Bibir Leonard terangkat begitu pesan yang ia ketik terkirim. Hatinya terasa hangat, rasanya tak sabar ingin keluar dari ruang meeting. Namun tatapan puluhan pasang mata dari para pejabat tinggi yang duduk melingkar di ruangan itu membuatnya harus menahan diri. Ia menyandarkan punggung ke kursi kulit cokelatnya, lalu mengangkat dagu sedikit—mengembalikan aura otoritasnya sebagai Menteri Dalam Negeri Republik ini. "Pak Leonard," suara Direktur Jenderal Otonomi Daerah memecah keheningan, "terkait data wilayah perbatasan Kalimantan Utara, ada inkonsistensi koordinat dan potensi celah hukum yang bisa dimanfaatkan pihak asing." Leonard mengangguk pelan, jemarinya mengetuk pelan meja bundar. "Saya ingin semua data lintas kementerian dikompilasi ulang. Termasuk laporan militer dari pertahanan,

