19. Tongkat Panglima Iblis

1193 Kata
Raga dan Johan masuk kamar lalu langsung berbaring sambil mengatur napas. Tak berapa lama kemudian terdengar suara pintu diketuk. “Johan!” Ibunya memanggil di luar sana. Johan menoleh ke arah pintu. “Iya, Mak?” jawab Johan. Johan bangkit di atas kasurnya lalu membuka pintu kamar dengan heran. Raga langsung duduk di tepi kasur. “Ada apa, Mak?” tanya Johan heran. “Mak, Bapak sama Nela mau ke rumah nenek Asih dulu, katanya sekarang lagi sekarat di rumahnya, tadi ada yang nelepon Mak. Jagain rumah baik-baik ya, jangan kemana-mana?” pinta Ibu Johan pada Johan dengan khawatir bercampur panik. “Iya, Mak,” jawab Johan. “Aduh, di kampung ini memang suka kebiasaan, kalo ada satu yang meninggal suka ngajak-ngajak yang lain juga,” keluh Ibu Johan lalu pergi keluar bersama Bapak dan Nela. Saat mereka sudah keluar dari rumah, Johan menatap Raga dengan mata terbelalak. “Ada yang lagi sekarat,” ucap Johan tiba-tiba. Raga berdiri. “Iya, kita harus gimana? Apa gue mesti beraksi sekarang?” tanya Raga bingung. “Kalo kita pergi nanti dimarahin Ibu kamu gimana?” Johan berpikir. Setelah itu dia tersenyum senang sambil menatap Raga. “Kita tutup semua pintu dan jendela rumah, lalu kita kita kunci dan pergi ke sana.” jawab Johan. “Oke,” jawab Raga dengan mantap. Akhirnya mereka buru-buru menutup dan mengunci semua jendela rumah, setelah itu mereka keluar rumah sambil mengunci pintu utama dan menyembunyikan kunci di bawah pot bunga. Raga heran. “Nanti dicolong orang gimana?” tanya Raga yang protes saat melihat Johan menyimpan kunci dibawah pot bunga. “Udah biasa! Nggak ada yang tahu kok. Nanti kalo ibu sama bapak pulang duluan, mereka udah tahu kalo kunci rumah pasti disembunyiin di sini,” jawab Johan. “Kalo mereka pulang duluan sementara kita belum, nanti alasannya apa?” tanya Raga bingung. “Nanti aja mikir alasannya, yang penting hari ini kalau memang nenek Asih sedang sekarat dan mau meninggal, lo bisa ngambil tongkat iblis di depan tangga rumah. Gue yakin sesuai dengan apa yang dibilang dukun Sarok itu, kalo lo udah dimandiin sama air pemandian jenazah, lo pasti bisa liat tongkat panglima iblis itu,” jawab Johan sambil menguatkannya. Rangga mengangguk dengan mantap. “Yaudah yuk, sebelum kita terlambat,” ajak Johan. Mereka pun turun melewati tangga rumah lalu buru-buru melangkah ke arah rumah Nenek Asih. Setiba di dekat rumah Nenek Asih, langkah Johan terhenti. Raga pun ikut berhenti. “Kita tunggu di sini,” pinta Johan. “Kenapa?” tanya Raga penasaran. “Lo liat bawah tangganya dari sini aja, kalo lo udah ngeliat sebuah tongkat baru lo lari,” pinta Johan. Raga mengangguk. “Sumurnya yang mana? Kata dukun Sarok kan harus nyebur sumur sebelum tongkat panglima Iblis itu direbut?” tanya Raga bingung. Johan menoleh ke belakangnya. Raga pun ikut menoleh ke arah Johan memoyongkan bibirnya. Di sana terlihat sebuah sumur yang terbuka. Raga buru-buru pergi dari sana lalu melongo ke dalam. Terlihat sumur itu tidak terlalu dalam dan airnya sangat penuh. Raga lega karena tidak terlalu tinggi untuk nyemplung ke dalamnya nanti. Tak lama kemudian Johan mendekat padanya. Raga menoleh ke arah Johan dengan mantap. “Oke! Gue bakal nyebur ke sumur ini,” ucap Raga dengan mantap. Mereka berdua pun kembali memperhatikan anak tangga di rumah kayu nenek Asiih. Orang-orang berdatangan dan naik ke rumah itu. Johan menoleh ke Raga dengan penasaran. “Gimana? Lo udah liat tongkat panglima iblisnya nggak?” tanya Johan penasaran. Raga memperhatikan baik-baik anak tangga rumah itu. Dia belum melihat apa selain sandal yang menumpuk di sana dan beraneka warna. Raga menggeleng. Johan tampak lemas melihatnya. “Apa yang dibilang dukun Sarok itu nggak bener ya? Apa yang nemuin kita di hutan itu bukan dukun Sarok melainkan makhluk halus penunggu hutan itu yang nyerupa jadi dukun Sarok? Dia sengaja ngerjain kita?” tanya Johan dengan bingung. “Kita tunggu aja, kalo nenek Asih benar-benar meninggal sementara gue nggak bisa ngeliat tongkat panglima Iblis itu, berarti apa yang dibilang dukun Sarok itu nggak bener,” jawab Raga. Johan pun mengangguk pasrah. Akhirnya mereka duduk di sana sambil memandang ke arah anak tangga rumah Nenek Asih. Sudah hampir satu jam mereka menunggu di sana, tak lama kemudian sebuah mobil ambulan datang. Bertepatan dengan itu Raga melihat ada cahaya kuning di anak tangga itu. Dia kaget dan tak percaya bisa melihat cahaya kuning itu. Raga berdiri sambil menoleh sebentar ke Johan. Tepat saat para petugas mobil ambulance menaiki tangga rumah itu. “Gue ngeliat cahaya kuning di anak tangga!” ucap Raga dengan gugup dan mulai gemetar. Johan kaget mendengarnya. “Mungkin itu tongkatnya! Buruan lo lari ke sana! Kalo itu beneran tongkat iblis, buruan lo ambil terus lo bawa lari ke sumur itu,” pinta Johan hampir terbata-bata saking tidak percayanya mendengar Raga ternyata benar-benar bisa melihat sesuatu di anak tangga itu, meski belum pasti itu tongkat panglima iblis atau bukan. Raga mengangguk lalu berlari kencang ke arah anak tangga itu. Johan memandanginya dengan khawatir dan penuh gugup. Sesampainya Raga di anak tangga itu, dia benar-benar melihat sebuah tongkat emas berbentuk ular panjang yang mengeluarkan cahaya kekuningan. Raga gemetar hebat melihatnya, dengan cepat dan sigap dia pun akhirnya meraih tongkat itu. Tak lama kemudian dia mendengar suara pekikan yang sangat kencang. Dia hampir saja melepaskan tongkat itu dari tangannya, namun saat teringat akan tujuannya ingin bisa melihat dan berbicara dengan arwah Nayara, akhirnya dia tahan suara pekikan yang sangat memekakkan telinganya itu. Dia pun langsung berlari ke arah sumur yang diminta oleh Johan tadi. Tiba-tiba dia melihat makhluk hitam bertaring tinggi dan besar serta berwajah sangat menyeramkan tiba-tiba meraung seperti serigala. Makhluk itu mengejar Raga. Raga pun terus berlari tanpa rasa takut lagi. Entah kenapa saat tongkat itu sudah berada di tangannya dia tak ada ketakutan lagi. Tak lama kemudian dia mendengar suara orang memanggilnya. “Ragaaaa!” Raga menoleh sedikit ke belakang karena penasaran. Tiba-tiba dia melihat makhluk besar bertanduk seperti tanduk banteng dan wajahnya seperti wajah srigala. Tubuhnya mirip kera yang tengah berlari ke arahnya. Mungkin itu panglima Iblis yang dimaksud dukun Sarok, pikirnya. Raga tak peduli, dia terus berlari. “Buruan Raga! Ayo!” teriak Johan. Raga terus berlari, di hadapannya dia melihat makhluk mirip harimau sedang menghadangnya. Raga pun langsung menepis mereka dengan tongkat itu hingga makhluk yang mirip harimau itu terpelanting jauh. Rupanya makhluk hitam yang dilihatnya tadi itu hampir saja menarik tubuh Raga, tak lama kemudian Raga hampir saja sampai ke sumur itu. “Ayo Raga! Buruan!” teriak Johan. Beberapa detik kemudian, Raga terjun ke sumur itu sambil memegang tongkat itu. Sesaat semua apa yang didengarnya yang memekakkan telinganya tadi tiba-tiba menghening. Tongkat yang dibawanya itu berubah mencaji cahaya yang begitu terang lalu memasuki tubuhnya. Raga terasa lemas sekali di dalam sumur itu. Dia memandang ke atas. Dilihatnya Johan tengah berteriak-teriak memanggilnya. Mungkin makhluk itu sudah pergi dan tak akan mengganggunya lagi karena tongkatnya sudah berhasil dia rebut dan kini sudah menyatu dengan tubuhnya. Sesaat kemudian dia melihat wajah Nayara di sebelah Johan yang melongo ke dalam sumur. Wajah itu tersenyum padanya. “Nayara?” Tak berapa lama kemudian air memasuki hidung dan mulutnya. Raga tak bisa bernapas lagi lalu matanya memejam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN