Raga membuka mata dengan napas tersengal-sengal. Dia baru saja terbangun di dalam bus yang masih melaju menembus jalan raya sumatera. Hari masih malam. Johan di sebelahnya heran.
"Lo kenapa?" tanya Johan.
"Gue mimpi liat Nayara lagi, Sob," jawab Raga. Ya, mimpinya tadi terasa nyata sekali.
Johan kembali mengernyit.
"Mimpi gimana lagi?" tanya Johan penasaran.
Raga menatap wajah Johan dengan pucatnya.
"Gue mimpi bus ini bannya pecah, terus ketika bus mau nabrak pembatas jalan, ada arwah Nayara yang ngalangin di depan sampe bus ini bisa berenti dengan baik," jawab Raga.
"Udah nggak usah dipikirin, itu cuma mimpi," ucap Johan menenangkannya.
"Tapi setelah itu Nayara berteriak ke gue."
"Berteriak gimana?"
"Dia nyuruh gue balik ke Jakarta," jawab Raga.
Mendengar itu Johan heran. Sudah dua kali Raga bermimpi yang sama. Bus yang mereka naiki itu akhirnya berbelok ke tempat rumah makan Padang yang besar. Raga dan Johan langsung turun dari bus bersama penumpang lainnya. Setelah berhasil mencuci muka di kamar mandi rumah makan itu, Raga dan Johan duduk sambil memesan makan.
"Ga," panggil Johan.
"Iya, kenapa?" sahut Raga heran dan penasaran.
"Tadi pas Lo lagi tidur, si Nurdin nelepon gue," aku Johan.
"Nelepon gimana?" tanya Johan penasaran.
"Dia bilang lo harus balik ke Jakarta, katanya bahaya kalo lo sampe dibuka mata batinnya," jawab Johan.
"Bahaya gimana?"
"Katanya fisik lo lemah. Lo bisa gila atau mati kalo sampe dibuka," jawab Johan.
"Pokoknya gue nggak mau balik ke Jakarta dulu sebelum visi misi gue berhasil," ucap Raga tegas.
"Tapi pas denger lo sampe mimpiin Nayara dua kali, gue jadi rada ngeri nih," ucap Johan.
"Ngeri gimana?" Raga heran.
"Takutnya apa yang dimongin Nurdin emang bener dan mimpi lo itu sebuah petunjuk buat lo?," jawab Johan.
"Gue aman-aman aja kok. lo tenang aja. Gue harus bisa lihat Nayara dan ngomong sama dia. Gue yakin waktu itu ada yang penting yang ingin dia omongin ke gue," ucap Raga.
Johan menghela napas lalu bangkit berdiri. Raga heran.
"Mau kemana?" tanya Raga.
"Gue mau ke belakang sebentar. Tadi gue udah pipis kok sekarang malah kebelet lagi. Heran," jawab Johan.
"Yaudah sana," ucap Raga.
Johan pun buru-buru melangkah menuju toilet. Padahal tadi dia sudah ke sana. Sementara itu Raga duduk menunggu menu pesanan mereka datang. Tiba-tiba dia berpikir, apakah benar mimpinya pada arwah Nayara adalah sebuah firasat buruk? Terus apa yang dikatakan Nurdin juga sebuah petunjuk kalau dia harus pulang ke Jakarta? pikirnya. Raga meraih handphonenya dan mencoba untuk menghubungi Nurdin, tapi nomornya tidak aktif. Raga heran.
Tak lama kemudian pesanan makan mereka berdua datang. Tiba-tiba arwah Naraya muncul dan langsung duduk di bangku tempat Johan tadi duduk. Raga berdesir.
"Kok gue merinding," tanya Raga pada dirinya sendiri.
Makanan untuk Johan tiba-tiba dijilat-jilati oleh arwah Nayara tanpa sepengetahuan Raga. Tak lama kemudian Johan datang. Arwah Nayara langsung berpindah duduk ke bangku lain sambil memandangi mereka.
"Yaudah yuk makan, takut keburu busnya berangkat," pinta Johan.
Raga mengangguk. Mereka langsung melahap menu makan mereka. Johan merasa aneh dengan rasa makanannya.
"Kok makanan gue kayak basi ya?" tanya Johan heran.
"Masa?" tanya Raga heran.
"Cobain aja nih kalo nggak percaya!" pinta Johan.
Raga pun mencicipi sedikit makanan Johan. Raga pun pengen muntah rasanya.
"Kok yang gue nggak?" ucap Raga heran.
Johan pun mencoba mencicipi makanan Raga, rasanya enak tidak seperti menu yang dipesannya. Sontak Johan langsung memanggil-manggil pelayan dan marah ke mereka. Pelayan pun dengan sigap menggantikan menu untuk Johan. Pelayan itu pun heran kenapa menu punya Johan bisa basi begitu? Padahal dia yakin sudah membuatkan menu terbaik untuknya.
Saat pelayan sudah berhasil mengganti menu untuk Johan, Raga menatap Johan.
"Tadi gue udah nelepon Nurdin, tapi nomornya nggak aktif," ucap Raga.
"Udah tidur kali. Tadi dia juga nelepon gue karena nomor lo nggak aktif," jawab Johan.
"Tadi sengaja gue matiin biar bisa tidur pules," ucap Raga menjelaskan.
Tak berapa lama kemudian Raga menengok ke sebuah televisi di rumah makan Padang itu. Di sana ada siaran langsung yang memberitakan seorang remaja mati di kostannya dengan lidah yang menjulur. Raga terbelalak saat melihat bahwa remaja itu adalah Nurdin.
"Jo, itu kan Nurdi?" tanya Raga penasaran.
Johan pun menoleh ke televisi. Dia pun kaget bukan main. Johan langsung meraih handponenya dan mencoba menghubungi nomor Nurdin untuk memastikannya. Johan pun mencoba menghubungi teman-teman kuliahnya yang lain, dan ternyata memang benar Nurdin sudah meninggal. Johan dan Raga pun lemas seketika.
"Innalilahi," ucap Johan sedih. Dia pun langsung menatap wajah Raga dengan serius.
"Gue yakin apa yang dikatakan Nurdin itu bener, Ga! Gue yakin meninggalnya Nurdin karena ada hubungannya dengan tujuan lo itu!" ucap Johan.
Raga mengernyit mendengarnya.
"Maksud lo kita harus balik ke Jakarta?" tanya Raga heran.
"Iya, Ga. Gue khawatir lo kenapa-napa," jawab Johan.
Raga menghela napas mendengarnya.
"Kematian Nurdin nggak ada hubungannya sama gue. Nanti juga polisi bakal jelasin ke kita penyebab kematiannya. Pokoknya kita harus tetep pada rencana awal kita. Kita pergi ke kampung lo dan kita temuin dukun terhebat buat ngebuka mata batin gue," tegas Raga.
Akhirnya Johan mengalah. Dan ketika bus kembali melaju kencang membawa mereka ke jalanan raya yang di kiri dan kanan mereka sudah dipenuhi hutan rimba yang gelap dan seram, Johan tiba-tiba sesenggukan. Raga heran melihatnya.
"Lo kenapa?" tanya Raga.
"Gue nggak nyangka kalo Nurdin udah nggak ada, Sob," isak Johan sedih.
Raga pun ikut sedih.
"Gue juga nggak nyangka," ucap Raga.
"Dia itu kocak. Dulu gue nggak pernah percaya sama ke indigoan dia, tapi lama-lama gue makin yakin saat banyak yang udah terbukti," isak Johan.
"Gue juga sama," jawab Raga.
Raga tak bisa berbuat apa-apa pada Johan yang dalam keadaan sedih begitu. Dia teringat dirinya dulu saat tahu kalau Nayara dikabarkan meninggal dunia. Saat Raga sadar dari pingsannya, dia langsung pergi ke rumah sakit. Dirinya tak kuasa melihat tubuh Nayara sudah dilurumi darah.
Raga hanya bisa terisak dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia mencoba menerima takdir yang diberikan padanya. Saat pelaku tabrak lari itu sudah didapat melalui mobil yang terekam cctv, rupanya mobil itu milik Gesang. Lelaki yang sudah lama mengejar Nayara dan ditolaknya berkali-kali. Sayangnya cctv itu tak bisa memperlihatkan siapa yang berada di dalam mobilnya. Hingga ternyata yang disalahkan adalah supir pribadi Gesang. Dan kini supirnya itu sudah mendekam di penjara. Raga yakin, Gesang lah pelakunya. Dia ingin membuka mata batinnya bukan hanya agar bisa melihat dan berbicara dengan arwah Nayara saja, tapi juga ingin bertanya pada arwah Nayara, siapa pelaku yang menabraknya yang sebenarnya. Apa benar supir pribadi Gesang? Atau Gesang sendiri pelakunya?