3. Petualangan Ke Negeri Nun Jauh

1092 Kata
Tangan Arwah Nayara bergerak ke arah pipi Raga. Namun, tangan itu tak bisa menyentuhnya. Arwah Nayara pasrah dan semakin sesenggukan karenanya. “Aku janji, nggak akan mencoba bunuh diri lagi, tapi kau harus janji untuk selalu ada di dekatku,” ucap Raga. Dia sangat yakin kalau arwah Nayara sedang berada di dekatnya. Karena dia sangat percaya dengan omongan Nurdin. Selama ini apa yang diucapkan Nurdin selalu terbukti. Untuk itulah Raga percaya betul dengan apa yang dikatakan anak indigo itu padanya. Arwah Nayara mengangguk. Dia tersenyum. Lalu mendadak daun pintu kamarnya berdetak kencang. Angin masuk ke arah kamarnya. Raga berdiri. “Apakah itu kamu Nayara?” Arwah Nayara hanya dapat menangis saja. Dia tak bisa bicara dengannya. Tak berapa lama kemudian terdengar suara pintu kamarnya ada yang mengetuk. Raga buru-buru membuka kamarnya itu. Di sana dia melihat Johan sudah berdiri di hadapannya dengan menyandang ransel yang sudah dipenuhinya dengan pakaiannya. “Udah siap berangkat?” tanya Johan dengan senyum. Raga mengangguk. Lalu dia meraih koper di dekat lemari yang sudah diisinya dengan pakaiannya itu. Hari ini mereka akan pergi ke kampung halaman Johan di kabupaten Empat Lawang Sumatera Selatan. Seminggu yang lalu Raga sudah pamit pada papah dan mamahnya bahwa liburan semester kali itu dia akan pergi bersama Johan ke kampung halaman sahabatnya itu. Beruntung, kedua orang tuanya sudah mengizinkan. Mereka pun menaiki sebuah bus di Terminal Kampung Rambutan. Bus yang akan membawa mereka ke kampung halaman Johan. “Harusnya kita naik pesawat ke Palembang, lalu di Palembang kita naik travel menuju kampung halaman kamu. Kalo kayak gini emang nggak capek 24 jam berada di dalam bus terus?” tanya Raga dengan khawatir. Johan yang duduk di sebelahnya itu menoleh padanya. “Nanti diperjalanan kamu akan tahu sendiri, kamu pasti nggak bakal nyesel naik bus gini.” Raga terdiam. Sesaat kemudian dia melihat ke seisi bus yang sudah dipenuhi penumpang. Semua isinya adalah orang-orang Sumatera Selatan yang merantau ke Jakarta mencari penghidupan. Raga kembali menoleh pada Johan. “Apa Nayara ikut kita juga ke kampung halaman kamu ya?” tanya Raga mendadak. Seketika Johan merinding dan tampak takut,”Kalo bisa jangan. Nanti aja kalo kamu udah bisa ngeliat hantu, jangan sekarang.” Raga tersenyum padanya. Dia kembali duduk dan memandangi pemandangan di luar kaca bus yang menghamparkan pemandangan kota Jakarta di pinggir jalan tol yang sedang mereka tempuh. Dan benar saja, ternyata arwah Nayara sedang duduk di bangku kosong paling belakang. Dia duduk sendirian dengan wajah pucat sambil melotot ke hadapannya. Kini sepasang matanya itu menatap lekat ke arah Raga yang duduk di deretan bangku tengah. Dia akan mengikuti kemana Raga pergi. Dia tidak tahu sampai kapan itu akan terjadi. Karena dirinya tak bisa pergi atau menjauh dari lelaki yang sangat dia cintai itu. Bus yang mereka tumpangi itu tiba di pelabuhan Merak. Saat mereka sudah berada di atas kapal Ferry itu, tepat menjelang senja datang. Raga berdiri di sisi kapal sambil memandangi lautan luas di hadapannya. Kapal itu akan membawa mereka menuju Pelabuhan Bakauheni. Johan datang dan ikut berdiri di sebelahnya. “Ini bener-bener indah, sob.” ucap Raga pada Johan. “Sekarang kamu baru tahu kan, kalo di sepanjang perjalanan menuju kampung halamanku itu indah, sayang kalau dilewatkan,” ucap Johan. “Aku kangen Nayara,” ucap Raga selanjutnya. Johan terdiam. Dia tak tahu harus membahas apa jika Raga kembali menyebut nama itu. “Dia suka senja, dan sering ngajak aku ke Ancol karena pengen ngeliat laut menjelang senja,” ucap Raga kemudian. ”Kalo seandainya Nayara bener-bener ada di sini, di dekat aku, dia pasti seneng banget liat pemandangan laut di selat Sunda ini.” Johan hanya angguk-angguk. Tak berapa lama kemudian mereka mendengarkan teriakan orang-orang di ruangan penumpang. Raga dan Johan penasaran dan langsung masuk ke dalam sana. Raga melihat ada ibu-ibu yang berteriak-teriak seperti kemasukan. “Hantu! Hantu! Dia rambut panjang!” teriak ibu-ibu itu menggigil di pelukan suaminya. Raga heran, kenapa di atas kapal ini dia bisa kerasukan? Raga menoleh pada Johan. “Apa kamu pernah ngeliat kejadian kayak gini di kapal ini kalo lagi pulang kampung?” tanya Raga penasaran. “Nggak pernah, kayaknya baru kali ini. Apa jangan-jangan yang dilihatnya itu...” Johan menghentikan ucapannya. Raga penasaran, ”Jangan-jangan kenapa?” Johan menoleh pada Raga, ”Apa dia begitu karena ngeliat arwah Nayara?” Raga terbelalak tak percaya. Raga pun langsung mendekati ibu-ibu yang kini sudah sadarkan diri itu karena ditolong oleh seorang bapak-bapak yang mengerti masalah itu. “Maaf, bu. Aku boleh tanya?” tanya Raga pada ibu-ibu itu. “Mau tanya apa, Mas?” ucap suaminya yang duduk di sebelahnya. “Aku mau tanya soal apa yang dilihat oleh Ibu ini tadi,” jawab Raga. “Nggak usah, sana pergi. Dia baru aja sembuh diganggu makhluk halus. Jangan dulu ganggu kami,” pinta suami ibu-ibu itu pada Raga. “Maaf,” ucap Raga lalu berbalik pergi dari sana. “Mas!” terdengar suara ibu-ibu tadi memanggilnya di telinga Raga. Raga pun langsung menoleh pada ibu-ibu itu. “Iya, bu.” Jawab Raga. “Sini!” pinta ibu-ibu itu pada Raga. Raga pun dengan senang mengikuti permintaan ibu-ibu itu. Dia pun duduk di dekat ibu-ibu itu yang masih bersama suaminya. “Tadi saya melihat ada perempuan berambut panjang menatap saya dengan sedih,” ucap ibu-ibu itu. Raga penasaran,”Terus, Bu?” “Dia memakai pakaian kuliah, masih menggunakan almamater kuliah. Tapi almamaternya itu dipenuhi darah,” ucap ibu itu melanjutkan. Mendengar itu Raga langsung yakin kalau itu Nayara. “Kenapa ibu sampai teriak melihatnya?” tanya Raga heran. “Aku terkejut aja. Sebenarnya dia nggak ganggu aku,” jawab ibu-ibu itu. “Di mana ibu melihatnya?” tanya Raga penasaran. Ibu-ibu itu menunjuk ke arah depan. Di bawah layar televisi yang sedang menayangkan sebuah film di dalam ruangan penumpang kelas bisnis itu. Setelah itu Raga pamit pada ibu-ibu itu. Dia langsung menuju ke arah ke tempat yang ditunjuk ibu-ibu tadi. Raga berdiri di hadapannya. “Nayara? Apakah itu kamu?” tanya Raga dengan penasaran. Ternyata memang benar. Arwah Nayara sedang berdiri di sana menatap Raga dengan sedih. Arwah Nayara tak bereaksi apa-apa. Dia hanya diam. Seketika Johan menarik tangan Raga dari sana. “Jangan bodoh, nanti kalo orang-orang liat kamu ngomong sendiri bisa bahaya,” ucap Johan. Raga pun mengikuti Johan meninggalkan tempat itu. Mereka menuju lantai atas untuk duduk di ruangan eksekutif sampai kapal yang mereka naiki itu tiba di Pelabuhan Bakauheni. “Aku pengen segera bisa liat kamu Nayara. Gimana pun caranya aku harus bisa ngeliat kamu,” bisik Raga sambil memandangi luatan di luar kaca yang mulai gelap itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN