14. Gerbang Kematian

1024 Kata
Raga dan Johan tiba di sebuah pondok. Pondok itu tampak sudah dirambati oleh tanaman liar. Kayunya lapuk. Atapnya sudah mau rubuh. Johan bingung. Raga juga bingung. "Kok kayak udah ditinggal?" tanya Raga heran. "Dia udah nggak tinggal di sini lagi kayaknya," ucap Johan dengan bingung dan kecewa. "Emang bener ini tempatnya?" tanya Raga memastikan. "Iya," jawab Johan. Dia duduk di sembarang tempat. Rasa lelahnya semakin menjadi saat dukun Sarok tidak ada lagi di sana. Setahun yang lalu dia pernah menemani teman SD-nya ke tempat itu. Temannya putus cinta dan ingin agar kekasihnya yang memutuskan cintanya itu kembali lagi padanya. "Emang dukun itu bisa nyatuin hubungan kalian lagi?" tanya Johan pada temannya bernama Andi saat mereka melakukan perjalanan menuju tempat dukun itu. "Kata orang gitu," jawab Andi kala itu. "Kita nggak bakal sesat kan?" tanya Johan bingung. "Nggak, tenang aja, aku pernah ke sana," jawab Andi. Saat mereka berhasil menemui dukun itu di tengah hutan, Johan diminta menunggu di depan pondok itu. Entah apa yang dilakukan dukun itu pada temannya. Setelah selesai melakukan ritual dengan dukun itu, temannya keluar dan bilang kalau dukun itu bukan hanya bisa mengembalikan kekasihnya ke pangkuannya lagi saja, melainkan dia bisa juga membuka mata batin siapapun yang ingin dibuka. "Buat apa membuka mata batin?" tanya Johan pada Andi dengan heran. "Ya kali aja mau lihat hantu," jawab Andi sambil tertawa. Johan berpikir tak ada gunanya untuk membuka mata batin. Itu akan membuat ngeri sendiri. Gimana pun arwah-arwah pasti akan terlihat seram. Membayangkannya saja dia ngeri. Tapi sekarang saat sahabatnya Raga sangat menginginkan itu karena ingin melihat arwah Nayara. Dia jadi tahu kalau membukq mata batin ada pentingnya juga. Dari cerita itulah Johan mau mengajak Raga ke sana. Keyakinan Johan bertambah saat melihat temannya bisa kembali lagi pada kekasihnya. Akhirnya mereka menikah dan merantau ke Batam. Hingga kini temannya itu tak pernah pulang lagi ke kampung halaman. Mungkin dia sudah hidup bahagia bersama istrinya. Raga menoleh pada Johan dengan bingung. "Kita harus gimana?" tanya Raga. "Aku nggak tau," jawab Johan, "Maaf ya, kita udah jauh-jauh ke sini ternyata dukunnya nggak ada," ucap Johan sedih. "Kamu nggak salah. Emang dukunnya aja yang nggak ada," ucap Raga mencoba menenangkan dirinya sendiri. Johan bangkit dan menatap Raga dengan lekat. "Nanti kita cari dukun yang lain aja, siapa tahu ada lagi yang kesaktiannya sama kayak dukun Sarok," ucap Johan. Raga mengangguk sedih. "Sekarang kita harus pulang," pinta Johan, "Lama-lama di sini nggak akan aman, banyak binatang buas." Raga mencoba tersenyum. Akhirnya mereka melangkah pergi dari sana. "Kalian mencari saya?!" Suara itu mengangetkan Raga dan Johan. Dua rema itu langsung berbalik badan. Johan tampak senang saat mendapati orang yang dia cari sudah berdiri di hadapannya. "Kakek Sarok?!" teriak Johan dengan senangnya. Raga pun ikut senang saat menyadari lelaki tua di hadapannya itu adalah dukun Sarok yang mereka cari. "Iya. Ada apa mencari saya?" tanya dukun Sarok pada Johan. "Ini sahabat saya mau minta tolong sama kakek," ucap Johan. "Ikut saya," pinta dukun itu pada mereka. Raga dan Johan pun melangkah mengikuti langkah kaki dukun itu dari belakang. Setelah perjalanan cukup jauh, mereka tiba di depan sebuah pondok baru. Ternyata dukun itu memang pindah tempat, entah apa alasannya. Dukun Sarok pun mengajak mereka masuk. Di dalam ruangan itu tampak agak gelap. Ada tempat membakar kemenyan dan sebuah guci yang menjadi tempat penyimpanan bunga-bunga bertangkai yang sudah layu tapi wanginya masih tercium. "Kenapa kamu ingin dibuka mata batin," tanya dukun Sarok pada Raga. "Saya ingin melihat arwah kekasih saya yang meninggal karena kecelekaan, Kek. Kata temen saya dia selalu mengikuti saya, saya ingin tahu alasannya dia ngikutin saya terus, saya juga ingin tahu alasannya meninggal dunia," jawab Raga. Dukun Sarok angguk-angguk. "Dia ada di belakangmu," ucap dukun Sarok. Raga langsung menoleh ke belakang dengan gugup. Johan mulai gemetar. "Dia memang ingin bicara denganmu, hanya denganmu tak mau bicara dengan siapapun selain denganmu," ucap Kek Sarok pada Raga. "Kalau sama kakek dia mau ngomong nggak?" tanya Johan penasaran. "Dia nggak mau ngomong sama saya," jawab Kakek Sarok. "Apa saya bisa dibuka mata batin?" tanya Raga kemudian. “Hanya ada satu cara untuk bisa membuatmu bisa melihat arwah kekasihmu itu. Yaitu dengan menguasai sebuah ilmu," ucap kakek itu. "Ilmu apa itu, Kek?" tanya Raga penasaran. "Ilmu kebatinan." "Caranya gimana, Kek?' "Jika kamu ingin menguasai ilmu yang bisa membuatmu melihat para arwah itu, lakukan permintaanku. Pertama ambilah air pemandian jenazah lalu mandikan tubuhmu dengan air itu." Raga dan Johan terbelalak mendengarnya. Dukun Sarok itu melanjutkan kata-katanya. "Ketika itu saat seseorang sedang sakaratul maut, kamu dapat melihat tongkat panglima iblis itu yang diletakkan di depan pintu masuk. Ambillah tongkat itu, jangan sampai panglima iblis yang sedang menggoda manusia untuk gagal mengucapkan kalimat syahadat itu tahu. Jika dia melihatnya, larilah sekencang-kencangnya sampai kamu menemukan sumur. Lalu ketika kamu menemukan sumur, terjunlah ke sana. Tongkat panglima iblis itu akan menjadi milikmu. Tongkat itulah yang bisa membuatmu melihat mereka yang tak bisa dilihat manusia pada umumnya, termasuk arwah kekasihmu yang menjadi tujuan utamamu itu,” ucap Sarok sang dukun sakti pada Raga. Raga dan Johan tercengang mendengarnya. "Memangnya kalo udah mandi dengan air pemandian jenazah, saya bisa lihat tongkat iblis secara kasat mata?" tanya Raga tak percaya. Dukun Sarok itu mengangguk. Raga dan Johan saling melihat. "Bagaimana, kami bersedia? Dengan mantap akhirnya Raga pun mengangguk. Dia ingin segera melakukan apa yang dikatakan dukun itu. Dia tak ingin kesaktian. Dia hanya ingin bisa melihat dan bicara dengan arwah kekasihnya yang lebih dulu berpulang ke alam sana. Dia hanya ingin meminta maaf pada satu kesalahan yang mungkin tak akan pernah dimaafkan oleh mendiang kekasihnya itu jika dia tahu. "Setelah itu apakah saya harus ke sini lagi?" tanya Raga. "Tidak perlu," jawab dukun Sarok itu. Sarok tersenyum pada Raga. Dukun sakti itu tahu, tak ada yang bisa melakukannya kecuali kematian akan menghampirinya. Johan pun memandang Raga tak percaya. Dia tidak yakin sahabatnya itu akan mampu melakukanya. Tiba-tiba dukun itu menghilang dari hadapan mereka. Johan dan Raga terkejut. "Dukunnya kemana?" tanya Raga. "Nggak tau," jawab Johan. Tak lama kemudian terdengar suara Bapak Johan dan Sanusi di luar sana. "Johan! Raga!" Raga dan Johan yang masih gemetar karena dukun itu mendadak menghilang akhirnya keluar dari sana untuk menghampiri orang tuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN