Tidak Pantas

1192 Kata
“Memangnya ada yang aneh di wajahku?” Sejak pulang tadi ia mendapatkan tatapan aneh dari ibu dan adiknya. Ia awalnya berpikir karena baru pulang mungkin wajahnya kusam. Berkendara mengunakan motor saat cuaca panas apalagi di tengah polusi udara pasti akan berefek demikian. Akan tetapi, alasan itu segera ia enyahkan. Saat ini Morgan telah selesai mandi, memakai tonik wajah, dan juga parfum. Kondisinya paling prima seperti tadi pagi akan berangkat kuliah. Hanya pandangan dua perempuan yang memiliki hak konstitusi mutlak di rumahnya saja yang berbeda. Ia bisa melihat adik satu-satunya berbisik pada ibu mereka. Selanjutnya dua perempuan itu tertawa cekikikan sambil melirik-lirik Morgan. Tentu saja ia merasa seperti makhluk asing sekarang. Jangan-jangan baru saja ada pendaratan alien di rumah. “Ada apa, sih, Bu, Maya!” serunya akhirnya karena tidak betah dengan pandangan yang ditujukan. Ibunya, Meira dan Maya tertawa kembali. “Itu … calon mantu Ibu dibawa kemari. Masa kamu sembunyikan sih?” Morgan tercenung. Ia melirik Maya yang bersiul-siul kecil pura-pura tak bersalah. Pasti yang memberi tahu Meira adalah Maya. Morgan lupa kalau Maya dan Sarah satu sekolah. “Kalau dibawa ke sini langsung, Sarah akan marah,” gumam Morgan pelan. Ia bisa membayangkan reaksi Sarah jika mengatakan akan membawa gadis tersebut ke rumah. Sarah gadis yang polos. Morgan bisa menebak isi pikiran Sarah bahkan sebelum melakukannya. “Kenapa Kak Sarah harus marah?” Morgan lekas mempelototi adiknya. Gadis manis berkulit lebih gelap dari Morgan tersebut menarik tubuh Meira dan bersembunyi di belakang ibu mereka. “Kalau memang akan marah, Kakak kan bisa tidak memberitahunya akan ke sini.” Bibir Morgan mengerucut tak senang. Ia tidak akan berani membohongi Sarah saat ini. Itu bukan tindakan pria yang jantan. Bagaimana kalau setelah itu saingan percintaannya malah mengambil kesempatan. “Aku akan mencobanya. Tapi, aku nggak janji dia bakal datang secepatnya.” Morgan meninggalkan Meira dan kembali ke kamarnya lagi. Ia membiarkan dua perempuan yang memiliki hak konstitusi paling kuat di rumah ini mengobrol. Morgan tahu apapun pendapatnya akan selalu bisa dikalahkan oleh adik dan ibunya. *** Tidak ada yang melihat itu, kan? Sarah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasanya malu sekali sekarang. Ia tidak menyangka Morgan memberikan kejutan yang tidak baik untuk jantungnya. Sebuah pelukan. Sebuah kecupan ringan di pipi. Sarah pasti sedang bermimpi indah sekarang. Atau semua yang dia alami dua hari ini hanyalah sebuah mimpi. Tiba-tiba Sarah ingat pada Gema yang tadi memanggilnya. Ia memeriksa apakah temannya sejak kecil tersebut masih berdiri di depan gerbang rumahnya. Akan tetapi, Sarah tidak bisa melihatnya lagi. Apa Gema lihat? Jantung Sarah kembali berdebar kencang. Ia merasa malu sekali. Setelah berhasil menenangkan diri, ia setengah berlari ke rumahnya sendiri. Jarak halte dan rumahnya sekitar 100 meter. Untungnya Satpam yang menjaga pintu gerbang rumah Sarah tidak sedang berdiri di depan tadi. Kalau tidak adegan pelukan sesaat dan kecupan ringan pasti bisa sampai ke telinga Mahesa, papanya. “Non!” Sapaan Satpam menghentikan langkah Sarah. “Bapak tadi pesan, kalau Non pulang disuruh langsung ke ruang kerja.” Pikiran buruk langsung muncul dalam otak Sarah. Langkahnya mendadak lambat. Luas halaman juga sepertinya bertambah. Semakin melangkahkan kaki, serasa ada pemberat di pergelangan kakinya. Ia jarang dipanggil ke ruang kerja Papa. Papa lebih memilih menemuinya di ruang makan saat malam, itu pun dengan mengurangi jadwal kerja Papa yang padat. Rumahnya sunyi sekali setiap hari. Sarah lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Gema atau di dalam kamarnya. Ia tidak ingat kapan salah satu dari mereka datang saat penerimaan rapor di sekolah. Kadang-kadang bahkan ia dititipkan kepada mama Gema yang memang ibu rumah tangga. Baginya kehidupan Gema lebih mewah dibanding miliknya sendiri. Pintu ruang kerja Papa seperti bangunan yang terpisah dari semua ruangan di dalam rumah. Hanya ruangan ini yang tidak dimasuki Sarah. Pintu besar yang terbuat dari jati dan di tepi-tepinya penuh ukiran tersebut cukup menakutkan. Ia menelan ludah sebelum mengetuk pintu. “Masuk!” Suara di dalam teredam pintu besar ini. Sarah mendorongnya supaya terbuka dan Papa yang duduk di balik meja kayu berpenis segera menyambutnya. Setelah masuk ke dalam ia kembali mendorong pintu ke arah luar hingga tertutup lagi. Selama beberapa saat, Sarah duduk tidak nyaman di sofa depan meja papanya. Ia tetap diam sampai Papa berdiri dari kursi kerja di balik meja besar dan pindah di hadapan Sarah. “Tahun ini kamu lulus, kan?” tanya Mahesa—papa Sarah. Mahesa jarang menanyakan keadaan sekolah putrinya. Bahkan tanpa disuruh, Sarah selalu bisa memberikan prestasi yang baik seola-olah memang hal itu telah mandarah daging. “Ya, Pa.” Mahesa diam lagi. Diperhatikan putrinya yang cantik. Sarah tumbuh dan terlihat sama persis dengan mamanya, Blair. Namun, syukurlah Sarah tidak seperti Blair yang pembangkang. Mungkin karena wanita itu sama sekali tidak pernah menghabiskan banyak waktu dengan putrinya ini. Sarah dibesarkan seorang pengasuh dan sampai saat ini masih bekerja di rumah mereka. Kalau Sarah punya satu saja sifat Blair, Mahesa tidak tahu apakah bisa ia menganggap Sarah sebagai putrinya. Ia sendiri heran bagaimana bisa menikah dengan Blair dahulu. “Kamu ingat dengan Manda.” Sarah menelengkan kepala. Rasanya memang ia pernah mendengar nama Manda, tetapi tidak ingat siapa orang tersebut. Mahesa mendesah. Ia tahu tak mungkin Sarah ingat dengan pemuda yang bertemu dengannya sepuluh tahun lalu dan tak lagi berhubungan sejak saat itu. “Kamu akan bertemu lagi dengannya besok. Kamu tidak ada janji, bukan?” Sebenarnya Mahesa tidak perlu meminta persetujuan putrinya seperti ini. Sampai saat ini Sarah gadis yang patuh dan penurut. Ia bisa langsung menyetujui ajakan perkenalan dan membawa Sarah besok. Akan tetapi, ia merasa harus memberitahu putrinya siapa yang akan ditemui. Sarah mengatupkan kedua bibirnya. Ia berencana menelepon Morgan malam ini dan mengajak pergi berkencan besok. Bukan kencan dengan dalih antar jemput saja, tapi benar-benar kencan sambil berpegangan tangan. “Tidak, Pa.” Mahesa tersenyum dan berdiri. Putrinya mungkin akan suka bertemu dengan Manda. Mungkin rencana pertunangan ini akan berjalan lancar seperti yang ia kehendaki. Tidak perlu merasa khawatir sekarang. Ia memiliki putri yang sangat penurut. “Bagus kalau begitu.” Sarah mohon pamit setelah itu. Ia merasa lumayan gerah dan ingin segera berganti pakaian. Sebelum melakukan semua keinginannya, diperiksa ponsel yang diletakan di dalam tas. Ada beberapa panggilan dari Morgan. Ia tak lantas menelepon balik. Barulah saat telah selesai berganti pakaian, merasa nyaman dengan keadaannya sekarang, Sarah menelepon Morgan kembali. Kali ini Morgan yang tidak mengangkat panggilannya. Namun, Sarah tentu tak mau menyerah begitu saja. Pada panggilan kelima, Morgan menyapa dengan riang. “Butuh perjuangan untuk meneleponmu. Apa yang sedang kamu lakukan?” Suara Morgan rendah seperti orang yang baru bangun tidur. Sarah merebahkan badan. “Tidur-tiduran,” jawabnya singkat. Morgan berdehem sedikit. “Besok kita bisa kencan, kan?” Sarah memejamkan mata. Ia berandai-andai memiliki keberanian untuk menolak permintaan Papa. Hanya saja ia tak punya keberanian. “Aku punya kencan lain.” Morgan diam saja di seberang sana. Pasti sedikit kecewa dengan jawaban Sarah. “Dengan si pen … maksudku teman sejak kecilmu?” tanya Morgan menebak. Sarah menggeleng. Padahal ia tahu kalau Morgan di sana tidak akan bisa melihat. “Tidak … dengan papaku. Kamu mau ikut?” tawar Sarah. Tiba-tiba saja ia punya ide untuk mengenalkan Morgan dan papanya. Mungkin mamanya juga akan datang besok, itu sebuah rencana yang sangat menyenangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN