12. Awas Bahaya!

1059 Kata
Raga dan Johan tiba di sebuah Talang. Dangau-dangau kecil berjejer membentuk kotak. Di tengah-tengahnya adalah halaman luas bak lapangan berpetak yang dijadikan tempat menjemur kopi bila panen tiba. Talang terlihat sangat sepi karena belum musim panen kopi. Mereka menaiki sebuah dangau. Johan tampak kelelahan menyetir motor. Dia istirahat di dalam sambil memejamkan mata. Raga keluar dan duduk di teras dangau sambil memandang perkampungan kecil itu. Tiba-tiba dia melihat seorang kakek berdiri dengan tongkatnya di halaman di bawah sana. Kakek itu melambai padanya. Raga heran. Dia melongo ke Johan yang sudah ngorok, mendadak urung untuk bertanya pada Johan siapa kakek itu karena kasihan melihat sahabatnya itu baru saja terlelap. Raga pun akhirnya turun dan terpaksa menemui kakek itu. "Ada apa, Kek?" tanya Raga pada kakek itu setelah dia berhasil berdiri di hadapannya. Kakek itu meraih dirigen kecil tempat air di dekat kakinya lalu menyerahkan pada Raga. "Tolong ambilin kakek air di pancuran, cucu kakek masih di kebun belum pulang," pinta kakek itu pada Raga. Raga pun mengangguk dan meraih tempat wadah air itu di tangan kakek. "Baik Kek, tapi pancurannya di mana?" tanya Raga bingung. Bagaimanapun dia baru ke tempat itu. Dia belum tahu apa-apa tentang wilayah itu. Namun dia sangat ingin menolong kakek itu. Kakek itu menunjuk ke arah utara. "Di sana, di belakang dangau itu," jawab kakek. Raga pun mengangguk dan langsung pergi ke sana. Sesampainya di sana dia menemukan sebuah pancuran air yang jernih. Raga langsung mengisi dirigennya dengan air pancuran itu. Dia pun sempat cuci muka. Rasanya segar sekali di wajahnya. Setelah dirigennya penuh, dia beranjak dari sana. Sesampainya di tempat kakek itu berdiri tadi, dia heran karena tidak melihat kakek itu lagi. Raga berteriak memanggilnya. "Kek! Kakek! Kakek!" Kakek yang tadi tidak menyahut. Johan keluar dan melongo ke Raga di teras dengan heran. "Ada apaan?" tanya Johan. "Tadi ada kakek nyuruh gue ngambilin air, tapi kakeknya nggak ada!" jawab Raga setengah berteriak. Johan yang penasaran langsung turun dari dangau dan menemui Raga di bawah. "Kakek kayak gimana yang nyuruh lo?" tanya Johan heran. "Dia pake tongkat," jawab Raga. Johan mengernyit heran. "Di sini itu nggak ada kakek, lo salah liat kali," ucap Johan heran. "Ini dia nyuruh gue minta ambilin air pake drigen," ucap Raga menunjukkan wadah air itu pada Johan. Johan kaget saat melihat wadah airnya berbentuk batok buah labu. "Batok buah labu?" Raga memeriksa wadah airnya, dia pun terbelalak saat drigen yang dibawanya tadi berubah menjadi batok buah labu. "Hah? Kok berubah jadi batok buah labu? Perasaan tadi drigen bahan plastik?" tanya Raga heran sendiri. Mendadak Raga merinding. Dia pun menjatuhkan batok buah labu itu lalu buru-buru berlari ke dangau Johan karena ngeri. Johan pun ikutan berlari. Sesampainya di dalam dangau. Raga gemetar ketakutan. "Asli, talang Lo serem," keluh Raga. "Gue nggak pernah ngalamin yang begituan. Baru lo aja ini yang begitu," jelas Johan. Raga mencoba mengintip ke halaman dari jendela dangau. Tidak ada siapa-siapa lagi di halaman. "Aneh, kenapa gue bisa ketemu sama kakek itu ya?" tanya Raga yang masih tidak mengerti. "Mungkin itu penunggu di talang ini. Dia sengaja pengen ngenalin diri ke lo. Lo kan baru ke sini," tebak Johan. "Iya, kali ya," ucap Raga pasrah. Malamnya setelah mereka makan dengan memasak sendiri, Johan langsung mengajak Raga untuk tidur karena besok pagi-pagi mereka akan berangkat ke tempat dukun Sarok. Raga dan Johan pun berbaring. "Lo beneran kita bakal aman?" tanya Raga pada Johan. "Tenang aja, daerah gue aman kok. Kalo ada orang baru emang suka gitu, penunggu pada pengen kenalan," jawab Johan. Tiba-tiba terdengar suara perempuan menangis. Raga dan Johan saling melihat. "Lo denger suara orang nangis nggak?" tanya Raga heran. "Iya, gue denger," ucap Johan yang mulai gemetar. Raga pun ikut gemetar ketakutan. "Lo harus berani, Lo kan mau dibuka mata batinnya. Kalo nggak berani gimana mau lihat arwah Nayara," pinta Johan. "Iya, juga sih gue harus berani," ucap Raga. Tiba-tiba dia duduk dan bicara pada arah sumber suara tangisan. "Tolong jangan ganggu kami. Kami nggak ganggu kamu, jadi jangan saling ganggu!" teriak Raga Tiba-tiba suara tangisan tak ada lagi. Raga dan Johan kini bisa tidur tenang. *** Pagi sekali Bapak Johan bergabung sarapan dengan Nela dan ibu Johan. Nela menoleh pada bapaknya. "Tadi pas aku beli sarapan di Simpang tiga, aku ketemu Pak Haji, katanya malam dulu kak Johan sama Kak Raga dateng," ucap Nela. Bapak Johan menoleh ke Nela. "Itu karena Bak suruh buat misahin arwah yang ngikutin Raga," sahut Bapak Johan. "Katanya sih bukan itu tujuan mereka," ucap Nela. Bapak Johan dan Ibu Johan kaget. "Emang tujuannya apa?" tanya Ibu Johan penasaran. "Katanya mau minta Pak Haji buat buka mata batin kak Raga," jawab Nela. "Tapi Pak Haji nggak bisa." Seketika Bapak Johan dan ibu Johan saling menatap. "Jangan-jangan Johan sama Raga nginep di talang karena mau ke tempat dukun itu, Pak?" tebak Ibu Johan. Bapak Johan kaget mendengarnya. "Bapak mau susul mereka ke talang, bahaya kalo sampe mereka ke tempat dukun itu." Bapak Johan langsung buru-buru bersiap pergi untuk menyusul mereka dengan paniknya. Dia meminjam motir temannya dan akhirnya langsung pergi ke sana. Satu hal yang dia takutkan. Adalah kejadian tahun lalu. Ada warga kampung sebelah yang mendatangi dukun Sarok itu. Setelah pulang dari sana orang itu langsung menjadi gila. Dia tak tahu kenapa. Dia tak ingin Raga seperti warga kampung sebelah itu. Setibanya Bapak Johan di Talang, dia kaget saat tidak mendapi Johan dan Raga di dangau. Ada seorang bapak-bapak melintas di dangaunya. Bapak Johan langsung bertanya. "Lihat anak Johan?" tanyanya pada bapak-bapak itu. "Tadi pagi-pagi mereka pergi jalan kaki," jawabnya. Bapak Johan lemas mendengarnya. Dia yakin kedua anaknya itu pergi ke dukun Sarok itu. "Tolong temenin saya cari dia. Anak saya sama temennya mau ke tempat dukun Sarok. Saya takut mereka kenapa-napa," pinta Bapak Johan pada seorang bapak itu. Bapak-bapak itu kaget. "Ya Allah! Bahaya itu. Yaudah yuk kita cari!" Mereka pun bergegas ke sana dengan berjalan kaki. Motornya di titipkan ke dangau warga. *** Raga dan Johan tampak kelelahan berjalan kaki menembus hutan. "Masih jauh?" tanya Raga. "Lumayan. Kalo capek bilang aja biar kita istirahat dulu," ucap Johan. "Lanjut aja," pinta Raga. Johan mengangguk. "Emang lo beneran tau tempatnya?" tanya Raga memastikan. "Gue udah dua kali ke sana nemenin temen," jawab Johan. "Temen lo aman-aman aja kan setelah bertemu dukun itu?" "Aman-aman aja, makanya gue mau ngajakin lo," jawab Johan. Seketika Raga lega mendengarnya. Dia semakin percaya kalau mereka akan baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN