NPH 6

1141 Kata
Milly berjalan memasuki pekarangan rumahnya setelah dia mendapat panggilan telepon dari sang suami. Dan tentu saja pertemuannya dengan James harus cepat berakhir, dia juga memberikan nomornya untuk berjaga-jaga ketika dia ingin mengunjungi rumah yang merupakan milik Bibi James. Dan ketika sampai di rumah, Milly sudah tidak melihat mobil milik wanita yang bermesraan dengan Eden di kamar. Milly langsung menuju ke kamarnya, di mana ternyata sudah ada Eden di sana. Seperti sedang menunggu dirinya. Wanita itu melepas jaket dan meletakkan kembali tas kecil yang ia bawa tadi. Eden menatap setiap pergerakan yang dilakukan istrinya itu. "Ke mana saja kamu?" tanya Eden langsung. "Hanya jalan-jalan di sekitar taman komplek," jawab Milly yang kemudian mengambil tempat di sebelah Eden duduk, yakni ranjang miliknya. Eden pun berdiri dan memandang sang istri penuh. "Kamu tidak ijin kepadaku," protes pria ini. Seketika tawa Milly pun membuncah. "Aku hanya berjalan-jalan di sekitar sini, Eden. Aku rasa aku tidak harus ijin kepadamu. Lagi pula tadi kamu sedang sibuk sepertinya," jawab Milly yang masih mengingat dengan kegiatan yang Eden lakukan bersama wanitanya. Perasaannya sudah tidak sekesal tadi. Eden mengingat mungkin saja Milly mendengar apa yang dia lakukan tadi di dalam kamar. Sial, dia harus segera memasang pengedap suara. "Lantas, kenapa kamu tidak mengirimiku pesan? Setidaknya kamu harus memberitahu di mana tempatmu berada," ujar Eden lagi. "Eden ... aku rasa masalah ini tidak perlu dibesar-besarkan," sahut Milly menatap pria itu penuh. Eden pun menyerah. Dia berjalan menuju ke pintu, berharap Milly mau menegurnya guna menanyakan perihal wanita itu atau bercerita tentang pria yang bersama di taman tadi. Ya, Eden tahu segalanya mengenai istrinya itu yang bertemu seorang pria di taman. Ia mendapat info dari mata-mata yang selalu ia kirim untuk menjaga Milly. Setelah kepergian Eden, wanita itu mengembuskan napas lelahnya. "Kenapa dia jadi seperti itu?" lirihnya yang memikirkan perilaku Eden barusan. Tidak ingin memikirkan hal yang terlalu berat, Milly memilih untuk berada di dunia mimpi yang selalu menjadi teman tidurnya. Setidaknya, di sana dia merasa bahagia, meskipun semuanya tidak nyata. Sedangkan Eden, pria ini merasa kesal karena dihiraukan oleh sang istri. Dia tidak akan tinggal diam untuk permasalahan hari ini. *** Kedatangan orang tua Eden membuat Milly mau tidak mau harus kembali memerankan dirinya sebagai istri dari Eden. Ya, seperti biasa dia dibantu oleh beberapa pelayan untuk berkemas. Memindahkan beberapa barang penting ke dalam kamar milik Eden saat ini. Mereka harus benar-benar terlihat bersama, setidaknya itulah yang harus mereka lakukan ketika kedatangan keluarganya. “Sepertinya mereka akan sedikit terlambat datang karena penerbangan yang tertunda,” tutur Eden yang diangguki oleh Milly. Pria itu membantu sang istri berkemas, tentu saja ini menjadi kegiatan rutin yang mereka lakukan ketika dalam keadaan terdesak. “Aku janji ini tidak akan berlangsung lebih lama lagi, Milly,” ujar Eden tiba-tiba, membuat pergerakan Milly yang memindahkan baju-bajunya pun terhenti. Wanita itu membelakangi Eden di mana si pria sedang menata beberapa peralatan rias milik Milly. “Setidaknya hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu saat ini,” lanjutnya. Ada sebagian perasaan Eden yang entah mengapa tidak rela ketika bibirnya mengatakan itu. Dan saat mendengar perkataan Eden, membuat d**a milik Milly terasa sesak, seperti enggan untuk bernapas. Kemudian, Eden memandang Milly yang membelakanginya. Selama enam bulan ini dia sangat merasa bersalah kepada temannya itu. “Bagaimana kalau kita—” “Tidak,” potong Milly. Eden pun diam, menunggu apa yang akan dikatakan wanita itu. “Maksudku ... kita lakukan sesuai dengan yang ada di surat perjanjian itu,” lanjut Milly yang sudah tidak membelakangi Eden. Eden pun terdiam, kemudian dia mengangguk. Milly pun bernapas lega saat ini. “Aku akan berbicara kepada pelayan dulu,” ucap Eden yang bergerak keluar kamar. Milly menatap kepergian suaminya itu dengan pandangan sendu. Awalnya, dia berharap jika Eden tidak akan pernah melakukan perjanjian konyol itu, nyatanya pria itu sama juga dengan pria lainnya. Milly pun mulai memantabkan hatinya. Jika Eden bisa bebas menentukan hidupnya, maka dia juga harus bisa. Dia tidak ingin berada di perasaan yang hanya sepihak saja. setidaknya dia juga harus bahagia untuk kehidupannya. “Pastikan untuk terlihat sempurna,” perintah Eden kepada pelayan yang sedang berkemas. Sepertinya para pelayan di sini juga tahu bagaimana hubungan Eden dan Milly. Sayangnya mereka diminta untuk tutup mulut. Kalaupun terpaksa berbicara, maka mereka harus menanggung risiko berat nantinya. “Tuan, ada tamu di depan,” ucap salah satu bodyguard yang bertugas di depan rumah. Eden pun mengernyit, siapa kira-kira bertamu di pagi hari seperti ini? Lantas, pria ini pun bergegas keluar rumah. Dia menemukan seorang pria berdiri di sana. Itu James, dia nampak tertegun ketika melihat Eden yang keluar dari rumah itu dan bukannya Milly. James menghampiri Eden di sana. “Selamat pagi. Apakah benar ini rumah Milly?” tanya James membuat Eden mengernyit. Ini adalah kali pertama seorang pria mencari istrinya itu. Eden mengangguk membenarkan. “Ya, benar.” James pun terlihat senang. “Apakah dia ada di rumah?” tanyanya. Sekali lagi Eden mengangguk. “Tapi ... dia sedang sibuk,” jawab Eden. James pun terlihat kecewa, namun sedetik kemudian dia mengubah raut wajahnya kembali normal. “Baiklah kalau begitu. Bolehkah saya minta tolong untuk memberikan makanan ini kepadanya? Kebetulan sekali saya baru makan bubur dan teringat dengannya,” tutur James. Eden pun mengangguk dan menerima bungkus bubur itu. Kemudian, James pamit pulang. Eden memandang kepergian pria itu dengan datar. Seketika bola matanya tertuju kepada bubur ayam yang ia pegang itu. “Kau, sinilah!” perintah Eden memanggil salah satu bodyguard di luar. Pria dengan setelan jas lengkapnya itu pun langsung menuju ke tempat Eden dengan cepat. Eden langsung memberikan bungkusan bubur ayam itu. “Ambillah,” ucapnya yang langsung diterima oleh pria itu. Eden pun kembali masuk ke rumah dengan perasaan kesal karena kedatangan James. Dia berpikir apakah pria itu  mengira dirinya tidak mampu memberi makan Milly? Sungguh bodoh. Bahkan pria itu berani-beraninya datang ke sini. Oh, sepertinya Eden tahu siapa pria tadi, mungkin itu pria yang Milly temui di taman. Kenapa juga harus banyak pria yang muncul di hidup mereka saat ini? Baru beberapa hari lalu dia bertemu Adrian yang merupakan mantan Milly, dan sekarang pria baru lagi yang ia tidak tahu siapa. “Eden.” Sebuah suara mengalihkan perhatian pria itu. Di dekat ruang keluarga ada Milly yang baru saja muncul. “Ya?” jawab Eden. “Apakah tadi ada tamu?” tanya Milly. Eden pun tahu kalau pria tadi sudah menghubungi Milly barusan, terlihat jelas karena wanita itu membawa ponsel miliknya. “Ya,” jawab Eden. “Apakah dia menitipkan sesuatu?” “Ya. Bubur ayam,” jawab Eden dengan jelas, seakan tidak peduli kalau nanti Milly menanyakan tentang makanan itu. “Terus, mana buburnya?” “Aku berikan ke salah satu pekerjaku di depan,” kata Eden membuat Milly memandang pria itu kecewa. Dia sudah diberitahu James kalau pria itu kebetulan lewat dan teringat dengannya, maka James pun membelikan bubur ayam untuk Milly makan. “Dia terlihat kelaparan, makanya aku berikan kepadanya,” alibi Eden yang tentu saja tidak bisa Milly bantah. Milly mengangguk mengerti, kemudian berjalan menuju ke area dapur guna mengambil minum. Eden pun tersenyum senang karena hari ini bisa menang. Setidaknya dia harus menjaga Milly agar tidak jatuh ke pelukan pria yang salah. Ya, Eden pastikan dia akan mencari pria yang tepat untuk wanita itu. Jangan lupa tap love ya. Update seperti biasa seminggu 2x. Semoga sabar menunggu :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN