Raga dan Johan tampak bengong sambil duduk di atas ranjang. Tak berapa lama kemudian terdengar suara Bapak Johan di luar sana. Raga dan Johan berdiri, mereka heran kenapa malam-malam begitu Lelaki itu bisa datang ke sana. Pintu kamar rawat inap itu terbuka. Bapak Johan masuk bersama seorang perawat lelaki.
“Johan, Raga, ikut Bapak pulang,” pinta Bapak Johan pada mereka dengan mimik wajah serius dan tak ramah.
Raga dan Johan heran. Raga melihat sesuatu yang aneh dari gelagat Bapak Johan. Gayanya bicara yang serius begitu mengingatkannya saat lelaki itu mengintrogasinya dulu sewaktu lelaki itu curiga kalau Raga dan Johan akan pergi menemui dukun Sarok.
“Katanya mesti nginep semalem dulu di sini?” tanya Raga.
“Kata perawat juga kamu sudah bisa pulang ke rumah, yang penting obat yang dikasih dokter dibawa dan diminum rutin,” jawab Bapak Johan.
Akhirnya Johan dan Raga bersiap-siap pergi dari sana. Johan pun meraih tas yang sudah diisinya dengan pakaian ganti untuk Raga. Mereka keluar dari puskesmas itu. Sebuah mobil ternyata sudah menanti di depan puskesmas itu. Puskesmas itu berada di dekat kantor kecamatan. Jaraknya lumayan jauh dari desa tempat tinggal Johan. Jika ditempuh dengan kendaraan bisa memakan waktu paling lama selama lima belas menit. Biasanya orang-orang kampung jika sakit akan ke puskesmas itu dulu, namun saat puskesmas tidak bisa menanganinya lagi maka akan dirujuk ke rumah sakit cukup besar yang terletak di daerah Pagaralam. Kawasan wisata yang terdekat di desa Johan.
Raga dan Johan menaiki mobil itu. Entah siapa yang dibawa Bapak Johan. Raga dan Johan duduk di bangku tengah, sementara Bapak Johan duduk di depan di dekat supir yang membawa mereka. Di dalam perjalanan Bapak Johan banyak diam, tak seperti biasanya. Raga menoleh pada Johan. Johan pun tampak mengerti akan rasa heran sahabatnya itu.
Johan berbisik pelan pada Raga.
“Panglima lo sama prajurit lo, ngikut lo nggak?” bisik Johan.
“Gue nggak tahu,” jawab Raga.
“Coba cek ke belakang, gue yakin pasti ikut. Lo kan rajanya, nggak mungkin mereka nggak ikut?” bisik Johan.
Raga pun menoleh ke belakang. Dia kaget saat melihat Panglima Iblis sedang menunggangi kuda hitam diikuti dua prajuritnya, juga menungganggi kuda hitam yang berjalan begitu cepat mengikuti mobil yang mereka naiki.
Raga berbisik pada johan.
“Iya, ada. Mereka ngikutin kita,” bisik Raga.
“Tuh kan,” bisik Johan senang.
Hampir tiga puluh menit dalam perjalanan, rupanya Bapak Johan tidak membawa mereka pulang ke rumah, tapi malah berbelok melewati jalananan lain di kampung lain. Raga tak tahu itu di kampung apa. Raga dan Johan heran.
“Kita mau kemana, Bak?” tanya Johan dengan bingung.
“Ke rumah temen bapak sebentar,” jawab Bapak Johan.
Mobil itu pun melewati jalanan kecil yang tidak beraspal lagi. Jalan itu mirip dengan jalanan menuju perkebunan. Tak lama kemudian mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah tua. Bapak Johan mengajak semuanya untuk turun dulu. Semua turun. Raga kaget saat mendapati Panglima Iblis tiba-tiba berada di hadapannya dalam keadaan bersimpuh.
“Ampun yang mulia, mereke hendak melakukan sesuatu untuk yang mulia, lebih baik yang mulia pergi dari sini,” pinta Panglima Iblis itu pada Raga.
Raga berusaha untuk normal saat mendengar itu, dia tidak mau Bapak Johan curiga padanya. Sejak di puskesmas Raga memang sudah curiga kalau Bapak Johan ingin melakukan sesuatu padanya. Raga yakin Bapak Johan sudah tahu akan apa yang dilakukannya dengan Johan. Bapak Johan pasti sudah tahu kalau Raga melakukan ritual yang diminta oleh dukun Sarok yang mereka temui di tengah hutan dulu.
Saat semuannya sudah masuk ke dalam. Raga malah berhenti melangkah. Raga mencoba berkata dalam hatinya.
“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Raga dalam hati, berharap Panglima Iblis itu mendengar kata hatinnya seperti yang sering disaksikannya di film-film.
“Kami bisa membantu, jika yang mulia mau,” jawab Panglima Iblis.
Raga kaget ternyata Panglima Iblis juga bisa mendengar kata hatinya.
“Mau bantu seperti apa?” tanya Raga dalam hati.
“Membawa yang mulia raja pergi dari sini sambil menunggu pasukan membawa arwah Nayara ke hadapan yang mulia Raja kembali,” jawab Panglima Iblis itu.
Mendengar itu, Raga tertarik dengan tawaran Panglima iblis itu. Bapak Johan keluar dan menatap Raga dengan heran.
“Ayo, Raga, masuk,” pinta Bapak Johan padanya.
Raga bingung. Dia harus mengikuti siapa. Mengikuti Panglima atau permintaan Bapak Johan. Tak lama kemudian Johan juga keluar dari rumah itu.
“Raga, ayok!” ajak Johan.
Raga masih diam. Tak lama kemudian Raga berbicara dalam hatinya.
“Bawa aku pergi dari sini,” pinta Raga.
Tak lama kemudian Panglima Iblis langsung menarik Raga untuk naik ke atas kudanya. Lalu kuda itu melesat dengan cepat membawa Raga pergi ke arah hutan dan diikuti oleh dua kuda prajuritnya. Bapak Johan kaget melihat Raga tiba-tiba menghilang. Johan juga heran.
“Raga! Raga! Raga!” teriak Bapak Johan dengan panik.
“Raga kemana, Bak?” tanya Johan panik.
“Ini semua gara-gara kamu. Kalo kamu nggak ngasih saran yang nggak bener ke Raga, Raga nggak mungkin kayak sekarang!” teriak Bapak Johan marah ke Johan.
Tak lama kemudian tiga orang kakek berpakaian kiai keluar dari rumah rumah tua itu.
“Ada apa?” tanya salah seorang kakek-kakek diantara mereka.
“Anak yang saya minta rukiah tiba-tiba menghilang, Kiayi. Saya tidak tahu perginya kemana,” jawab Bapak Johan.
“Astagfirullah!” ucap Kakek-Kakek itu dengan panik.
“Anak saya membawa dia ke sini untuk menemui dukun Sarok, Kiayi. Dan sekarang saya yakin Raga udah ngikutin ritual dari dukun Sarok itu,” jawab Bapak Johan. Kemudian dia menoleh pada Johan,”Bener kan Johan?”
Karena melihat Raga menghilang, Johan terpaksa mengangguk. Semuanya beristigfar mendengar itu. Kakek itu menatap wajah Johan dengan menahan amarah.
“Kamu tahu, Nak, ilmu dari Sarok itu ilmu hitam. Ilmu itu ada dari zaman nenek moyang di tanah kita ini. Dan ilmu itu tak boleh digunakan lagi karena sangat berbahaya. Makanya dukun Sarok diusir di dalam hutan, warga khawatir dia menurunkan ilmunya itu pada warga. Karena kalau sudah menguasai ilmu itu, para iblis akan tunduk padanya. Khawatir nafsu akan menguasai pemilik ilmu itu. Khawatirnya pemilik ilmu itu akan melakukan hal semena-mena yang bisa merugikan orang banyak. Karena apapun yang diperintahkan pemilik ilmu itu pada pasukan iblisnya, pasukan iblisnya akan setia dan mengikuti semua perintahnya,” ucap Kakek-kakek itu pada johan.
Johan terbelalak mendengar itu.
“Maafin aku, Bak! Sekarang gimana nasib Raga, Bak? Ayo bantu cari Raga, Bak!” pinta Johan dengan khawatirnya.
Kakek-kakek itu menatap wajah Bapak Johan dengan serius.
“Hubungi semua yang bisa dihubungi. Kita akan melakukan pencarian seperti dua puluh tahun lalu. Kali ini anak remaja itu harus ketemu. Jangan seperti dua puluh tahun lalu yang ditemukan hanyan jasadnya saja,” pinta kakek itu pada Bapak Johan.
“Baik, Kiayi,” jawab Bapak Johan.
Johan langsung menangis sedih mendengar itu. Dia tak mau sahabatnya meninggal karena itu. Mendadak dia menyesal sudah membantu semuanya. Johan benar-benar tidak tahu kalau ilmu itu akan sangat berbahaya. Dia tahunya hanya satu, yaitu Raga bisa melihat arwah Nayara lalu semuanya selesai dan baik-baik saja, ternyata tidak sesederhana itu.