Chapter 6

1444 Kata
Grazinia POV Drrtt...ddrrtt... Suara getaran handphone-ku yang ada di atas meja itu sedikit mengusik tidurku. Aku yang masih memejamkan mataku pun menggagap meja samping tempat tidurku. "Halo!" "Selamat pagi sayang. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" Aku tersentak saat mendengar suara ini. "Abra?!" "Hei, jawab pertanyaanku" "Iya nyenyak. Ada apa?" "Baguslah. Maaf aku mengganggu tidurmu ya?" "Iya! Sangat mengganggu! Cepat katakan apa mau mu?!" "Tidak ada. Aku hanya ingin tau kalau kau sudah bangun atau belum. Karena aku sudah tau sekarang, aku akan menutup telponnya. Sampai jumpa, sayangku" Pip! Percakapan itu pun selesai. Menyebalkan sekali dia, mengganggu tidurku saja. Abraham POV Aku mematikan handphone-ku. Saat ini aku sedang berada di ruanganku di kantor perusahaan keluargaku. Sekarang pekerjaanku sudah tidak terlalu banyak. Yang aku lakukan sekarang hanya duduk dan memainkan handphone-ku. Tok!Tok!Tok! "Masuk!" "Yo, bro. Lagi ngapain?" tanya sahabatku sekaligus sekertarisku ini. "Ngga lagi ngapa-ngapain. Ada apa?" "Ngga ada apa-apa sih. Cuman lagi suntuk aja. Gimana informasi yang kemaren gue kasi, lengkap kan?" aku tersenyum singkat sambil mengangguk. Sahabatku ini aksen jakartanya emang lumayan kental, jadi kalo lagi ngomong sama dia kebiasaan pake lu-gue. "Baguslah. Ngomong-ngomong cewek yang namanya Zinia itu siapa? Pacar lu ya?" "Kepo lu!" "Serius ini. Siapa tu cewek? Cantik lagi. Jarang-jarang loh, lu nanyain cewek cantik ke gue" "Calon istri" jawabku santai. "What?! Calon istri? Serius lu?! Gilee udah mau nikah aja, ama cewek cakep lagi. Beruntung banget lu" aku terkekeh. "Ya iyalah, secara gue kan cakep" "Ngarep lu. Cakepan juga gue" "Lakuan lagi gue. Hayo mau jawab apaan lagi?" "Ngeselin lu!" "Emang. Eh, Tom ngopi yuk" ajak ku dengan suara ala-ala Raisa disalah satu iklan kopi. "Udah mau nikah masih aja ngondek. Parah lu. Lagian lu ngga cocok banget jadi Raisa" "s****n lu! Ya udah jadi ngopi kagak?" "Jadilah, tapi lu yang traktir. Biasa lagi kanker, kantong kering" candanya. "Pantesan ngga punya pacar. Bokek terus sih" "s****n!" "Udah, kasian si Alan lu panggil terus" candaku yang ku yakin sangat garing. "Garing" jawabnya. Kami pun keluar dari ruangan kerjaku dan menuju ke cafe yang ada di sebrang gedung perusahaan keluargaku. Di cafe inilah aku pertama kali bertemu dengan Zinia. Kami masuk ke cafe dan duduk di salah satu meja kosong di sudut cafe. Tommy pun memanggil pramusaji untuk memesan minuman dan beberapa cemilan. Setelah memesan kami pun kembali membuat candaan yang sangat garing. Persahabatan yang aneh bukan? "Eh, itu bukannya Zinia ya, calon istri lu?" Tommy menunjuk arah belakangku. Tampak Zinia dan seorang pria yang ku yakini itu Faraz sedang memasuki cafe ini. "Kok jalan sama cowok lain? Ngga cemburu lu?" aku hanya tersenyum dan menggeleng. "Biarin aja" jawabku enteng. Aku tau saat ini Tommy pasti sangat kaget mendengar jawabanku. "Lagi pula dia cuman makan dengan pacarnya. Kenapa mesti cemburu?" lanjutku "Katanya itu calon istri lu? Kok udah punya pacar? Kalian dijodohin, gitu? Drama banget! Ngga asik!" "Jangan sok tau. Udah diam aja tuh kopi udah dateng" dia mengangkat bahunya dan mulai menyeruput kopinya. Aku terus menatap ke arah meja Zinia dan pacarnya itu. Ingin sekali aku ke sana dan menarik tangan Zinia keluar dari cafe. Tapi kalau aku lakukan itu, dia pasti akan makin membenciku. Itu tidak boleh terjadi. Kejadian kemarin malam terus terngiang di pikiranku. Jujur aku menyesal dan kesal dengan diriku sendiri kenapa aku bisa selancang itu? Tidak seharusnya aku melakukan itu. Pasti dia sangat marah dan semakin benci denganku. Terdengar dengan jelas nada suaranya saat ditelpon tadi kalau dia sangat marah padaku. "Heh! Sadar lu. Senyam senyum sendiri, udah gila lu?" "Berisik lu!" dia meraba-raba keningku dan segera saja aku tepis tangannya. "Apaan sih lu?!" "Lu ngga sakit" "Emang gue ngga sakit! Eh, ngga ada meeting kan hari ini?" dia terkekeh dan menepuk bahuku. "Ada, 30 menit lagi" "Serius lu?!" "Tenang, bro. Udah gue siapin kali semuanya, lu mah tinggal meeting doang" ucapnya begitu santai. "Tinggal meeting apanya? Gue harus pelajarin materinya dulu, o'on! Ya udah ayo cabut" aku memukul kepalanya dan beranjak dari kursiku dan berjalan keluar cafe. Grazinia POV "Sayang. Kenapa pria itu memandangmu seperti itu?" tanya Faraz. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru cafe ini. "Yang mana?" "Itu. Yang di pojok sana" aku mengalihkan pandanganku ke meja yang ditunjuk Faraz. "Abra?" gumamku yang sepertinya didengar Faraz. "Apa?" "Ehm, tidak. Mungkin dia terpesona pada kecantikkan ku" Faraz terkekeh dan mencubit pipiku gemas. "Sakit tau!" "Ya udah, mana yang sakit?" "Di sini" aku menunjuk pipi sebelah kananku. Cup!cup! "Ih! Curang!" aku mencubit pinggangnya dan memanyunkan bibirku. "Tapi kamu suka, kan?" dia mencolek daguku dan tertawa. "Nyebelin!" aku kembali mencubit pinggangnya, berkali-kali. "Aduh! Sakit sayang!" "Makanya jangan genit!" jawabku dengan nada kasar. "Kok gitu jawabnya?" "Emangnya kamu mau aku jawab apa?" tanyaku dengan mengangkat sebelah alisku. "Aku mau kamu jawab, mana yang sakit? Gitu" "Jadi, di mana yang sakit?" tanyaku kali ini dengan nada genit yang dibuat-buat. "Nih, di sini" dia menunjuk pinggangnya. Aku mengelus pinggangnya itu dan langsung mencubitnya lebih keras dari sebelumnya. "Genit!!!!" aku langsung beranjak dari kursiku dan berjalan keluar cafe. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Faraz yang masih duduk di sana sambil memainkan handphone-nya. Tidak mengejarku?! Arggghh!! Nyebelin!!! 'Eh, Abra udah ngga ada di cafe itu. Ke mana dia?' batinku. Aku merasakan tanganku ditarik oleh tangan lain dari depan. Aku yang kaget pun mengalihkan pandanganku ke arah depan. Pria jangkung berkulit eksotis dengan balutan pakaian kerja dan kacamata hitam sedang menarik tanganku sekarang. Aku mau dibawa ke mana?! "Tolong!! Aku diculik!! Tolong aku!!" aku berteriak. Namun tidak satupun orang yang ada di jalan ini menolongku. Mereka malah terkekeh dan tertawa melihatku. Aku kembali berteriak dan respon semua orang masih sama, terkekeh dan tertawa. "Udah, jangan teriak lagi. Suara lu itu udah kayak toa. Sakit kuping gue dengerin lu" pria itu berbicara dengan suaranya yang sedikit cempreng. "Mau bawa aku ke mana sih?!" "Tuh, ke situ" jawabnya sambil menunjuk sebuah gedung tinggi di sebrang cafe. "Ngapain?" tanyaku bingung. Untuk apa dia membawaku ke sana? Apa jangan-jangan dia mau ngejual aku ke bosnya ya?! Ah! Itu ngga boleh terjadi! "Ketemu bos" jadi aku benar-benar akan dijual ke bosnya?! Tidak!!!! "Tolong lepasin aku! Aku ngga mau dijual!! Siapapun tolong aku!!" aku berteriak sangat keras. Tapi pria ini seakan tuli terus menyeretku menyebrang jalan. "Tol..hmmmppphh!!" mulutku dibekap dan itu semakin membuatku curiga juga panik. "Berisik banget sih! Kenapa coba bos suruh gue ngejemput toa kayak lu?" "Hmmpphh!!" "Mas itu kenapa ceweknya diseret gitu? Kasian ceweknya, Mas. Nanti kalo diputusin gimana?" tanya seorang satpam gedung ini. "Aduh, pak. Dia ini bukan cewek saya! Dia ini calon istrinya bos" satpam itu terkejut dan kembali masuk ke dalam posnya. Tadi barusan pria ini bilang apa? Calon istri bos? Aku bakal jadi istri muda bos? Istri gelapnya gitu? Ogah!! Mama tolongin Zinia!! "Siapa dia Tom? Pacar lu ya?" tanya salah satu orang yang ada di lobby gedung ini. "Sok tau lu! Dia calon istrinya bos" setelah menjawab pertanyaan orang itu dia kembali menyeretku masuk ke dalam lift. Aku pun menggigit tangannya, keras. "Aw!" pekiknya. "Eh! Biar pun lu itu calon nyonya di perusahaan ini. Lu ngga berhak gigit tangan gue, lagian bagi gue lu tetap seorang cewek toa yang punya gigi hiu! Cewek liar!" ejeknya. s****n! "Dan lu adalah tiang listrik yang ngga ada satupun stiker nempel di situ karena lu karatan. Jadi kalo dikehidupan nyata, lu itu di ibaratkan cowok yang ngga ada satupun cewek deketin karena lu kasar, hitem, dan karatan. Cowok aneh!" balasku. Saking emosinya aku jadi keikut ngomong pake bahasanya. "Ngga bos ngga calon istrinya, sama aja. Sama-sama suka bilang gue ngga laku!" gumamnya yang masih bisaku dengar dengan jelas. "Emang benarkan?" "Berisik lu!" jawabnya dan langsung menyeretku keluar dari lift. Dia membuka suatu ruangan yang sangat besar. Aku yakin pasti ini ruangan kerja bosnya. Sofa berwarna abu-abu itu menjadi tempat sasaranku untuk duduk. Empuk. Aku memandangi sekelilingku dan berdecak kagum melihat interior ruangan ini. "Bos sedang meeting sekarang. Jadi, tunggu di sini sebentar, ok? Jangan ke mana-mana" pria itu keluar begitu saja dan mengunci pintunya dari luar. Mau kemana-mana gimana? Pintunya saja di kunci. Huft! Aku mengeluarkan handphone-ku untuk menelpon Mama. Bagaimana pun aku mau keluar dari sini. Tapi sepertinya dewi fortuna tidak berpihak padaku, karena handphone-ku lowbatt sekarang. s**l! Aku meletakkan handphone-ku begitu saja di atas meja dan berjalan menuju meja kerja di ruangan ini. Ternyata begini rasanya duduk di kursi bos. Nyaman juga. Hoam! Beginilah kalau aku sudah bosan pasti mengantuk. Karena kursi ini nyaman dan empuk, membuatku semakin tidak bisa menahan kantukku. Perlahan tapi pasti mataku menutup dan aku pun mulai masuk ke dalam alam mimpi. To Be Continue. HELLO!! GIMANA? ADA KEMAJUAN? LEBIH BAGUS ATAU LEBIH GAJE? HEHE MAKLUMIN AJA YA NAMANYA JUGA MASIH JADI AUTHOR BARU. MAKASIH YA BUAT YANG UDAH BACA, VOTE, DAN COMMENTS. SEMUANYA SANGAT BERARTI BUAT AUTHOR. THANKS. SEE YAA!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN