4. Malam Kenangan

1485 Kata
Raga dan Johan buru-buru menaiki bus saat suara operator kapal menggema meminta para penumpang untuk segera menaiki kendaraan masing-masing. Sebentar lagi kapal Ferry itu akan berlabuh di pelabuhan Bakauheni. "Berapa jam lagi dari sini ke kampung lo?" tanya Raga penasaran pada Johan. Mereka sudah duduk di deretan bangku tengah. Johan menoleh pada Raga, "Sekitar 14 jam lagi," jawab Johan. "Lama ya?" "Sabar!" pinta Johan. Raga menyandar sambil menghembuskan napas. Tak berapa lama kemudian bayangan putih melintas di sebelah Johan. Bulu kuduk remaja itu berdiri. Dia menoleh takut pada Raga yang duduk di dekat jendela kaca. "Kok gue merinding ya? Lo merinding nggak?" tanya Johan penasaran. "Nggak," jawab Raga. Johan melihat-lihat ke belakang, semua penumpang sudah memasuki bus. Tidak ada hal aneh yang ditangkap oleh kedua matanya. "Itu pasti arwah Nayara," celetuk Raga. Johan ketakutan mendengarnya, "Gue tahu dia ngikutin lo terus, tapi nggak merinding gini juga kali," ucap Johan heran. Raga tersenyum. Malas menanggapi ketakutan sahabatnya itu. Bus yang mereka naiki pun mulai keluar dari kapal lalu memasuki pelabuhan Bakauheni. Lampu-lampu pelabuhan menyala terang. Raga mulai mengantuk, dia pun memejamkan matanya agar segera tiba di kampung halaman sahabatnya itu. Arwah Nayara yang duduk di bangku kosong paling belakang tampak pucat dan datar. Sesaat dia menoleh ke arah tempat duduk Raga. Tatapannya kosong dan begitu sendu. Bus itu melaju cepat menembus jalanan tol trans Sumatera. Di kiri dan kanan tol tampak kelam. Hanya lampu-lampu kendaraan yang menerangi jalanan. Raga kini tengah tertidur lelap. Sementara itu Johan masih asik memainkan handpone di sebelah Raga. Perjalanan mereka menuju Empat Lawang Sumatera Selatan masih jauh. Lelaki itu sudah tak sabar untuk mempertemukan Raga dengan dukun sakti di kampungnya agar sahabatnya itu bisa terbuka mata batinnya dan bisa melihat arwah kekasihnya yang katanya sampai saat ini masih mengikutinya. Tak lama kemudian handphone Johan berbunyi. Ketika diperiksa ternyata telepon dari Nurdin. Sahabatnya yang indigo. Johan segera mengangkatnya dengan suara agak pelan karena khawatir mengganggu penumpang lain yang banyak sedang terlelap. "Halo," ucap Johan pada Nurdin di seberang sana. "Handphone Raga kok nggak aktif sih gue telepon?" tanya Nurdin di seberang sana dengan heran. "Orangnya tidur. Handphone-nya mati kali. Emang ada apa?" "Lo harus balik ke Jakarta. Ajak Raga balik ke Jakarta sekarang juga," pinta Nurdin di seberang sana dengan panik. Johan mengernyit mendengar itu. "Kenapa?" tanya Johan penasaran. Raga di sebelahnya sedikit bergerak lalu kembali menganga dalam mimpinya. "Ini bahaya buat Raga, Jo!" teriak Nurdin di seberang sana. "Bahaya kenapa? Kalo ngomong jangan setengah-setengah dong," tanya Johan dengan penasaran bercampur kesal. "Gue nanya sama dukun di deket rumah gue, katanya yang ngikutin Raga itu bukan arwah Nayara! Dia bahaya!" jawab Nurdin di seberang sana. Sementara itu arwah Nayara yang duduk mengikuti mereka di bangku kosong bus paling belakang tiba-tiba mengerlingkan mata pada Johan yang masih teleponan di arah hadapannya. Tatapannya seperti marah dan kesal. "Yang bener lo? Bahaya gimana sih?" "Tubuh Raga itu lemah. Kalo dibuka mata batinnya, dia nggak akan kuat ngeliat arwah! Raga bisa diteror para arwah pencuri tubuh manusia untuk dijadikan tubuh bagi para setan! Raga bisa gila atau mati, Jo! Buruan kalian balik sekarang dan jangan suruh Raga buka mata batinnya," pinta Nurdin dengan panik di seberang sana. "Kalo lo bisa liat arwah, gue percaya, tapi apa yang dibilang sama dukun lo itu gue nggak percaya," ucap Johan kesal lalu langsung mematikan handphonennya agar Nurdin tidak menghubunginya lagi. Raga terbangun, menoleh pada Johan. "Ada apaan sih, berisik banget?" tanya Raga sambil menggeliat. "Nggak ada apa-apa. Kalo ngantuk tidur lagi aja, perjalanan kita masih panjang," pinta Johan. Raga mengangguk lalu kembali memejamkan matanya. Sementara itu arwah Nayara yang pucat itu tampak tersenyum di bangku paling belakang. Tak berapa lama kemudian dia menghilang. *** Nurdin duduk di tepi ranjangnya dengan kesal karena handpone Johan sudah tidak bisa dihubungi lagi. Tak berapa lama kemudian lampu kamarnya mati. Hanya cahaya dari luar jendela yang terlihat. Nurdin kaget dan bergidik ngeri. Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melintas di luar jendela, bersamaan dengan suara tawa yang mengerikan. "Hihihi!" Nurdin gemetar ketakutan. Dia mundur hingga menyandar di dinding tepat di atas bantal. "Siapa kamu? Jangan ganggu gue!" teriak Nurdin. Bayangan hitam itu kembali melintasi jendela kamarnya. Masih dengan suara tawanya. "Hihihi!" Nurdin semakin takut dan ngeri. Dia pun langsung merapalkan doa-doa sebisanya. Tiba-tiba lemarinya bergerak-gerak hingga menimbulkan suara berisik seperti sedang terjadi gempa. "Tolong jangan ganggu gue! Pergi dari sini!" pinta Nurdin yang kini sudah berkeringat dingin. Dia heran kenapa matanya tidak bisa melihatnya? Apa arwah itu sudah tahu kalau dia bisa melihat hingga arwah itu datang dengan diam-diam berusaha agar Nurdin tak dapat menangkap sosoknya? Entahlah. Tiba-tiba lemarinya berhenti bergerak-gerak. Kamarnya menghening. Nurdin mengedarkan pandangannya mencari sosok yang mengganggunya itu. Tak lama kemudian dia mendengar suara tangan yang mengetuk kasur tempatnya duduk dari bawah. Nurdin penasaran, dia melongo ke bawah ranjangnya dengan gemetar. Dia ingin tahu siapa sosok yang mengganggunya itu. Saat melongo ke bawah kasurnya dia tidak melihat apa-apa. Tak berapa lama kemudian, lampu kamarnya kembali menyala. Nurdin lega. "Mungkin dia udah pergi," pikirnya. Nurdin mengatur napasnya untuk kembali menenangkan rasa takutnya. Seketika lampunya mati kembali. Matanya terbelalak saat melihat arwah seorang wanita yang berwajah dipenuhi belatung dengan sorot mata begitu tajam. Rambutnya panjang terurai. Pakaian putihnya lusuh dipenuhi darah segar. Nurdin berteriak sangat ketakutan. "Aaaaagh!" Sontak kedua tangan arwah yang kulitnya hampir mengelupas dan bau itu langsung mencekik leher Nurdin hingga remaja itu kesusahan bernapas. Nurdin berusaha melawan, namun kini dia lemas lalu seketika terjerembab ke atas kasur dengan lidah yang menjulur. *** Raga terbangun dengan napas tersengal-sengal. Dia masih berada di dalam bus melewati jalanan tol trans Sumatera. Johan yang duduk di sebelahnya kaget. "Kenapa lo?" "Gue mimpi ngeliat arwah Nayara berteriak-teriak nyuruh gue balik ke Jakarta, Sob," jawab Raga dengan bingung. Johan berpikir, apakah itu sebuah petunjuk? Karena mimpi Raga sama dengan apa yang dikatakan Nurdin padanya untuk meminta Raga balik ke Jakarta dan jangan sampai Raga dibuka mata batinnya di kampung halamannya kelak? Johan menepis pikirannya itu. Dia menatap wajah Raga untuk menenangkannya. "Cuma mimpi. Mimpi kan biasanya kebalikannya? Itu artinya lo harus ke kampung halaman gue. Sesuai dengan niat awal lo, kita temuin dukun Sarok buat ngebuka mata batin lo biar lo bisa ngeliat arwah Nayara. Lo kan mau ngeliatnya dan ngomong sesuatu sama arwah Nayara kan?" bujuk Johan. Raga mengangguk. "Iya, kali ya? Gue udah nggak sabar biar kita cepet-cepet sampe ke kampung halaman lo di Empat Lawang," ucap Raga. Hatinya sudah tak sabar untuk segera menemui dukun sakti yang akan dikenalkan Johan padanya. Dia ingin segera bisa melihat arwah kekasihnya. Johan tersenyum padanya. "Besok pagi sekitar jam delapan kita udah nyampe kok. Lo tidur aja," pinta Johan. Raga mengangguk lalu kembali memejamkan matanya. Johan pun kembali menyandar dan turut memejamkan matanya. Akan tetapi Raga tidak bisa tertidur lagi. Dia pun membuka matanya lalu memandangi pemandangan malam di luar jendela bus. Kelam. Ingatan akan masa lalunya bersama Nayara kembali tergingang. "Kamu berantem lagi?" tanya Nayara di suatu siang di lapangan basket kampusnya. Gadis itu heran melihat wajah Raga yang tampak lebam. Di bibirnya ada sedikit luka. Raga menggeleng. Nayara duduk di sebelahnya dengan khawatir. "Kamu bisa nggak sih, apa-apa itu diselesaikan dengan kepala dingin, bukan berantem gini," pinta Nayara. "Abis Gesang duluan yang bikin aku kesel, Nay. Dia ngejelek-jelekin kamu di depan temen-temennya!" belanya. "Gesang ngejelekin aku itu karena kesel aku tolak! Udah tahu aku pacaran sama kamu, masih aja ngebet pengen nembak aku!" ucap Nayara kesal. "Makanya aku tonjok dia, biar dia berenti gangguin kamu lagi!" ucap Raga kesal lalu pergi meninggalkan Nayara. Saat Raga kembali sadar dari lamunannya, tak terasa air matanya kembali menetes. Dia masih tak percaya kekasihnya itu akan lebih dulu meninggalkannya. Ingatan akan Nayara kembali bermunculan. "Raga, kita harus ketemu sekarang! Kamu tunggu aku di kedai kopi tempat kita biasa ketemu! Ada yang mau aku omingin!" pinta Nayara di telepon malam itu. Raga pun mengiyakan. Saat Raga sudah menunggunya di kedai kopi. Hujan mendadak turun dan hampir dua jam dia menunggu, kekasihnya itu tak datang-datang juga. Ditelepon handphonennya tidak aktif. Saat sudah kesal karena terlalu lama menunggu, dia bangkit dari tempat duduknya hendak pergi dari sana, seketika seseorang meneleponnya dan mengabarkan kalau Nayara sudah meninggal karena kecelakaan. Raga lemas dan langsung rubuh di dalam kedai itu. Lelaki itu berusaha mengusir ingatannya yang sangat menyakitkan itu. Dia meraih tisu di dalam tas lalu buru-buru menyeka air matanya. Sementara itu Arwah Nayara mendadak muncul di bangku paling belakang bus itu. Matanya menatap ke arah bangku deretan tengah tempat Raga dan Johan. Bibir pucatnya tiba-tiba menyunggingkan senyum. Kecut sekali. Mungkin karena dia telah berhasil menyingkirkan Nurdin agar tidak membujuk Raga untuk putar arah kembali ke Jakarta. Tak berapa lama kemudian, terdengar suara ban pecah. Bus yang mereka naiki itu tampak oleng. Raga kaget. Johan terbangun mendengar teriakan orang-orang dalam bus itu. Raga semakin panik karena supir belum bisa menghentikan busnya. Tas-tas berjatuhan dari atas tempat duduk penumpang. Di depan sana, bus itu hendak menabrak pembatas jalan. Semua berteriak, pasrah akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN