Raga dan Johan keluar dari tempat itu dengan buru-buru. Bapaknya terkejut melihat Johan dan Raga ada di sana. Bapak Johan langsung menjewer kuping Johan dengan Paksa. Sementara Sanusi hanya diam saja.
“Bapak udah bilang jangan ke sini! Kenapa kamu nggak mau nurut sama Bapak?” teriak Bapak Johan dengan penuh amarah.
“Ampun, Bak!” teriak Johan kesakitan.
Raga yang tidak enak hati akhirnya mendekat ke Bapak Johan.
“Maaf, Pak, semua ini salah Raga,” aku Raga sambil menunduk pada Bapak Johan.
Bapak Johan pun melepas cubitannya pada kuping Johan. Johan mengelus-elus telinganya karena kesakitannya. Bapak Johan memandang Raga, dia mau marah tidak enak hati karena remaja itu adalah sahabat anaknya.
“Arwah yang mengikutimu itu belum tentu arwah kekasihmu. Bisa jadi itu adalah jin Qorin yang selama ini mengikuti kekasihmu. Jangan main-main dengan ilmu kebatinan, Nak,” pinta ayah Johan pada Raga.
Raga mengangguk.
“Maaf, Pak,” ucap Raga sekali lagi.
Ayah Johan hanya dapat menghela napas. Sanusi memandang ke arah Johan.
“Dukun Sarok nggak ada lagi di sini. Dia udah pindah. Kata orang-orang dia sudah mati. Lihat saja gubuknya sudah roboh,” ucap Sanusi pada Johan.
Johan dan Raga saling menatap heran.
“Bukannya gubuknya udah pindah di sini?” tanya Johan.
“Mana? Nggak ada gubuk di sini?” tanya Sanusi heran.
Raga dan Johan pun menoleh ke belakang. Ternyata gubuk yang mereka masuki tadi berupa semak-semak dari rumput yang merambat ke atas pohon. Raga dan Johan kaget. Mereka saling melihat. Johan memberi kode pada Raga agar jangan memberitahukan apa yang mereka lihat tadi pada kedua orang tuanya. Raga mengerti.
“Kalian tadi ngeliat gubuk di sini?” tanya Bapak Johan pada Raga dan Johan.
Seketika Raga dan Johan kompak menggeleng. Bapak Johan dan Sanusi lega mendengarnya.
“Sekarang ayo kita pulang, sebelum maghrib datang,” pinta Sanusi.
Mereka semua pun berjalan pulang menuju Talang. Di perjalan itu Raga heran akan apa yang disaksikannya tadi. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kenapa gubuk itu berubah menjadi semak-semak? Siapa yang dilihatnya tadi? Apakah benar dia adalah sosok dukun Sarok? Jika dukun itu sudah meninggal, lalu tadi siapa? Johan pun dalam hatinya juga sama. Dia juga bertanya-tanya.
Saat berhasil melewati sungai, tiba-tiba Sanusi rubuh. Lelaki tua itu menggelepar di atas jalanan setapak. Lehernya seperti ada yang mencekik. Semua panik dan heran.
“Mang! Mamang!” teriak Bapak Johan pada Sanusi.
Tiba-tiba kaki Sanusi seperti ada yang menarik. Lelaki tua itu ditarik sesuatu dengan cepat hingga tubunya tertarik ke belakang menembus rerumputan sambil berteriak-teriak.
“Tolong! Tolong!”
Bapak Johan, Raga dan Johan pun langsung mengejar Sanusi yang ditarik sesuatu yang tidak dapat dilihat mereka.
“Mamang! Mamang!” teriak Johan dengan panik.
Di ujung sana mereka melihat ada Jurang. Karena Sanusi ditarik dengan cepat oleh sesuatu yang tidak dapat mereka lihat, saat mereka tiba di dekat jurang itu, mereka tidak menemukan jejak Sanusi sama sekali. Semua tegang dan bingung.
“Sanusi! Sanusi!” teriak Bapak Johan.
Hening. Sanusi tidak menyahut sama sekali.
“Mang Sanusi kemana, Pak? Dia ditarik sama siapa?” tanya Johan pada Bapaknya dengan bingung.
“Itu pasti ulah Jemo Sumay,” jawab Bapak Johan sambil mencari-cari keberadaan Sanusi.
Johan terbelalak mendengar itu. Raga penasaran dengan istilah Jemo Sumay itu. Jemo Sumay adalah istilah makhluk halus dari daerah Sumatera Selatan. Dia berada di dalam hutan. Makhluk halus itu dikenal suka menculik anak-anak yang bermain ke dalam hutan. Dia akan menjadikannya keluarga dan akan hidup bersamanya di dalam hutan tanpa mengingat siapa dia sebenarnya. Dahulu semasa kecil, ada teman Johan yang hilang di dalam hutan dan sampai sekarang belum pernah ditemukan lagi. Konon kata para orang pintar di kampungnya kalau anak itu telah diculik oleh Jemo Sumay.
Tak berapa lama kemudian mereka semua melihat sebuah pohon kecil bergerak-gerak. Semua kaget.
“Itu apa, Bak?” tanya Johan heran.
“Tenang dulu,” pinta Bapak Johan pada mereka.
Bapak Johan pun memejamkan mata, kemudian dia membaca doa-doa. Johan dan Raga saling menatap dengan heran tentang apa yang dilakukan oleh ayah Johan itu.
Raga berbisik pada Johan.
“Bapak lo lagi ngapain?” tanya Raga heran.
“Gue nggak tahu, mungkin lagi doa biar Mang Sanusi yang diculik jemo Sumay dikembalikan lagi ke sini,” jawab Johan.
Raga pun mengangguk. Mereka kembali fokus memperhatikan Bapak Johan yang masih komat-kamit membaca doa sesuatu. Tak berapa lama kemudian Bapak Johan membuka mata, dia melihat arwah seorang gadis sedang berdiri di atas pohon kecil sambil menggoyang-goyangkan pohon itu. Ya, itu adalah arwah Nayara. Arwah itu menunjuk ke arah semak-semak di ujung sana. Bapak Johan yakin arwah itu ingin membantunya menunjukkan dimana Sanusi berada. Seketika Bapak Johan tidak dapat melihat arwah Nayara lagi. Dia pun menatap Johan dan Raga dengan panik.
“Kita cari ke sana,” pinta Bapak Johan sambil menunjuk ke arah semak-semak yang tadi ditunjuk oleh arwah Nayara.
Mereka pun pergi ke semak-semak itu. Sesampainya di sana, benar saja mereka akhirnya menemukan Sanusi yang terlilit batang rerumputan. Mulutnya juga tertutup batang rerumputan hingga tak dapat bicara lagi. Lelaki tua itu hanya dapat berguman. Bapak Johan, Raga dan Johan pun langsung membantu membuka lilitan batang rerumputan itu di tubuh Sanusi. Sanusi pun kini bebas dengan ketakutan luar biasa.
“Kita harus cepet-cepet pergi dari sini!” pinta Sanusi.
Bapak Johan menatap wajah Sanusi dengan serius.
“Apa kamu membawa azimat sesuatu?” tanya Bapak Johan.
Sanusi heran.
“Iya, memangnya kenapa?”
Bapak Johan menghela napas mendengarnya.
“Sekarang keluarkan azimat itu dan segera buang ke dasar jurang sana,” pinta Bapak Johan dengan tegas.
Sanusi semakin heran.
“Kenapa? Azimat ini turun temurun dari kakek buyut saya,” jawab Sanusi.
“Azimat itu berbahaya. Energinya mampu menyerap makhluk-makhluk halus penghuni hutan. Pantas saja tadi Jemo Sumay menarikmu ke sini. Kalau dibiarkan kamu tak akan pernah ingat lagi siapa dirimu dan akan tetap tinggal sama mereka di hutan ini,” tegas Bapak Johan padanya.
Sanusi pun akhirnya mengeluarkan azimatnya dalam dompetnya, dia pun langsung membuat Azimat itu ke dalam jurang di dekat mereka. Setelah itu mereka pergi dari sana. Namun sesaat kemudian, langkah Bapak Johan yang berada paling depan tampak berhenti. Semua heran.
“Kenapa, Bak?” tanya Johan heran.
“Bapak lupa kita harus kemana? Jejak kita berlari ke sini tadi kenapa bisa menghilang?” tanya Bapak Johan bingung.
Sanusi maju ke hadapan sambil mencari jejak rumput yang tadi ditindihnya saat ditarik makhluk halus tadi. Ternyata jejak itu memang tak terlihat lagi. Sanusi pun bingung. Bapak Johan pun melihat ke arah Raga, dia teringat akan arwah Nayara yang dilihatnya tadi. Dia yakin kalau yang membantunya menunjukkan tempat disembunyikannya Sanusi tadi adalah arwah Nayara.
“Raga,” panggil Bapak Johan.
“Iya, Pak,” jawab Raga heran.
“Coba kamu panggil arwah kekasihmu itu, minta dia memberikan petunjukkan jalan pulang kepada kita, tadi yang Bapak liat menggerak-gerakkan pohon kecil tadi itu adalah arwah kekasihmu,” pinta Bapak Johan padanya.
Sekarang Raga bingung sendiri. Bisakah dia meminta pertolongan pada arwah kekasihnya yang tidak dapat dilihatnya itu?