Pesta (2)

2031 Kata
Fanya langsung melotot, dia sendiri yang membelikan gaun cantik itu untuk Kiran dan tentu nya Fanya merasa sangat tersinggung "yang bener aja kalau ngomong, gue pilih dress terbaik buat Kiran" protes Fanya menyembur Hardi senyum miring tercetak di wajah Hardi "iya Fan gue tau, maksud gue dress itu kelihatan norak karena di pakai Kiran. Coba di pakai elo, pasti cantik" kata Hardi semakin menjadi-jadi untuk menghina Kiran "Fanya udah" tahan Kiran kepada sahabat nya yang sudah ingin menyembur Hardi kedua kali. "Ran, dia itu udah keterlaluan !" ujar Fanya menggebu-gebu, Kiran menggeleng kecil memberi tanda kalau semua nya tidak apa-apa bagi Kiran "udah biarin aja" suruh Kiran lembut, tanpa ada nada marah sama sekali. Lebih tepat nya Kiran menahan diri untuk tidak tersulut emosi di depan banyak orang. Apalagi ada Gio disini yang sejak tadi tertangkap melihat Kiran sesekali Fanya menghela nafas panjang, menelan semua kejengkelan nya saat ini. Hardi selalu mencari masalah dengan Kiran, sebegitu benci kah lelaki itu kepada perempuan gemuk sampai-sampai Kiran diam pun tetap salah di mata Hardi. Obrolan mereka berlanjut tanpa melibat kan Kiran, Kiran hanya menjadi pendengar ketika kelompok orang kaya ini membicarakan harta mereka, kehidupan mereka dan kesuksesan mereka di usia muda. Namun perhatian Kiran tiba-tiba tertuju sejenak ke arah Arash, Arash duduk tepat di seberang meja Kiran, lelaki itu hanya menimpali omongan teman-teman nya sesekali jika di perlukan. Di sebelah Arash duduk lah Anggun, wanita cantik dan anggun sesuai namanya. Anggun pun melempar senyum tipis ketika mata nya dan Kiran tidak sengaja bertemu. Kalau di perhatikan Arash dan Gio sama-sama hampir sempurna, beda nya hanya di warna kulit Arash yang lebih gelap satu tingkat di banding kulit putih Gio, selebihnya mereka sama tampan. Perbedaan mencolok lain nya adalah Gio lebih banyak bicara sedangkan Arash tidak, lelaki tampan yang masih ada hubungan keluarga dengan Gio itu hanya bicara seperlunya saja. Pandangan Kiran terhalang ketika ada dua pelayan datang menaruh makanan enak di atas meja tidak lupa mewah beralkohol untuk penutup nanti. "Hidangan ini khusus buat kalian, makan aja dulu, gue masih mau menyambut tamu lain" kata Kiki sebelum dia bergerak pergi menyapa tamu-tamu lain dengan senang hati Bram, Hardi dan lain nya menyantap hidangan tersebut tanpa sungkan. Kiran pun ikut makan, namun dia mengambil porsi seperempat dari biasanya dia makan. Kiran tidak mau kalap dan membuat Fanya malu disini, meski sebenarnya dalam hati Kiran menginginkan beef jumbo di depan sana. "Kok dikit banget sih" kata Fanya tidak suka "makan yang banyak, nggak usah diet !" Fanya mengambil beef untuk dia taruh di atas piring Kiran tetapi dengan cepat Kiran menahan nya "aku udah makan tadi di rumah, jadi ini aja udah cukup" tolak Kiran pelan "halah nggak usah sok diet deh, badan kayak elo itu susah buat kurus. Mending di gemukin lagi aja" celetuk Hardi membuat Bram tertawa di tengah dia mengunyah "Har, elo bisa diem nggak" tegur Fanya Hardi berdecak kesal "elo kenapa sih jadi sinis banget kalau ngomong sama gue, elo lupa kalau kita ini sahabatan" kata Hardi tegas "gue nggak bakalan sinis kalau elo nggak ngehina temen gue Har" desis Fanya sengit "temen yang baru dua tahun ini ?" Hardi menunjuk Kiran sejenak "dan lupain temen yang udah dari kecil sama elo ?" yang di maksud Hardi adalah dirinya sendiri Kiran menunduk malu, kenapa Fanya beradu mulut hanya demi dirinya. Itu hanya akan membuat Fanya semakin jauh dengan Hardi, Kiran tidak mau menjadi perenggang di antara mereka berdua, meskipun Kiran tidak tahu betul masalah apa yang membuat mereka jauh seperti ini. "Huh ! bukan nya elo yang menjauh dari gue ?" tanya Fanya sinis, Fanya dan Hardi beradu tatapan tajam beberapa detik "Ran, ambilin ikan dong" suruh Bram enteng, Kiran mengangguk kecil dan melakukan apa yang Bram suruh "Rash aku mau itu" bisik Anggun menunjuk spaghetti di dekat Kiran "tolong ambilin spaghetti juga" suruh Arash menimpal, lagi-lagi Kiran menuruti mereka "mending kalian nih makan yang banyak, nggak usah berantem nggak jelas" suruh Bram sambil terus mengunyah, masalah Hardi dan Fanya selalu berhasil membuat nya pusing. Mereka berdua setiap bertemu selalu saja tidak akur, Bram meragukan cerita Hardi yang bilang kalau Fanya adalah teman masa kecil mereka. Bram rasa mereka teman gulat, karena sampai saat ini Bram tidak pernah melihat mereka akur. "Yaaah, air nya habis" eluh Hardi menatap miris teko kaca air putih di samping nya "biar gue yang ambil" kata Gio tiba-tiba "eeiits,, gimana kalau Kiran aja. Biar dia gerak, lumayan kan bisa ngurangin beberapa tetes lemak di tubuh dia" tahan Hardi dengan senyum menyebalkan "Har--" "iya nggak papa, aku ambilin" sela Kiran memotong perkataan Fanya, dia yakin Fanya pasti akan menyembur Hardi lagi, sebelum itu terjadi lebih baik Kiran menurut saja dari pada mereka bertengkar lagi. Belum sempat Fanya mencegah Kiran pergi, perempuan itu sudah bergerak menjauh dari meja makan, Fanya hanya bisa menghela nafas panjang sembari menatap Kiran jalan ke arah barisan makanan dan minuman. "Lain kali kalau ngomong itu di saring" cibir Fanya kembali mengundang jiwa Hardi untuk berdebat Hardi meletak kan kasar sendok yang dia pegang, di sandarkan nya punggung lebar Hardi ke kursi mewah yang dia duduki saat ini. Dia menatap Fanya intens kemudian berkata dengan sangat enteng "elo nggak malu temenan sama si gendut itu ?" "emang nya salah ?, apa beda nya temenan sama Kiran dan orang lain yang nggak gendut" tanya Fanya meladeni "nggak ada yang salah sih, elo mau temenan sama siapa aja itu urusan elo. Asal jangan si gendut itu, dia cuman bikin image elo hancur Fan" Fanya menaik kan satu alis nya tidak mengerti. "Apa elo nggak sadar sejak tadi elo jadi perhatian semua tamu penting disini karena bawa buntelan kentut itu kesini !" Bram tertawa sampai menyembur beberapa butir nasi dari mulut penuh nya "yang bener aja elo ngatain dia buntelan kentut" kata Bram masih terkikik kecil "biar sadar Bram, kalau dia udah salah bergaul. Semenjak dia nggak mau jadi temen gue, selera nya jadi rendah" hina Hardi menatap tajam Fanya "tutup mulut elo Har sebelum gue bener-bener sobek mulut sampah elo itu" desis Fanya mengepalkan kedua tangan begitu kuat Hardi tertawa kencang, membuat teman-teman nya termasuk Fanya keheranan sendiri akan tingkah Hardi. "Segitu nya elo bela temen elo itu Fan ?" tanya Hardi terkekeh "bangun Fan ! elo cuman malu-malu in diri elo sendiri temenan sama dia !" "Hardi stop !!" bentak Fanya menggebrak meja, seketika itu beberapa tamu mengalihkan pandangan mereka ke arah meja Fanya. "Ada apa ini ?" tanya Kiki bingung, dia melihat Fanya dan Hardi saling lempar tatapan sinis, dari situ Kiki tahu kalau kedua sahabat nya sedang ada masalah "kenapa Fan, Har ?" tanya Kiki lagi tidak ada yang menjawab pertanyaan Kiki, semua nya diam termasuk Kiran yang sejak tadi berdiri kaku mendengar semua perdebatan antara Fanya dan Hardi yang di akibatkan oleh dirinya sendiri. Tangan Kiran yang memegang gelas bergetar hebat, kedua kaki nya mendadak lemas tanpa tenaga. Dia hanya mempermalukan Fanya ?? apa itu benar ? jika omongan Hardi benar berarti Kiran harus pergi dari tempat ini secepat mungkin, Kiran memutuskan untuk berbalik meninggalkan ruangan pesta. Dia turun dengan langkah cepat seraya menahan air mata yang sejak tadi membendung di kedua mata nya. Kiran terus berlari ke lantai dua sampai dirinya bertabrakan dengan pelayan yang sedang membawa minuman dan langsung membasahi seluruh dress yang di kenakan nya. "Mbak hati-hati dong !" bentak pelayan tadi "udah tahu badan nya gede malah lari-larian !" imbuh pelayan tadi mengomel kesal Kiran meminta maaf beberapa kali akan kelalaian yang telah dia lakukan, dia terlalu merasa sakit sampai tidak memperhatikan jalan. Kiran tahu badan nya besar, dia tahu itu tapi kenapa mereka semua harus mengatakan nya seakan Kiran tidak sadar dengan bentuk tubuhnya sendiri. Kata-kata mereka sangat menyakiti Kiran, menguliti perasaan gadis gemuk itu secara perlahan hingga rasa sakit nya tidak bisa terbanyangkan lagi. "Hikss,,,hikss,,," Kiran luruh di parkiran, kedua lutut nya bertemu lantai paving kasar penuh kerikil berceceran. Dia menangis dan terus menunduk sedih ketika ingatakan semua perkataan orang orang di dalam sana teriang jelas di otak Kiran. "Ke-napa,, kenapa badan ku selalu di permasalahkan oleh mereka,,,hikss" Kiran menangis terisak, kedua tangan nya terkepal kuat di atas paving. Apa bentuk tubuh serta wajah cantik menjadi tolak ukur orang bisa diterima dalam suatu komunitas ? atau bahkan per orangan ?, lalu untuk apa kebersamaan, jika mereka tetap membeda-bedakan tanpa ingin merangkul satu sama lain. "Buat elo" Kiran tersentak kaget, dia mendongak dan keterkejutan Kiran semakin bertambah puluhan kali lipat. Bagaimana tidak, di depan nya kini menjulang lelaki tinggi sedang mengulurkan sapu tangan ke arah nya. Bukan lelaki biasa, dia lelaki yang sangat Kiran dambakan selama ini, Gio Keyro. Iya !! Gio berdiri tepat di hadapan Kiran. Entah ini mimpi atau tidak tapi Kiran tidak ingin lepas dari keadaan ini. "Malah bengong !" tegur nya kesal, dia kemudian memegang kedua pundak Kiran dan menarik perempuan itu agar kembali berdiri, sedangkan Kiran menurut saja dalam keadaan setengah tidak percaya. Gio menaruh sapu tangan nya di telapak Kiran, kemudian menepuk pundak nya pelan beberapa kali seakan mengisyaratkan Kiran untuk terus bersabar dalam keadaan apapun "di dunia ini nggak ada orang jelek, yang ada hanya orang saling menghakimi" kata Gio, suara bariton nya terdengar jelas dan indah di telinga Kiran "usap air mata elo, dilihatin orang nggak enak" Kiran langsung tersadar setelah Gio mengatakan hal itu, dia buru-buru mengusap air mata nya dengan sapu tangan yang Gio berikan. Sapu tangan putih dan sangat harum. "Te-terimakasih" sungguh, baru kali ini Kiran merasa sangat gugup dalam hidupnya. Entah kebaikan apa yang sudah Kiran lakukan sampai keinginan nya bisa berinteraksi lebih dekat dengan Gio benar-benar terjadi, sekarang bukan sekedar tegur sapa tapi juga Kiran mendapat kata-kata penenang dari seorang Gio Keyro. Gio mengangguk pelan "mau ngopi nggak ?" tawar Gio tiba-tiba, tentu saja wajah Kiran langsung cengo seketika. "Ka-kamu ngajak aku ?" tanya Kiran seribu persen tidak percaya Gio menaik kan satu alisnya, dia melihat ke sekeliling kemudian menatap Kiran lagi "emang nya ada orang lain disini ?" Kiran menggeleng kaku "nggak ada" cicit Kiran ****** 21:34 Kiran menatap langit-langit kamar nya dengan sebuah senyum tertahan, kejadian beberapa menit lalu benar-benar diluar kepala Kiran. Dia tidak pernah membayangkan bisa di antar pulang oleh seorang Gio Keyro, lelaki yang sejak lama dia cinta dan kagumi itu. Selama perjalanan menaiki mobil mewah Keyro, kening Kiran tak henti-henti mengeluarkan keringat panas dingin. Keringat senang dan gugup secara bersamaan. Sekarang mood Kiran kembali lagi meskipun dia tidak menerima ajakan Gio untuk ngopi, Kiran sengaja menolak karena menurutnya sudah jam Kiran untuk pulang, dia tidak ingin membuat ayah ibu nya khawatir. "Fanya ?" gumam Kiran menatap layar ponsel menyala karena Fanya terus menelfone dan memberi spam pesan Kiran menerima telfon dari Fanya entah itu panggilan ke berapa, yang jelas sejak tadi Kiran memang sengaja men silent ponselnya. "Heh b**o elo dimana !!!" bentakan Fanya langsung menggema di telinga Kiran "gue nyariin elo kemana-mana, tanya sana sini tapi nggak ada yang tahu. Giliran di telfon juga nggak di angkat, elo ambil air ke sumur mekkah !!" Kiran langsung tertawa kencang mendengar omelan Fanya, dia sampai lupa kalau tadi Fanya lah yang membawa dia ke acara itu dan tiba-tiba Kiran pergi tanpa memberitahu, pasti Fanya sangat khawatir. "Malah ketawa nih bocah !" desis Fanya menggeram marah "jawab gue !!" Kiran berusaha meradakan tawa kemudian menjawab dengan cekikikan "maaf Fan, maaf banget tadi ayah telpon nyuruh cepet pulang. Jadi aq buru-buru nyari taxi dan nggak sempet kabari kamu" kata Kiran tentu berbohong, dia tidak mungkin mengatakan kepergian nya karena kata-kata Hardi "terus ponsel elo kemana ? gue udah telfon ada sejuta kali baru elo angkat !" "hehehe,, sorry. Ponsel ku ke silent" geraman tertahan dari Fanya membuat Kiran merasa bersalah dan lucu dalam waktu bersamaan. Gadis cantik itu pasti mencak-mencak saat ini, Kiran hanya bisa meminta maaf kepada Fanya tanpa mampu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. "Tau dah ! gue marah sama elo !" "jangan gitu lah Fan" rayu Kiran jahil, mana mungkin Fanya marah padanya. "Salah sendiri pergi nggak ngabarin, gue tuh khawatir tau" "iya, iya sorry. Lain kali janji nggak gini lagi" "yaudah, besok gue mau bakso" kata Fanya tiba-tiba "maksud nya ?" tanya Kiran bingung "kalau mau gue maafin, elo harus beli in gue bakso" Kiran terkekeh gemas, lucu sekali Fanya saat merajuk seperti ini "hmmm, oke nggak masalah"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN