18. Air Pemandian Jenazah

1017 Kata
Setelah makan malam bersama di rumah Johan, Ibu Johan kembali menatap wajah Johan dengan serius. Bapak dan Nela sedang fokus makan bersama mereka. "Pokoknya kalian nggak usah main dukun-dukunan lagi," pinta Ibu Johan. Raga dan Johan mengangguk. "Nanti kalo Raga kenapa-napa, kamu yang repot, Johan. Raga bukan asli sini," ucap Ibu Johan sekali lagi. "Dengerin tuh," ucap Nela. Johan manyun ke Nela. Bapak Johan menghela napas melihat mereka. "Udah buruan abisin makannya, berantemnya nanti aja," ucap Bapak Johan. Mereka pun akhirnya diam semua dan fokus makan. Saat selesai makan malam, Johan pamit pada kedua orangtuanya untuk main ke rumah temannya. Mereka harus mencari orang yang bisa mengambil air pemandian jenazah yang meninggal di kampungnya itu. Mereka pun diizinkan. Kini Raga dan Johan sedang berjalan menelusuri jalanan kampung. Mereka hendak pergi ke rumah teman Johan untuk meminta pertolongannya mengambil air pemandian jenazah. Langkah Raga terhenti, dia menoleh pada Johan. "Teman kamu bisa jaga rahasia kan?" tanya Raga penasaran. "Tenang aja, dia bisa jaga rahasia kok," jawab Johan. "Soalnya kalo dia cerita ke ibu kamu bisa gawat, nanti kita bisa dimarahi. Gue sih aman aja kalo ibu lo marah, tapi kalo lo, gue kesian, Sob," ucap Raga dengan khawatirnya. "Nggak usah khawatir! Yaudah yuk!" pinta Johan menarik tangan Raga. Mereka pun kembali melangkah. Saat tiba di depan rumah teman Johan bernama Mail itu, Johan langsung mengetuk pintu. Pintu terbuka. Mail keluar dengan heran. "Ada apa?" tanya Mail heran pada Johan. Johan berbisik pada Mail, "Ada bisnis nih," jawab Johan. "Bisnis apaan?" tanya Mail heran. Johan melongo ke dalam, memastikan tidak akan ada yang menguping apa yang akan dia bicarakan pada Mail. "Nggak ada siapa-siapa di dalam," ucap Mail yang mengerti pada gelagat Johan. Johan menghela napas. "Bilang kek dari tadi. Kalo gitu kita ngobronya di dalem aja sambil ngopi," pinta Johan agak kesal. "Yaudah yuk, masuk," pinta Mail pada Johan dan Raga. Johan dan Raga pun masuk ke dalam. Rumah Mail agak gelap. Mereka tidak menggunakan listrik. Listriknya sudah lama diputus PLN karena tidak mampu membayar. Sekarang di ruangan itu hanya diterangi oleh lilin saja. Setelah Mail berhasil membuatkan mereka kopi. Dia duduk dengan penasaran. "Emang bisnis apaan sih?" tanya Mail yang masih penasaran. "Lo bisa nggak bantuin kita ngambil air pemandian jenazah? Nanti kita kasih duit?" tanya Johan pada Mali. Mail terkejut mendengarnya. "Yang bener? Emang air pemandian jenazah buat apaan?" tanya Mail penasaran. "Pokoknya ada aja. Kita nggak bisa cerita. Kalo Lo mau, kita kasih lima ratus ribu," ucap Johan. Mail menelan ludah. Mendengarnya saja dia merinding apa lagi kalau harus mengikuti permintaan Johan. Namun satu sisi dia sangat membutuhkan uang. Mail memandangi wajah Johan dengan bingung. "Maksud lo gue harus ngambil air pemandian jenazah yang tadi diumumkan di masjid?" tanya Mail penasaran. Johan mengangguk-angguk. Mail tampak berpikir. "Gimana ya?" gumam Mali. Bagaimana pun dia ngeri melakukan itu. Dia sama sekali belum pernah mengambil air pemandian jenazah orang lain. Lagi pula jika harus melakukannya, dia bingung bagaimana caranya? "Kenapa? Kalo lo nggak bisa, kita cari yang lain aja," ucap Johan. "Yaudah gue aja," ucap Mail dengan mantap. "Beneran nih?" tanya Johan memastikan. "Bener!" jawab Mail sekali lagi dengan mantap. Johan senang. Dia pun menatap wajah Raga sambil tersenyum. Raga pun senang. "Duitnya kita kasih pas lo udah berhasil ngasiin air pemandian jenazahnya," ucap Johan. Mail mengangguk. Setelah itu Johan dan Raga pamit pulang. *** Esoknya Johan dan Raga berdiri menunggu di atas jembatan. Pemakaman orang meninggal di kampung itu sudah dilakukan, sementara Mail belum datang juga. "Gimana nih?" tanya Raga cemas pada Johan. "Kita tunggu dulu. Si Mail kalo bilang iya, dia nggak akan mungkin bohong," ucap Johan. "Kalo nanti air pemandian jenazahnya dapet, gue mandinya gimana?" tanya Raga bingung. "Pokoknya guyurin semua airnya ke tubuh lo, setelah itu baru kita cari orang-orang yang sekarat biar lo bisa nyuri tongkat panglima iblisnya," ucap Johan. Raga hanya mengangguk saja. Tak lama kemudian di ujung sana terlihat seorang remaja lelaki sedang menggunakan sarung ninja sedang membawa drigen besar berisi air ke arah mereka. Johan dan Raga heran. "Itu kali Mailnya," tebak Johan. "Kayaknya bukan," ucap Raga tak percaya. Setelah lelaki bersarung itu mendekat pada mereka berdua. Dia langsung menurunkan drigen besarnya dengan lelah lalu membuka ninja sarungnya. Raga dan Johan langsung tersenyum senang melihatnya. "Gue tadi sembunyi dulu. Soalnya hampir ada yang tahu," keluh Mail. Johan menatap drigen besar berisi air itu. "Itu beneran air pemandian jenazah kan?" ucap Johan memastikan. "Ya beneran lah, masa gue boong," ucap Mail sedikit kesal. Johan tersenyum senang lalu mengeluarkan uang lima ratus ribu di sakunya dan langsung memberikannya pada Mail. Mail menerimanya dengan senang lalu buru-buru pergi dari sana. Raga menatap Johan dengan bingung. "Kita mandinya di mana?" "Ikut gue dan ini kita bawa gantian," pinta Johan. Raga menggangguk. Mereka pun membawa drigen itu bergantian menuju sungai sungai kecil di dekat persawahan. Saat mereka tiba di sana, Raga heran. "Mandinya di sini?" tanya Raga kebingungan. "Iya. Lo lepas baju sama celana lo, biar gue guyur badan lo sama air pemandian jezanah ini," jawab Johan. Raga pun terpaksa mengikuti permintaan Johan. Setelah itu sambil duduk di pinggir sungai tanpa sehelai benangpun, Johan langsung mengguyur tubuh Raga dengan air pemandian jenazah itu. Raga berkali-kali berdesir. Dia merasa ngeri saat air bekas pemandian jenazah itu berhasil membasahi seluruh tubuhnya. Sesaat kemudian dia melihat seorang nenek-nenek dari kejauhan menatapnya. Raga kaget. Saat dia kembali melihat ke arah nenek-nenek itu tadi berdiri, nenek-nenek itu sudah tidak ada lagi di sana. Raga heran. "Kenapa?" "Tadi gue ngeliat nenek-nenek, tapi pas gue liat lagi dia udah nggak ada," jawab Raga. Johan merinding. "Jangan-jangan lo udah bisa ngeliat arwah?" tebak Johan. "Nggak mungkin, kalo udah bisa kenapa gue masih belum bisa ngeliat arwah Nayara?" ucap Raga tak percaya. Raga mulai ketakutan. "Jangan-jangan emang penunggu sungai ini yang sengaja nampakin diri! Yaudah buruan lo ganti baju, biar kita cabut dari sini," pinta Johan. Raga pun buru-buru memakai pakaiannya kembali. Aroma air bekas mandi terasa beda di tubuhnya. Saat Raga berhasil memakaikan kembali pakaiannya, mereka pun buru-buru pergi dari sana. Satu misi lagi yang belum selesai. Yaitu mencari orang sekarat untuk mencuri tongkat panglima Iblis seperti yang dikatakan dukun Sarok pada mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN