Entah kenapa hutan itu tiba-tiba berkabut. Langkah Raga dan Johan terhenti.
"Tumbenan ada kabut, biasanya nggak pernah," keluh Johan.
"Ini udah di kaki gunung Dempo kan?" tanya Raga penasaran.
"Bukan! Kalo diteruskan memang bakal sampe ke gunung Dempo, tapi ini masih jauh," jawab Johan.
"Terus kita gimana?" tanya Raga bingung.
Johan berpikir, sesaat kemudian dia menoleh pada Raga. "Kita jalan pelan-pelan aja," pinta Johan.
Raga mengangguk. "Yaudah," jawab nya.
Johan pun melangkah paling depan. Raga mengikutinya. Mereka berjalan pelan sambil melihat jejak jalan di hadapan.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara babi hutan. Raga dan Johan kaget. Johan menoleh panik pada Raga.
"Kita naik ke pohon itu!" teriak Johan.
"Kenapa?" tanya Raga heran.
"Kalo nggak naek pohon nanti kita bisa diseruduk babi," jawab Johan.
Raga pun ikut panik. Mereka berdua segera berjalan menuju pohon yang ditunjuk Johan. Johan naik duluan. Suara babi hutan kian mendekat. Raga masih berada di bawah, dia masih takut untuk menaiki pohon itu.
"Ayo buruan!" teriak Johan.
Suara langkah babi semakin terdengar menuju Raga. Raga masih belum mau naik.
"Buruan Raga!" teriak Johan lagi.
Raga pun mulai menaiki pohon itu. Benar saja, seekor babi hutan berlari ke arah raga. Beruntung raga sudah menaiki pohon itu. Johan lega Melihatnya. Babi hutan itu berputar-putar mengelilingi pohon. Raga gemetar.
"Kita harus gimana?" tanya Raga bingung.
"Kita tunggu sampai babinya pergi," jawab Johan.
Kini mereka tengah berada di dahan pohon itu. Lama, babi itu belum pergi juga. Kabut masih menyelimuti hutan.
"Apa masih jauh?" tanya Raga pada Johan.
"Satu jam lagi kita nyampe," jawab Johan.
Raga mengangguk lalu mengeluarkan air minum di dalam tasnya. Saat hendak meminumnya, botol minumannya tergelincir dari tangannya. Raga kesal.
"Yah!" keluh Raga.
Botol minuman itu tampak tumpah di dekat pohon. Babi hutan masih berada di sana.
"Yaudah, nanti kita isi botolnya pake air sungai. Nggak lama lagi kita lewatin sungai kok," ucap Johan.
Raga mengangguk. Tak lama kemudian Raga menoleh pada Johan.
"Maafin gue ya, Sob. Gue jadi ngerepotin lo kayak gini," ucap Raga sedih.
"Santai sob. Pokoknya gue pengen lo bisa ngeliat arwah Nayara dan nanya siapa pembunuhnya sebenarnya. Apa dia meninggal murni karena kecelekaan atau emang sengaja ditabrak?" sahut Johan.
Raga mengangguk senang mendengarnya.
"Makasih ya, Sob," ucap Raga.
Johan tersenyum padanya. "Sama-sama. Pokoknya lo jangan lagi berusaha bunuh diri kayak waktu itu. Gue nggak mau kehilangan sahabat terbaik gue," pinta Johan padanya.
"Tenang sob, gue nggak bakal ngelakuin itu lagi," ucap Raga.
Mereka melihat ke bawah. Rupanya babi hutan itu sudah tidak ada lagi di bawah sana. Johan dan Raga lega.
"Babinya udah pergi, Sob. Gimana nih?" tanya Raga.
"Yaudah kita turun, kita lanjutkan perjalanan," jawab Johan.
Raga mengangguk. Saat mereka hendak turun dari pohon. Terdengar suara orang memanggil mereka.
"Johan! Raga!"
Johan dan Raga saling melihat.
"Kok kayak suara bokap gue?" ucap Johan heran.
"Iya, itu emang suara bokap lo. Bokap lo kayaknya udah tahu rencana kita! Mereka kayaknya nyariin kita. Gimana dong?" tanya Raga bingung.
"Kita sembunyi di sini aja. Mereka nggak bakal liat kita di sini kalo lewat jalanan ini," jawab Johan.
"Kalo mereka lewatin jalan ini, kita lewat mana biar nggak ketemu bokap lo?" tanya Raga bingung.
"Gue tahu jalan lain," jawab Johan.
Raga tenang mendengarnya.
"Johan! Raga!"
Suara itu terdengar jelas di telinga Raga dan Johan. Mereka berdua akhirnya bersembunyi di sana dengan tegang karena tidak ingin ketahuan.
Sementara itu Bapak Johan dan temannya bernama Sanusi masih terus saja berteriak memanggil Johan dan Raga. Mereka tiba di dekat pohon tempat Raga dan Johan bersembunyi.
Sanusi berhenti melangkah. Dia menoleh pada Bapak Johan.
"Kita istirahat dulu," pinta Sanusi pada Bapak Johan.
"Di sini?" tanya Bapak Johan bingung.
"Iya," jawab Sanusi.
Bapak Johan mengangguk. Mereka pun duduk di bawah pohon. Di belakang mereka tergeletak botol minum milik Raga. Mereka tidak melihatnya.
Raga dan Johan deg-degan di atas pohon sana. Mereka berusaha diam agar tidak ketahuan.
Sanusi menoleh pada Bapak Johan.
"Kamu yakin mereka mau menemui dukun Sarok itu?" tanya Sanusi pada Bapak Johan.
"Johan sama temennya pernah bahas mau ke sana, terus saya larang. Mereka nurut. Kemaren mereka pamit mau nginep di Talang. Awalnya saya curiga mereka mau ke sana, tapi ibunya malah percaya dan ngebiarin mereka pergi," jawab Bapak Johan.
"Mereka bisa bahaya kalo ke sana," ucap Sanusi.
"Makanya saya larang mereka," ucap Bapak Johan kesal.
Tiba-tiba arwah Nayara muncul di dekat Sanusi. Sanusi merinding. Sanusi mengitari pandangannya ke sekitar. Bapak Johan heran.
"Kenapa?"
"Saya tiba-tiba merinding," jawab Sanusi.
"Kedinginan kali. Ini tumbenan ada kabut. Biasanya nggak pernah. Kalo zaman saya waktu kecil emang sering dateng kabut," ucap Bapak Johan.
Arwah Nayara tiba-tiba menoel lengan Sanusi. Sanusi kaget.
"Aaagh!" teriak Sanusi langsung berdiri takut.
Bapak Johan heran.
"Kenapa?"
"Ada yang noel saya!"
Bapak Johan ikutan berdiri sambil mengitari sekitar dengan takut. Raga dan Johan di atas pohon saling menatap dengan heran.
Sanusi melihat ke belakang, tiba-tiba dia melihat penampakan wajah arwah Nayara yang tersenyum padanya. Sanusi menganga.
"Hantuuu!" teriaknya langsung berlari ke arah pulang.
Bapak Johan heran.
"Sanusi! Tunggu!" teriak Bapak Johan heran.
Bapak Johan pun langsung ikut berlari mengejar Sanusi. Arwah Nayara tertawa ngeri melihat mereka berlari terbirit-b***t.
Sementara itu Raga dan Johan bingung. Mereka berdua ikut takut.
"Apa bener mereka ngeliat hantu?" tanya Raga heran.
"Nggak tau," jawab Johan.
"Sekarang kita gimana?" tanya Raga bingung.
"Kita turun terus buru-buru kita pergi dari sini, sebelum bapak gue sama Mang Sanusi kembali lagi ke sini," pinta Johan.
Raga mengangguk. Mereka pun buru-buru turun. Setelah mereka berhasil turun, Raga meraih botol minumnya yang sudah kosong dan segera memasukkannya ke dalam tas. Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan langkah cepat.
Sanusi berhenti berlari dengan napas terengah-engah. Bapak Johan yang mengejarnya tiba dan turut berhenti juga.
"Kamu beneran ngeliat hantu?" tanya Bapak Johan.
"Iya! Hantunya perempuan!" jawab Sanusi.
Bapak Johan kaget dan ngeri.
"Perempuan gimana?" tanya Bapak Johan.
"Masih muda, mungkin seumuran sama anak gadis kamu," jawab Sanusi.
Bapak Johan teringat arwah yang mengikuti Raga. Dia yakin itu arwah yang mengikuti Raga yang dikatakan oleh Pak Haji malam itu padanya. Bapak Johan menoleh pada Sanusi.
"Kita lanjut cari! Itu arwah yang ngikutin temen Johan. Kalo ada dia, pasti mereka nggak jauh dari sana," pinta Bapak Johan pada Sanusi.
Sanusi pun akhirnya mengalah. Mereka putar arah, kembali ke arah jalan menuju tempat dukun Sarok.