Malam itu Raga dan Johan duduk di teras rumah. Pemandangan perkambungan tampak jelas di beranda rumah Johan di lantai dua itu. Dua gelas kopi tersaji di meja kecil. Raga menggigil kedinginan. Ternyata benar di desa itu bila malam dinginnya menusuk tulang. Bila siang sangat panas hingga kipas tak akan cukup mengademkan badan. Cuaca di sana juga sangat cepat menghitamkan kulit. Raga yang berkulit putih itu, baru sehari di sana kulitnya sudah mulai menggelap.
"Kira-kira kalo dari sini akan menempuh berapa jam sampai ke sana, Jo?" tanya Raga tiba-tiba.
"Sampai ke mana?" tanya Johan yang belum paham maksud dari pertanyaan Raga. Dia sedang sibuk memainkan handphonennya.
"Ke tempat dukun itu!" jelas Raga sedikit kesal.
"Oh," ucap Johan yang mulai mengerti.
Raga semakin kesal karena Johan belum juga menjawab pertanyaannya. Akhirnya lelaki itu merebut handphonennya. Johan kesal.
"Bentar, gue bales chat dulu," protes Johan kesal.
"Jawab dulu," tegas Raga.
Johan menghela napas.
"Sekitar tiga jam," jawab Johan sambil meraih kembali handphonennya di tangan Raga.
"Jauh juga ya?" gumam Raga.
"Cukup jauh, makanya kita harus bawa bekal dan pakaian ganti kalo nanti ke sana," sahut Johan.
"Emang dukunnya sesakti apa sih?" tanya Raga penasaran.
"Sakti banget! Nggak bisa gue gambarin saking saktinya," jawab Johan.
"Oh ya?"
"Iya, dia bisa jatuhin pohon kelapa dengan ilmunya," jawab Johan.
Raga tercengang mendengarnya. Baru ini dia mendengar ada yang sesakti itu. Itu biasanya hanya ada di film-film fantasi saja.
"Pokoknya gue mau mata batin gue segera kebuka," ucap Raga.
"Dukun Sarok itu pasti bisa buka mata batin lo. Lo tenang aja," ucap Johan.
Raga angguk-angguk.
"Oh!" ucap Nela dengan terkejutnya, "Jadi dari tadi yang dibahas dukun Sarok?"
Raga dan Johan menoleh kaget pada Nela yang berdiri sambil membawa sepiring gorengan pisang.
"Kamu ngapain sih nguping-nguping?" tanya Johan agak kesal pada Nela.
Nela langsung meletakkan piring berisi gorengan pisang ke atas meja hingga dua gelas kopi di sana ada temannya. Nela menoleh pada Raga.
"Jangan mau di ajak ke sana, Kak, bahaya," ucap Nela.
Raga heran.
"Apaan sih dek? Siapa juga yang mau ke sana?" ucap Johan sambil sedikit memberi kode pada Raga agar dia bisa menjaga rahasia kalau mereka akan pergi ke sana.
Nela langsung memonyongkan sedik bibirnya pada Johan.
"Tadi dari aku udah nguping kali. Pokoknya kakak jangan sampai ajak Kak Raga ke tempat dukun itu. Bisa bahaya buat Raga. Banyak yang ke sana nggak balik-balik lagi ke rumahnya," tegas Nela.
Johan langsung mendorong tubuh Nela untuk masuk ke dalam.
"Udah ah sana! Nggak usah nguping obrolan cowok!" tegas Johan.
Nela terpaksa pergi ke dalam dengan kesal. Saat Nela sudah tidak ada di sana, Raga melihat ke arah Johan dengan bingung.
"Emang benerang banyak yang ilang yang pergi ke dukun itu?" tanya Raga penasaran.
"Itu cuma gosip doang. Nela kemakan ama gosip orang-orang kampung tuh!" jawab Johan.
Raga sedikit tenang mendengarkannya, namun tetap saja dia mulai khawatir dengan apa yang dikatakan Nela.
Beberapa saat kemudian terdengar suara teriakan Ibu dan Bapak Johan di dalam sana.
"Johan! Johan!"
Mendengar itu Johan dan Raga langsung masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah itu mereka melihat Nela sedang kerasukan sambil dipegangi ibunya dan bapaknya Johan. Nela meraung-raung.
"Tolong panggilin Pak Haji!" pinta Bapak Johan.
Johan mengangguk lalu mengajak Raga pergi dari sana untuk memanggil Pak Haji. Pak Haji yang dimaksud sudah biasa mengobati orang yang kerasukan.
Johan berlari menuju rumah Pak Haji diikuti Raga yang sudah mulai terengah-engah.
"Masih jauh?" tanya Raga yang sudah mulai kelelahan.
"Lumayan! Udah buruan!" teriak Johan pada Raga.
Raga pun terpaksa terus berlari mengikuti langkah Johan. Sesampainya mereka di sana, Johan langsung meminta tolong Pak Haji untuk membantu menyembuhkan Nela dari kerasukannya. Beruntung Pak Haji sedang tidak sibuk, mereka pun langsung pergi ke rumah Johan.
"Lo kan ada motor, tadi kenapa nggak bawa motor aja sih?" bisik Raga agak kesal pada Johan. Mereka sedang berjalan bertiga bersama Pak Haji dengan langkah cepat menuju rumah Johan.
Johan melirik ke Raga, "Lagi panik gimana inget kalo gue punya motor," jawab Johan.
Raga hanya menghela napas. Sesampainya mereka di sana, Pak Haji langsung membaca doa-doa untuk Nela yang masih meraung-raung karena kerasukan.
Raga, Johan, Ibu dan Bapak Johan duduk tegang melihat aksi Pak Haji.
Setelah banyak bacaan doa sudah berhasil dibacakan oleh Pak Haji itu, rupanya arwah yang merasuki Nela masih belum mau keluar juga. Pak Haji bingung. Dahinya sudah dipenuhi keringat sendiri.
"Apa harus pake jeruk nipis, Pak Haji?" tanya Bapak Johan bingung ke Pak Haji.
"Nggak perlu! Arwah yang ngerasuki Nela bukan penghunu dari rumah ini," ucap Pak Haji.
Semua yang ada di sana bingung. Ibu Johan langsung menangis.
"Terus arwah siapa, Pak Haji? Tolong sembuhin Nela, kasian dia Pak Haji!" isak Ibu Johan pada Pak Haji itu dengan putus asa.
Pak Haji langsung menoleh pada Raga.
"Kamu siapa?"
Raga kaget mendengarnya Pak Haji tiba-tiba bertanya padanya.
"Aku Raga, Pak Haji," jawab Raga gugup.
Johan juga tampak bingung kenapa Pak Haji tiba-tiba bertanya pada Raga disaat Nela yang jadi fokus utama.
"Sepertinya arwah yang merasuki Nela adalah arwah yang sering mengikutimu selama ini," ucap Pak Haji pada Raga.
Raga dan yang lainnya terkejut mendengar itu. Kini semua mata tertuju pada Raga.
"Terus gimana Pak Haji?" tanya Johan bingung.
"Suruh temanmu bicara pada arwah yang merasuki Nela. Suruh dia keluar dari tubuh Nela. Arwah yang merasukinya itu adalah arwah kekasih temanmu yang sudah meninggal," jawab Pak Haji itu.
Raga dan Johan tercengang mendengar itu. Mereka tak percaya bagaimana Pak Haji itu bisa tahu, sementara mereka belum pernah cerita ke bapak-bapak itu.
Bapak Johan menatap Raga penuh harap. "Yaudah, Nak, kamu coba dulu, mungkin saja kata Pak Haji benar.
"Iya, Nak, tolongin Nela," sahut Ibu Johan pada Raga penuh harap.
Raga mengangguk. Dia masih tak percaya kalau arwah Nayara kini sedang merasuki tubuh Nela. Raga pun mendekat ke tubuh Nela yang masih meraung-raung. Di luar sana banyak warga berdatangan karena penasaran mendengar suara teriakan Nela.
"Nayara..." panggil Raga pada Nela.
Sesaat kemudian Nela berhenti meraung. Nela menatap wajah Raga dengan sedih lalu tak lama kemudian Nela menangis.
Raga semakin sedih melihatnya.
"Kalo benar itu kamu, tolong jangan ganggu adiknya Johan. Dia juga adikku," pinta Raga.
Nela kini menangis sejadi-jadinya. Terdengar sangat pilu sekali.
"Tolong Nayara... tolong keluarlah dari tubuh Nela," pinta Raga sekali lagi.
Tak lama kemudian Nela rubuh. Dia pingsan. Pak Haji langsung membaca doa sekali lagi lalu meniup kening Nela. Beberapa saat kemudian Nela sadar.
"Umak! Aku kenapa?" tanya Nela heran.
Semua lega. Kini, Raga tampak lesu. Tiba-tiba air matanya menetes. Dia bangkit dan buru-buru pergi ke kamar Johan. Saat Johan hendak menyusul, tangan bapaknya dengan sigap memegang tangan Johan.
"Biarin aja. Jangan ganggu Raga dulu," pinta ayah Johan pada Johan.
Johan pun mengalah lalu kembali duduk dengan bingung.