Suara adzan maghrib menggema di luar sana. Raga gemetar ketakutan. Dia masih belum siap jika harus melihat para arwah itu. Tiba-tiba dia menyesal sudah melakukan semuanya. Jika dia tidak bisa melihat arwah Nayara, untuk apa dia susah-susah melakukan semuanya? Namun semua sudah terlanjur. Sekarang dia harus menyelesaikan semuanya dan mencari tahu di mana arwah Nayara berada.
Johan langsung mendekat sambil melihat-lihat ke sekitar. Dia langsung menyerahkan Al-Qur'an itu pada Raga dengan wajah pucatnya. Padahal hanya Raga yang akan melihat para arwah itu, harusnya Johan bersikap biasa saja, bukannya ikut takut begitu.
"Peluk ini," pinta Johan pada Raga yang masih duduk lemas di atas ranjang ruang rawat inap Puskesmas itu.
Raga langsung meraih kitab suci itu di tangan Johan dengan gemetar lalu memeluknya dengan erat.
"Lo nggak usah takut, kan yang ngeliat cuma gue," pinta Raga.
"Iya, tapi kalo lo diserang, kan gue kena juga? Gue sama lo soalnya," ucap Johan.
Raga menghela napas.
Saat suara adzan berhenti di luar sana, Raga mendengar suara riuh di luar sana.
"Hidup yang mulia! Hidup yang mulia!"
Raga kaget mendengar suara-suara itu. Johan menoleh heran padanya.
"Kenapa, Ga?" tanya Johan penasaran.
"Aku denger suara orang rame banget," jawab Raga yang masih mencari-cari sumber suara. Dia tidak menoleh pada Johan saat mengatakan ini.
"Suara apa?" Johan semakin penasaran.
"Suara orang berteriak mengucap hidup yang mulia," jawab Raga.
Johan mengernyit bingung mendengarnya.
"Jangan-jangan itu suara pasukan panglima Iblis yang mau ngerebut tongkatnya dari lo?" tebak Johan.
Tak lama kemudian Raga menoleh pada Johan dengan ketakutan. Dia kaget ketika melihat seorang lelaki yang berwajah pucat berdiri di dekat Johan. Wajah lelaki itu sama dengan wajah Johan. Postur tubuhnya juga sama seperti Johan. Johan semakin ketakutan melihat mimik wajah Raga yang tampak terkejut begitu ketika menoleh padanya.
"Lo kenapa?" tanya Raga heran.
"Di sebelah lo ada cowok yang mirip lo banget, tapi wajah dia pucet," jawab Raga.
Raga langsung mendekat ke Johan dengan takut.
"Tolong tanya siapa dia?" pinta Johan.
Johan pun menoleh pada remaja itu.
"Kamu siapa?"
"Aku udah ada sejak Johan lahir. Kamki ditakdirkan hidup bersama," jawab arwah remaja itu.
Raga ingat perkataan Bapaknya Johan soal Jin Qorin. Apakah dia Jin Qorinnya Johan? Pikir Raga.
"Kamu yang disebut Jin Qorin itu ya?" tanya Raga padanya dengan polos.
Arwah yang mirip Johan itu mengangguk. "Aku jagain dia dan nggak akan ganggu hidup dia," jawab arwah itu.
Raga lega mendengarnya.
"Nama kamu siapa?" tanya Raga.
"Abdra," jawab arwah itu.
Tak lama kemudian Abdra menghilang. Raga kaget. Johan penasaran.
"Jadi dia siapa?" tanya Johan penasaran.
"Dia Jin Qorinnya elo," jawab Raga.
"Berarti, jin Qorin itu beneran ada?" tanya Johan penasaran.
"Kayaknya, dia bilangnya gitu soalnya," jawab Raga.
Tiba-tiba terdengar suara orang menangis. Raga kaget. Johan heran.
"Ada apa lagi?" tanya Johan.
"Sekarang gue denger suara anak lelaki nangis," jawab Raga.
Johan bertambah takut.
"Serius lo?"
Raga mengangguk.
"Suaranya di mana?" tanya Johan lagi.
"Kayaknya di bawah ranjang gue," jawab Raga.
Seketika Johan ikut duduk di atas kasur. Raga menunduk, dia ingin bicara pada lelaki yang menangis itu.
"Siapa kamu?" tanya Raga.
Dia terus saja terdengar menangis. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Raga.
"Mungkin dia jin Qorinnya elo?" tebak Johan.
Raga berpikir. Jika tadi dia melihat jin Qorinnya Johan, kenapa dia tidak bisa melihat jin Qorinnya sendiri? Dia kan sudah bisa melihat para arwah? Mungkin benar apa dikatakan Johan, yang menangis itu jin Qorinnya sendiri. Pikir Raga.
Raga pun turun dari ranjang. Johan heran.
"Lo mau kemana?" tanya Johan.
"Gue mau liat ke bawah ranjang. Apa bener dia jin Qorinnya gue," jawab Raga.
Johan diam. Raga pun menyingkap seprai ranjang lalu melongo ke bawah ranjang. Dia kaget melihat seorang anak kecil berumur sepuluh tahun sedang menangis ketakutan. Wajahnya tidak mirip dengannya. Wajahnya sangat pucat. Mungkin dia bukan jin Qorin ku. Bisik Raga.
"Kamu siapa?"
"Ibu!" teriaknya.
"Ibu kamu di mana?"
Dia menggeleng.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Raga.
"Aku takut," jawabnya.
"Takut kenapa?" tanya Raga penasaran.
Arwah anak kecil itu menunjuk ke arah pintu. Tak lama kemudian dia menghilang. Raga heran. Raga pun kembali duduk di sebelah Johan.
"Dia bukan jin Qorin gue," ucap Raga.
Johan kaget, "Berarti lo nggak punya jin Qorin dong?" tanya Johan.
"Gue nggak tahu," jawab Raga.
Tak lama kemudian suara pintu ruangan itu bergerak-gerak. Raga dan Johan saling berpelukan saking takutnya.
"Hidup yang mulia! Hidup yang mulia!"
Suara itu terdengar lagi di telinga Raga. Raga menoleh pada Johan.
"Gue denger suara itu lagi!" ucap Raga.
"Suara para prajurit ngucap hidup yang mulia?" tanya Johan.
"Iya," jawab Raga.
Tak lama kemudian Raga bangkit dari tempat tidurnya. Johan heran.
"Mau kemana lo?" tanya Johan.
"Gue mau ngeliat siapa mereka," jawab Raga.
Johan memegangi tangan Raga dengan erat.
"Jangan!" teriak Johan. Dia tidak mau melihat sahabatnya itu celaka.
"Gue harus liat. Naluri gue bilang kalo mereka berteriak itu karena nunggu gue. Mereka mau hormat sama gue," ucap Raga seketika.
Johan mengernyit. "Lo udah punya feeling kuat sekarang?" tanya Johan heran.
Raga mengangguk. Johan masih tak percaya.
"Kalo lo emang punya feeling kuat, coba tebak apa yang gue pikirin sekarang?" tanya Johan.
"Lo laper. Lo pengen makan," jawab Raga dengan santainya.
Johan terbelalak mendengarnya. Dia tak percaya tebakan Raga benar seratus persen. Sekarang dia yakin kalau sahabatnya itu memang memiliki feeling yang kuat.
"Kalo gitu gue percaya," ucap Johan dengan mantap.
Raga tersenyum lalu berjalan ke arah pintu ruangannya. Saat dia membuka pintu itu, Raga tidak melihat siapa-siapa di ruangan itu. Raga pun berjalan menuju keluar. Johan buru-buru mengikutinya.
"Tunggu!" teriak Johan.
Raga dan Johan pun melangkah bersamaan menuju pintu utama puskesmas yang sepi itu.
"Kok sepi?" tanya Raga.
"Nggak tau. Pada pulang kali. Nanti pada kemari lagi," jawab Johan.
Saat Raga dan Johan sudah berada di teras puskesmas. Raga kaget melihat seorang lelaki tinggi kekar berpakaian kerajaan sedang bersimpuh padanya. Di belakangnya ada ribuan tentara kerajaan juga sedang dalam posisi yang sama sepertinya. Raga bingung, siapa mereka? Jika mereka para iblis, kenapa wajah mereka menyerupa manusia? Apa para Iblis itu sengaja merubah bentuk menjadi manusia untuknya?
"Hidup yang mulia!" teriak mereka semua pada Raga.
"Apa sekarang aku raja mereka?" tanya Raga dalam hatinya. Dia masih tak percaya akan apa yang dilihatnya.