Nadine membeku. Suara itu. Ia tahu suara itu. Terlalu dikenalnya. Terlalu menghantui malam-malam terburuk dalam hidupnya. Perlahan, ia menoleh. Pria itu berdiri dengan mantel hitam dan syal abu yang dibungkus rapi di leher. Rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir kali Nadine melihatnya, tapi mata itu masih sama. Mata yang dulu menatapnya dengan penuh cinta dan belati pengkhianatan. Adrian. Jantung Nadine berdegup begitu kencang seolah hendak memecah dadanya. Tangannya yang menggenggam kantong plastik mulai gemetar, tapi ia mencoba menenangkan diri. “Kamu…” Nadine hampir tak percaya suara yang keluar dari mulutnya. “Bagaimana bisa kamu di sini?” Adrian tersenyum getir, langkahnya perlahan mendekat. “Aku tahu kamu ke Boston. Kembalilah padaku Nadine. Dia sudah membuangmu, kan?”

