Raga tercengang melihat panglima Iblis dan ribuan prajuritnya sedang tertunduk hormat padanya. Sementara Johan kebingungan sendiri melihat Raga.
“Kenapa, Ga? Lo liat apa?” tanya Johan.
Raga berbisik pada Johan, dia tak mau Panglima Iblis dan prajuritnya itu mendengarnya.
“Panglima Iblis dan ribuan tentaranya lagi tertunduk hormat sama gue. Mereka berteriak ke gue hidup yang mulia raja,” bisik Raga pada Johan.
Johan terbelalak mendengarnya.
“Berarti yang dikatakan arwah nenek-nenek itu bohong dong! Berarti sekarang lo bisa merintah dan nguasain para iblis itu dong?!” teriak Johan setengah tak percaya.
“Sstt! Jangan kenceng-kenceng. Mereka denger kita,” bisik Raga lagi.
Johan mengangguk dengan mata terbelalak saking shocknya mendengar itu. Raga pun menghadap ke arah Panglima Iblis dan ribuan prajurit Iblis di hadapannya sambil maju sedikit dan membusungkan d**a. Semua ketakutannya mendadak sirna. Dia merasa menjadi seorang raja yang memiliki banyak pengikut. Impiannya ketika berkhayal menjelang tidur selama ini.
“Siapa kalina?!” teriak Raga.
“Ampun yang mulia! Kami adalah pengikutmu! Kami siap mengikuti semua perintahmu!” ucap Panglima Iblis di hadapannya itu.
Raga tersenyum agak licik mendengarnya. Dia sebenarnya ingin tertawa, tapi situasi itu harus dimanfaatkannya. Jarang-jarang manusia biasa sepertinya yang penakut dan pecundang bisa mendapati pengalaman seaneh dan semenakjubkan itu. Pikirnya.
“Jadi saya adalah Raja kalian?” tanya Raga memastikan sekali lagi.
“Benar yang mulia!” jawab Panglima Iblis itu padanya.
Raga terdiam, dia berpikir sesaat. Kalau memang benar Panglima Iblis dan para prajuritnya itu akan mematuhi semua perintahnya dan menuruti semua kemauannya, mereka pasti bisa membantunya untuk menemukan di mana arwah Nayara sekarang berada. Raga langsung menatap Panglima Iblis yang masih bersimpuh hormat padanya.
“Tolong berdiri,” pinta Raga pada Panglima Iblis itu.
Panglima Iblis itupun berdiri. Raga terkejut melihat tubuhnya sangat besar dan tinggi. Sekarang dia melihat wajah Panglima Iblis itu tidak seseram sewaktu dia mengejar Raga saat Raga berhasil merebut tongkatnya dulu. Panglima Iblis yang dilihatnya sekarang sangat tampan, tidak terlalu tua dan tidak juga muda.
“Ampun yang mulia!” ucap Panglima Iblis itu saat dia sudah berhasil berdiri di hadapannya.
“Kalau kamu memang dan pengikutmua akan menuruti semua perintahku, sekarang tolong kasih tahu aku di mana arwah Nayara kekasihku berada,” pinta Raga pada Panglima Iblis itu.
“Ampun yang mulia! Arwah Nayara yang tergambar dari mata yang mulia saat ini sedang dikurung di sebuah gua, untuk menyelamatkannya, kita semua harus melewati laut, arwah itu saat ini berada di pulau jawa,” jawab Panglima Iblis itu.
Raga terkejut mendengarnya.
“Siapa yang melakukan itu padanya?” tanya Raga.
“Teman satu kampus yang mulia sendiri,” jawab Panglima Iblis itu.
Raga tak percaya bagaimana Panglima Iblis itu bisa tahu dengan cepat. Akhirnya dia menepis pikiran itu, dia yakin kemampuan Iblis memang luar biasa, jadi pantas saja dia tahu semuanya.
“Bisa bantu saya mengeluarkannya di dalam gua itu dan bawa ke saya arwahnya?” pinta Raga.
“Ampun yang mulia! Apapun itu akan kami lakukan demi yang mulia meskipun harus terjadi peperangan di atanra kami dan penguasa pulai jawa,” jawab Panglima Iblis itu pada Raga.
Raga terkejut.
“Memangnya harus terjadi peperangan dulu untuk menyelamatkan arwah Nayara?” tanya Raga tak percaya.
“Betul yang mulia! Arwah Nayara dikurung oleh tentara penguasa tanah Jawa atas suruhan manusia bernama Gesang,” jawab Panglima Iblis itu.
Raga terbelalak mendengarnya. Ternyata benar semua ini ulah Gesang. Arwah nenek-nenek itu pasati karena ulah Gesang.
“Pokoknya, aku pengen arwah Nayara selamat dan kalian bisa membawanya kepada saya,” tegas Raga.
“Siap yang mulia!”
Raga semakin membusungkan dadanya mendengar itu. Dia benar-benar merasa menjadi seoarng raja. Panglima Iblis itu menghadap ke arah ribuan pengikutnya.
“Semuanya! Malam ini kita berangkat ke tanah jawa! Kita selamatkan yang mulia Nayara! Bawa Nayara kepada yang mulia dengan selamat!” teriaknya.
“Siap yang mulia!” ucap ribuan prajuit Iblis itu dengan serempak.
Tak lama kemudian Raga melihat burung-burung besar berdatangan. Burung-burung besar itu menjemput para tentara Iblis itu bersamaan lalu membawa mereka terbang dari sana. Sekarang yang tersisa dari mereka hanya Panglima Iblis itu saja. Raga bingung karena melihat Panglima Iblis itu tidak mengikutinya.
“Kenapa kamu tidak ikut?” tanya Raga.
“Ampun yang mulia! Tugas saya adalah menjaga keselamatan yang mulia!” jawab Panglima Iblis itu padanya.
Raga angguk-angguk mendengarnya.
“Baiklah, sekarang tolong jaga saya di sini saja, jangan sampai ada makhluk-makhluk seram mengganggu saya,” pinta Raga.
“Siap yang mulia!” jawab Panglima Iblis itu.
Raga langsung menarik tangan Johan untuk pergi ke dalam puskesmas dan menuju ruangannya tadi dirawat inap. Sampai di sana Johan heran melihat Raga berkeringat dingin dengan wajah terbelongannya.
“Kenapa, Ga?” tanya Johan heran.
“Sumpah! Ini udah kayak di film-film, Jo. Tadi gue beneran ngeliat Panglima Iblis sama ribuan tentaranya. Terus tadi gue ngeliat burung-burung besar ngejemput tentara Iblis itu buat nyelamtein Nayara di pulau Jawa,” jawab Raga.
Johan kaget mendengarnya.
“Lo minta mereka nyelametin arwah Nayara?” tanya Johan.
“Iya, Jo. Kata mereka arwah Nayara lagi dikurung sama penguasa tanah Jawa atas suruhan Gesang. Gue minta mereka buat nyelametin dan ngebawa arwah Nayara ke hadapan gue,” jawab Raga.
Johan tercengang mendengarnya.
***
Sementara itu, Gesang yang sedang duduk di meja belajarnya tiba-tiba mual lalu mendadak muntah. Dia kaget saat melihat muntahannya yang berserak di lantai bukan muntahan biasa melainkan muntahan darah. Gesang panik. Dia buru-buru pergi ke kamar mandi untuk kumur-kumur lalu segera memakai jaket lalu pergi keluar rumah. Gesang menaiki motornya lalu menyalakannya.
Gesang dengan gelisah melajukan motornya menembus jalanan kota Jakarta. Di langit tidak ada bintang-bintang. Gesang heran melihat langit terlihat sangat kelam seperti hendak terjadinya hujan. Dia menambah kecepatan motornya.
Saat tiba di depan sebuah rumah tua, Gesang turun dari motor lalu mengetuk pintu rumah itu dengan panik.
“Mbah! Mbah!” teriak Gesang.
Pintu terbuka, seorang kakek-kakek keluar dari pintu.
“Gesang?” panggil kakek-kakek itu heran.
“Tadi aku muntah darah, Mbah. Aku nggak tau kenapa,” ucap Gesang pada kakek dengan panik.
“Masuk dulu,” pinta kakek itu.
Gesang dan kakek-kakek itu pun masuk ke dalam rumah. Merka duduk di ruang tamu. Kakek itu menatap wajah Gesang dengan bingung.
“Mbah merasakan suatu energi besar yang saat ini sedang menuju ke sini,” ucap kakek itu heran.
Gesang terbelalak mendengarnya.
“Maksud, Mbah?” tanya Gesang penasaran.
“Energinya sangat besar! Sepertinya ini ada hubungannya dengan qorin arwah Nayara yang kamu minta saya kurung di suatu gua waktu itu,” jawab Kakek itu.
Gesang tercengan mendengarnya. Dia sangat penasaran energi apa yang sedang mendekat ke mereka itu.