Bab 2

2095 Kata
Tanpa basa-basi, Rara pun langsung mendorong bahu pria yang tengah mabuk itu dengan kasar, sampai akhirnya kedua tangannya bisa terlepas dari cengkraman pria tersebut. Namun sayangnya, pria itu kembali meraih tangan Rara dan semakin mendekatkan tubuhnya menekan tubuh Rara. "Tuan, tolong hentikan!” teriak Rara ketika pria mabuk itu semakin bertindak kasar padanya. Sungguh hal ini benar-benar di luar kuasanya. Rara amat ketakutan tapi ia pun tak dapat berbuat apa-apa untuk melawan pria ini. Hingga saat Rara hendak mencoba meloloskan diri kembali dengan terus menggerakan tubuhnya memberontak, tiba-tiba saja pria itu malah jatuh tergeletak begitu saja di atas tubuh Rara, lalu tertidur pulas dengan mulut yang terbuka lebar. Rara yang masih merasa syok dengan debaran di dadanya yang hendak meledak ini, kini mencoba membuka matanya lebar-lebar dan mengintip pria yang sedang tidur di depan pandangannya. Ia pun segera mendorong pria itu hingga jatuh terbaring di sofa, dan langsung bangkit dari posisi duduknya. "Dasar Wong Edan!" teriak Rara mengumpat. Ia pun mengusap dadanya yang masih terasa berdebar bukan main. Rara berusaha menguasai diri dan langsung bergegas ke luar dari ruangan tersebut menuju ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi ini, Rara menatap dirinya di depan cermin. Tubuhnya masih terasa gemetaran bahkan saat ini wajahnya pun terlihat berkeringat dan memucat karena begitu ketakutan, atas kejadian yang dialaminya saat menemani tamu pertamanya karaoke tadi barusan. Wanita ini terlihat menyesali keputusannya yang nekat pergi ke tempat berbahaya seperti ini tanpa tahu apa pekerjaan yang ditawarkan oleh Nita. Hal itu membuatnya malu, dan ia pun merasa bersalah pada dirinya sendiri. “Ngapain aku ke sini? Harusnya aku nggak usah ke sini ... harusnya aku nolak buat ngelakuin ini semua ...," ujarnya yang kini menangis menyesali keputusannya. Kejadian ini membuat nafas Rara kian sesak. Ia merasa benar-benar merasa salah mengambil keputusan dan masih saja terlihat begitu ketakutan. Rara yang merasa hampir ternodai karena sikap pria mabuk tadi, kini merasa bahwa dirinya menjadi wanita yang tak suci lagi, meski dia belum diapa-apakan saat kejadian itu berlangsung. Baginya, tindakan pria itu sangat semena-mena, dan tidak manusiawi. Meski pria itu terlihat tampan, mapan, dan jantan, tapi tetap saja bagi Rara dia hanyalah pria yang tidak tahu aturan karena sudah bersikap kurang ajar padanya. *** Sehari usai kejadian itu, Rara memilih mundur. Ia tak mampu bertahan jika harus melewati hal seperti itu terus menerus. Walau semalam nasib Rara masih terhitung beruntung karena pria itu tiba-tiba pingsan begitu saja, namun tetap saja kejadian itu meninggal ketakutan yang membekas di pikirannya. “Maaf, Nit. Sepertinya aku … nggak bisa lanjut kerja di tempatmu,” ujar Rara dalam panggilan telepon, saat dirinya sudah berada di rumahnya kembali. Rara mengira, Nita akan mengamuk memarahinya. Namun ternyata temannya itu malah bersikap biasa saja, seolah bisa menduga apa yang akan dilakukan Rara itu. “Hm, iya gak apa sih, Ra. Tapi harusnya kamu nggak kabur gitu aja," jawab Nita dengan santai. "Oh iya, ini ada titipan dari Bosku, sama ada juga tips dari pria mabuk kemarin. Kamu mau ambil ke sini, apa tunggu aku ke rumahmu? Kayaknya aku besok mau pulang ke kampung sih,” lanjutnya sambil menjelaskan keadaan. "Kalau kamu yang ke sini aja, nggak apa 'kan Nit?" tanya Rara dengan hati-hati, karena merasa tak enak dengan temannya itu. Rara lebih memilih menyuruh Nita untuk ke rumahnya ketimbang dia harus ke kota lagi. Rasanya masih trauma jika mengingat kejadian yang telah menimpanya kemarin. “It’s okay. Aku bakal ke sana, besok. Tunggu, ya!” “Oke. Aku tunggu. Duitnya. Hehe ….” Rara pun kini mulai berani bercanda saat tahu jika temannya tak merasa bermasalah dengan permintaan dan juga sikapnya tersebut. Wanita ini bahkan jadi senyum-senyum sendiri mengingat uang yang akan diperolehnya dari pekerjaan semalam, meski ia tak berhasil menyelesaikannya dengan baik. Panggilan mereka pun akhirnya berakhir. Lalu Rara kembali melanjutkan pekerjaan rumahnya lagi, membantu ibunya membereskan rumah saat orang tuanya itu sedang tak ada di sini. Tapi selang beberapa menit kemudian, ibunya Rara tiba-tiba pulang dan segera memasuki rumahnya dengan begitu heboh. Ia berlari memanggil nama putrinya itu untuk memberinya kabar baik. “Raaa! Nduk! Sini! Ibu dapat kabar baik!” serunya sambil tergopoh-gopoh mencari Rara. Gadis manis itu masih berada di dalam dapur. Ia mendengar ibunya yang sedang berteriak memanggil namanya, dan langsung mengarah mendekati asal suara tersebut. “Ada apa, Bu? Kenapa jadi heboh gitu?” tanya Rara saat dirinya sudah berhadapan langsung dengan ibunya. “Ra! Tadi Ibu dapat telepon dari teman lama Ibu yang tinggal di Jakarta! Iseng, Ibu cerita kalau kamu mau kuliah di sana tapi belum dapat tempat tinggal. Terus tiba-tiba, temen Ibu malah nawarin supaya kamu tinggal di rumahnya saja! Gratis, Nduk!” Bola mata Rara membulat saat ibunya menceritakan hal itu. Dia sangat senang, karena akhirnya bisa ke Jakarta dan punya tempat tinggal saat di sana. “Itu beneran, Bu? Nggak bohong ‘kan?” tanya Rara berusaha memastikan apa yang baru saja dia dengar. “Beneran, Sayang. Ibu tadi juga udah tanya berulang kali. Tapi memang teman Ibu itu, baik sekali dari dulu. Dia memang kaya raya, tapi tidak pernah sombong. Kalau tinggal dengan dia, Ibu yakin kamu baik-baik saja!” ujar ibunya Rara penuh penegasan. Rara pun jadi lega. Ia tak perlu merasa pusing lagi memikirkan tempat tinggalnya di ibu kota tersebut. Rara langsung menyetujui hal itu, dan meminta Ibunya untuk mengkonfirmasi persetujuannya pada temannya tersebut. *** Esok harinya, Rara sudah bersiap untuk segera ke Jakarta. Teman ibunya yang bernama Anita itu, memang terdengar ramah dan juga sangat hangat saat berbicara di dalam panggilan telepon kemarin. Rara pun disuruh untuk ke sana, secepat mungkin, dan bertemu dengannya langsung. Tentu hal tersebut disambut baik oleh Rara. Ia jadi tak sabar untuk segera menginjakan kaki ke ibu kota yang dikata sangat berbeda dengan kehidupannya selama ini. Gadis ini, kini segera merapikan beberapa pakaian dan keperluannya yang akan dibawa ke Jakarta. Dia bergegas menata barang-barangnya tersebut di dalam tas ransel yang akan dibawanya. Saat Rara sedang asyik dengan kegiatannya, tiba-tiba saja Nita datang dan langsung masuk ke dalam kamar. “Woy, Ra! Mau kabur ke mana lagi kamu?” tanyanya mengagetkan Rara yang sedang fokus menata pakaiannya. “Jabang bayi!” Rara menegakan tubuhnya, dan mengelus dadanya. “Hais! Kamu tu lho, Nit! Ngagetin aja! Mbok ya ketuk pintu dulu!” seru Rara yang merasa jantungnya hampir copot mendengar suara Nita yang mengejutkannya. “Lah, udah diketuk dari tadi tapi nggak ada yang jawab. Ya udah aku masuk aja. Anggap aja rumah sendiri," ucap wanita ini dengan serampangan. Nita langsung duduk mendekat ke arah Rara. Memang, temannya ini agak kurang sopan dan suka semaunya sendiri. Rara pun sudah biasa dengan sikap Nita yang seperti itu adanya. “Kamu mau ke mana, sih? Kok packing-packing kayak gitu. Bawa-bawa banyak tas segala?” tanya Nita lagi, sambil memperhatikan temannya yang sedang sibuk menata pakaiannya. “Aku jadi ke Jakarta, Nit! Nanti malam aku pergi ke sana! Akhirnya ada orang baik yang mau nampung aku! Huhu … Ya ampun ... Aku terharu banget tau nggak sih, Nit.” Rara memasang ekspresi terharu dengan wajah mewek, meski dirinya tidak benar-benar mengeluarkan air matanya. Nita yang mendengar ucapan Rara barusan, jadi ikut senang bukan main. Ia pun menanggapi ucapan Rara barusan dengan wajah berbinar dan sindirannya. “Beneran, Ra? Wuih! Jadi anak kota dong, elu?” “Apaan, sih, elu elu?!” “Ya ‘kan jadi anak gahol gitu! Awas aja lu yak, kalau sampe lupa sama gue,” ucap Nita dengan bahasa sok gaul khas anak Jakarta, namun dengan nada medhok khas orang Jawa. “Iiih! Udah, ah! Mana duitku? Lumayan buat sangu ke Jakarta. Hehe ….” Rara meringis dan menengadahkan tangannya. Ia sangat mengharapkan uang yang akan diterimanya ini. Nita langsung memberikan dua amplop kepada Rara. “Nih! Yang ini dari Pak Bos. Yang satunya lagi dari cowok yang kamu temani. Katanya Pak Bos, waktu tuh cowok sadar, dia nitip minta maaf ke kamu karena dia mabuk dan pingsan tiba-tiba. Trus dia nitip amplop ini juga buat dikasih ke kamu.” Rara meraih amplop tersebut. Dia lalu mengintip amplop tersebut. ‘Hm? Banyak banget isinya? Ini beneran apa salah itu?’ batin Rara menerka-nerka jumlah uang yang telah diperolehnya. “Gimana? Langsung jadi tajir kamu, Ra? Jajanin cilok lah!” seru Nita menyindir. “Apaan, sih, Nit? Hu! Ini kan buat sangu ke Jakarta. Lumayan. Eh, tapi kalau mau jajan cilok ya ayuk! Kita jajan dulu sebelum aku berangkat ke perantauan,” ajak Rara menanggapi ucapan temannya itu. Nita pun jadi tersenyum mendengar permintaannya dikabulkan oleh Rara. Kini mereka pun akhirnya pergi keluar bersama. Mereka menikmati sore hari sebelum keberangkatan Rara menuju ke ibu kota, tempat dirinya merantau mencari ilmu. Saat Rara hendak berangkat ke Jakarta, ibunya dan Nita hanya mengantarkan gadis beranjak dewasa tersebut ke halte bus. Mereka pun berpisah dan ibunya memberikan beberapa pesan padanya. “Jaga diri ya, Nduk. Di sana jangan merepotkan teman Ibu! Kamu baik-baik ya. Kabari Ibu terus pokoknya!” ujar Ibunya dengan tangisan yang tak dapat ia tahan. Padahal, wanita ini tak pernah melepaskan putrinya sejauh ini. Namun karena keinginan anaknya itu begitu kuat, ia tak ingin menghalangi cita-cita anaknya itu. “Iya, Bu. Pasti akan aku kabari. Nanti aku juga bakal kabari ke teman Ibu kalau sudah sampai di sana langsung,” jawab Rara menanggapi ibunya. “Ra, jangan lupain aku ya kalau udah jadi anak gahol!” seru Nita yang ikut menanggapi perpisahan ini, sambil melambaikan tangannya ke arah Rara. Rara pun hanya tersenyum menanggapinya dan ikut membalas lambaikan tangan. Lalu ia segera menaiki bus yang menuju ke ibu kota tercinta. Meski terasa berat untuk meninggalkan kota tempat tinggalnya ini, namun karena tekadnya begitu besar, Rara tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah menghampirinya itu. *** Tibanya di Jakarta, Rara dijemput oleh supir dari teman ibunya. Untung sebelumnya Rara sudah dikabari oleh Anita, jika dirinya akan dijemput oleh pria bertubuh tambun yang membawa papan nama bertuliskan namanya. Rara pun celingukan mencari orang yang dimaksud, saat dirinya sudah berada di pintu keluar terminal bus ini. Hingga akhirnya Rara menemukan pria yang dimaksud itu. “Non Rara ya? Saya Supri, Non. Sopirnya Ibu Anita,” ujar pria tersebut ketika menyadari ada wanita yang mendekatinya. “Ah, iya, Pak! Saya Rara,” jawab gadis ini dengan senyuman canggungnya. “Kalau begitu, mari, Non! Saya antar langsung ke rumah Bu Anita.” Rara menganggukan kepala. Ia segera mengikuti sopir tersebut dan langsung diantarkan menuju ke rumah mewah milik wanita bernama Anita Beryl. Wanita itu merupakan sahabat ibunya Rara jaman dulu kala, yang memang begitu kaya raya. Sesampainya di depan pintu yang megah ini, Rara disambut oleh sang pemilik rumah. Anita pun menyapa Rara dengan begitu ramah. “Halo! Ini Rara ya? Cantik sekali,” ujar wanita itu yang padahal terlihat lebih cantik dibanding Rara. Hanya saja memang terlihat lebih tua dari gadis desa ini. Rara masih tersenyum dengan malu-malu. Dia merasa terpesona dengan rumah yang begitu megah, yang biasanya hanya bisa dia lihat di sinetron-sinetron yang ada di televisi saja. Gadis tersebut kemudian diajak masuk ke dalam rumah, oleh pemiliknya. “Ayo Ra! Masuk dulu. Anggap saja rumah sendiri,” ujar wanita itu lagi yang begitu antusias menyambut Rara. Rara mengikuti wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah. Lalu teman ibunya pun kini memperkenalkan pria yang baru saja turun dari lantai dua dan hendak menuju dapur. “Eh, tunggu, tunggu! Sini dulu, Rey! Mami kenalin kamu sama anak temen Mami yang bakal tinggal di sini untuk sementara waktu.” Anita menghampiri putranya itu, yang masih terlihat lusuh dengan rambut acak-acakan. Ray yang baru saja bangun tidur, masih bingung dengan ucapan ibunya ini. “Ha? Apaan? Sejak kapan rumah kita jadi tempat penampungan” ucapnya sembarangan. Anita pun langsung mengeplak punggung putranya ini, dan menyuruhnya bersikap sopan. Lalu ia membawanya menghadap Rara untuk memperkenalkan diri satu sama lain. “Ra, kenalin ini, Rey. Putra tante yang paling ganteng,” ucap Anita dengan wajah sumringahnya. Rara yang tadinya masih terpesona dengan seluruh sudut ruang ini, kini menatap Anita. “Ah, iya, Bu.” Rara mengulurkan tangannya dan mengenalkan diri pada pria yang ada di sebelah Anita. “Saya, Ra-ra.” Rara mematung setelah memperkenalkan diri dengan memenggal namanya. Ia begitu terkejut, ketika tahu jika pria yang berada di samping Anita ini, adalah pria yang menjadi tamu pertamanya di tempat karaoke beberapa hari lalu. Sungguh wajah pria itu masih teringat jelas di pikiran Rara. Ia pun kini mendelik menatap Rey, dan merasa tak percaya atas apa yang dilihatnya barusan. 'Di-dia ... cowok yang waktu itu bukan?' batin Rara pun mempertanyakan hal ini dengan begitu panik. Ia benar-benar tak menyangka, bahwa dirinya akan bertemu lagi dengan pria yang paling ingin dilupakannya ini. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN