bc

CRACKING THE LOVE CODE

book_age0+
138
IKUTI
2.3K
BACA
sex
opposites attract
counterattack
drama
sweet
Girl Power Counterattack
bxg
like
intro-logo
Uraian

*WARNING! ADULT CONTENT*

[YOU MUST BE AT LEAST 21 Y.O TO READ THIS]

Sebuah kisah nyata tentang seorang gadis bernama Sarah Pieters yang mempertahankan sebuah cinta yang salah.

"Ketika seseorang mencintaimu, mereka akan mencintai dirimu seutuhnya.

Ia akan memahami kelemahanmu, ia tidak akan menghakimimu.

Mungkin ia memang tidak menyukai kelemahanmu, tetapi ia yakin dirimu lah yang terbaik baginya."

Ketika Sarah kembali bertemu dengan Alvin, sahabat di masa sekolahnya, dengan cepat keduanya kembali menjadi lebih dekat, setelah persahabatan mereka sempat terputus selama beberapa tahun lamanya. Alvin selalu berada di sisinya setiap kali Sarah membutuhkan seseorang. Dia empatik, mudah diajak bicara, dan sangat terbuka, hingga Sarah memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya.

Rasa cintanya yang besar terhadap Alvin membuat Sarah bepikir bahwa Alvin lah "true love" yang harus ia perjuangkan, yang harus membuatnya berkorban dan merubah Sarah menjadi seseorang yang berbeda.

chap-preview
Pratinjau gratis
1
Sarah tidak menyukai turis yang sedang lalu lalang di hadapannya, namun saat ini adalah bulan Desember, bulan musim libur, dan turis-turis itu ada dimana-mana.   Dengan menggunakan kaus oblong dan sandal, kamera mahal bergelantungan di leher, ransel besar di punggung atau koper yang ditarik, serta kaca hitam yang terselip di kaus ataupun rambut mereka. Benar-benar pemandangan yang menyebalkan untuk Sarah.   "Di luar hujan deras, tapi hawa di kota ini menjadi panas dengan kedatangan mereka." dengus Sarah.    Ia duduk di pinggir jendela sebuah cafe kecil dan meneguk kopi dinginnya.   Maureen- sahabatnya tertawa. Sarah memang paling sering mengeluh terutama jika melihat turis-turis asing yang memenuhi kota.    "Kau tidak bisa terus mengeluh jika turis-turis itu datang ke Indonesia, uang mereka adalah salah satu sumber devisa." jawab Maureen.   "Ya, tapi aku muak melihat perbedaan mereka dengan orang-orang kita yang rata-rata uangnya jauh di bawah mereka.   "Mereka bebas berkeliaran di sini dengan nilai mata uang kita yang rendah. Tapi kalau kita pergi ke salah satu negara mereka, kita bisa jadi gelandangan di sana." ujar Sarah kesal.   Maureen sepertinya tak terlalu memperdulikan lagi dengan apapun yang dikatakan Sarah, ia sibuk dengan ponselnya dan sesekali terdengar tawa kecilnya.   “Apa yang sedang kau lihat?” tanya Sarah sambil melirik ponsel Maureen.   “Kau ingat dia?” Jari Maureen menunjuk foto seorang gadis pada layar ponselnya.    Maureen sedang membuka akun Instagramnya dan melihat sebuah foto yang ada di dalamnya.   Cukup lama Sarah mencoba mengenali wajah gadis di foto tersebut dan mengerutkan dahinya.   “Bukankah dia...?”   “Dia Maggie, apa kau ingat pertandingan basket kita terakhir?”   Terakhir kali Sarah dan Maureen mengikuti pertandingan basket saat masih SMA, dan Maggie adalah salah seorang anggota tim basket yang merupakan tim lawan sekolahnya.   “Ahh-ya ya, aku ingat. Bagaimana kau bisa berteman dengannya?” tanya Sarah.   “Aku pernah bertemu dengannya di sebuah pameran buku, kami sempat berbincang cukup lama dan saling bertukar nomor ponsel.”    "Tunggu, ada satu lagi yang ingin kutunjukkan padamu, aku sempat tak percaya saat melihat foto ini. Tapi ternyata sekarang mereka berpacaran."   Jari Maureen bergerak di layar ponselnya dan menunjukkan sebuah foto lainnya di akun i********: Maggie.   Sarah terkesiap. “Alvin?“   "Ya, Alvin..kakak kelas kita. Kau pasti ingat betul dengannya."   Mata Sarah menatap foto Alvin dan Maggie yang sedang berpelukan dengan mesra. Tak ada yang berubah sedikit pun dari diri Alvin, wajahnya terlihat lebih tampan dengan postur tubuh yang tinggi tegap.   Alvin pun teman sekelas sekaligus sahabat kakak laki-laki Sarah, yaitu Ben. Di masa sekolah keduanya masuk dalam kriteria pria populer, sebagai siswa-siswa dengan paras yang tampan dan berprestasi baik.   Dulu Sarah sering merasa geli ketika gadis-gadis di sekolahnya bersemangat melirik atau membicarakan Alvin maupun kakaknya, dan tak menyadari kehadiran Sarah di antara mereka.   Pertemanan Ben dan Alvin berlanjut tidak hanya di jam sekolah saja, bahkan Alvin sering menginap di rumah Ben jika akhir pekan tiba. Keduanya bisa menghabiskan waktu di depan TV hanya untuk bermain game selama berjam-jam lamanya.   Karena sering bertemu di rumah, Sarah pun akhirnya menjadi dekat dengan Alvin. Bahkan ia pernah menganggap bahwa Alvin merupakan kakak laki-lakinya yang kedua selain Ben.    Dan ketika ayah Sarah dan Ben meninggal, Alvin lah yang lebih banyak memberikan waktunya untuk mendampingi Sarah melewati masa dukanya.   Kehadiran Alvin mampu membangkitkan hati Sarah kembali, memberikan penguatan serta penghiburan dikala Sarah membutuhkan seseorang untuk melupakan kenangan akan ayahnya.   Namun semua itu terhenti ketika suatu ketika Alvin datang ke rumahnya, dengan wajah ceria dan bersemangat ia bercerita pada Ben dan Sarah bahwa ia telah memiliki seorang pacar.   Saat itu Sarah belum mengerti cinta. Sarah tidak bisa menjelaskan mengapa ia tak menyukai apa yang didengarnya. Ia tidak menyadari bahwa hatinya saat itu terbakar rasa cemburu.    Sarah tidak bisa menunjukkan kekesalannya, yang hanya bisa ia lakukan adalah menjaga jarak dengan Alvin dengan menghindarinya, baik di sekolah maupun di rumah.   Ia segera membuang wajah saat Maureen masih tetap membuka foto-foto dari akun Maggie. Sarah tak tertarik untuk bertanya tentang Alvin padanya. Maureen tidak menyadari perasaan sahabatnya, mulutnya tetap bercerita tentang apa yang ia ketahui tentang Alvin.   “Apa kau tau, Alvin pernah masuk penjara?” tanya Maureen.   “Aku mendengar rumor tentangnya, setelah ia lulus, ia pernah berpacaran dengan seorang siswi dari sekolah kita dan ia menghamili serta membawa kabur gadis itu!”   Maureen semakin bersemangat untuk bercerita dan memaksa Sarah untuk tetap melihat wajahnya.   “Ayah gadis itu melaporkannya ke pihak berwajib, Alvin mendapatkan tuduhan bahwa ia telah melarikan anak gadis di bawah umur. Dan kalau tidak salah hal itu membuatnya mendekam di dalam penjara. Tapi aku tidak tau lagi bagaimana kelanjutan ceritanya.”   Dengan nada dingin Sarah bertanya, “Apa kau tau perbedaan rumor dan berita?”   “Tentu saja. Kenapa?”   “Sebaiknya kau mulai membiasakan dirimu membahas berita daripada membahas rumor yang biasanya hanya berisi sebuah kebohongan.”   “Jadi kau tak percaya dengan ceritaku?”   “Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Apa kau pernah mendengar Alvin bercerita tentang hal itu langsung kepadamu? Apa kau menjadi saksi mata? Kalau tidak, maka berhentilah membahasnya.”   “Tapi banyak orang yang sudah tau tentang hal ini Saraahhhhh....”   “Mungkin banyak orang juga yang seperti dirimu, menelan mentah-mentah cerita tentang seseorang.” jawab Sarah dengan santai.   Maureen tak membantah perkataan Sarah, ia hapal betul kebiasaan Sarah yang lebih menggunakan logikanya daripada asumsi orang di sekitarnya.   “Kalau kau masih beranggapan positif tentangnya, kenapa dulu kau menghindarinya?” tanya Maureen kembali.   Maureen ingat betul bagaimana Sarah tiba-tiba terlihat canggung dan selalu menghindar setiap kali bertemu Alvin, tapi Sarah tak pernah mau menceritakan apapun tentang hal itu.   Ia segera mengalihkan pembicaraan dengan berpura-pura tak sengaja menjatuhkan gelas kopinya di meja hingga sebagian isinya tumpah.   “Sarah!” Maureen terlihat panik saat cipratan air kopi itu mengenai sepatunya.   “Maaf, maaf..untung sisa kopinya tinggal sedikit.” ujarnya.   ***   Sarah duduk di meja kerjanya membalas pesan teks yang dikirim Ben kakaknya.   Ben: "Hey lil sis..how are you? Apa kau masih menyibukkan diri dengan pekerjaanmu?”   Sarah: “Just a lil bit of this and that, but I’m good.“   Ben: “Apa kau akan datang ke Jakarta dan pergi ke acara reuni hari Sabtu ini?”   Sarah menepuk dahinya,  ia betul-betul lupa dengan acara itu. Tangannya meraih kembali kartu undangan reuni yang ia simpan di lacinya.    Sarah: "Kau kan bisa mewakiliku...."   Ben: "Sarah..ini reuni, itu artinya kau menjadi bagian di dalamnya. Mana mungkin kau bisa kuwakilkan. Apa kau tak mau bertemu teman-teman satu angkatanmu?"   Tetapi perasaan subyektif Sarah tiba-tiba muncul,  ia mulai menerka-nerka pertanyaan apa saja yang nanti bakal sering ia dengar saat acara berlangsung.    Mungkin dari sebagian teman-temannya akan bertanya tentang mengapa ia dan Maureen hingga saat ini masih melajang, atau mengapa keduanya memilih berkarir di Bandung, atau pertanyaan lainnya yang terasa sangat sederhana dan sepertinya ‘’wajar-wajar’’ saja. Padahal dari sana, muncul pemicu yang kerap menyakitkan.   Sarah: "Aku tak tau Ben, aku belum bisa menjawabnya sekarang."   Ben: "Okay...Tapi kuharap kau bisa datang, lagipula aku sudah rindu padamu. I miss your fight, advice and scolding style."   Sarah tersenyum membaca pesan terakhir dari Ben, ia pun merindukan pertengkaran-pertengkaran kecil mereka.   ***   Akhirnya setelah mempertimbangkannya dengan Maureen, Sarah kembali ke Jakarta dan memutuskan untuk mengikuti reuni nanti malam.   "Beeeeeennn....apa kau di rumah?" teriak Sarah ketika masuk ke dalam rumah.    Ia melempar tasnya ke lantai dan merebahkan tubuhnya serta memejamkan matanya di sofa. Perjalanannya kembali ke Jakarta sangat lama dan melelahkan dengan adanya pembangunan di beberapa ruas jalan tol.   "Hai Sarah...apa kabar?" tiba-tiba suara berat seorang pria mengejutkannya.   Rasanya ia tak percaya saat menatap sosok Alvin ada di hadapannya. Ia segera duduk dan mulutnya seolah tak sanggup mengeluarkan kata-kata karena rasa gugupnya.   "Ben belum selesai mandi, apa kau baru datang?" tanya Alvin tersenyum memandangnya.   "Ahh-itu..ya..tadi..aku..."   "Shiiiit....kenapa aku tiba-tiba sulit untuk bicara?" gerutu Sarah dalam hatinya.   Rasa gugup Sarah semakin menjadi saat Alvin duduk di sebelahnya dan tetap tak berhenti menatapnya.   "Kudengar dari Ben bahwa kau dan Maureen sekarang tinggal di Bandung. Kalau begitu kita bisa sering bertemu."    "Ma..maksudmu? Bertemu?"   "Apa Ben tak pernah bercerita padamu bahwa aku pun saat ini tinggal di Bandung?"   Sarah menggeleng. "Tidak, ia tak pernah mengatakan apapun. Tunggu......apa kau masih berteman dengannya?"   Alvin tertawa keras mendengar pertanyaan Sarah. "Kau pikir bagaimana aku bisa masuk ke rumah kalian jika aku sudah tak berteman dengannya?"   Sarah menggigit bibirnya dan wajahnya memerah, ia menyesali pertanyaan bodohnya yang ia lontarkan pada Alvin.   "Aku senang bisa bertemu denganmu lagi Sarah, dan sekarang kau terlihat jauh lebih cantik dibandingkan saat terakhir aku melihatmu."   Rasa malu yang hinggap di hati Sarah terselamatkan dengan suara Ben yang tiba-tiba terdengar memanggil namanya.   "Sarah?!!"    Sarah segera berlari dan memeluk kakaknya, "Bennnn....!!"   "Hoho...Aku senang akhirnya kau memutuskan untuk datang." Ben segera membalas pelukan adikknya dengan erat.   "Bukankah kau pulang bersama Maureen? Mana dia?" tanya Ben dan matanya mencari sosok Maureen.   "Maureen ingin menemui keluarganya dulu, tapi nanti sore ia akan datang ke sini." jawab Sarah. Suara Alvin tiba-tiba menyela mereka, "Apa kau sudah menyiapkan pakaianmu untuk datang ke reuni nanti malam?" "Pakaian?" tanya Sarah. "Omg Saraaahhh...apa kau tak membaca dengan teliti kartu undanganmu? Di situ disebutkan tentang dress code yang wajib kita gunakan..." keluh Ben.  "Apa? Dress code?" Sarah mengambil tasnya dan mencari kartu undangan reuni itu di dalamnya. "Aku tak membawa gaun!" teriak Sarah panik saat selesai membacanya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

My Ex Boss (Indonesia)

read
3.9M
bc

Mendadak Jadi Istri CEO

read
1.6M
bc

Mafia and Me

read
2.1M
bc

MY ASSISTANT, MY ENEMY (INDONESIA)

read
2.6M
bc

Rise of Love

read
364.7K
bc

His Secret : LTP S3

read
670.7K
bc

DIA UNTUK KAMU

read
41.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook