Raga yang masih terbaring di ranjang rumah sakit itu menatap Johan dengan lekat.
“Emang bener kalo arwah Nayara selalu ngikutin aku?” tanya Raga tiba-tiba.
Johan dan Nurdin saling menatap dengan heran.
“Kamu tahu dari mana?” tanya Johan tak percaya.
“Tadi aku nggak sengaja dengerin kalian ngobrol. Aku cuma bisa dengerin aja, nggak bisa gerak dan ngomong,” jawab Raga dengan lemah.
Johan menoleh pada Nurdin. Dia ingin lelaki berkacamata itu saja yang menjelaskannya pada Raga. Nurdin mengerti lalu dia menoleh pada Raga dengan tatapan gugup. “Bener, Raga.”
Raga mendadak gelisah, ”Tolong bicara di kedia. Tanyain ke dia, apa bener kematiannya itu gara-gara aku?”
Nurdin bingung untuk menjawabnya. Akhirnya dia berkata juga pada Raga, ”Aku udah coba ngajak dia ngomong, tapi dia diem aja, nggak mau buka mulutnya.”
Raga tampak bingung. Dia pun menatap Nurdin penuh harap. “Kamu bisa ngebuat aku bisa liat arwah Nayara?” tanya Raga.
Nurdin menggeleng.
“Aku cuma bisa ngeliat hantu. Aku bukan dukun atau orang sakti yang bisa ngelakuin itu,” jawab Nurdin.
Raga pun menangis. “Tolongin aku, Nurdin! Aku pengen bicara sama dia, sekali saja, kalo emang bener dia selalu ngikutin aku,” pinta Raga.
“Nggak ada yang bisa ngelakuin itu, kecuali memang orang yang udah dari lahirnya dia sudah memiliki kemampuan, seperti aku yang sering dibilang orang dengan istilah indigo itu, dan aku nggak bisa,” jawab Nurdin pada Raga dengan sedih.
Raga kembali menangis tersedu-sedu. Johan dan Nurdin kasihan melihatnya. Johan akhirnya teringat kalau di kampung halamannya nun jauh di Sumatera Selatan sana, dia pernah mendengar ada dukun sakti yang bisa membuat seseorang melihat hantu dan bicara dengannya.
“Aku tahu di mana tempatnya yang bisa ngebuat kamu ngeliat hantu,” ucap Johan dengan semangat pada Raga.
Raga penasaran,”Dimana?”
“Di kampung aku,” jawab Johan.
Seketika Raga menatap Johan penuh harap, ”Bawa aku ke sana, Johan. Aku ingin melihat Nayara dan bicara satu hal dengannya,” pinta Raga.
Johan mengangguk.
“Nanti setelah kamu sembuh, kita pergi ke kampungku,” ucap Johan kemudian.
Raga mengangguk senang. Dia tidak tahu apakah masih ada orang hebat yang dimaksudnya itu di kampung halamannya. Baginya walau nanti tidak ada, yang penting dia bisa membuat Raga memiliki alasan untuk hidup lagi.
Langit Jakarta mendadak mendung. Sebuah mobil mewah tiba di depan lobby rumah sakit itu. Sepasang suami istri langsung turun dari mobil itu. Seorang lelaki berumur 45 tahun dan satunya seorang perempuan berumur 40 tahun. Seorang lelaki mengenakan setelan jas dan seorang perempuannya mengenakan gaun dari perancang busana terkenal. Dia mengenakan kaca mata hitam. Mereka tergopoh-gopoh menuju resepsionis. Menanyakan kamar tempat anaknya dirawat. Saat petugas memberitahukan kamar tempat anaknya dirawat itu, mereka langsung melangkah cepat menuju ruangan itu dengan perasaan yang teraduk.
Mereka pun tiba di ruangan tempat Raga dirawat. Johan dan Nurdi yang masih di sana langsung keluar saat melihat kedua orang tua Raga tiba di tempat itu. Perempuan itu mendekat ke Raga lalu menangis di dekatnya.
“Raga?” panggil ibunya sambil terisak.
Raga diam. Dia tak tahu harus mengatakan apa pada ibunya itu. Raga masih sakit hati saat sepasang suami istri itu mengusirnya dari rumah.
“Maafin mamah, Nak.” Ibunya langsung mengelap air matanya dengan tissue yang selalu dibawanya itu.
Raga masih diam. Kali ini lelaki itu yang mendekat padanya. Dia menatap Raga dengan penuh rasa penyesalan. ”Maafin papah!” ucap lelaki itu.
Sesaat kemudian air mata Raga tumpah. Dia menatap kedua wajah orang tuanya itu dengan air mata yang terus mengalir ke pipinya.
“Aku kangen Nayara, Pah, Mah... aku nggak bisa lupain dia... bantu aku, Pah, Mah... aku pengen bisa ngelupain Nayara...” isak Raga.
Ibunya langsung memeluk tubuh kurus anaknya itu dengan kasihan. “Abis ini kamu pulang ke rumah ya, kamu tinggal di rumah lagi, nggak usah kabur-kaburan lagi. Mamah akan selalu ada buat kamu,” pinta ibunya.
Tanpa disadari Raga, arwah Nayara berdiri menatapnya dengan sedih di pojok kamar itu. Tak berapa lama kemudian arwah itu pergi menembus dinding membawa kesedihannya. Mungkin dia tak tahan melihat Raga menangis begitu. Entahlah.
Ya, Nayara adalah seorang gadis yang cantik dan periang. Sama seperti dirinya. Perempuan pemilik rambut panjang dan lesung pipi itu sering membuatnya tertawa dan bahagia selama ini. Mereka saling mengenal sedari SMA. Jadian saat kelas dua SMA. Menjalin hubungan hingga mereka sama-sama kuliah di kampus yang sama.
Satu hal yang disukai Raga pada Nayara adalah perempuan itu tidak pernah mengatur-atur hidupnya. Seperti kebanyakan perempuan lain pada kekasihnya. Nayara selalu mengerti dan selalu memahami kekasihnya itu. Bahkan saat dia diusir dari rumahnya, perempuan itulah yang mengurusnya. Diam-diam membawakan makanan untuknya dari rumah. Walau kedua orang tua Nayara tak suka melihat dia berpacaran dengan Raga, tapi perempuan itu teguh pendirian. Dia tak peduli omongan orang tuanya itu. Baginya Raga adalah lelaki baik dan bertanggung jawab. Selama mereka berpacaran, Raga tak pernah menyentuhnya dan sangat menjaganya. Itulah yang membuat Nayara bertahan dengan dia selama ini.
Namun suatu malam. Raga mendapat kabar buruk dari keluarga Nayara kalau Nayara telah meninggal karena ditabrak lari oleh sebuah mobil yang tak dikenal. Sejak itulah Raga seperti tak hidup lagi. Jiwanya kosong dan banyak menyendiri. Dia sudah mencoba berkali-kali melakukan aksi bunuh diri. Namun usahanya selalu gagal karena selalu ada yang menolongnya.
Saat Raga sudah pulih dan sudah kembali ke rumahnya. Dia duduk di tepi kasur sambil mengitari sekitar di dalam kamarnya. Dia percaya ucapan Nurdin kalau arwah Nayara selalu mengikutinya.
“Nayara,” panggil Raga lemah.
Saat itu memang arwah Nayara sedang berada di sana. Nayara sedang berdiri di hadapannya dengan wajah pucat dan memakai pakaian penuh darah. Pakaian yang dikenakan perempuan itu saat mengalami kecelakaan dulu. Nayara hanya diam memandangnya. Air mata arwah itu mulai berjatuhan. Dia menatap Raga dengan lekat. Dia hanya bisa mendengarkan suara lelakinya itu.
“Apa benar kamu di sini?” tanya Raga.
Arwah Nayara semakin terisak. Dia pun berbalik dan berjalan meninggal Raga. Dia tak sanggup mendengar ucapan Raga selanjutnya.
“Apa benar kamu bunuh diri?” tanya Raga kemudian.
Arwah Nayara terus berjalan perlahan meninggalkannya.
“Aku selalu mencintaimu, meski sekarang kamu tak ada, aku akan selalu mencintaimu,” ucap Raga kemudian.
Arwah Nayara berhenti melangkah. Dia berbalik dan kembali mendekat ke tubuh Raga.
“Jika memang kamu meninggal karena aku, tolong maafkan aku. Tunggu aku, jangan kemana-mana dulu. Aku akan berusaha biar bisa melihatmu. Meski hanya sedetik saja. Aku ingin mendengar jawabannya darimu langsung,” ucap Raga yang kini mulai terisak.