Mungkin ia datang terlambat hari ini. Kelasnya selesai lebih lambat dari biasanya. Padahal jika tahu akan menjadi seperti itu Morgan memilih untuk kabur sebelum dosen datang. Sebelumnya ia sudah bertekad untuk bertemu dengan Sarah. Tidak peduli dengan apa yang terjadi, ia ingin menanyakan sesuatu pada Sarah.
Semoga Sarah masih menunggu, harapnya di dalam hati.
Ia memang menemukan Sarah, tetapi ada Manda juga di sana. Ia mengenggam setang motor erat-erat dan berkata pada dirinya sendiri untuk tidak kehilangan kendali. Apapun yang terjadi Morgan tidak boleh murka dengan keberadaan manusia yang tidak disukainya itu.
Interaksi antara Sarah dan Manda terlihat canggung. Sungguh. Untuk hal tersebut Morgan sangat bersyukur. Dalam penglihatannya hanya Manda saja yang berusaha sekuat tenaga mencari perhatian pada Sarah. Gadisnya terlihat tidak tenang dan berusaha mengatakan pada Manda jika ia tidak suka dengan perhatian yang ditujukan pemuda itu.
Morgan akhirnya kehilangan kesabaran saat manda mencuri-curi kesempatan untuk menyentuh pipi Sarah. Ia mengas motornya kuat-kuat dan mengerem tepat di depan Manda yang berdiri. Dilihatnya wajah temannya yang mata keranjang pucat.
“Kamu punya niat mencelakakanku, ya!” seru Manda tidak senang.
Morgan turun dan menarik helm melewati kepalanya. Matanya langsung melotot pada Manda yang sedang protes. Pemuda yang sudah kaget karena hampir tertabrak tersebut semakin pucat. Mungkin jotosan Morgan siang tadi menjadi nyeri kembali saat ini.
“Memang. Kalau kamu masih di sini dan berusaha menyentuh milikku. Mungkin aku akan kehilangan kendali dan menabrakan motor padamu,” ancam Morgan sangat sungguh-sungguh.
Manda meludah ke lantai. Ia masih sempat berbasa-basi pada Sarah sebelum lari ke mobilnya yang terparkir di balik jalan. Di dalam mobil Morgan menduga kalau ia akan disumpah serapahi dan dikutuk karena menganggu.
Sarah memejamkam mata karena lega akhirnya terbebas dari Manda. Ia sudah tidak merasa nyaman dengan pandangan orang-orang sejak tadi, tetapi tak punya keberanian untuk mengusir. “Terima kasih,” kata Sarah seraya tersenyum pada Morgan.
Jemari Morgan yang panjang menyentuh pipi Sarah yang sempat diserempet jari Manda. Ia mengusapnya berkali-kali sampai yakin tidak ada sisa jejak pemuda b******k tersebut.
“A-apa yang sedang kamu lakukan?” Wajah Sarah memerah. Ia selalu dikejutkan dengan tindakan-tindakan kecil Morgan yang tidak baik untuk jantungnya.
“Mensterilkan pipi pacarku. Barusan ada hewan liar yang memberi tanda,” kata Morgan tanpa malu sedikit pun. “Jadi, kamu mau tetap di sini atau kubantu untuk sampai di rumah?” tanyanya kemudian.
Sarah terkesiap. Jantungnya masih berdegup cepat, suara Morgan mengema di sekitarnya. Lalu ia mengangguk dan mengikuti pacarnya itu menuju motor. Bahkan saat Morgan memakaikan helm di kepalanya, Sarah sama sekali tidak protes. Sentuhan Morgan cukup mengejutkan untuk Sarah setelah semua ketegangan sia-sia yang dirasakannya hampir sepanjang waktu sekolah.
Morgan tidak segera menghidupkan motornya. Ia menelusuri halte di seberang.
“Cari siapa?” tanya Sarah. Tiba-tiba ia ingat pada Maya adik Morgan yang menghampirinya di kantin tadi.
“Penjagamu. Kenapa hari ini dia tidak ada? Dia sakit?”
Ditanya soal penjaga, bayangan Gema langsung muncul. Di kelas tadi Gema sengaja berlambat-lambat saat mengumpulkan semua perkakasnya di atas meja. Sarah juga memanggilnya di depan pintu kelas, tetapi tak diacuhkan. “Dia ada urusan,” jawab Sarah. Hanya itu alasannya yang paling benar untuk ketidakacuhan Gema padanya hari ini.
“Begitukah?” tanya Morgan tidak percaya.
Morgan malah berpikir ketidakmunculan Gema adalah pertanda ia sedang menyelamatkan dirinya sendiri. Melihat Sarah dengan Morgan pasti melukai hatinya. Bahkan bisa jadi Gema mengutuknya juga seperti yang dilakukan Manda saat ini.
“Aku berharap dia tidak mendoakanku jatuh dari motor,” gumam Morgan.
“Kamu bilang apa?” tanya Sarah dari belakang. Ia tak bisa mendengar apa yang dikatakan Morgan karena terlalu pelan.
“Pegangan yang erat!” seru Morgan dan mereka mulai melaju sekarang.
***
Mahesa sama sekali tidak berpikir akan pulang terlebih dahulu untuk mengambil berkas yang tertinggal. Ia sedikit kesal awalnya karena melakukan kecerobohan. Namun, ia tidak bisa meminta seseorang di rumah yang mengambil berkas penting di ruang kerjanya. Berkas itu teramat penting untuk dititipkan pada pengantar yang tidak hati-hati.
Akan tetapi, ia bersyukur pulang ke rumah karena berkas. Kekesalannya atas kecerobahan tersebut juga lenyap seketika. ia melihat pemandangan yang lebih membuatnya naik pitam. Begitu selesai melempar tas yang sudah berisi berkas lengkap, ia bergegas menuju gerbang tempat dilihat putri semata wayangnya tertawa riang dengan seorang pemuda.
Putrinya cukup terkejut saat melihat Mahesa, tapi tidak dengan pemuda yang memakai kemeja dan jin di atas motor. Ia memperhatikan pemuda tersebut dari ujung kaki sampai ujung rambut, tak lepas dengan motor besar yang telah parkir dengan aman.
“Selamat siang, Om.” Tanpa rasa sakit pemuda tersebut menyapa Mahesa.
Ia tidak memperlihatkan senyum sedikit pun. Sebagai gantinya dilirik putri semata wayangnya yang sudah pucat pasi. “Kamu siapa? Kenapa tidak pakai seragam?”
Mahesa masih belum melihat pemuda yang mengapit helm di pinggangnya itu merasa takut. Malahan pemuda itu mendekatinya dan mencium punggung tangan Mahesa dengan hormat.
“Saya Morgan, Om, temannya Sarah.” Tidak ada keraguan di dalam ucapan pemuda bernama Morgan tersebut.
Mahesa tahu apa arti kata “Teman” yang diucapkan Morgan. Tak lain dan tak bukan adalah kekasih. Ia tak menyangka anaknya yang pendiam bisa dekat dengan lelaki. Dari penampilannya ia tahu pemuda tersebut berasal dari golongan menengah ke bawah, sama sekali tidak sederajat dengan pengusaha seperti dirinya.
“Di mana kamu kenal putri saya?” tanya Mahesa. Di sampingnya Sarah sudah gelisah dan jika punya sedikit saja keberanian putrinya akan menarik dirinya ke dalam rumah.
“Saya pernah menjadi salah satu mahasiswa yang memperkenalkan universitas kami ke sekolah. Di sana saya kenal dengan Sarah.”
“Sarah sudah punya tunangan!” Mahesa tanpa basa-basi memberitahu. Dilihatnya ekspresi pemuda tersebut sedikit terkejut dan dengan cepat bisa dikendalikan. “Saya harap kamu tidak lagi mendekati putri saya,” tambahnya. Lalu Mahesa menarik tangan Sarah masuk ke dalam perkarangan.
Sarah menahan diri beberapa saat, untuk bisa memandang Morgan sebentar saja. Dengan tatapannya ia meminta maaf pada Morgan. Begitu dilihatnya Morgan mengangguk maklum, Sarah mengikuti langkah papanya.
Morgan memperhatikan Sarah sampai gadis itu menghilang di balik pintu yang tertutup. Barulah setelah itu tubuhnya gemetar takut. Orang tua lelaki Sarah sejak melihatnya sudah memperlihatkan ancaman dalam sorot mata. Namun, ia harus membuktikan kepercayaan dirinya sendiri untuk bisa diterima. Ia tidak tahu kalau semua itu tetap percuma saja. Perjalanannya untuk mencintai Sarah sepertinya akan sangat sulit. Baru di pertemuan pertama saja ia sudah ditolak mentah-mentah.
“Tapi cinta pasti bisa menang!” gumamnya dengan yakin.
Sebelum pergi ia menatap ke pintu rumah Sarah yang tertutup. Ia sudah aman, belum tentu dengan Sarah. Semoga gadis yang dicintainya itu baik-baik saja.