Raga membuka mata. Dia kaget saat melihat dirinya sudah berada di tengah kegelapan. Dia tak tahu berada di mana. Tempat itu begitu dingin. Raga menggigil ketakutan. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi dengannya karena dia sudah tak ingat apa-apa lagi. Tak lama kemudian kepalanya sakit. Akhirnya dia mengigat kalau tadi dia baru saja berhasil merebut tongkat Panglima Iblis lalu menceburkan dirinya ke dalam sumur hingga tongkat itu menyerupa cahaya lalu cahaya itu merasuki tubuhnya. Raga takut sendiri mengingat itu. Ya, sesaat setelah dia tidak sadarkan diri lagi, dia teringat sudah melihat wajah Nayara tersenyum di atas sumur sana. Mendadak Raga menjadi sedih dan bingung.
“Apakah aku sudah mati?” tanyanya dalam hati. “Apakah aku sudah tidak berada di alam dunia lagi?” tanya Raga pada dirinya sekali lagi. Dia akhirnya menangis. Bingung sendiri. Di tempat itu dia benar-benar tak bisa melihat apa-apa.
“Tolong! Tolong! Tolong!” teriak Raga kemudian. Suaranya terdengar menggema. Lama dia menunggu, tak ada satupun yang menyahut suaranya. Kemudian dia kembali berteriak.
“Tolong! Tolong! Tolong!” Masih tak ada yang menyahuti suaranya. Dia semakin menggigil.
Tak lama kemudian dia mendengar suara-suara tawa yang mengerikan. Tawa itu terdengar jauh lalu perlahan terdengar kencang hingga memekakkan telinganya. Remaja itu langsung menutup telinganya sambil terduduk. Tak lama kemudian terdengar suara seorang perempuan dari jauh.
“Tolooong…”
Raga melepaskan tangannya dari telinganya. Dia berusaha berdiri lalu meraba-raba apa yang ada di sekitarnya itu.
“Tolooong…” Kali ini suara itu terdengar lebih kencang dari sebelumnya. Raga masih berusaha untuk mencari tahu itu suara siapa.
“Siapa kamu?!” teriak Raga. Matanya tidak bisa melihat apa-apa di sana. Tempat itu begitu gelap dan sangat gelap.
“Tolooong!” Kali ini suara perempuan itu kian memekakkan telinganya. Raga terkejut saat sadar bahwa suara itu mirip dengan suara Nayara. Iya, dia hafal betul bagaimana suara Nayara. Dia teringat saat gadis itu berteriak di pinggir pantai bersamanya untuk mengatakan sebuah kata ; I Love You, Raga.
“Nayara?” teriak Raga untuk memastikan.
Kali ini suara perempuan yang mirip dengan Nayara itu terdengar menangis. Raga panik dan bingung. Dia tak tahu di mana suara itu berasal.
“Nayaraaa!!!” teriak Raga lagi mencoba memanggilnya.
Suara perempuan itu semakin terisak terdengar.
“Nayaraaa! Di mana kamu?!” teriak Raga lagi.
Tak lama kemudian suara tangisan Nayara tak lagi terdengar. Raga heran. Tiba-tiba muncul seorang nenek-nenek berambut penuh uban yang tergerai kusut. Nenek-nenek itu mengenakan kebaya dan kain batik. Kuku nenek-nenek itu terlihat sangat panjang. Raga kaget saat melihat kedua bola mata nenek-nenek itu memutih semua. Remaja itu langsung mundur. Dia ingat kalau nenek-nenek itu adalah nenek-nenek yang dilihatnya sewaktu selesai dimandikan Johan dengan air pemandian jenazah di sungai itu. Nenek-nenek itu kini tertawa.
“Siapa kamu? Di mana aku?” tanya Raga dengan gemetar ketakutan.
Nenek-nenek itu tidak menjawab pertanyaan Raga. Dia malah terus saja tertawa menakutkan. Raga semakin ngeri melihatnya.
“Siapa kamu? Pergi dari sini! Jangan ganggu aku!” pinta Raga dengan takut. Dinginnya tempat itu tak dia rasakan lagi.
Nenek itu tiba-tiba berhenti tertawa. Dia melotot ke Raga sambil berjalan mendekat ke arahnya.
“Aku Nayara!” ucap nenek-nenek itu sambil tertawa.
Raga kaget mendengarnya.
“Kamu bukan Nayara!” teriak Raga tak percaya.
“Akulah yang mengikutimu selama ini! Akulah yang dilihat temanmu yang bisa melihat aku selama ini!” ucap nenek-nenek itu lalu tertawa.
Raga mundur tak percaya.
“Jangan bohong! Siapa kamu?! Mana Nayara?!” tanya Raga dengan penuh penasaran bercampur ketakutan.
Nenek-nenek itu kembali tertawa.
“Nayara tidak ada! Nayara tak pernah mengikutimu! Akulah yang mengikutimu dan yang menjebakmu untuk merebut tongkat iblis itu biar kamu mati!” teriak nenek-nenek itu lagi sambil tertawa.
“Jangan bohong! Di mana Nayara?” teriak Raga yang masih tak percaya.
Tak lama kemudian nenek-nenek itu langsung berubarh menjadi sosok Nayara. Raga kaget.
“Nayara?”
Sesaat kemudian arwah Nayara yang dilihatnya itu berbicara dengan suara nenek-nenek tadi.
“Sekarang kamu percaya kalau aku bukan Nayara?” tanya nenek-nenek itu lalu tertawa lagi. Tertawa yang terdengar lebih mengerikan dari sebelumnya.
Raga mundur lagi dengan penuh ketakutan.
“Jadi kamu bukan Nayara? Kenapa kamu ngitukin aku? Untuk apa?!” teriak Raga.
Nenek-nenek itu tertawa. Dia tak menjawab pertanyaan Raga.
“Di mana keberadaan Nayara itu bukan urusanku! Urusanku adalah agar kamu mati!” teriak nenek-nenek itu lagi.
“Kenapa? Kenapa kamu mau aku mati?!” tanya Raga penasaran.
“Kalo itu jangan tanya aku! Tanya saja Gesang! Kau kenal kan dengan Gesang?!” jawab nenek-nenek itu.
Raga kaget mendengarnya. Gesang adalah teman kuliahnya yang juga mencintai Nayara. Lelaki itu juga yang menjadi tersangka atas kematian Nayara. Nayara ditabrak dengan mobilnya namun yang tertangkap polisi malah supir pribadi lelaki itu. Jika benar Gesang yang mengirim nenek itu padanya, semua itu untuk apa? Apa agar dirinya meninggal hingga tak ada lagi yang berani menguak kasusnya yang memang dia yang telah membunuh Nayara? Apakah Gesang juga meminta bantuan dukun untuk mengirim nenek itu padanya? Pada dukun siapa? Raga bertanya-tanya pada dirinya sendiri dengan bingung. Raga pun kembali menatap wajah nenek-nenek yang mengerikan itu.
“Jadi kamu dikirim Gesang untuk membunuh aku?” tanya Raga tak percaya.
Arwah nenek-nenek itu tertawa.
“Sekarang aku tak perlu lagi membunuhmu! Tongkat Panglima Iblis yang bersemayam di tubuhmu lah yang akan membunuhmu! Tentara Ibris akan merebutnya darimu. Jika kamu mati, maka tongkat itu akan bisa direbut mereka kembali!” jawab nenek-nenek itu sambil tertawa.
Raga sangat terkejut mendengarnya. Sesaat kemudian nenek-nenek itu menghilang. Tempat itu kembali gelap.
Tak berapa lama kemudian Raga tidak merasakan apa-apa lagi. Ternyata dia masih tenggelam di dalam sumur tua itu. Tak berapa lama kemudian gelembung-gelembung kecil keluar dari mulutnya. Sebuah tangan menariknya ke atas. Kini Raga dibawa seoarang Bapak-Bapak ke atas permukaan air di dalam sumur itu. Di atas sumur sudah dipenuhi orang-orang termasuk Johan yang sangat khawatir kepada Raga.
“Turunkan tangganya!” teriak bapak-bapak ke atas sana.
Seorang warga langsung menurunkan tangga bambu yang panjang ke bawah sumur. Bapak-Bapak itu menarik tubuh Raga ke sisi dinding sumur agar tangga bambu itu tidak mengenai mereka. Bapak-Bapak itu mengguncang-guncang tubuh Raga.
“Nak! Nak!” Panggilnya.
Raga masih tak sadarkan diri juga. Bapak-Bapak itu mencoba menekan-nekan d**a Raga sebisanya. Tak lama kemudian Raga terbatuk. Dia mengeluarkan air yang cukup banyak dari mulutnya. Bapak-Bapak itu lega melihat Raga ternyata masih hidup. Dia pun segera menggendong Raga melalui punggungnya sambil mengikat tubuh raga ke tubuhnya dengan kain yang dilemparkan warga dari atas sana. Saat tangga bambu itu sudah terpasang dari dasar sumur ke atas sana, bapak-bapak itu dengan perlahan menaiki tangga itu sambil menggendong Raga dengan pelan. Johan dan orang-orang di atas sana yang melihat itu tampak penasaran dengan kondisi Raga.