6. Nayara, Aku Rindu

1007 Kata
Pagi itu Raga dan Johan sudah tiba di kampung halamannya di kabupaten Empat Lawang. Mereka turun dari bus. Orang-orang kampung yang lewat tampak heran melihat Raga. Mungkin mereka penasaran siapa remaja lelaki yang dibawa ke kampungnya itu. Seorang Bapak-bapak dan ibu-ibu berlari menyambut Johan. "Johan!" teriak ibunya berurai air mata. Seolah sudah sangat lama tidak melihat anaknya ini tak pulang ke kampung halamannya. Raga sendiri salut pada Johan yang rela jauh dari rumah demi berkuliah di Jakarta. Raga berdiri saja di dekat koper dan tas-tasnya. Kedua orang tuanya itu memeluk Johan bergantian. Raga takjub pada rumah-rumah panggung yang berjejer menemuhi kampung. Kedua orang tua Johan menyambut Raga dengan hangat. "Kok temennya Johan ganteng banget sih?" puji ibunya Johan. Raga hanya tersenyum. "Gantengan aku lah Mak!" ucap Johan tak mau kalah. Ibu Johan tertawa. Johan hanya tersenyum-senyum saja. Raga iri melihat keharmonisan Johan dan kedua orangtuanya. Tidak sepertinya yang kemarin-marin sempat kabur dari rumah. "Iya gantengan kamu. Yaudah yuk, kalian pasti capek," ajak ibunya Johan. Mereka pun pergi dari sana. Rupanya rumah Johan agak jauh dari Jalan raya. Mereka harus melewati jalanan setapak menembus rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu dan beratap seng. Sesampai mereka tiba di rumah Johan, Raga takjub melihat keunikan rumah itu. Semuanya berbahan kayu. Raga merasa seperti sedang jalan-jalan di taman mini Indonesia saja. Hawa terasa sangat panas di rumah itu, mungkin karena pengaruh atap sengnya. "Siang aja panasnya, kalo malam, jago kamu kalo tidur nggak pake baju hangat sama selimut," ucap Johan. Raga angguk-angguk saja. "Ini desa apa?" tanya Johan. "Desa Talang Benteng," jawab Johan. Raga angguk-angguk lagi sambil menatap pemandangan gunung Dempo dan persawahan di jendela kamar Johan. Pemandangan yang indah dan udaranya masih segar. Sudah lama dia tidak melihat pemandangan se asri itu. "Nanti abis makan, kita tidur dulu, abis itu baru mandi. Kata umakku, nggak baik langsung mandi kalo habis perjalanan jauh," pinta Johan. Raga mengangguk. Saat menu makan siang sudah tersaji, Raga heran melihat semangkuk berisi semacam cream yang berwarna kuning kemerahan. Baunya seperti durian. "Ini namanya sambel tempoyak," ucap Ibu Johan yang seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan Johan. "Oh," jawab Raga. "Ini enak loh, Ga, Lo harus coba," pinta Johan. Raga tampak ngeri melihatnya. Dia angguk-angguk saja agar sahabatnya itu tidak tersinggung kalau sebenarnya dia agak jijik untuk memakannya. "Si Nela kemana?" tanya Bapak Johan pada ibu Johan tiba-tiba. "Nggak tau dari tadi nggak keliatan! Nelaaaaa!" teriak ibu Johan. "Iya, Maaaak!" Tak lama kemudian seorang gadis berambut panjang datang. Dia cantik sekali. Raga sempat terpaku menatap kecantikan gadis itu. Dia baru tahu kalau Johan punya adik secantik itu. Selama ini Johan tak pernah bercerita tentang keluarganya. Nela tampak Girang saat baru tahu kalau kakaknya itu sudah sampai. Gadis itu juga berkenalan dengan Raga. Mereka lalu makan. Saat Raga mencoba mencicipi sambal tempoyak itu, dia terkejut saat merasakan kelezatan. Nafsu makannya bertambah, apalagi dia habis melakukan perjalan jauh dengan bus. "Tumben nak Raga ikut ke sini?" tanya Bapak Johan. "Aku ke sini karena mau..." "Mau tau kampung aku, Bak," sela Johan. Ya, Johan memang memanggil bapaknya dengan panggilan ; Bak. Kepada ibunya dia memanggil ; Umak. Panggilan khas kepada orang tua di kampungnya ini. Raga mengerti, mungkin dia ingin agar rencana mereka ke sana harus di rahasiakan pada kedua orang tuanya. "Iya, aku penasaran," jawab Raga. "Nanti ajakin mandi di sungai lintang, Kak!" tawar Nela pada Johan. "Iya, nanti kakak ajak keliling kampung juga," jawab Johan. "Ajak ke kebun kopi juga, biar Raga tahu kalau di sini penghasilan rata-rata dari kebun kopi," pinta ayah Johan. "Iya, nanti aku ajak, Bak," jawab Johan. Usai mereka makan, Raga dan Johan pun istirahat di kamar. Mereka berbaring di atas kasur Johan yang sangat sederhana. "Kapan kita temuin dukunnya, Jo?" tanya Raga penasaran. "Nanti di hari Jumat," jawab Johan. Raga heran. "Kenapa harus di hari Jumat?" tanya Raga penasaran. "Rumah dukun itu adanya di Talang Jauh, ujung perkebunan kopi di sini. Dia cuma bisa ditemuin di hari Jumat, kalo hari biasa pasti nggak ada di tempatnya," jawab Johan. "Rumahnya di tengah hutan?" tanya Raga. "Bukan rumah, semacam pondok, kalo orang sini bilangnya ; dangau," jawab Johan. Raga pun angguk-angguk. Dia sudah tidak sabar ingin segera menemui dukun sakti itu dan bisa segera melihat arwah Nayara. Saat Raga hendak memejamkan mata, mamanya di Jakarta meneleponnya, dia lupa mengabarkan pada mamanya kalau sudah sampai dengan selamat di kampung Johan. "Halo, Mah," jawab Raga pada mamanya di seberang sana. "Kamu udah sampe?" tanya mamanya. "Udah, Mah. Maaf tadi lupa ngabarin soalnya capek banget," jawab Raga. "Nanti pulangnya ajak Johan naik pesawat aja ya, nanti biar mamah yang beliin tiketnya buat kalian berdua," pinta mamahnya. "Iya, Mah." "Yaudah, baik-baik di sana. Kalau ada apa-apa telepon mamah," pinta mamahnya. "Iya, Mah," jawab Raga lagi. Setelah itu mereka mengakhiri pembicaraan di telepon. Johan sudah tertidur pulas. Raga pun meraih dompetnya lalu melihat foto Nayara yang disimpannya di sana. Dia memandangi foto itu dengan sedih. "Nayara, jika benar saat ini kamu masih ngikutin aku, sebentar lagi aku bisa ngeliat kamu. Tunggu," bisik Raga. Raga kembali menyimpan foto itu ke dalam dompetnya. Ingatan masa lalunya kembali terbayang. "Kamu kok kayak nggak semangat kuliah sih? Masa nilai-nilai kamu jelek-jelek begini?" tanya Nayara di sore itu saat selesai ujian semester di kampusnya. "Aku kan kuliah cuma pengen ngeliat kamu," jawab Raga sedikit bercanda. Nayara mencubit lengan Raga dengan gemasnya. Raga kesakitan. "Pokoknya mulai semester ini nilai kamu harus bagus. Banyak orang yang nggak seberuntung kamu. Di luar sana ada yang mau kuliah tapi nggak bisa karena nggak ada biaya," tegas Nayara. "Iya, bawel," jawab Raga. Raga senyum-senyum sendiri mengingat itu. Sekarang semuanya telah menghilang. Tidak ada lagi orang yang mengingatkannya sekeras Nayara. Kedua orangtuanya saja baru-baru ini berdamai dan bisa teleponan menanyakan keadaan. "Nayara... aku rindu..." bisik Raga. Raga memejamkan mata. Tak berapa lama kemudian arwah Nayara datang. Dia duduk di sisi ranjang sambil memandangi wajah Raga dengan kasihan. Tangannya mengulur ke kaki Raga. Arwah itu sepertinya ingin menyentuh kakinya. Namun saat dia mencoba hendak menyentuhnya, arwah itu buru-buru mengurungkan niatnya lalu secepat kilat dia menghilang di sana. Entah pergi ke mana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN