Leonard mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. Berita miring soal Nadine cukup mengusik hatinya. Kenangan masa lalu satu-persatu berkelebat di kepala. Pria itu bahkan memejamkan mata dengan rahang mengeras. Punggungnya tersandar di kursi. "Tidak. Tidak mungkin kejadian itu terulang lagi." Dadanya naik turun. "Nadine tidak memiliki sesuatu yang bisa menguntungkan." Sikutnya ditaruh ke atas meja, dengan jari jemari mengelus dagu dengan lembut. Matanya berubah tajam. "Aku tidak boleh menyerah. Kalaupun aku menyerah, seharusnya sejak dia meninggal, bukan?" Leonard keluar dari ruang kerjanya. Raymond sudah berada di depan sembari menenteng tablet. "Kita adakan meeting sekarang." Leonard berhenti. Raymond tersenyum tipis dengan menaikkan kedua alis. "Pekerjaan Mendagri," tegas Leonard.

