Pagi sekali setelah selesai sarapan, Johan mengajak Raga ke kebun kopinya. Mereka menembus jalan perkebunan kopi dengan mengendarai motor khusus yang memiliki ban tebal dan bunyi knalpot yang menderu. Raga tampak senang melihat di kiri dan kanan mereka berjejer pohon-pohon kopi yang sudah berbuah hijau. Pohon-pohon lamtoro menjadi pelindung pohon kopi yang tidak begitu tinggi.
"Masih jauh?" tanya Raga penasaran.
"Lima belas menit lagi nyampe kok," jawab Johan.
Raga mengangguk. Motor itu berhenti tepat di depan sebuah pondok tua di sisi jalan perkebunan. Raga heran.
"Kenapa berenti?" tanya Raga.
"Turun dulu," pinta Johan.
Raga dan Johan pun turun dari motor. Johan mengajak Raga untuk mendekati pondok kecil itu, meninggalkan motor mereka di pinggir jalan. Tiba-tiba Raga merinding saat sudah berada dekat dengan pondok kecil itu.
"Kok gue jadi merinding," ucap Raga heran.
"Ini pondoknya emang angker," jawab Johan.
Raga terkejut mendengarnya.
"Kalo angker ngapain ke sini?" tanya Raga heran yang mulai tampak ngeri sendiri.
"Biar Lo tau kalo ini dulu tempat tinggalnya dukun sakti yang gue maksud itu," jawab Johan.
Raga menatap pondok kecil yang sudah dirambati rerumputan. Terlihat seram. Dinding kayunya sudah banyak yang patah. Atapnya juga sudah rubuh.
"Kenapa ditinggal?" tanya Raga penasaran.
"Katanya bahaya kalo dukun itu tinggal di sini," jawab Johan.
"Bahaya kenapa?"
"Dukun itu pengikutnya banyak. Dia harus tinggal di tengah hutan agar pengikutnya tidak mengganggu masyarakat sekitar," jawab Johan.
Raga semakin ngeri mendengarnya.
"Dulu banyak orang kerasukan kalo lewat depan pondok ini, tapi setelah dukun itu pindah, sekarang sudah aman," lanjut Johan.
Raga angguk-angguk. Tak lama kemudian terdengar suara benda jatuh di dalam pondok kecil itu. Raga dan Johan terkejut lalu berteriak kencang sambil berlari ke arah motor mereka.
Saat keduanya sudah menaiki motor, Johan melajukan motornya dengan kecepatan kencang.
"Tadi itu apa?" tanya Raga.
"Nggak tau," jawab Johan.
"Apa itu penunggunya?" tanya Raga lagi.
"Iya kali," jawab Johan.
Raga semakin ngeri. Mereka akhirnya tiba di kebun kopi Johan. Raga melihat-lihat sekitar. Baru itu dia berada di tengah-tengah perkebunan kopi.
"Dipetiknya kapan?" tanya Raga sambil mengamati buah-buah kopi yang masih hijau bersamaan dengan bunga kopi yang masih memutih di tangkainya.
"Nggak lama lagi kok. Kopi panennya setahun sekali," jawab Johan.
"Hari Jumat jadi kan kita ke tempat dukun itu?" tanya Raga tiba-tiba.
"Iya. Tenang aja nanti kita ke sana. Masih dua hari lagi," jawab Johan.
Johan pun mengajak Raga duduk di pondok. Setiba di sana dia mengeluarkan termos yang sudah di isinya kopi dan beberapa makanan ringan.
"Tenang banget di sini," ucap Raga.
"Iya, emang tenang. Kalo Lo bisa dapetin jodoh orang sini, Lo pasti bakal sering ke sini," ledek Johan.
Raga tertawa.
"Nggak dapet orang sini juga aku pasti bakal sering ke sini kok," ucap Raga.
Sesaat Raga menyeruput kopi yang sudah disediakan sahabatnya itu. Sorot matanya memandang jauh. Entah kenapa ingatannya pada Nayara kembali terngiang.
Ya, hari itu Raga sedang mengadakan perkemahan saat masih SMA. Dia melihat ada anjing hitam datang, Raga yang takut pada anjing mendadak naik ke atas pohon. Padahal selama ini dia tak berani naik pohon, namun saat itu dia berhasil menaikinya hingga sampai pada dahan yang paling atas. Namun saat anjing itu pergi, dia kebingungan karena tak bisa turun lagi.
Beberapa saat kemudia dia melihat seorang gadis datang. Gadis itu adalah Nayara. Dia heran melihat Raga berada di atas pohon sana.
"Ngapain?" tanya Nayara heran.
"Ada hewan buas," jawab Raga tiba-tiba.
Sontak Nayara langsung takut dan naik ke atas pohon juga hingga sampai pada dahan tempat Raga bersembunyi.
"Mana hewan buasnya?" tanya Nayara heran.
Raga tertawa.
"Udah pergi!" jawab Raga sambil terkikik.
Nayara begitu kesal mendengarnya.
"Kok nggak bilang kalo udah pergi?" tanya Nayara kesal.
"Kamu kan nggak nanya?" ucap Raga.
Nayara akhirnya berusaha turun sendiri dari pohon itu. Saat gadis itu berhasil turun dari pohon, dia heran melihat Raga belum turun juga.
"Kok nggak turun? Bentar lagi kita disuruh upacara loh?" tanya Nayara heran.
"Duluan aja! Aku masih mau di sini," jawab Raga. Sebenarnya dia masih bingung bagaimana turunnya. Dia malu jika jujur pada gadis yang baru dikenalnya.
Sesaat Nayara berpikir lalu tertawa. Raga heran kenapa gadis itu tertawa.
"Kok ketawa?" tanya Raga heran.
"Aku tahu kenapa kamu nggak mau turun?" ucap Nayara yang masih cekikikan.
"Kenapa?" tanya Raga yang mulai curiga kalau gadis itu sudah tahu kalau dia tak bisa sendiri dari sana.
"Kamu nggak bisa turun kan?" tanya gadis itu yang masih tertawa.
Raga terkejut mendengarnya.
"Kata siapa? Aku bisa turun kok," ucap Raga yang tak mau ditertawakan oleh gadis itu.
"Yaudah buruan turun! Aku mau liat kalo kamu beneran bisa!" tantang Nayara.
Akhirnya Raga terpaksa memberanikan dirinya untuk turun dari pohon itu. Dengan menyembunyikan takutnya akhirnya dia turun tapi saat hampir menginjak tanah dia malah jatuh dan mengenai tubuh Nayara. Mereka semua sama-sama terkejut dan saling diam. Sejak itulah Raga mulai mengenal Nayara.
Raga senyum-senyum sendiri mengingatnya. Johan yang sedang mengunyah makanan ringan tampak heran melihatnya.
"Ngapain Lo senyum-senyum sendiri? Bahaya senyum-senyum sendiri di kebun begini," ucap Johan heran.
Raga mendadak terdiam.
"Gue inget Nayara, Sob," jawab Raga.
Mendengar itu Johan bergeming. Dia tahu sahabatnya itu masih sesak atas kematian kekasihnya itu.
"Sabar! Nanti kalo mata Lo dibuka sama dukun sakti itu, Lo bakal bisa ngeliat dia lagi dan ngomong sama dia," ucap Johan menenangkannya.
Raga menoleh pada Johan.
"Apa gue bakal berhasil?" tanya Raga dengan ragu.
"Dia dukun terhebat di sini. Aku yakin dia akan berhasil membuka mata batin lo. Lo tenang aja," jawab Johan. Raga mengangguk sambil berusaha tersenyum.
Johan pun mengajak Raga untuk mendekati pohon mangga. Buahnya di atas pohon sana tampak menghijau.
"Bikin rujak mangga kayaknya enak nih," ucap Johan pada Raga.
"Yaudah Lo naik gih," pinta Raga.
"Gue kagak bisa naik," jawab Johan.
Raga terdiam, dia pegang batang pohon mangga itu.
"Nayara... kali ini aku nggak bakal takut lagi naik pohon... jika kamu beneran ngikutin aku dan masih ada di sini di dekatku... Lihat aku..." bisik Raga dalam hatinya.
Seketika Raga langsung menaiki pohon itu dengan penuh keberanian. Johan tercengang melihatnya.
"Sejak kapan Lo bisa naik pohon?" tanya Johan terheran-heran.
"Dari dulu juga gue bisa naik pohon!" teriak Raga.
Kini dia berhasil menaiki pohon itu hingga berada di dahan tengah. Raga tersenyum haru sambil memandangi gunung Dempo yang tampak biru di ujung sana.
"Nayara!" teriak Raga.
Johan kaget mendengar teriakan itu.
"Nayara! Aku rindu!" teriak Raga.
Johan bergeming saat melihat sahabatnya itu sesenggukan di atas pohon mangga sana. Dia akhirnya memilih duduk sambil memandanginya dari bawah dengan iba. Mengawasinya dari bawah karena khawatir terjadi sesuatu padanya.
Sementara itu, di atas pondok, arwah Nayara memandangi Raga yang masih berada di atas pohon sana dengan sedih.