“Papamu sudah kembali.” Sarah tersentak. Ia terbawa lamunan karena baru saja bertemu dengan Morgan dan mendapatkan hadiah. Memang hadiah yang diberikan atas nama Flo, tapi tetap saja jantung Sarah berdebar-debar. “Bukankah kita yang akan menjemput Papa?” tanya Sarah heran. “Papamu menghubungi sekretarisnya tadi siang dan pulang langsung.” Gema membelokan mobilnya di perempatan. Sedikit lagi mereka akan sampai di apartemen tempat Sarah dan Blair tinggal. “Apa tidak sebaiknya kamu dan Tante pindah ke rumah Om? Kamu akan kesulitan bolak-balik mengurus semuanya.” Sarah berpendapat itu memang ide yang baik. Namun, itu jika Mahesa bisa menerima mereka berdua dengan baik pula. Masalahnya Mahesa bukan orang yang akan dengan senang hati menerima keduanya. Apalagi kini amarahnya gampang meledak

