Grazinia POV
"Aduh, Mama. Ini terlalu sempit dan terbuka. Ambil gaun yang lain saja" tolakku saat melihat pantulan diriku dengan gaun ketat berwarna merah di cermin. Sudah ketat, backless, belahannya rendah lagi. Membuatku terlihat seperti w************n saja.
"Bagaimana tidak terbuka? Semua gaunmu saja backless semua. Ya sudah, coba yang ini" Mama menyodorkan sebuah gaun berwarna pastel. Gaun yang indah, tapi sayang belahan dadanya terlalu rendah.
"Belahannya terlalu rendah, Ma. Cari yang lain saja lagi"
"Kalau terlalu rendah, kenapa di beli?" tanya Mama sambil mengobrak-abrik lemari ku.
"Itu hadiah pemberian Faraz. Bukan aku yang beli" Mama menggeleng.
"Coba yang ini. Pasti kau terlihat sopan" Mama kembali menyodorkan sebuah gaun hitam berlengan panjang. Tidak ada belahan, tidak backless dan tidak ketat. Saat aku mau mengambil gaun itu, Mama menaruhnya kembali ke lemari.
"Tidak jadi. Gaun itu terlalu tertutup yang membuatmu terlihat mau pergi melayat" Mama terus mengacak-acak lemariku.
"Mana ya?"
"Apanya Ma?"
"Nah ini dia, cepat ganti sana. Mama sudah tidak sabar melihatmu menggunakan ini" Mama memberiku mini dress berwarna dark blue dengan bagian belakang yang terbuka (backless). Seingatku aku tidak pernah membeli dress seperti ini.
"Sudah sana cepat" tanpa menjawab, aku segera masuk ke kamar mandi untuk mengganti gaun ketat ini dengan mini dress yang Mama berikan tadi.
Aku terpaku melihat pantulan diriku di cermin. Dari depan aku tampak sangat anggun dengan desain brokat yang indah di dress ini. Tapi jika dilihat dari belakang, aku tampak sangat menggoda dan sexy namun elegant.
"Sudah belum?!" teriakan Mama membuatku tersadar dari lamunanku tentang dress ini.
"Sudah" jawabku dan segera keluar dari kamar mandi. Dari pancaran mata Mama, beliau tampak sangat kagum dan senang.
"Sudah Mama duga, pasti sangat cantik" aku tersenyum mendengar pujian Mama.
"Oh ya, Ma. Mama dapat dress ini dari mana?" tanyaku pada Mama yang tengah merapikan tataan rambutku. Mama menyanggul rambutku dan menyisakan beberapa helai anak rambutku.
"Jadi bukan kamu yang beli? Mama kira kamu memesan pakaian lewat online. Soalnya tadi siang waktu kamu ketiduran, ada tukang pos yang ngantarin ini. Ya udah Mama ambil dan Mama taruh di lemarimu"
"Oh, begitu ya" Mama mengangguk dan membenarkan beberapa helai rambutku yang sedikit tampak berantakan.
"Nah, sekarang kau sudah terlihat cantik dan natural. Ya sudah, ayo kita ke bawah" ajak Mama.
"Mama saja duluan, aku nanti nyusul" Mama pun keluar dan tak lupa untuk menutup pintu kamar ku.
"Ku harap kau tidak terpesona dan tergoda oleh ku, pria asing!" gumamku. Aku pun bangkit dari kursiku dan berjalan menuju ke bawah untuk menyusul Mama, Papa dan para tamu asingku.
Author POV
Seorang gadis dengan dress-nya yang indah turun dari tangga dan berjalan dengan anggun ke ruang tamu. Ruang tamu yang awalnya ramai mendadak sepi karena kehadiran gadis cantik ini.
Dia tersenyum kepada semua orang yang ada di ruangan itu dan duduk di samping kedua orang tuanya. Seorang pria tampan duduk di sebrang gadis itu. Pria itu menatap lekat ke arah gadis itu. Sedangkan yang di pandang hanya menatapnya datar.
"Ehm, baiklah. Jadi siapa namamu, anak muda?" tanya ayah gadis itu.
"Abraham Alexi Bratajaya, Om. Panggil saja Abra" ayah gadis itu tersenyum.
"Berapa usiamu?"
"27. Masih cukup muda untuk di panggil anak muda kan?" semua orang yang ada di ruangan itu tertawa, kecuali gadis itu yang hanya tersenyum menanggapi lelucon yang di lontarkan Abra.
"Pekerjaanmu?"
"CEO dari perusahaan Brata"
"Informasi tentang dirimu sudah cukup. Apa kau tidak mau ajak Zinia pergi? Biarkan ini menjadi pembicaraan orang tua" Abra mengangguk dan berjalan menuju gadis itu yang masih diam terpaku.
"Ayo kita jalan-jalan. Biarkan orang tua membicarakan tentang lamaran ini" gadis itu menatap tajam ke arah Abra. Sedangkan Abra membalasnya dengan kedipan maut miliknya.
'Menjijikan!' batin gadis itu.
"Zinia? Ayo cepat sana. Jangan berpikir lagi" baru saja ia ingin menjawab perkataan Papanya, tangannya sudah lebih dulu ditarik Abra keluar rumah.
"Betapa serasinya mereka" ucap Ibu dari Abra.
"Iya, sangat lucu dan romantis" jawab Ibu dari Zinia.
"Sudah, ayo kita mulai pembicaraannya" ucap Ayah dari Abra menengahi.
-other side-
"Hei! Lepaskan tanganmu. Kubilang lepaskan!" Zinia berteriak. Namun teriakkan itu hanya lah angin lalu untuk Abra.
"Lepaskan!!!" kali ini Zinia berteriak dengan sangat keras. Tangannya pun tak berhenti memukul punggung Abra.
"Baiklah aku lepaskan!" Abra pun melepaskan cengkramannya.
"Sakit tau! Liat tuh merah" omel Zinia dan menunjukkan pergelangan tangannya yang merah.
"Iya deh, maaf. Mana yang sakit, sini biar aku obatin" Abra pun menyentuh pergelangan tangan Zinia yang memerah itu. Namun tangan Abra dengan cepat di tepis Zinia.
"Jangan sentuh-sentuh!"
Abra hanya tersenyum menanggapi itu. Zinia menatap angkuh Abra. Dia berlalu begitu saja meninggalkan Abra yang masih tersenyum di tengah jalan perumahannya. Abra yang sadar kalau Zinia sudah sedikit jauh darinya pun segera menyusulnya.
"Jika dilihat dari belakang, kau sangat menggoda menggunakan gaun itu" bisik Abra yang sekarang sudah ada di samping Zinia.
"Dasar gila!" Zinia kembali berjalan menjauhi Abra. Pipinya sekarang sudah memerah dan Abra tidak boleh melihatnya. Sedangkan Abra hanya tertawa karena berhasil menggoda Zinia.
Sekarang mereka berjalan beriringan. Angin malam yang dingin tak membuat mereka berhenti berjalan. Zinia yang menggunakan dress dengan bagian punggung yang terbuka, mulai merasakan dinginnya udara. Namun, karena rasa gengsinya yang tinggi membuatnya tetap memasang ekspresi wajah yang menunjukkan kalau dia tidak kedinginan.
Akhirnya mereka pun sampai di taman perumahan ini. Tampak sepi dan seram. Namun itu sama sekali tidak menakutkan untuk Zinia. Dia duduk di bangku taman dan di ikuti oleh Abra yang juga duduk di sampingnya.
Mereka masih saling diam. Tak satu pun memulai pembicaraan. Abra yang sedari tadi tampak gelisah karena melihat Zinia yang menggunakan dress terbuka itu pun akhirnya membuka jasnya dan menyelimutkannya ke tubuh ramping Zinia.
"Eh? Tidak perlu" Zinia yang akan melepas jas itu pun mendapatkan tatapan tajam dari Abra.
"Pakai. Udara di sini dingin, aku tidak mau kau sakit" ucap Abra tegas dan datar. Ada sedikit terselip rasa senang di hati Zinia, saat mendengar penuturan Abra. Namun rasa itu segera di tepisnya jauh-jauh.
'Jangan terpesona dengannya. Ingat kau sudah memiliki Faraz!' batinnya.
"Abra. Aku ingin kau batalkan acara lamaran itu dan bilang ke orang tuamu kalau kita tidak saling kenal. Ku mohon" ucap Zinia memohon.
"Kenapa? Apa karena kau akan menikah dengan kekasih jelekmu itu? Tidak aku tidak akan membatalkannya"
"Kau tau kalau aku akan..."
"Tentu saja"
"Lalu kenapa kau masih ingin menikah denganku?"
"Rahasia. Lagi pula kenapa kau mau menikah dengan pria jelek sepertinya?"
"Jaga ucapanmu! Dia tidak jelek!" Zinia marah. Sangat marah. Dia tidak terima kekasihnya di ejek oleh orang yang baru dikenalnya.
"Itu memang benarkan?"
Plak!
Tamparan itu mendarat dengan mulus di pipi kanan Abra. Zinia baru saja menamparnya dan Abra marah akan itu. Wajah mereka sekarang sama-sama merah dan tatapan mereka juga saling memancarkan kemarahan. Bahkan tatapan Zinia memancarkan kebencian dan ketidak sukaannya terhadap Abra.
"Berani sekali kau!" bentak Abra.
"Memangnya kenapa?! Salah aku membela kekasihku?!" jawab Zinia tak kalah keras.
"Haha, kekasih?! Tak sadarkah kau kalau kau telah menampar CALON SUAMIMU?! HAH?!"
"Belum menikah saja sudah seperti ini. Apa ini yang namanya Calon suami, heh?! " pancaran kebencian itu semakin membara. Kemarahan Zinia sudah tak bisa di bendung lagi. Ia pun berusaha meredamnya dengan cara pergi meninggalkan taman.
Abra menarik tangan Zinia, sehingga membuatnya masuk ke pelukan Abra. Ia merengkuh wajah Zinia dan mendekatkan wajahnya ke wajah Zinia. Dia mencium Zinia tepat di bibirnya. Ia menciumnya dengan lembut sangat lembut.
Zinia yang sempat terlena segera mengumpulkan ke sadarannya. Dengan sekuat tenaga dia mendorong tubuh Abra. Ciuman itu terlepas namun tidak dengan pelukannya. Matanya sekarang sudah berkaca-kaca sekarang.
"Maafkan aku" ucap Abra yang sekarang sedang memeluk tubuh Zinia erat. Dia-Zinia-terus saja meronta di pelukan Abra. Kemeja abu-abunya sudah basah sekarang. Tapi dia tidak peduli dengan itu.
"Jahat! Kau jahat! Aku akan membatalkan pernikahan ini! Aku tidak mau menikah denganmu! Jahat!" kata-kata itu terus terlontar dari bibir Zinia.
Abra mengabaikan kata-kata itu dan memeluk Zinia lebih erat lagi. Kata-kata itu kini sudah tidak terlontar lagi. Isakan dan tangisan juga tidak terdengar. Karena penasaran, Abra pun mengangkat wajah Zinia.
"Ternyata sudah tidur" gumamnya.
Dia mengusap sisa-sisa air mata yang ada di pipi Zinia. Dikecupnya kening calon istrinya itu. Senyuman terukir indah di wajah tampannya itu. Dengan hati-hati, dia menggendong Zinia menuju rumahnya.
"Astaga! Cepat bawa ke kamarnya"
Abra menaiki tangga dan masuk ke kamar yang bernuansa biru. Dibaringkannya tubuh Zinia dan diselimutkannya. Diusapnya puncak kepala itu dan dikecupnya. Entah mendapat dorongan dari mana tiba-tiba saja dia mengucapkan kalimat yang sakral bagi sebagian orang.
"Aku mencintaimu" gumamnya. Dia keluar dan menutup pintu kamar itu.
"Terima kasih karena sudah mengantarnya. Maaf jadi merepotkanmu" ucap Ibu dari Zinia.
"Tidak apa-apa, tante" jawabnya sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, pembicaraan ini kita lanjutkan saja nanti. Kami harus pulang sekarang. Terima kasih atas waktunya"
Setelah berpamitan, Abra dan kedua orang tuanya pun pulang. Sedangkan kedua orang tua Zinia masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah.
"Ma, bagaimana menurut Mama tentang Abra?" tanya Papa.
"Sepertinya dia anak yang baik dan menyayangi Nia. Firasat Mama pun mengatakan kalau dia adalah orang yang cocok dan tepat untuk Zinia" jawab Mama.
"Ya, Papa juga merasakan itu. Semoga saja dia adalah orang yang tepat, yang bisa membuat anak kita bahagia"
To Be Continue.