Raga dan Johan berdiri di depan rumah Pak Haji. Johan mengetuk pintu.
"Assalamualaikum!"
Tak lama kemudian pintu terbuka. Pak Haji keluar dengan heran. "Nela kerasukan lagi?"
"Nggak, Pak Haji. Ini Raga ada perlu," ucap Johan.
Pak Haji menatap Raga dengan mengernyit. "Yaudah masuk!"
Raga dan Johan pun buru-buru masuk. Pak Haji mempersilahkan Raga dan Johan duduk. Raga dan Johan pun duduk.
"Ada apa?" tanya Pak Haji pada Raga.
"Saya... saya..."
"Dia mau minta dibuka mata batinnya, Pak Haji," sela Johan yang kesal dengan Raga bicara gugup begitu.
Pak Haji terkejut mendengar itu. Baru ini ada orang yang meminta hal begitu padanya. Dia pun menatap Raga dengan heran.
"Kamu nggak takut sama hantu?" tanya Pak Haji terheran-heran.
"Takut sih, Pak Haji," ucap Raga gugup.
"Kalo takut kenapa pengen ngeliat hantu?" tanya Pak Haji semakin heran.
"Saya cuma pengen ngeliat arwah pacar saya, Pak Haji. Saya juga pengen ngomong sama dia. Ada sesuatu yang pengen saya tanyain soal kematiannya. Dia ngikutin saya juga saya yakin dia mau ngomong sesuatu sama saya," ucap Raga panjang lebar.
Pak Haji menghela napas.
"Malam itu saya sudah berusaha mengajaknya berkomunikasi, tapi dia nggak mau ngomong. Sepertinya memang dia ada misi sesuatu hingga ngikutin kamu terus," ucap Pak Haji.
"Apa Raga bisa dibuka mata batinnya, Pak Haji?" tanya Johan pada intinya.
Pak Haji terdiam lalu menatap wajah Raga dengan kasihan.
"Dulu teman saya pernah meminta bantuan orang sakti untuk dibuka mata batinnya, tapi setelah dibuka dia gila karena nggak kuat diganggu hantu. Saya bisa saja buka mata batin kamu, tapi saya takut kamu nggak akan kuat," jawab Pak Haji sambil menatap wajah Raga dengan serius.
"Saya nggak akan takut, Pak Haji," ucap Raga dengan penuh keberanian.
"Kamu yakin?" tanya Pak Haji sekali lagi.
"Saya yakin, Pak Haji," jawab Raga.
"Oke, kamu duduk bersila di bawah," pinta Pak Haji.
"Baik, Pak Haji," jawab Raga.
Raga pun mengikuti permintaan Pak Haji. Dia duduk bersila di lantai kayu. Pak Haji pun duduk di hadapannya dengan bersila. Johan menatap mereka dengan penuh rasa penasaran.
"Pejamkan mata," pinta Pak Haji.
"Saya bisa ngeliat arwah Nayara kan, Pak Haji?" tanya Raga sekali lagi.
"Insya Allah," jawab Pak Haji.
"Kalo saya udah bisa ngeliat Nayara dan ngomong sama dia, mata batin saya bisa ditutup lagi kan, Pak Haji?" tanya Raga.
"Iya, nanti akan saya tutup," ucap Pak Haji yang mulai kesal dengan Raga bertanya-tanya terus.
"Tapi..."
"Mau dibuka nggak? Kalo masih ragu mending nggak usah!" ucap Pak Haji kesal.
"Iy, iya, Pak Haji," ucap Raga pada akhirnya.
"Pejemin mata," pinta Pak Haji.
Raga pun memejamkan matanya. Pak Haji mulai membaca doa-doa dengan komat-kamit lalu tangannya bergerak-gerak. Johan duduk tegang menunggu dengan penasaran.
Saat Pak Haji berhasil meniup ubun-ubun Raga. Dia berhenti berdoa lalu menatap Raga dengan serius.
"Buka matanya," pinta Pak Haji.
Raga gemetar. Dia tidak berani membuka matanya. Bagaimana pun dia takut melihar hantu. Dia berpikir cukup lama. Bagaimana kalau yang dilihatnya nanti bukan Nayara? Bagaimana kalau arwah Nayara menyeramkan? Bagaimana? Ah! Pikir Raga. Pak Haji kesal melihat Raga belum juga mau membuka matanya.
"Ayo buka!" pinta Pak Haji.
"Bentar, Pak Haji," ucap Raga gugup dan gemetar takut.
Johan yang melihatnya pun ikut kesal.
"Udah buruan buka! Katanya mau liat!" ucap Johan ikut kesal.
"Oke," jawab Raga. Dia mencoba mengumpulkan segala keberanian untuk membuka matanya. Pelan, dia mencoba menggerakkan selaput matanya hingga perlahan terbuka sedikit demi sedikit. Namun saat dia berhasil membuka matanya penuh, dia hanya melihat wajah Pak Haji yang tampak bingung menatapnya.
"Bagaimana, apa kamu sudah melihat sesuatu di belakang Pak Haji?" tanya Pak Haji.
Raga pun mencoba mengamati di belakang tubuh Pak Haji. Sayangnya dia tidak melihat apa-apa.
"Saya nggak liat apa-apa, Pak Haji," jawab Raga jujur. Dia memang tidak melihat apa-apa.
Pak Haji mengernyit heran.
"Coba lihat sekeliling," pinta Pak Haji lagi.
Raga pun mengitari sekeliling dan dia tidak melihat apapun selain Johan, Pak Haji, dan benda-benda yang ada di ruangan itu.
"Saya nggak ngeliat apa-apa, Pak Haji," ucap Raga heran.
Pak Haji bingung. Johan pun tampak bingung.
"Kok nggak kebuka ya?" gumam Pak Haji heran.
Raga dan Johan pun saling menatap dengan bingung.
"Mungkin memang mata batin kamu nggak bisa dibuka. Memang ada yang begitu. Tiap orang berbeda-beda. Ada yang ketika saya doakan begini mereka cuma bisa merasakan keberadaan kedatangan arwag. Ada yang hanya bisa mendengar suara-suara arwah saja. Ada juga yang bisa merasakan lalu hanya terbayang saja bahwa ada arwah yang datang," ucap Pak Haji.
Raga semakin bingung.
"Terus saya gimana, Pak Haji?" tanya Raga bingung.
"Tunggu sebentar," ucap Pak Haji.
Pak Haji pun memejamkan mata lalu kembali komat-kamit membaca sesuatu. Tak lama kemudian Raga merinding. Tiba-tiba terlintas bayangan wajah Nayara yang dilumuri darah. Pak Haji membuka mata dan kembali menatap Raga.
"Apa yang kamu rasakan ketika saya membaca doa-doa tadi?" tanya Pak Haji.
"Saya merinding saja, Pak Haji," jawab Raga.
"Apa ada bayangan terlintas?" tanya Pak Haji memastikan sekali lagi.
"Ada, Pak Haji. Tadi terlintas sebentar wajah Nayara," jawab Raga.
Pak Haji tampak angguk-angguk.
"Nah, itu! Berarti mata batin kamu memang tidak bisa dibuka. Kamu cuma bisa merasakan saja kehadirannya. Dan hanya bisa membayangkan saja wujud arwah yang berada di sekitarmu seperti apa," jelas Pak Haji.
"Kalo gitu berarti saya nggak bisa ngeliat dan bicara langsung ke arwah Nayara, Pak Haji?" tanya Raga lemas.
"Sepertinya nggak bisa. Mau cari orang pintar yang paling hebat pun, kamu nggak akan bisa membuka mata batinmu," jawab Pak Haji.
Mendadak Raga menjadi sedih. Jika memang benar yang dikatakan Pak Haji itu, berarti dia percuma saja datang ke sana. Dan percuma juga untuk menemui dukun Sarok di tengah hutan sana.
Setelah dari sana Raga berjalan lesu di sebelah Johan di tengah perkampungan malam. Dia sedih jika memang benar dia tak akan pernah bisa melihat arwah Nayara itu.
"Apa besok aku pulang lagi aja ke Jakarta?" tanya Raga bingung ke Johan.
Johan pun bingung untuk menjawabnya.
"Jo?" tanya Raga sekali lagi.
Tiba-tiba langkah Johan terhenti lalu menatap wajah Raga dengan serius.
"Biar nggak penasaran, kita ikuti aja dulu rencana awal kita," jawab Johan dengan serius.
"Datang ke tempat dukun Sarok itu?"
"Iya, kita ke sana Jumat ini," pinta Johan.
"Kalo bapak dan ibu kamu tahu gimana?"
"Kita diem-diem aja. Kita nggak usah bahas ini lagi di rumah biar adek gue si Nela nggak nguping lagi," pinta Johan.
"Yaudah, aku ikutin apa kata lo," ucap Raga.
Johan pun merangkul Raga. Mereka kembali berjalan ke arah rumah. Mendadak Raga teringat wajah Nayara saat terlintas sesaat di rumah Pak Haji tadi. Apa benar arwahnya terlihat seperti apa yang ia lihat tadi? tanya Raga dalam hati. Kalau benar, dia sangat merasa kasihan padanya. Ah, Raga sudah tidak sabar untuk menemui dukun Sarok. Dia sangat berharap kalau dukun itu bisa mematahkan apa yang dikatakan Pak Haji padanya tadi. Dia yakin dukun Sarok akan bisa membuka mata batinnya.