37

1075 Kata

Alexander termenung di kursi goyangnya. Ia menyesap cerutu hingga asap mengebul pekat. Tangan kirinya sibuk mengetuk sadaran, dengan sorot tajam ke arah paludarium. Di dalam kepalanya berisi banyak hal, terutama putranya. "Aku tidak menyangka dia sekeras kepala itu," gerutunya setelah menyembulkan asap ke udara. Wajahnya yang keriput dengan mata sayu, tak menurunkan vibes dark darinya. "Tidak ada cara lain. Aku harus menekan anak itu, sebelum terlambat." Pada saat itu terdengar ketukan heels di atas marmer. Wanita paro baya dengan dress merah ketat bahan beludru, membelai lembut d**a suaminya. Lipstik merah menambah pancaran kecantikannya yang tak lekang oleh waktu. "Sedang mikirin apa, Pa?" tanyanya lembut, sedikit berbisik di telinga Alexander. "Seperti yang kamu duga." Pria itu me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN