16. Pulang

1374 Kata
Raga masih terdiam. Tubuhnya merinding seketika. Bapak Johan, Sanusi dan Johan menatap Raga dengan tegang. Bapak Raga berharap banyak darinya agar arwah Nayara bisa membantu mereka. Jika tidak mereka akan tersesat dan mungkin bisa berhari-hari terjebak di sana. “Ayo Raga,” pinta Bapak Johan sekali lagi. Dia sangat berharap remaja itu bisa memanggil arwah kekasihnya dan bisa menolong mereka memberikan petunjuk untuk jalan pulang. Seketika kepalanya terasa sakit. Semua heran. “Kamu kenapa, Raga?” tanya Johan cemas. “Aku nggak apa-apa,” jawab Raga. Tak lama kemudian ingatannya akan masa lalu kembali muncul. Saat dia menarik tangan gadis itu menembus hutan cemara di kawasan Gunung Bunder dekat dengan Curug seribu di daerah Bogor. Bila akhir pekan tiba mereka memang sering jalan-jalan berdua. “Kita mau kemana, Nayara?” tanya Raga penasaran. Gadis itu masih menarik tangannya menuju suatu tempat. “Ikut aja aku,” pinta Nayara. Raga mengangguk saja. Walau lelah, dia ikuti saja kemana Nayara akan membawanya. Saat sudah jauh berlari, ternyata gadis itu membawa Raga ke sebuah danau kecil yang permukaannya ditumbuhi bunga teratai. Raga takjub dengan tempat itu. “Indah, banget! Kok kamu tahu tempat ini?” tanya Raga. “Dulu aku pernah ke sini dengan temanku, dia yang pertama kali menemukan tempat ini. Aku nggak tahu gimana dia bisa menemukan tempat ini, tapi setelah dia meninggal karena kena penyakit demam berdarah, tiap kali ke sini aku nggak pernah bisa menuju tempat ini,” jawab Nayara. “Terus sekarang bisa nemuin tempat ini gimana?” tanya Raga penasaran. Nayara terdiam sesaat lalu dia berbisik pada Raga seolah tidak mau ada yang mendengar rahasianya, padahal di sana hanya ada mereka berdua. “Aku manggil nama temenku, terus tiba-tiba rumput-rumput bergoyang-goyang menjadi petunjuk jalan ke tempat ini,” jawab Nayara. Seketika Raga merinding mendengar itu. Dia berdiri. “Kita pulang sekarang,” pinta Raga. Nayara heran, “Kenapa?” “Aku ngeri sama cerita kamu,” jawab Raga jujur. Nayara tertawa. “Nggak usah takut,” pinta Nayara. Akhirnya mereka menghabiskan waktu cukup lama di sana. Ingatan Raga buyar saat Bapak Johan memanggil-manggil namanya dengan berteriak. “Raga! Raga!” teriak Bapak Johan sambil mengguncang tubuh Raga yang tadi seperti tidak sadarkan diri. Raga terkejut lalu mengatur napasnya agar bisa kembali tenang. Iya, dia yakin dengan memanggil arwah Nayara, arwah Nayara pasti akan memberikan petunjuk jalan pulang seperti yang dilakukan arwah sahabat Nayara dulu pada Nayara. “Ayo, Raga.” Kali ini Johan yang memintanya. Raga mengangguk. Dia mengitari sekitar. Mencoba mencari sosok arwah kekasihnya itu. “Nayara! Tolong beri petunjuk kami untuk jalan keluar dari tempat ini,” pinta Raga. Semua menunggu, akan tetapi tidak ada tanda apapun. Raga memandang Bapak Johan dengan bingung. Bapak Johan pun tampak kebingungan. Sanusi menatap Bapak Johan dengan gelisah. “Kita sambil jalan aja, dari pada diam seperti ini mending sambil mencari jejak,” pinta Sanusi. “Jangan dulu! Kita bisa tersesat kalau dipaksakan! Kita harus cari cara agar mendapatkan petunjut,” tegas Bapak Johan. Johan menatap wajah ayahnya itu dengan serius. “Gimana kalo kita ikuti aja aliran air di bawah jurang, nanti kita pasti ketemu jalan besar,” saran Johan. Sanusi tampak senang mendengarnya. “Bener itu, Mang,” ucap Sanusi setuju pada saran Johan. “Ujung sungai di bawah jurang itu akan membawa kita ke daerah Lintang Kanan. Dan jaraknya sangat jauh, pasti butuh berhari-hari dari sini jika harus ke sana,” ucap Bapak Johan. “Aneh, kenapa jejak kita tadi bisa nggak keliatan?” gumam Johan. “Itu karena yang menggiring kita ke sini adalah Jemo Sumay,” jawab Bapak Johan. Seketika Raga menggelepar. Dia seperti kerasukan. Johan panik melihatnya. “Ragaaa!” Saat Johan hendak membantunya, Bapaknya malah memegangi tangannya. “Jangan!” Johan heran. “Kenapa, Bak?” “Mungkin arwah kekasihnya yang merasukinya,” tebak Bapak Johan. Johan mengangguk. Sanusi terbengong-bengong heran. Bapak Johan seperti membaca sesuatu. Tak lama kemudian Raga berdiri dengan sorot mata lain, seperti bukan sorot matanya. Wajahnya kini pucat dan terlihat sangat menakutkan. Tak lama kemudian Raga berjalan bagai zombi meninggalkan mereka. Bapak Johan melihat ke arah Johan dan Sanusi. “Kita ikuti dia,” pinta Bapak Johan. “Kalau malah mencelakai kita gimana?” tanya Sanusi tak percaya. Tiba-tiba langkah Raga yang sedang kerasukan berhenti lalu menoleh ke Sanusi dengan wajah marah. Sanusi merinding dan ketakutan. “Iya, saya percaya kamu,” ucap Sanusi pada Raga dengan gemetar. Mereka bertiga pun mengikuti langkah Raga. Rumput-rumput liar di hadapan mereka ditembus dengan pelan. Johan melirik ke Bapaknya dengan heran. “Raga dirasuki arwah Nayara, Bak?” tanya Johan heran. “Jangan banyak omong dulu, diam saja, kita ikuti saja dulu,” pinta Bapak Johan padanya. Johan mengangguk. Hutan di sana tampak kelam. Pohon-pohon tinggi tumbuh menembus langit. Semak-semak dan rerumputan yang merambati pohon-pohon di sana tampak menjadikan suasana semakin menakutkan. Raga terus berjalan membentuk jalan setapak sendiri dengan melewati yang bisa dilewati dengan mudah. Dia masih dirasuki oleh arwah Nayara. Sementara itu Johan masih memikirkan kejadian tadi saat dia dan Raga bertemu dengan dukun Sarok tadi. Dia tak percaya dukun itu tiba-tiba bisa menghilang dan gubuknya berubah menjadi semak yang mengerikan. Apakah benar dukun itu sudah meninggal seperti yang dikatakan Sanusi? Pikirnya. Dia sama sekali masih tak percaya. Jika benar dukun itu sudah meninggal, lalu apakah yang dikatakannya pada Raga itu memang sebuah syarat agar Raga bisa melihat para arhwah? Dia bertekad untuk merahasiakan itu pada ayahnya. Dia ingin mendiskusikannya lagi dengan Raga saat mereka sudah tiba di kampungnya nanti. Ada batas hutan yang boleh dijadikan pertanian kopi oleh warga di sana. Sementara bagian hutan yang mereka lewati adalah batas yang tidak boleh lagi dijadikan kebun oleh warga. Bagaimana pun kadang di sana masih banyak ditemukan hewan buas. Hutan itu sebenarnya hutan yang menjadi tempat terbaik untuk warga berburu babi yang sering merusak tanaman kopi. Mereka akhirnya tiba di jalan setapak utama. Bapak Johan, Sanusi dan Johan tampak lega. Mendadak Raga kembali rubuh. Bapak Johan buru-buru memeganginya agar tubuh remajah itu tidak jatuh ke tanah. Sesaat kemudian Bapak Johan membaca doa seuatu. “Tolong minta air,” pinta Bapak Johan pada Sanusi dan Johan. Johan pun memeriksa tasnya, dia baru ingat kalau persediaan air sudah habis. “Air udah abis, Bak,” ucap Johan. Bapak Johan bingung. Raga masih belum sadar. Dia melihat ke mereka dengan serius. “Dekat sini air air sungai kecil, tolong ambilkan air di sana, tapi ingat lewati terus jalan setapak ini,” pinta Bapak Johan. Sanusi dan Johan tampak takut. “Nanti kalo kita ditarik sama Jemo Sumay lagi gimana?” protes Sanusi dengan ngeri. Bapak Johan menghela napas. “Azimatnya tadi sudah dibuang, mereka nggak akan berani ganggu lagi. Tolong, biar Raga bisa sadar dan kita bisa segera meninggalkan hutan ini,” pinta Bapak Johan. Akhirnya Sanusi dan Johan menganguk. Mereka pun pergi menyusuri jalan setapak itu. Jauh di ujung sana memang ada sungai kecil yang airnya sangat jerni. Johan menoleh pada Sanusi. “Emangnya Bak punya ilmu ya?” tanya Johan tak percaya. Baru hari ini dia melihat ayahnya itu mengerti akan ilmu ghaib, itu bisa dilihatnya saat komat kamit membaca doa untuk Raga tadi. Apalagi saat Bapaknya bisa melihat arwah yang memberi petunjuk untuk menemukan Sanusi tadi. “Mamang nggak tau, tapi katanya dulu memang Bapakmu itu sakti,” jawab Sanusi. Raga berhenti melangkah. “Sakti gimana?” Johan sangat penasaran. Sanusi kesal. “Udah, nanti aja nanya-nanyanya, kita ambilin air dulu buat temen kamu. Nanti keburu malem,” pinta Sanusi kesal. Raga mengangguk pasrah. Akhirnya mereka kembali melangkah. Ketika mereka berdua berhasil mengambilkan air untuk Raga, rupanya Raga sudah sadar dan sedang duduk lemas di dekat Bapak Johan. Johan langsung memberikan air minumnya pada Raga. Raga langsung meminumnya dengan bingung. “Tadi aku kenapa?” tanya Raga heran. “Nanti saja bapak jelasin, sekarang kita pulang dulu sebelum malam datang. Kalo malam sudah datang, binatang buas pasti akan berdatangan memburu Babi hutan,” pinta Bapak Johan. Raga pun mengangguk. Mereka akhirnya kembali melanjutkan perjalanan menuju arah Talang. Langkah kaki Raga tampak lemas. Dia berjalan agak pelan. Johan cemas melihatnya. “Kamu nggak kenapa-napa?” tanya Johan. Raga menggeleng. Dia masih heran apa yang terjadi padanya tadi. Dia merasa sedang tertidur lalu bangung-bangun sudah berada di jalanan setapak yang bisa mengantarkan mereka kembali ke kampung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN