan bikin kesal, deh! Buka!” serunya tak mau menyerah. Sarah yakin sebentar lagi bantuan akan datang. Benar saja, suara Tante Ria mengema dari lantai bawah. Sarah merasa menang. Ia mendengar suara pintu kunci diputar, walau pintu tidak mengayun terbuka. Gema memutar selop pintu dan mengintip ke dalam kamar. Gema duduk di depan meja belajar berpura-pura sibuk. Ia bergerak cepat. Saat sampai di belakang Gema, ditariknya kursi berosa itu hingga dekat dengan tempat tidur. Tentu saja temannya protes, tetapi Sarah tak peduli. Ia mengulingkan kursi hingga Gema jatuh ke atas tempat tidur dengan posisi tertelungkup dan ia segera menyusul di samping pemuda itu. “Kamu itu tidak cocok dengan gaya seperti ini,” kata Sarah sambil mencebik. Langit-langit kamar Gema dicat warna krem. Dindingnya sendiri berwarna abu-abu, begitu juga dengan meja, lampu di atas nakas sendiri berwarna metalik. Kata Tante Ria, Gema yang mendesain sendiri kamarnya. Seingat Sarah, Gema adalah satu-satunya teman lelakinya yang paling rapi dan teratur. Kepribadiannya tergambar jelas di kamar ini. “Kenapa marah padaku?” “Aku tidak marah.” Gema mengelak padahal jelas-jelas sedang mengacuhkan Sarah. Sarah kini tidur menyamping, bertumpu pada lengan kanannya memandang Gema. “Kamu benar-benar tidak cocok bertingkah kekanak-kanakan.” Sekali lagi Sarah berkomentar. Gema tiba-tiba berdiri dan membuang napas kasar. “Keluarlah … atau kamu mau lihat aku ganti baju?” katanya tanpa ekspresi. Sarah semakin kesal dengan sikap Gema. Ia meraih bantal dan melemparkannya pada Gema baru keluar dari kamar. *** “Dasar gadis bodoh!” desis Gema kesal. Pintu kamarnya baru saja dibanting dengan keras dan ia bahkan tidak memiliki keinginan keluar dan menjelaskan apa yang membuat dirinya kesal. Ia beranggapan lebih baik seperti ini saja untuk waktu lama. Toh, besok Sarah tidak akan ingat pada dirinya. Bukan lupa secara permanen, tetapi saat bersama Morgan gema pasti akan dilupakan. Mengetahui hal itu saja sudah membuat gema kesalnya bukan kepalang. Ia tahu harus menahan diri di depan Sarah. Namun, ia tidak bisa. Jauh sebelum Morgan muncul Gema sudah menyukai Sarah. Sarah dan Gema sudah berteman sejak kecil. Mereka pergi ke TK bersama. Mereka juga berada di SD dalam kelas yang sama. Gema menyangkal kalau menyukai Sarah sejak kecil, sebab ia baru-baru ini saja sadar akan perasaannya. Ia tidak suka Sarah dengan dengan siswa laki-laki lain di sekolah. Mungkin harusnya Gema mengakui perasaannya pada Sarah. Akan tetapi, ia takut mengakui perasaan dan kemudian kehilangan hubungan persahabatan yang sudah ada sejak kecil. Mungkin saja Sarah akan menjauhinya nanti. Memikirkan itu saja sudah membuat nyali Gema ciut. Gema mengusap wajahnya dengan kasar. Ia harus mengejar Sarah dan mengatakan kalau tidak lagi marah. Ia dan Sarah masih bersahabat. Mungkin saja nanti Sarah dan Morgan putus. Bukankah kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Jadi kenapa Gema harus khawatir sekarang. “Sarah sudah pulang,” kata Ria, mama Gema. Wanita yang melahirkan Gem aitu menaikkan alisnya ingin tahu. Gema sudah menceritakan perasaannya pada Ria. Mamanya juga telah meminta ia jujur saja. Hubungan persahabatan tidak akan berubah walau Gema jujur. Usul itu langsung ditolak Gema saat terlontar. “Jadi kenapa kamu marah?” tanya Ria. Gema diam, tetapi akhirnya bicara juga. “Sarah punya pacar.” Ria tertawa terbahak-bahak setelah mendengar hal tersebut. Ia sudah pernah mengatakan pada putranya yang bodoh. Sarah gadis yang cantik. Pasti bukan hanya Gema yang suka pada gadis cantik. Jadi cepat atau lambat aka nada seseorang yang memiliki hati Sarah. “Kan sudah Mama bilang. Kamu sih!” ujar Ria. Ia meninggalkan putranya yang bodoh sambil bersenandung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN