11. Sugesti

1029 Kata
Tepat pada kamis pagi, Raga dan Johan diam-diam bersiap-siap pergi ke hutan dengan menyiapkan perbekalan yang banyak. Mereka berencana untuk menginap semalam di talang lalu esoknya akan langsung pergi ke tempat dukun Sarok. "Udah segini aja?" tanya Raga pada Johan yang berhasil memasukkan makanan ke dalam tas yang akan mereka bawa. "Ini cukup untuk dua malam. Setelah esok kita selesai menemui dukun itu, kita langsung pulang ke sini," jawab Johan dengan berbisik. Dia tak ingin keluarganya mendengar niat mereka mau menemui dukun Sarok itu. "Oke," ucap Johan dengan mantap dan semangat. Dia sudah tak sabar untuk segera berpetualang di hari itu. "Berangkat sekarang?" tanya Raga memastikan. "Kita pamit dulu," jawab Johan. Raga mengangguk. Saat mereka hendak pamit kepada orang tua Johan, Bapak Johan tiba-tiba datang dan melihat mereka dengan heran. "Pada mau kemana?" tanya Bapak Johan dengan heran sambil menatap tas yang tampak kembung. Johan dan Raga kaget. "Mau nginep di talang, Bak," jawab Johan dengan gugup. Talang adalah sebuah perkampungan kecil yang berdiri rumah-rumah kecil. Adanya di tengah-tengah perkebunan kopi yang jauh dari desa. Saat musim panen kopi tiba biasanya para penduduk akan menginap di talang ini. Mereka sibuk memanen dan menjemur kopi di sana. Saat kopi sudah kering baru akan dibawa ke desa. Bapak Johan menatap Johan seperti menelisik raut wajahnya untuk mengecek apakah anaknya itu berbohong atau tidak. "Beneran mau nginep di talang?" tanya Bapak Johan sekali lagi. Dia tak masih tak percaya, khawatir anaknya itu akan pergi ke tempat dukun itu. "Iya, Bak," jawab Johan. "Iya, Pak. Aku penasaran pengen lihat talang," jawab Raga yang turut menguatkan jawaban Johan. Tak lama kemudian Ibu Johan datang. "Yaudah biarin aja kalo mau pada nginep di Talang. Jangan lupa bawa beras dan kebutuhan lainnya," sahut Ibu Johan. Dia sudah mendengar obrolan mereka sejak tadi. "Udah, Mak," jawab Johan. Akhirnya mereka berdua mengizinkan Raga dan Johan pergi. "Tapi beneran ya, kalian nggak boleh pergi ke tempat dukun itu," tegas Bapak Johan. 'Iya, Pak, tenang aja," jawab Johan memastikan. Tak lama kemudian Nela datang. "Kakak mau kemana?" tanya Nela heran. Dia meraba tas yang di pegang Raga. "Mau ke talang," jawab Johan. "Aku ikut dong!" rengek Nela pada Johan. "Ngapain?" tanya Johan heran. Kalau dia ikut rencana mereka akan gagal. "Pengen liat suasana talang aja, udah lama nggak ikutan ke sana. Mumpung libur juga," jawab Nela. "Nanti aja. Lagian juga motornya cukup buat berdua," ucap Johan. "Aku bisa pinjem motor Iwak," sahut Nela. "Nggak usah," tegas Johan. Nela cemberut. "Lagian ngapain juga mau ikut kakak ke sana. Kamu di rumah aja," pintu Ibu Johan pada Nela. Nela pun pergi ke arah kamarnya dengan kesal. Ibu Johan menatap Raga sambil tersenyum. "Hati-hati ya, Nak. Bawa obat nyamuk, di sana banyak nyamuk," pinta Ibu Johan pada Raga. Raga mengangguk. Johan dan Raga pun pergi. Di perjalanan Raga banyak melamun. Tas kembung itu sedang disandangnya. Dia masih khawatir akan pesan ayah dan ibu Johan di pagi itu. Bahwa menemui dukun Sarok di tempatnya di tengah hutan sangat berbahaya. Tapi kalau bukan penasaran dengan arwah Nayara, dia tak akan mau melakukan itu. Rasa cinta dan sayangnya pada Nayara masih besar. Meski gadis itu telah tiada. Dia masih ingat saat Nayara berhari-hari tidak masuk kuliah. Handphone gadis itu tidak aktif. Saat dicari-cari ternyata Nayara pulang ke rumah neneknya. Dia sedang demam. Raga datang dengan marah bercampur sedih. "Kamu kenapa nggak bilang kalo lagi sakit?" tanya Raga pada gadis yang sedang berbaring di atas kasurnya itu. "Aku nggak mau kamu kepikiran," jawab Nayara lemah. "Justru kamu ngilang gini buat aku sedih dan makin kepikiran," ucap Raga menahan marah. "Maaf," ucap Nayara tampak merasa bersalah. "Udah ke dokter?" tanya Raga sambil memegang tangannya. "Udah," jawab Nayara sambil berusaha tegar di hadapannya. "Aku nggak akan pergi dari sini sampai kamu sembuh," ucap Raga dengan sakleknya. Nayara mengernyit. "Ih ngapain? Nanti diusir nenek loh?" "Nenek nggak bakal ngusir. Dia tau kok kalo aku pacar kamu," ucap Raga berusaha tersenyum. Nayara pasrah. Entah kenapa air mata itu kembali berjatuhan ke pipi lelaki itu. Johan masih fokus menyetir. Dia bergegas mengelap air matanya. Perjalanan mereka mungkin masih jauh. Saat melintasi jembatan yang di bawahnya aliran sungai, Johan menghentikan motornya. "Kita istirahat sebentar di sini," pinta Johan. Raga mengangguk. Mereka pun turun dari motor. Raga mendudukkan tasnya di atas batu pinggir sungai. Johan langsung mencuci wajahnya dengan air sungai yang jernih itu. "Talangnya masih jauh?" tanya Raga. "Mungkin setengah jam lagi," jawab Johan. "Semalam aku mimpi ketemu Nayara," ucap Raga tiba-tiba. Johan menoleh padanya dengan penasaran. "Mimpi gimana?" Raga berdiri sambil memandangi aliran sungai yang mengalir tenang. "Aku berdiri di pinggir jurang. Di bawah jurang itu ada air deras. Lalu aku lihat Nayara berdiri di seberang sana. Di sisi jurang di hadapanku." "Terus?" "Dia berteriak-teriak seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun aku nggak bisa denger teriakannya," jawab Raga. "Ya, itu gambaran kalian saat ini. Gue yakin setelah kita berhasil nemuin dukun Sarok itu, Lo akan bisa dengerin suaranya," ucap Johan menenangkannya. Raga menoleh pada Johan. "Gue pengen tahu siapa yang udah nabrak Nayara sebenernya," ucap Raga kemudian. "Kan udah ketangkep?" tanya Johan heran. "Gue nggak yakin kalau dia yang nabrak," ucap Raga. "Maksud lo si Gesang musuh bebuyutan Lo itu yang nabrak dia?" tanya Johan tak percaya. "Gue yakin dia. Dia sengaja gunain alasan supir pribadinya biar dia nggak masuk penjara. Dia pasti udah ngebayar supir itu mahal," tebak Raga. Johan jadi bingung sendiri. "Yaudah, kita lanjut jalan sekarang. Mudah-mudahan nanti setelah mata batin lo bisa kebuka, lo nemu jawaban sebenernya dari arwah Nayara," ucap Johan. Mereka pun kembali menaiki motor lalu kembali melajukan perjalanan. Tak berapa lama kemudian kucing hitam melintas. Johan hampir saja menabrak. Dia langsung mengerem motornya mendadak. "Kenapa?" tanya Raga heran. "Ada kucing hitam lewat. Aneh, kok di tengah perkebunan gini ada kucing ya?" tanya Johan tak percaya. "Salah liat kali," tebak Raga. "Lo tadi emang nggak liat?" tanya Johan memastikan. "Nggak," jawab Raga. Johan merinding sendiri. "Apa itu petunjuk kalo kita nggak boleh ke sana ya?" tanya Johan curiga. "Nggak mungkin, yaudah yuk jalan. Gue takut hujan," pinta Raga. Johan pun kembali melajukan motornya dengan bingung. Raga berusaha menepis segala pikiran negatifnya yang mulai menyerang. "Gue sama Johan pasti aman-aman aja ke sana," bisik Raga mensugesti dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN