“Ra? Kenapa kamu, Ra? Heh! Bangun! Jangan ngerepotin gini napa, sih? Ya kali aku harus gendong kamu, Ra? Bangun, ah!”
Rey yang kini meraih tubuh Rara, menepuk-nepuk pipi wanita itu sambil terus mengomel. Ia merasa khawatir dengan keadaan Rara yang tiba-tiba pingsan, namun, ia juga lebih khawatir dengan nasibnya yang harus menggendong wanita ini hingga ke dalam mobil.
“Hais! Bener-bener ngerepotin!” seru Rey yang masih saja mengeluhkan keadaan saat ini.
Ia pun langsung memanggil ibunya, supaya segera menyelesaikan aktivitas belanjanya yang dari tadi tidak ada habis-habisnya. Rey pun sampai kesal dengan orang tuanya itu, yang malah asyik sendiri dengan kegiatan pilih-pilih pakaian yang sedang dilakukannya saat ini.
Karena Rey masih punya malu untuk tidak berteriak-teriak memanggil ibunya, ia pun kini memutuskan untuk menghubungi ibunya tersebut melalui panggilan telepon. Segera ia mengambil ponselnya dan menekan kontak ibunya itu.
“Ngapain Rey telepon? Memang dia di mana?” Anita malah celingukan mencari-cari anaknya di dalam toko pakaian yang sedang dihampirinya. Tentu saja wanita ini tak akan menemukan putranya di dalam sana karena Rey sedang berada di luar toko itu.
Anita pun kini segera mengangkat panggilan telepon itu, dan menyapa anaknya yang dari tadi sudah menemaninya berbelanja di mall kota. “Halo, Rey? Kamu di mana? Kok, pakai telepon-telepon segala?” tanya Anita sembari memilih-milih pakaian yang hendak dibelinya.
“Mami mending udahan deh shoppingnya. Ini Rara pingsan, di depan toko. Mami keluar bantuin bawa belanjaan, aku nanti bakal gendong Rara,” ujar Rey yang berusaha menjelaskan pada ibunya tentang kondisi terkini.
Mendengar hal tersebut, Anita pun terdiam sejenak. Seolah pikirannya yang lemot itu sedang memproses apa yang putranya katakan barusan.
Lalu, setelah beberapa detik berlalu, ia pun baru tersadar, dan langsung berteriak, “ASTAGA! RARA PINGSAN?”
Anita yang merasa panik bukan kepalang, kini langsung keluar dari toko pakaian pilihannya, lalu segera menghampiri putranya dan juga Rara. Saat menemukan dua orang itu, Anita pun jadi merasa kian bersalah pada Rara dan kini malah jadi menangis sendiri melihat keadaan Rara di hadapannya.
“RARAAAAA ...!” teriaknya seperti di film drama ketika sang lakon dalam keadaan tak sadarkan diri. Anita pun menganggap Rara menjadi korban seperti adegan drama tersebut.
“Mam, udah, Mam, udah. Kita bawa Rara aja ke mobil sekarang. Mami bawain belanjaan aja, biar aku yang gendong Rara,” ujar Rey yang sekarang mengembalikan belanjaan ibunya yang dari tadi dia bawa. Tentu belanjaannya tidak satu dua tas saja, melainkan sampai belasan paper bag ada dalam tentengannya.
“Eh? Rey? Gimana ini maksudnya? Masa Mami kamu suruh bawa ini semua?” Anita pun terlihat kebingungan saat putranya menyerahkan barang bawaannya tersebut.
“Ya mau gimana lagi, Mam? Mami mau, gendong Rara?” tanya Rey sambil mendorong Rara, yang ada di dalam pangkuannya, ke arah ibunya.
Anita pun hanya melirik Rey dan langsung mengambil tas-tas belanjaannya. Lalu ia segera berdiri dan menyuruh putranya itu segera berdiri dan mengantarkan Rara ke dalam mobil.
“Yuk, cus! Cepetan kamu gendong Rara. Kasihan dia,” ujar Anita dengan perintahnya.
Rey pun akhirnya menggendong Rara dan membawanya berjalan ke luar dari mall mewah ini. Semua orang nampak memperhatikan mereka bertiga, karena melihat wanita yang sedang pingsan dan digendong oleh pria tampan rupawan.
Hingga akhirnya mereka pun sampai juga ke parkiran. Lalu Rey segera memasukan Rara ke dalam mobil, dan meletakkannya di kursi belakang.
Anita yang telah memasukan belanjaannya ke bagasi belakang, kini segera duduk menemani Rara, dan menyuruh Rey untuk segera pulang.
“Rey, kita pulang ke apartemenmu aja,” ucap wanita ini dengan tegas.
“Ha? Ngapain ke apartemenku?” Rey yang baru saja duduk di kursi pengemudi, langsung menoleh ke arah ibunya, yang duduk di belakang, untuk mempertanyakan hal tersebut. Ia sangat terkejut saat ibunya tiba-tiba mengatakan hal demikian padanya.
“Kan apartemenmu lebih dekat dari sini. Kasihan kalau pulang ke rumah Mami, nanti belum macet di jalan. Udah bawa di sana aja, biar istirahat bentar di tempatmu.”
“Mam, yang bener aja. Ke rumah sakit ajalah kalau gitu.” Rey berusaha menolak permintaan ibunya ini. Ia merasa kesal karena Rara harus pingsan dalam keadaan ini.
“Rumah sakit juga masih jauh dari sini. Udah. Bawa ke apartemenmu. Kamu mau jadi anak durhaka apa gimana?” ancam Anita dengan ekspresi wanita antagonis.
Rey pun tak bisa melawan ibunya lagi. Ia terpaksa menuruti permintaan ibunya tersebut, dan segera menyalakan mesin mobilnya untuk segera ke apartemen tempat tinggalnya.
***
Sesampainya di apartemen, Rey kembali menggendong Rara dan meletakkannya begitu saja di kursi sofa ruang tengahnya. Ia bahkan terlihat ngos-ngosan saat ini karena harus menggendong Rara dari tempat parkiran sampai ke dalam unit apartemennya tersebut.
“Ini terus mau diapain Rara, Mam?” tanya Rey yang kini sedang memandang Rara sambil menopangkan kedua tangannya di pinggang.
Anita yang baru masuk sambil kerepotan membawa tas belanjaannya tadi, kini segera meletakkannya di ruang tengah milik Rey itu. Lalu ia pun memandang Rey dan juga Rara yang masih belum sadarkan diri.
“Kok ditaruh sini anak orang? Taruh dalam kamarlah!” omel Anita yang merasa putranya tidak peka sama sekali.
Rey pun mendelik menatap Anita. Ia kembali dibuat pusing oleh ibunya sendiri, yang memberikan perintah aneh baginya.
“Maksud Mami gimana sih? Masa aku bawa cewek ke dalam kamar? Emangnya dia istriku apa?” sentaknya dengan pertanyaan yang terlontar begitu saja.
“Calon, calon. Siapa tau jodoh, Rey. Udah, masuki Rara dulu ke dalam, gih. Biarin Rara istirahat dulu.” Anita pun kini sengaja bicara lembut kepada putranya. Ia tidak ingin membuat anaknya itu jadi emosi dengan permintaannya barusan.
Tapi, tentu saja Reynaldi ini tidak menginginkan hal tersebut. Ia memutar bola matanya dan tegas mengatakan. “NGGAK!” Lalu pergi begitu saja memasuki kamarnya dan menguncinya.
“Loh, Rey? Loh? Rey! Rey! Reynaldy!” teriak Anita sambil bicara seperti Tukul Arwana saat menyebutkan nama Reynaldi.
Anita pun jadi kebingungan karena sikap putra itu. Ia tak tahu harus bertindak apa dan bagaimana saat melihat Rara yang masih terkapar dan belum sadarkan diri.
“Duh, anak orang ini. Gimana, dong?” tanyanya dengan kepanikannya.
Wanita ini segera mendekati Rara, ia pun membangunkan anak perempuan tersebut, namun Rara belum juga bangun-bangun.
“Ra? Bangun dong. Kamu kok pingsan sih? Nanti aku bilang apa sama ibumu?” Anita kini menjadi merasa bersalah pada Rara dan merasa dirinya tidak becus untuk mengurus anak perempuan temannya ini.
Untung saja, tak lama, Rara yang masih lemas, kini mulai tersadarkan dan membuka matanya perlahan. Ia memandangi sekitar dan melihat Anita yang sedang menundukan wajah mengkhawatirkan keadaan dirinya.
“Bu Anita?” tanya Rara dengan suara lemasnya.
Anita sontak langsung mengangkat wajahnya dan memperhatikan Rara kembali. Bola matanya pun membulat sempurna dan berbinar-binar saat melihat Rara sudah tersadarkan diri.
“Ya ampun Rara … akhirnya kamu sadar juga, Nak,” ucap wanita ini sambil memeluk tubuh Rara yang sedang berusaha mengubah posisinya untuk duduk.
Rara pun jadi kaget dengan sikap wanita yang menjadi heboh ini. Ia merasa masih pusing, dan tak tahu ada di mana dirinya sekarang ini.
“Tadi … aku pingsan ya? Terus … ini di mana?” Rara yang masih berusaha mengembalikan kesadarannya kini menatap ruang tengah apartemen ini. Ia masih bingung dengan keadaan sekarang dan berusaha mencari penjelasan dari Anita.
Namun, tiba-tiba saja Anita punya ide untuk anak-anak ini. Ia ingin membuat mereka berdua tinggal bersama dan menjadi dekat satu sama lainnya.
Anita memang mengharapkan putranya bisa menjadi pendamping putri dari sahabatnya itu. Ia ingin Rey dan Rara menjadi sepasang kekasih, yang berjalan dengan sendirinya. Meski tetap saja Anita tetap ingin ikut campur dalam hal ini.
“Mm … Rara. Kamu di sini dulu ya. Mami mau ke luar bentar. Itu belanjaan baju-baju buatmu yang bisa kamu pakai. Sekarang, mending kamu istirahat dulu. Okay?” oceh wanita ini sambil membuat lingkaran dengan jari tangannya yang ditautkan.
Rara yang masih bingung dengan keadaannya saat ini, semakin dibuat bingung dengan keadaannya sekarang. Ia pun tak tahu apa yang dimaksud oleh Anita saat mengucapkan kata-katanya itu.
Anita kini segera mengambil kunci mobil Rey yang dibiarkan di atas meja. Ia lalu langsung kabur dari kediaman anaknya ini, dan sengaja meninggalkan mereka berdua di satu atap seperti sekarang.
Rara tak paham dengan situasinya. Ia bahkan tak tahu sekarang di mana, dan dengan siapa dia di dalam sini. Pikirnya, Anita mungkin saja memberikan tempat tinggal untuknya. Rara pun jadi tersenyum senang saat memikirkan hal itu dalam pikirannya.
‘Untunglah kalau Bu Anita malah memberikanku tempat tinggal,’ batin wanita ini sambil memandangi isi apartemen yang cukup mewah ini.
Kluuuurrrk ... Perut Rara yang masih kosong seharian mulai menjerit kembali. Ia sangat kelaparan, karena belum makan dari tadi pagi. Rara pun jadi merasa kesakitan karenanya.
“Aargh … perutku sakit banget,” ucapnya sambil meringkuk memegangi perutnya.
Rara berusaha bangkit dari posisinya saat ini dan menuju ke arah dapur yang ada di dekat sana. Ia pun sengaja membuka kulkas mewah yang ada di sana, dan berharap menemukan sesuatu untuk dimakan.
“Ah, untung ada susu.” Wanita ini segera mengambil s**u full cream vanila yang ada di dalam kulkas tersebut. Ia pun langsung menenggaknya dan hampir menghabiskan setengah dari isi kotak s**u yang ditemukannya itu.
Karena kecerobohannya, tak sengaja s**u tersebut malah jatuh tumpah dan membasahi kaos yang sedang dikenakannya.
“Yah … basah …,” ucapnya sambil terdiam menatap kaos hitam yang dikenakannya itu. Kaosnya pun terlihat penuh bercak putih karena ketumpahan s**u tersebut.
Dengan percaya diri, merasa dia sedang dirumah sendiri, Rara pun melepaskan kaosnya itu dan meninggalkan baju tanktop ketat berwarna putih, yang membentuk lekuk tubuhnya. Bahkan dalaman bra-nya yang berwarna hitam pun jadi kelihatan nerawang saat dirinya dengan tampilan seperti ini.
Rey yang merasa keadaan rumahnya tiba-tiba menjadi hening dan tadi sempat mendengar pintu rumahnya berbunyi, kini memutuskan untuk keluar kamar. Ia ingin tahu keadaan rumahnya, yang dianggapnya telah ditinggalkan oleh ibunya dan juga Rara.
Namun, saat dirinya keluar kamar, ia pun menjadi terkejut melihat Rara yang mengobrak abrik isi kulkasnya dan mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam kulkas tersebut.
Ia merasa tak terima dengan orang yang berani menyentuh barang-barang miliknya seperti ini, dan langsung teriak menegur sikap Rara. “WOY! NGAPAIN KAMU?” sentaknya begitu heboh sambil menghampiri Rara.
“Jabang bayi setan demit dukun beranak!” Rara yang kaget mengeluarkan kalimat sembarangan yang keluar begitu saja dari mulutnya, sambil melemparkan beberapa bahan makanan yang tadinya sedang ada di kedua tangannya ke arah Rey. Sikap pria itu barusan tentu membuat Rara amat kekagetan bukan main. Bahkan Rara pun merasa jantungnya hendak copot saat mendengar suara orang tiba-tiba dalam ruang yang dia pikir tak ada seorang pun di dalam sana.
Rey yang mendekati Rara, kini melotot ke arahnya dan keningnya pun mengkerut tak karuan. Terlihat jika pria itu seolah hendak menerkam Rara saking emosinya.
“Ngapain kamu di sini? Kenapa nggak ikut Mami? Malah berantakin isi kulkasku!” sentak Rey, yang kini menatap Rara tajam sambil melipatkan tangannya di depan dadanya.
‘Ha? Kulkas dia? Ini … Sebenarnya di mana? Kenapa Bu Anita meninggalkanku di sini?’ Rara pun kini mengalihkan pandangannya. Ia tak berani menatap pria yang mendekatinya itu, dan berusaha berpikir sejenak menanggapi keadaannya saat ini.
Ia pun jadi bertanya-tanya sendiri tentang keberadaan Rey yang ada di sini. Ia pun mempertanyakan apakah mungkin tempat ini adalah tempat tinggal pribadi pria itu?
Lalu tak lama, Rara yang masih berusaha memahami keadaannya itu tiba-tiba saja teringat akan sesuatu. Ia mulai mengingat jika pria itu tadi sempat berkata punya apartemen pribadi. ‘Jangan-jangan … ini apartemennya dia?’ batin Rara kian ingin menjerit.
“Heh! Ditanyain juga. Kamu ngapain masih di sini? Mau apa?” tanya Rey yang masih menyentak Rara.
Rara yang merasa tak diuntungkan dalam keadaan saat ini, kini mengaku salah dan langsung mengarahkan wajahnya menatap Rey. Ia yang tadinya menunduk, kini perlahan mengangkat kepalanya, menampilkan wajah melasnya, meminta maaf dan merasa pasrah dimarahi oleh pria itu.
“Maaf, Rey. Aku … cuma kelaparan,” ucapnya pelan dengan wajah takutnya.
Rey memperhatikan wajah dan sikap Rara yang seperti anak kucing kehilangan induknya ini. Ia pun jadi merasa iba. Namun tiba-tiba saja matanya terfokus pada satu titik yang ada pada tubuh Rara.
'Ni cewek ... kok gede ...,' batin pria ini saat melihat bagian tubuh Rara yang terlihat begitu menantang. Rey pun jadi diam, mematung, menatap dua bentuk bulat yang membuat hasrat prianya menjadi meronta saat melihatnya.
Bersambung….