Reynaldi Arkana Beryl, pria yang biasa dipanggil Rey ini ternyata adalah anak dari teman ibunya Rara. Sungguh pertemuan yang tak disangka-sanga, saat tahu bahwa mereka akan bertemu lagi dalam keadaan seperti ini.
Rara terkejut bukan main saat tahu bahwa yang ada di hadapannya saat ini adalah pria yang hampir saja menciumnya di dalam room tempat karaoke. Rara masih tak percaya bahwa dirinya akan kembali bertemu dengan pria yang dianggapnya tak sopan ini.
Rey yang tak ingat dengan wanita di hadapannya itu, kini menggapai tangan Rara dengan malas sambil menyebutkan namanya dengan malas-malasan.
“Rey,” ucapnya singkat sambil mengalihkan pandangannya.
“Heh! Kamu itu lho, bisa sopan sedikit nggak sih? Nanti kalian ini bakal tinggal bareng, jadi harus akur.” Anita yang gemas dengan sikap anaknya itu berusaha menasehati putranya tersebut. Dia khawatir, mereka berdua tidak akrab selama tinggal dalam satu rumah yang sama.
“Ya udah, aku tinggal balik ke apartemenku. Lagian, siapa juga yang mau tinggal sama orang asing?” Rey melirik memandangi penampilan Rara yang nampak udik. Dia juga terlihat kesal saat menanggapi kehadiran Rara di sini.
Bagi Rey, Rara seperti orang yang sedang meminta belas kasihan keluarganya. Seolah keluarganya yang kaya raya ini, merupakan penyumbang untuk kehidupannya di ibu kota tersebut.
“Rara bakal ikut kamu di mana pun kamu berada. Kalau kamu balik ke apartemen, ya berarti Rara juga tinggal di apartemenmu.”
“HA? MAKSUDNYA?” Kedua anak ini pun terkejut bukan main saat mendengar ucapan Anita barusan. Mereka tak menyangka bahwa wanita ini akan mengatakan hal demikian kepada dua orang tersebut.
“Hhmm .. Jadi kamu tahu ‘kan Rey, Mami ada acara di luar negeri beberapa bulan ke depan. Mana mungkin Mami meninggalkan Rara sendirian di rumah? Mami itu udah janji sama ibunya Rara buat jagain anaknya. Tapi karena Mami lagi pergi jauh, jadi otomatis kamu sebagai anak Mami yang mewakili untuk menjaga anak teman Mami ini,” ujar Anita dengan penjelasan panjang lebarnya.
“Enak aja. Nggak. Biar aja dia tinggal sendiri.” Rey pergi menjauhi dua orang wanita itu. Dia tak ingin terlibat dalam pembicaraan konyol seperti ini. Baginya, obrolan ini membuat perasaannya menjadi kacau di pagi hari.
Bagaimana mungkin, ibunya sendiri malah menyuruhnya tinggal bersama dengan seorang wanita? Padahal jelas-jelas dirinya adalah pria dewasa.
“Mami itu udah gila apa gimana? Masa iya aku disuruh tinggal sama cewek?” gumam Rey yang mengoceh sendiri saat berjalan kembali ke dalam kamarnya.
Anita dan Rara hanya bisa menatap punggung pria tersebut. Mereka terdiam sejenak, merasa aneh dengan suasana pagi ini.
Anita kini menatap Rara. Ia pun tersenyum merekah, seolah ada maksud dalam senyumannya itu. Rara pun jadi tersenyum canggung membalas sikap Anita. Dia tak tahu harus bersikap apa saat ini untuk menanggapi ucapan Anita tadi.
“Ra, kamu nggak apa ‘kan, tinggal sama Rey? Tenang aja, dia itu jinak kok,” ucap Anita yang berusaha memberikan citra baik pada putra semata wayangnya itu.
‘Jinak apanya? Baru ketemu aja udah mau nyosor waktu itu. Ibunya ini, nggak tau aja kelakuan bejatt anaknya.’ Rara menanggapi ucapan Anita barusan dalam batinnya dengan perasaan kesal dengan tingkah Rey. Ia masih ingat betul kelakuan Rey yang sempat kurang ajar padanya.
Merasa perlu meluruskan hal ini, Rara kini berusaha memberi pendapatnya terhadap Anita atas usulannya tadi. “Bu Anita, kalau boleh, saya tinggal sendiri nggak apa-apa, kok, Bu,” ucap Rara dengan nada sopannya.
Anita menatap ke arah Rara dalam-dalam. Dia lalu menggelengkan kepalanya sambil menjelaskan kembali usulannya pada Rara.
“Enggak, Ra. Pokoknya kalian harus tinggal bareng. Nanti kalau kamu kenapa-napa gimana? Bisa-bisa saya yang dimarahi ibu kamu,” jelas wanita paruh baya nan cantik ini. “Lagian, kamu itu harusnya panggil saya, Mami. Jangan Bu Anita. Saya ini orang tuamu di sini, jadi, kamu harus panggil saya Mami. Okay darling?”
Sungguh Rara dibuat pusing dengan tingkah wanita ini. Belum juga rasa terkejutnya saat melihat Rey hilang, kali ini ia dipertemukan dengan ibu-ibu yang sikap dan sifatnya begitu antik.
Rara pun tak tahu harus menanggapi apalagi untuk bisa menolak permintaan Anita. Ia hanya bisa menganggukan kepala pelan, dan tetap menampilkan senyuman canggungnya.
“Ya udah, kalau gitu, Rara istirahat duduk dulu. Apa mau mandi? Bisa pakai kamar tamu buat mandi sama istirahat bentar di kamar sana, abis itu ikut shopping.”
Anita kembali menampilkan senyumannya. Sungguh Rara tak tahu harus bersikap apa untuk menanggapi wanita ini. Rasanya begitu aneh, dan membuat Rara menjadi amat canggung berada di keluarga ini.
Tapi, karena dirinya tak punya uang untuk tinggal dan hidup sendiri, Rara terpaksa mengiyakan apapun ucapan Anita barusan. Ia pun kini memilih untuk ke kamar tamu dan beristirahat sejenak di dalam sana. Sedangkan Anita, kini kembali menghampiri putranya.
Di dalam kamar tamu, Rara sengaja mengunci pintunya. Dia lalu duduk di tepi kasur, sambil mengoceh sendiri mengeluarkan segala uneg-unegnya.
“Temen Ibu itu gimana sih? Kok ya aneh gitu? Masa iya aku disuruh tinggal bareng serumah sama anaknya doang? Anaknya ‘kan cowok, udah gitu kelakuannya kayak gitu. Nanti jadi apa aku kalau serumah sama dia? Wah, parah keluarga ini!”
Rara menghela nafasnya saat selesai mengucapkan kalimat panjangnya itu. Setidaknya dia kini merasa lega, karena bisa mengeluarkan segala kegelisahannya.
Merasa tak enak karena sudah mengiyakan ajakan Anita tadi untuk berbelanja nantinya, Rara pun kini memilih segera membersihkan diri supaya dirinya siap saat Anita mulai mengajaknya pergi.
***
“Rey. Ayolah! Anterin Mami sama Rara dulu!” Anita kini terlihat sedang membuntuti putranya yang sudah terlihat rapi dengan pakaian setelan jeans yang dikenakannya.
Wanita ini masih memohon-mohon pada anaknya sendiri supaya mau mengantarkannya pergi bersama dengan Rara, yang hendak berbelanja di salah satu mall ibu kota.
“Mami, ‘kan ada Pak Supri. Emangnya aku sopir apa? Lagian, aku ada acara,” ucap Rey yang terlihat malas menanggapi sikap ibunya.
Rara mengintip di balik pintu kamar tamu yang sedang ia tempati itu. Ia melihat drama keluarga ini, dan merasa heran dengan sikap ibu dan anak tersebut.
Tiba-tiba saja Anita yang dari tadi menarik lengan baju putranya, kini merendahkan diri dan duduk sambil merengek seperti bayi kepada anaknya sendiri.
“Huwaaaa … kalau kamu nggak mau anterin Mami, berati kamu anak durhaka! Kamu tega sama Mami ya, Rey! Kamu mau malu-maluin Mami di depan anak teman Mami sendiri? Kamu tega banget sama Mami, Rey … Apa salah dan dosaku?”
Anita begitu histeris dengan sandiwaranya ini demi membuat putranya mau menurutinya. Rey pun jadi bingung, dan malu setengah mati dengan sikap ibunya ini.
Segera pria itu mengangkat tubuh Anita dan mengiyakan apapun permintaan ibunya kali ini demi terciptanya kedamaian dan kenyamanan dalam kehidupannya.
“Ya udah, ya udah, Mami berdiri dulu, ya. Cup, cup, cup. Yuk bisa yuk, bangun, Mami, please,” ucap Rey, yang seperti sedang mengasuh anak bayi besar.
“Mami salah apa sama kamu, Rey? Sampai kamu nggak mau temenin Mami?” Masih saja Anita merengek dengan tangisan palsunya.
“Nggak, Mami nggak salah. Aku yang salah. Maaf Mami. Sekarang mau ke mana? Biar Rey yang antar,” ucap Rey yang menanggapi sikap ibunya dengan malas.
Meski Rey tahu jika ibunya ini hanya sedang bersandiwara, tapi Rey tak ingin memperpanjang urusan. Dia tahu jika dirinya melarikan diri begitu saja, ibunya pasti akan bertingkah hingga mengganggu kehidupan sehari-harinya.
Anita pun segera berdiri dan tersenyum sumringah. Tangisan dan kesedihannya tadi, tiba-tiba hilang begitu saja, berganti dengan sikap antusias yang diperlihatkan olehnya.
“Akhirnya … memang anak Mami paling ganteng ini, baik banget, nurut, beuh … nggak ada yang ngalahin deh pokoknya.” Anita pun mulai berlebihan dalam memuji.
“Udah. Buruan. Aku tunggu diluar.” Rey pun segera keluar dari dalam rumah menuju ke mobilnya.
Sedangkan Anita, kini segera menghampiri Rara, yang ternyata dari tadi menyaksikan adegan konyol ibu dan anak itu. Rara pun pura-pura tak tahu, dan kini sedang merapikan diri menatap depan cermin.
Tak lama, Anita memasuki kamar tamu yang ditempati Rara dan segera mengajak anak perempuan itu untuk segera keluar dengannya. “Yuk, Ra! Udah siap ‘kan?” tanya Anita dengan sikap ramah.
Rara menolehkan wajahnya dan menatap Anita. Ia pun menganggukan kepala dan langsung menghampiri Anita. Mereka berdua berjalan bersama menuju ke luar rumah, untuk segera menaiki mobil Rey yang sudah siap di depan rumah mewah itu.
***
Sudah hampir empat jam mereka di dalam mall berjalan mampir ke sana kemari. Rara yang tak biasa dengan aktivitas ini, kini merasa pusing bukan main dengan apa yang sedang dirasakannya.
‘Duh, gawat. Kenapa jadi kliyengan gini?’ batinnya menanggapi keadaan dirinya.
Rara benar-benar merasa pusing saat ini. Ia baru saja sampai dari perjalanan panjang, belum sempat makan, dan langsung diajak jalan-jalan memasuki satu toko dengan toko yang lainnya di dalam mall megah ini.
Anita bahkan lupa tentang keadaan Rara sebenarnya, karena yang ia ingat hanya ingin membelikan Rara beberapa setelan baju baru yang bagus untuknya kuliah.
Hingga lama kelamaan, Rara pun kian pucat. Keringat dinginnya pun sudah keluar, dan sungguh kesadaran Rara kini kian berkurang.
Rey yang juga sudah bosan dengan aktivitas ibunya ini, tak sengaja menatap wajah Rara yang terlihat tak baik-baik saja. Ia merasa penasaran dengan keadaan wanita itu, dan mengajukan pertanyaan padanya.
“Mukamu kenapa? Jelek amat,” ucap Rey dengan mulutnya yang sembarangan.
“Hm?” Rara menoleh ke arah Rey dengan tatapan yang kian buyar. Dan tiba-tiba saja …
BRUK!
Tubuh Rara terjatuh ke lantai, dengan kesadaran yang sudah minim. Rey yang melihat Rara terjatuh di depan toko ini pun, langsung menghampirinya dan meraih tubuhnya dengan panik.
Bersambung..