9. Pilihan Kedua

1056 Kata
Pagi itu udara terasa sangat dingin. Angin yang berembus dari arah persawahan membuat tubuh Raga menggigil di tengah sarapan paginya bersama keluarga Johan. Menu yang tersaji adalah menu Burgo. Gulungan kukusan tepung yang dikuahi oleh kuah gulai santan yang mirip dengan kuah lontong sayur. Raga begitu menikmati rasanya yang lezat dan cocok di lidahnya itu. "Bener kalian berniat mau pergi ke tempat dukun Sarok?" tanya Bapak Johan membuyarkan keheningan mereka di saat sarapan. Raga dan Johan kaget mendengarnya. Nela menunduk. Dia tak enak pada kakaknya yang sudah membocorkan niat mereka pada ayahnya. "Dasar Nela," gumam Johan. Johan pun langsung menatap wajah ayahnya sambil menyimpan kebohongannya. "Ng... Nggak, Bak," jawab Johan gugup. Bapak Johan menghela napas. Dia tahu kalau anaknya itu sedang berbohong. "Sebaiknya tak usah ke sana," tegas Bapaknya Johan. Johan dan Raga terpaksa mengangguk. Seketika Raga dan Johan saling menatap. Mereka berdua tampak bingung untuk bagaimana selanjutnya. "Banyak yang udah mencoba ke sana, dan banyak juga yang hilang di makan harimau," sergah Ibu Johan. Raga urung menyantap burgonya saat mendengar kata itu dari Ibu Johan. Mendadak dia bergidik ngeri membayangkan jika nanti mereka ke sana akan diterkam harimau juga. "Bukanya itu cuma mitos?" protes Johan. "Itu bukan mitos, tapi kenyataan!" tegas Bapaknya Johan. "Kata siapa cuma mitos?" Johan dan Raga kembali saling menatap dengan bingung. "Memangnya kalian kenapa mau ke sana? Mau cari kesaktian?" tanya Bapak Johan tiba-tiba. Raga terkejut mendengarnya. "Nggak kok, Pak. Saya cuma penasaran aja sama dunia ilmu-ilmu gaib," jawab Raga berbohong. Johan tampak lega mendengar Raga menjawab begitu. Padahal dia sudah ketakutan kalau sahabatnya itu akan jujur soal rencana mereka. "Jangan sampai kamu ikut-ikutan yang begitu. Ilmu gaib itu berbahaya. Itu syirik." pinta Bapaknya Johan. Raga mengangguk. "Syirik itu dosanya nggak ada ampun," sergah Ibu Johan. "Iya, Bu," jawab Raga. Bapak Johan menatap Raga dengan serius. "Nanti malam kamu minta temani Johan untuk pergi ke rumah Pak Haji. Agar arwah yang mengikutimu itu pergi ke alamnya," pinta Bapak Johan. Lagi dan lagi Raga hanya dapat mengangguk. Dia tak enak untuk protes atau mendebat orang tua itu. Dia tahu kalau dia tak akan mungkin melakukan itu. Dia yakin bahwa arwah Nayara mengikutinya kemana-mana karena ada sebab dan maksud yang ingin dirinya tahu. "Kalau tidak dikembalikan ke alamnya, nanti kamu yang susah," ucap Ibu Johan. "Iya, Bu," jawab Raga. Dan saat Raga dan Johan duduk berdua di atas batu di sungai air Lintang, mereka berdua tampak bingung. "Sekarang kita harus gimana?" tanya Raga. "Gue nggak tahu. Kalo bener di tempat dukun Sarok itu banyak Harimau, gue jadi ngeri," jawab Johan. "Sama! Gue juga ngeri," ucap Raga. Tak lama kemudian Johan berpikir lalu mendadak tersenyum senang. "Aha!" teriak Johan. "Apa?" Raga penasaran. "Gimana kalo nanti malam kita minta tolong aja sama Pak Haji, kali aja dia bisa buka mata batin kamu," ucap Johan memberi solusi. Raga mengernyit. "Emang Pak Haji bisa?" "Gue yakin dia bisa. Ngapain kita repot-repot pergi ke tempat dukun Sarok kalo Pak Haji juga bisa kan?" "Iya juga sih. Tapi kalo Pak Haji nggak bisa gimana?" "Nanti aja mikirin itu. Kita coba dulu sama Pak Haji." "Yaudah," ucap Raga pasrah. Setelah itu mereka mandi di sungai air Lintang yang tampak keruh itu. Dahulu airnya sangat jernih, tapi setelah dibuatkan bendungan untuk pengairan persawahan, kini airnya tidak sederas dulu dan sejernih dahulu. Arwah Nayara duduk di atas batu memperhatikan mereka mandi. Tak berapa lama kemudian Johan berdiam di diri sambil merendam sedikit tubuhnya di bagian air yang agak dangkal. Raga heran. "Lo ngapain?" tanya Raga heran. "Gue lagi kencing," jawab Johan. Raga tampak kesal lalu agak menjauh dari Johan. "Dasar!" kesal Raga. Tak berapa lama kemudian melintas sebuah batu kecil lalu nyemplung ke permukaan air di dekat Johan. Johan dan Raga heran. Mereka saling pandang. "Siapa tuh?" teriak Johan. "Nggak tahu!" jawab Raga. Johan melihat-lihat ke sekitar. Tak ada siapapun. Dia heran. "Hey! Siapa yang ngintip?!" teriak Johan. Dia yakin batu itu dilempar oleh orang yang iseng mengintipnya. Hening tak ada yang menjawab. Johan tampak mulai ketakutan. Kalau tak orang, berarti itu dilakukan oleh arwah penunggu sungai itu. Pikirnya. Johan buru-buru menepi dan berganti pakaian. Raga pun ikutan panik dan berganti pakaian juga. "Kenapa buru-buru?" tanya Raga heran. "Ada hantu," jawab Johan. Raga mulai takut. Bagaimanapun sungai itu memang sangat sepi dan sunyi. Hanya suara riak air yang terdengar. Sesekali suara siamang dan burung-burung saja yang terdengar. "Hantu!" teriak Johan berlari terbirit-b***t duluan. Raga pun kesusahan mengejar Johan. "Johan! Tunggu!" teriak Raga. Johan terus berlari. Raga pun terus mengejarnya. Sementara itu arwah Nayara tertawa-tawa melihat mereka. Tawa yang mengerikan namun tak bisa didengar kedua remaja itu. Kini Raga dan Johan tiba di jalanan dekat kampung. Johan terduduk di atas rerumputan di bawah pohon kelapa sambil mengatur napasnya. Raga pun ikut duduk bersamanya. "Lo yakin tadi itu hantu?" tanya Raga penasaran. "Siapa lagi kalo bukan hantu," jawab Johan kesal. "Kampung kamu angker juga ya?" tanya Raga. "Biasanya nggak. Ini tumbenan aja kita digangguin gini. Dulu-dulu aku nggak pernah digangguin. Baru ini," ujar Johan. Tiba-tiba Raga berpikir. "Apa tadi ulah Nayara?" Johan bergeming mendengarnya. "Masa sih?" "Kali aja dia iseng. Kejadiannya kan pas Lo lagi kencing di dalam aer," jawab Raga. Johan tiba-tiba berdiri dan mengamati sekitar. "Nayara! Jangan ganggu kita dong?! Kalo kamu emang sayang sama Raga, Pleas, jangan gangguin kita lagi!" teriak Johan. Raga tercengang melihat Johan berteriak begitu. "Iya, Nayara! Masa kamu iseng sih gangguin kita!" teriak Raga ikut-ikutan. Tak berapa lama terdengar suara buah kelapa jatuh dari atas. Untung saja tidak mengenai mereka. Raga dan Johan kaget dan kembali panik. Mereka kembali berlari terbirit-b***t dari sana dengan takut dan sambil tertawa-tawa. Dan malam itu, Raga dan Johan berjalan di tengah-tengah kampung untuk menuju rumah Pak Haji. Mereka akan menemui Pak Haji untuk meminta bantuannya membuka mata batin Raga. Mendadak langkah Raga terhenti. Johan heran. "Kenapa?" tanya Johan heran. "Kalo Pak Haji nggak bisa buka mata batin aku gimana?" tanya Raga ragu. "Coba dulu aja, kan belum dicoba!" ucap Johan agak kesal. "Kita harus ke dukun Sarok kalo Pak Haji nggak bisa," tegas Raga. Johan diam. "Kalo kamu nggak mau nganterin, aku bisa ajak orang kampung dan aku bisa bayar mereka buat nganterin," tegas Raga. "Kalo beneran ada Harimau gimana?" "Aku nggak peduli," ucap Raga dengan beraninya. Johan menghela napas. "Yaudah, pokoknya kita coba dulu ke Pak Haji," pinta Johan. Raga mengangguk senang lalu mereka kembali berjalan menuju rumah Pak Haji.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN