Ujian kelulusan tinggal enam bulan lagi, semua siswa siswi berusaha keras belajar agar bisa mendapat nilai bagus dan masuk kampus pilihan mereka. Tak luput juga bagi Kiran, dia harus menjaga nilai yang selama ini di atas agar nanti dia bisa mendapat beasiswa di Inggris sesuai ketentuan sekolah untuk siswa siswi ber prestasi.
Seperti sekarang, Kiran duduk tenang di dalam perpus. Di depan Kiran ada beberapa buku biologi tertumpuk dan ada satu lagi yang masih dia baca. Sudah hampir satu jam dia di sana, menenangkan diri dengan cara belajar dan belajar. Kiran harus mendapat nilai bagus supaya bisa masuk ke kampus impianya, dia berencana untuk bekerja sambil kuliah agar meringankan beban papa nya.
Di tengah fokus Kiran membaca tiba-tiba ada suara gaduh yang menganggu, Kiran tetap tidak perduli toh ini di perpustakaan sebentar lagi pasti suara itu hilang. Tapi sayang nya suara gaduh itu semakin dekat, seperti suara beberapa lelaki muda dan satu lelaki bersuara serak mungkin lebih tua dari yang lain nya.
"Iya iya pak ! nggak usah dorong-dorong gitu !" protes suara tersebut, Kiran mulai penasaran
"cepat bereskan buku-buku di dalam. Kalian ini kerjaan nya ngerokok terus"
"ck, kayak bapak nggak ngerokok aja" bantah suara berbeda
"masih mau ngelawan !"
"nggak pak, ampun !"
suara itu kini seperti ada di depan Kiran, perlahan karena sudah sangat penasaran Kiran menurunkan buku yang sejak tadi menjadi penghalang untuk melihat ke arah pintu masuk.
Mata Kiran terbelalak lebar kala melihat geng Gio membereskan beberapa buku perpus yang berantakan, di awasi oleh guru paling killer di sekolahan ini.
"Pak, Gio ini kan bisa dibilang masih pemilik sekolahan ini. Kenapa di hukum juga" tanya Hardi
"nggak ada anak pemilik sekolah, anak pejabat anak onta sekalipun kalau salah ya di hukum" sahut pak Bagio dengan kumis nya naik turun seiring dia berbicara
"wah berani banget bapak, kalau nanti pak Faisal tahu gimana hayoo ..." balas Hardi lagi, dia hanya memegang satu buku lalu di pindah dan di ambil lagi, begitu saja seterusnya
"saya tidak peduli, ayo cepat selesai kan"
"gue nggak mau beresin ini kalau bapak berdiri disitu" kata Gio sengit
Bagio mendadak gugup, mata tajam Gio sangat menakutkan apalagi mau bagaimanapun juga Gio anak dari Faisal, donatur terbesar di sekolah ini
"oke, saya tunggu diluar. Awas kalau sampai saya kembali lagi dan belum selesai, hukuman kalian di tambah !" ancam pak Bagio, namun sayang nya tidak ada rasa takut dengan ancaman itu.
Hardi, Bram, Gio dan Arash langsung menghentikan hukuman mereka setelah pak Bagio keluar perpustakaan.
"Kenapa elo nggak ngancem mau laporin ke bokap elo sih !" sembur Bram ke Gio tiba-tiba
"maksud nya gue ngadu gitu sama bokap gue kalau hari ini gue di hukum lagi ?" tanya Gio mengangkat dagu nya sedikit
Bram dan Hardi mengangguk, dengan begitu urusan dan hukuman mereka pasti akan di cabut, pikir mereka.
"Dan kalian mau kalau bapak botak tadi bilang ke bopak gue soal kita yang ngerokok ? iya !"
kini Bram dan Hardi menggeleng kuat "dasar t***l !" cibir Gio mendengus malas
Bram dan Hardi memberengut "udah cepet beresin, males gue disini" titah Gio memilih duduk dan menyalakan rokok nya kembali
"terus elo diem aja gitu ?" tanya Bram menatap sinis Gio, yang di tatap hanya menyemburkan asap rokok nya begitu santai.
"uhuk ! uhuk !"
ke empat lelaki itu menoleh ke pojok ruangan tak jauh dari jangkauan mereka, disana Kiran batuk akibat kepulan asap rokok Gio masuk ke pernafasan nya. Perempuan itu memang anti asap rokok, dia sangat benci asap rokok.
"Eh gendut, ngapain elo disitu !" sembur Bram "pasti ngintilin Gio kan ?"
Kiran masih batuk, dia tidak menjawab tuduhan Bram yang dilayangkan padanya. Mereka tidak tahu saja kalau Kiran satu jam lebih awal berada di perpus sebelum mereka datang
"kalau nggak suka asap rokok mending keluar" usir Hardi, dia menyalakan rokok juga dan bersamaan dengan Gio mengepulkan asap-asap itu di area perpustakaan.
Bagi Bram dan Arash yang sama-sama perokok itu hal biasa, tapi bagi Kiran asap rokok sangat menganggu pernafasan nya. Kiran segera membereskan buku-buku yang dia baca, memeluk buku itu sembari dia berlari keluar perpus masih dalam kondisi batuk.
Sepertinya mengerjai Kiran adalah hobi menyenangkan bagi Hardi, lihat saja dia tertawa bahagia melihat perempuan itu lari dengan badan gemuk nya
"dia berat nggak sih bawa badan se gede itu ?" pertanyaan aneh Hardi membuat Bram dan Gio tertawa, sedangkan Arash hanya tersenyum tipis.
********
13:01
"Hahahahaha !"
tawa saling bersautan memekak kan telinga Kiran, suara mereka seakan begitu senang melihat penderitaan Kiran saat ini. Kiran disiram air kotor bekas mengepel lantai oleh siswa jahil atau memang di sengaja untuk mengerjai Kiran. Satu ember air di letak kan di atas pintu kelas yang sedikit terbuka dan Kiran lah siswi yang mendapat kejutan itu.
Kiran menyeka air yang melewati wajah nya, bau tidak sedap begitu menyengat di hidung Kiran. Dia terus berdiri mendengarkan semua tawa senang mereka, sambil berusaha membuka mata. Setelah berhasil, dia menatap satu persatu wajah mereka yang menertawakan nya, tidak ada raut kasihan atau simpati di wajah mereka hanya ada tawa bahagia, Kiran menatap nya dengan rasa sakit menyesak kan.
Tanpa sadar kedua tangan Kiran terkepal kuat di sisi badan nya, jiwa manusiawi mereka seakan hilang terhadap Kiran. Bukan satu dua kali Kiran mendapat perlakuan seperti ini, tapi hampir setiap hari hanya beda nya Kiran terus sabar menerima tanpa bisa berbuat apa-apa. Kiran ingin tenang, dia tidak mau mencari masalah dengan cara menerima apa saja yang mereka perbuat tapi semakin hari mereka semakin menunjukkan ketidak suka anya terhadap Kiran.
"Ngapain elo melotot !" sentak teman Kiran bernama Maya, perempuan itu lah pemilik ide mengerjai Kiran. Maya berjalan ke arah Kiran dengan kedua tangan terlipat di depan d**a, tercetak jelas wajah songong disana
"kamu yang melakukan ini ?" tanya Kiran getir, bibir ranum Kiran berkedut kecil menahan isak tangis yang hendak meledak. Dia malu, dia ingin berteriak kepada dunia akan apa yang sedang dia alami, tapi semua tertahan di kerongkongan.
"Kalau iya emang kenapa ? elo mau marah ?" tantang Maya menantang
"gue kira elo mau mandi, jadi gue siapin air khusus buat elo" imbuh Maya berjalan mengelilingi tubuh Kiran
"apa salah ku ?" tanya Kiran berbisik kecik, namun Maya masih bisa mendengar nya sehingga dia tertawa kencang
"sebenarnya elo nggak salah apa-apa, cuman gue aja yang nggak suka cewek gendut kayak elo. Menurut gue, elo itu menjijik kan" Maya mengatakan hal 'menjijikan' tepat di depan wajah Kiran
"terus kamu baik, begitu ?" Kiran berusaha untuk tidak menampar perempuan ini, meski kepalan tangan nya semakin kuat
"jelas gue baik karena gue cantik, orang cantik nggak ada jelek nya, paham ?"
Kiran tersenyum kecut, jadi seperti ini hukum alam sekarang ?? yang cantik sudah tentu baik, begitu ?? rasanya tidak adil, sangat tidak adil.
"Kebaikan sesungguhnya itu ada di dalam hati dan di buktikan dengan perilaku. Melihat perilaku mu seperti ini aku tidak percaya kamu baik" kata Kiran santai
wajah Maya memancarkan ke marahan hebat "sejak kapan elo berani ngelawan gue ?"
"aku nggak melawan, aku hanya mengatakan yang sebenarnya"
"sialan !" desis Maya kesal "nggak usah sok nantangin gue deh, urus aja bapak elo si tukang kebun itu !"
Kiran langsung menatap tajam kedua mata Maya, tidak ada yang boleh menyentuh harga diri papa Kiran. Meski papa Kiran seorang tukang kebun tapi dia ayah terbaik, dia selalu membela Kiran memberi pelukan hangat saat Kiran lelah dengan cemoohan mereka dan lelaki pertama yang menjadi cinta hidup semati Kiran. Siapapun tidak boleh merendahkan nya,,
PLAAK !!!!
semua mata yang menyaksikan itu terbelalak lebar, tidak ada yang menyangka bahwa seorang Kirania bisa melakukan hal tersebut. Terutama Maya, wajah nya sampai berpaling menerima tamparan keras dari Kiran, pipi kanan nya terasa panas dan nyeri di bagian dalam
"elo !!!" bentak Maya menunjuk Kiran penuh amarah, bisa-bisa nya seorang Kiran melayangkan tangan ke pipi mulusnya
tanpa basa basi lagi Maya langsung menyerang Kiran, menarik rambut perempuan itu sekuat yang dia bisa. Tubuh gempal Kiran tidak bisa menahan keseimbangan saat Maya menyerang, Kiran sontak jatuh ke lantai membuat Maya semakin leluasa duduk di atas tubuh Kiran dan menjambak serta mencakar bebas wajah Kiran. Lagi-lagi tidak ada yang melerai mereka, beberapa siswa siswi memilih untuk mengambil ponsel dan menyalakan kamera.
Tidak jauh dari perkelahian itu geng Gio baru saja datang, seperti biasa mereka selalu berjalan bersama menuju kelas sambil tertawa dengan candaan garing dari Hardi yang terkadang tidak lucu sama sekali. Mereka seperti terpaksa untuk merasa lucu akan candaan Hardi agar sang empu tidak malu, memang solidaritas yang sangat kental sekali.
"Eh ada apa an tuh !" seru Bram kaget melihat keramaian di depan kelas 3 IPA
"kayak nya ada yang berantem deh" sahut Arash ikut memperhatikan arah mata Bram
"wah seru nih" kata Hardi mengeluarkan ponsel hendak mem video kan kejadian tersebut tapi Gio menahan nya
"kenapa ?" tanya Hardi bingung
"ini sekolahan gue, gue nggak mau sekolahan ini rusak namanya cuman gara-gara video yang elo buat" kata Gio tegas
"tapi mereka pada midioin tuh" adu Hardi menunjuk beberapa siswa yang mengarahkan kamera ke arah pergulatan
Gio menghela nafas berat, dia pun melangkah lebih cepat ke tempat dimana pertarungan sengit itu terjadi. Mata nya melotot kaget ketika dia sudah sampai di barisan depan, melihat langsung bagaimana Kiran di amuk oleh Maya tanpa bisa melawan sama sekali
"BERHENTI !!!" bentak Gio murka, Maya sontak menghentikan aksi setan nya itu dan mendongak menatap Gio.
Gio menatap semua siswa dan siswi di sekitar peristiwa ini "kumpulkan semua ponsel kalian di lantai, kalau sampai video ini beredar luas dan mempermalukan sekolahan keluarga gue, gue sendiri yang akan kasih pelajaran sama kalian" ancam Gio tegas, suara bariton serta tatapan tajam nya membuat suasana mendadak hening ketakutan
"Gi-gio,," Maya berdiri, merapikan penampilan nya yang berantakan dan mendekati Gio. Dia bergelayut manja di lengan lelaki itu
"dia keterlaluan, dia yang cari gara-gara sama aku. Dia nampar aku Gio" adu Maya di sertai air mata buaya, entah dari mana dia bisa semudah itu mengeluarkan air mata, padahal tadi wajah Maya hanya mengisyaratkan kemarahan saja.
"Kirann !!!" teriak Anindi dan Fanya bersamaan, mereka yang baru datang segera membantu Kiran berdiri.
"Ya ampun Ran, kenapa kamu bisa kayak gini" seru Nindi menatap Kiran prihatin, seragam Kiran ada beberapa yang sobek terurama bagian kerah.
Kancing baju nya juga ada yang copot, hampir memperlihatkan lapisan kulit putih Kiran secara langsung. Pelipis kanan Kiran mengalami luka cakar cukup dalam hingga darah segar keluar dari sana, tak lupa rambut gadis itu yang sudah berantakan tidak berbentuk lagi.
Maya benar-benar membabi buta
"Pasti elo kan yang bully Kiran !" tuduh Fanya menunjuk Maya tepat di depan mata kanan nya, Maya tidak suka itu dia langsung menepis kasar tangan Fanya
"gue nggak pernah bully temen gendut elo itu, malah dia sendiri yang mulai main fisik ke gue. Lihat nih !!" Maya menunjuk bekas merah telapak tangan Kiran "ini adalah perbuatan temen elo itu, dia fikir tangan nya kecil apa main nampar orang se enak jidat. Kalau sampai tadi gue pingsan gimana !"
"aku nggak akan nampar kamu kalau kamu bisa jaga mulut kotormu itu !" teriak Kiran murka
"apa elo bilang hah !!" dua siswi menahan Maya yang hendak menyerang Kiran lagi
"Gio, kamu percaya sama aku kan" Maya beralih menatap Gio, lelaki itu sejak tadi diam menatap ke arah Kiran "si gendut itu yang mulai duluan Gio, bukan aku,, hikss"
"dasar ratu drama !" cibir Fanya memilih berbalik merangkul Kiran. "Kita ke toilet ya" ajak Fanya membawa Kiran ke toilet, di temani Anindi juga.
Kepergian Kiran pun membuat kerumunan siswa siswi perlahan bubar, meninggalkan Gio, Maya dan ketiga teman Gio yang hanya diam memperhatikan kejadian pagi ini
"lepas !" sentak Gio menghentak kan lengan nya agar gelayutan Maya terlepas dari nya
"gue peringatin sekali lagi, jangan membuat ke kacauan di sekolahan gue, paham !"
Maya terdiam malu, dia pikir Gio akan membela nya atau sekedar menunjukkan rasa simpati ketika dia menunjukkan bekas tamparan Kiran, tapi nyatanya tidak.
Gio melangkah pergi di ikuti ketiga teman nya, disisi lain Maya mengepalkan kedua telapak tangan nya begitu kuat. Dia masih ada dendam kepada Kiran, dia merasa di permalukan karena Kiran menampar dia tepat di hadapan banyak orang.
"Gue harus bales elo Ran" desis Maya menggeram
******
"selesai !" pekik Nindi tersenyum hangat, di tatap nya sendu plaster luka yang menempel di pelipis Kiran, kemudian arah mata nya tertuju ke Kiran yang hanya diam tatapan lurus ke depan
"Ran,," tegur Nindi pelan, dia mengelus lembut pundak sahabat nya itu "udah nggak usah di fikirin, masih ada gue sama Fanya di samping elo"
"mereka boleh hina aku, tapi jangan papa ku" kata Kiran serak, terdengar begitu sakit
"sssttt udah, jangan nangis dong" ujar Nindi berusaha menenangkan Kiran, meski sebenarnya perasaan Kiran tidak membaik sama sekali.
Kiran bisa saja menerima bully an mereka tapi tidak kalau mereka menyentuh keluarga nya, Kiran tidak bisa menahan diri untuk melawan jika sudah menyangkut paut kan keluarga.