Bab 5

1132 Kata
Rara memperhatikan sikap Rey yang terlihat fokus memandang ke arah tubuhnya. Dia baru menyadari, bahwa yang sedang pria itu pandangi adalah dua buah benda yang terlihat paling menantang di bagian tubuhnya. “Astaga! Dasar mesuuuum!!” teriak Rara sambil melemparkan beberapa bahan makanan ke arah Rey. “Aduh, duh! Apa-apaan sih kamu, Ra? Berhenti nggak!” sentak Rey yang kini juga berusaha melindungi diri dari serangan Rara.  Rey tak dapat menghentikan sikap Rara yang masih saja melemparkan bahan makanan tersebut. Ia pun terpaksa mendekati wanita ini, lalu langsung meraih kedua tangan Rara dan memojokkannya di meja dapur. “Bisa berhenti nggak?” Terlihat wajah geram Rey yang menatap tajam ke arah Rara. Bahkan pria itu juga menggertakan giginya, saking kesalnya dengan sikap wanita yang ada di hadapannya tersebut. Rara yang kembali tersadar telah melakukan kesalahan pada Rey, kini menundukan kepala. Ia merasa takut dan juga malu dengan pria ini, hingga tak tahu harus menjawab apa padanya. Tubuh Rey begitu menekan tubuh Rara. Saking dekatnya, Rara pun dan merasakan d**a mereka saling menempel, serta nafas Rey yang terasa melewati wajahnya. Entah mengapa, hal ini membuat Rara menjadi berdebar. Ia merasa takut, was-was dan juga ada perasaan aneh yang membuatnya menjadi sesak saat pria ini semakin menekan tubuhnya. Rey mengepal kedua tangan Rara di atas meja. Ia terus saja mengintimidasi Rara supaya wanita itu mau untuk mengucapkan kata maaf padanya. Hanya kalimat maaf dari wanita ini yang sebenarnya Rey nantikan. Namun, jika orang awam yang melihat posisi Rey saat ini, pasti mengira pria itu hendak mencium Rara, dengan tubuh yang menekan wanita tersebut. Merasa kian sesak dengan keadaan ini, Rara yang takut jika diapa-apakan lagi oleh Rey, kini tiba-tiba saja menjedotkan kepalanya ke arah wajah pria ini. DUG! “ADUH!!!” teriak Rey yang merasa kesakitan bukan main.  Jidatnya terasa nyut-nyutan saat wanita itu niat melakukan tindakan konyolnya. Ia menjauhkan diri dari Rara dan terus memegangi dahinya itu, berusaha meringankan rasa sakitnya. Sedangkan Rara, memilih kabur memasuki kamar Rey sambil membawa kaos yang tadi telah dilepasnya. Dia pun mengunci pintu kamar pria ini dari dalam dan berusaha menjaga dirinya dari amukan Rey yang mungkin saja terjadi. “Hais! Dia itu kenapa sih? Dasar cowok cabuuul!! Ngeselin banget. Kenapa juga aku malah lepasin baju? Dia kan  … jadi liat ini …,” ucap Rara dengan wajah sedihnya sambil memegang kedua dadanya sendiri.  Ia merasa amat malu atas apa yang terjadi dan berharap Rey hilang ingatan dan tak melihat lekukan tubuhnya yang begitu menantang tersebut. Keadaaan menjadi sangat kacau. Keduanya benar-benar merasa saling tak nyaman satu sama yang lain dan menginginkan untuk bisa terbebas dari keadaan ini. *** Hujan lebat turun secara tiba-tiba membasahi bumi, di hari yang masih siang dan seharusnya cerah terang benderang. Angin kencang pun berhembus begitu heboh membuat kota ini menjadi buram pandangannya karena saking derasnya hujan kali ini. Rey yang hendak keluar dari tempat tinggalnya itu, kini menjadi tak bisa ke mana-mana karena taksi online pun tak ada yang mau menerima permintaan pesanannya itu. Dia pun jadi merasa kelaparan dan berharap ada makanan yang bisa dia pesan di hujan-hujan seperti ini.  Sayangnya, ternyata aplikasi pemesanan yang biasa dia gunakan, sedang sibuk, dan membuatnya kian geram jika harus menunggu. “Assh! Menyebalkan! Kenapa hari ini aku sial banget sih?” keluhnya merutuki dirinya sendiri. Rey yang sedang kelaparan ini segera mengarah ke arah dapur untuk memasak makanannya sendiri. Ia sudah tak tahan lagi jika harus kelaparan di hari yang telah membuatnya mengeluarkan banyak energi.  Melihat bahan makanan yang ada, Rey memutuskan untuk membuat nasi goreng yang dapat ia makan sebanyak-banyaknya. Pria ini memang terbiasa hidup mandiri, jadi sebenarnya untuk hal memasak bukanlah hal yang sulit bagi Rey. Dia bisa membuat makanan dengan cepat dan juga nikmat. Pas sekali jika dijadikan suami idaman. Aroma sedap dari masakan Rey pun kini tercium hingga memasuki rongga hidung Rara, yang ternyata malah tertidur pulas menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Wanita itu pun jadi bangun karena perutnya yang kelaparan dari tadi kini kian meronta ingin diisi. ‘Bau apa ini? Nasi goreng? Hah? Siapa yang beli? Aku mauuu …,’ batin Rara pun ingin meronta keluar dari tempat ini dan segera menghampiri asal bau harum yang sedap itu. Karena perutnya kian berdemo, Rara memutuskan untuk membuka matanya dan segera berdiri. Ia lalu membuka pintu kamar Ini dan langsung mencari-cari asal bau tersebut. “Rey? Kamu masak nasi goreng ya?” tanya Rara yang kini segera duduk di sofa ruang tengah menghampir Rey, dan menatap makanan yang dibawa oleh pria tersebut. Rey hanya melirik ke arah Rara, dan berusaha tetap tak memperdulikan wanita itu. Baginya, Rara sudah masuk ke dalam daftar hitam orang yang harus dihindari, karena telah berani menyakiti dirinya. Namun tak disangka, wanita ini malah semakin mendekatinya dan meraih tangan Rey yang hendak menyuapkan makanan tersebut ke arah mulutnya. Lalu menyantap makanan dari suapan pria tersebut. “Heh! Kamu itu kenapa dari tadi bikin kesel aja sih? Ini makananku! Kalau mau buat sendiri sana!” sentak Rey yang masih saja suka marah-marah dan menyalahkan Rara. “Aku laper, Rey. Tadi aku pingsan karena laper banget. Jadi please … ini buatku aja ya?” pinta Rara dengan wajah memelas andalannya. Rey memperhatikan wajah wanita ini yang terlihat begitu menggemaskan baginya, namun, ia segera tersadar bahwa seharusnya dia tidak tertipu dengan wajah itu. Dengan lantang, Rey langsung menolak permintaan Rara barusan. “Nggak akan aku bagi sama kamu,” ucapnya sambil menyingkirkan makanannya dan menjauh dari wanita ini. Rara yang merasa kecewa dan tak ingin kehilangan makanannya itu, kini berusaha memikirkan cara untuk membuat dirinya bisa makan. “Aduh, duh duh duh, Rey! Tolong! Aku sakit sekali perutnya, aku mohon … beri aku makanan,” ucap Rara sambil mengemis pada pria tersebut. Melihat Rara yang memainkan banyak peran demi mendapatkan makanannya itu, akhirnya Rey pun mengalah dan memberikan nasi goreng miliknya.  “Nih! Buat kamu aja!” Sambil memberikan piring yang dibawanya kepada Rara. Wanita itu terlihat berbinar wajahnya. Mendapatkan nasi goreng dari Rey saja sudah membuatnya seolah mendapatkan harta karun. Rara pun kini menikmati makanannya dan menghabiskannya dengan penuh perasaan bahagia. *** Beberapa jam berlalu, dan hujan tak kunjung berhenti malah semakin kian deras. Bahkan sekarang hari sepertinya sudah mulai sore menjelang malam. Rara tertidur di kursi sofa dengan merebahkan tubuhnya di sana. Sedangkan Rey yang sedari tadi mengalah pada Rara, duduk di karpet dan menyandar pada sofa tempat Rara tidur. Pria ini pun juga ikut terlelap, meski dari tadi dia mencoba melawan rasa kantuknya dengan melihat beberapa acara televisi. Rara yang tidurnya lasak, kini tanpa sadar menggerakan tubuhnya menghadap ke arah Rey. Ia pun mencondongkan wajahnya dan tanpa sengaja berada dalam posisi saling pandang dengan wajah Rey yang sedang menyandarkan kepalanya di sofa itu. Hingga tak sengaja, bibir keduanya pun bertemu dan saling menempel. Mereka berdua tak menyadari hal ini, dan malah bermimpi satu sama lainnya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN