9

1138 Kata
Evelyn mencoba tersenyum, tapi senyumnya goyah. “Itu... itu pasti palsu,” katanya, suaranya tak lagi setegas tadi. “Kau mencetak sendiri, siapa yang tahu?” Nadine mendekat perlahan, tetap tenang. Ia tak mengangkat suara, tapi justru karena itu, setiap kata yang diucapkannya terdengar lebih tajam. “Kau bisa bilang itu palsu,” ujarnya, “tapi Adrian tahu tulisannya sendiri. Tanda tangannya. Kita lihat saja apakah dia berani menyangkalnya.” Dan seolah semesta merespons, terdengar kegaduhan kecil dari arah pintu masuk ballroom. “Permisi. Boleh saya lewat?” Semua kepala menoleh. Adrian. Muncul dari balik pintu dengan setelan abu-abu gelap yang sedikit kusut, dasinya longgar, wajahnya tampak tegang. Ia baru tiba. Dan jelas belum tahu apa yang terjadi. Evelyn langsung melangkah ke arahnya. “Sayang! Kamu yang mengundang dia ke pesta kita?!" tanpa sadar wanita itu bertanya dengan nada tinggi. Emosinya memuncak karena dipermalukan Nadine. Saat melihat sosok yang ditunjuk istrinya, kedua alis Adrian mengerut. Adrian menatap Nadine, lalu menatap undangan lusuh di tangannya yang terangkat setengah. Sorot matanya berubah—dari bingung, menjadi tak percaya. Ia mendekat perlahan, seolah ingin memastikan apa yang dilihatnya nyata. “Nadine… apa yang kamu lakukan di sini?” suaranya nyaris berbisik, tapi tetap terdengar oleh mereka yang berdiri dekat. Nadine membeku. Harapan kecil yang masih ia genggam, luruh seketika. Ia menatap Adrian, mencari pembelaan. Penegasan. Namun, yang ia dapat hanyalah keterkejutan yang terlalu jujur untuk dipalsukan. Apakah 5 tahun yang mereka habiskan bersama, tak sedikitpun mengetuk hati Adrian? Sekarang Nadine sedang dipojokkan, dan pria itu tak membantunya sedikitpun! “Aku... diundang,” katanya, lebih pelan dari sebelumnya. Ia menyerahkan undangan itu. “Dengan tanda tanganmu. Juga Evelyn.” Adrian mengambilnya. Matanya menyisir setiap huruf. Bibirnya mengatup rapat. Ia menoleh pada Evelyn. “Kamu yang kirim?” Evelyn mengangkat bahu. “Aku? Mana mungkin. Aku bahkan nggak tahu dia masih hidup di Jakarta. Mungkin dia bikin sendiri undangan itu. Photoshop sekarang bisa segalanya.” Beberapa tamu tertawa rendah, geli, sinis. “Ada-ada saja. Masuk ke pesta orang kaya dengan modal printer dan delusi,” celetuk Xenia sambil menyalakan kembali livestream-nya. “Mental gratisan.” “Tanda tangannya juga palsu kali, bro,” timpal seorang pria dengan jas kebesaran. “Lihat dong itu kertas, lebih lusuh dari hati dia.” “Jangan-jangan ini plot twist, dia sebenarnya psikopat yang mau sabotase pernikahan,” bisik Yeli pada temannya. “Gaya datengnya tuh kayak karakter antagonis di film thriller.” “Pasti dia kirim undangan ke dirinya sendiri. Niat banget, gila,” kata wanita bergaun merah menyala sambil tertawa lepas. “Bener-bener pengen eksis.” Seseorang dari kerumunan mendesis, “Dia pikir ini drama Korea? Sayangnya, bukan dia pemeran utamanya.” “Kalau aku jadi Evelyn, beneran malu deh. Mantan Adrian tuh kayak... kutukan.” Nadine mendengar semuanya. Setiap kalimat seperti cambuk yang menyayat harga dirinya. Di sisi lain, Adrian masih menatap undangan itu. Tangannya mengendur, dan kertas lusuh itu jatuh ke lantai. Perlahan. “Aku… tidak pernah menulis ini,” katanya akhirnya, suaranya pelan tapi tegas. Seluruh ruangan seolah menghela napas bersamaan. Evelyn menatap Nadine dengan sorot puas, seolah baru saja memenangkan pertarungan pamungkas. “Dengar sendiri, kan?” katanya. “Bahkan dia tidak mengakuinya.” Nadine terdiam. Matanya terpaku pada kertas undangan yang kini tergolek di karpet mewah seperti bukti kejahatan yang gagal dibuktikan. Jemarinya mengepal, tapi tubuhnya tetap tegak. “Ini asli,” ulang Nadine, suaranya mulai bergetar meski ia berusaha keras menahannya. “Aku berani bersumpah kalau aku tidak mencuri undangan itu dari siapapun. Aku... aku bahkan ragu untuk datang. Tapi aku datang karena aku yakin... ada alasan aku diundang.” Ia menatap Adrian. Pandangan yang basah tapi tetap menyala. “Kamu tahu tulisanmu sendiri. Aku tidak mungkin bisa menirunya. Kamu tahu aku tak akan pernah... melakukan sesuatu seputus asa itu. Bukan untukmu.” Namun, Adrian hanya diam. Rahangnya mengeras, tatapannya kosong—seperti seseorang yang lebih takut pada keributan sosial daripada pada luka yang pernah ia tinggalkan. Dan itu cukup bagi Evelyn untuk menghantamkan palu terakhir. “Kau dengar sendiri kan? Drama. Selalu drama,” katanya lantang, menoleh ke para tamu. “Makanya, mantan tuh harusnya dikubur dalam-dalam, bukan dikasih panggung!” Tawa menggema lagi. Kali ini lebih bebas. Beberapa orang bertepuk tangan pelan, geli melihat kericuhan ini seolah itu hiburan dadakan. “Lagian, siapa sih Nadine ini?” Xenia mendekat sambil mengarahkan kameranya ke wajah Nadine. “Biar netizen tahu juga. Pustakawan gagal? Mantan pacar yang nggak move on? Aduh, jangan-jangan dia yang dulu ngaku-ngaku tunangan Adrian tuh?” "Bener banget! Apalagi Adrian kan CEO perusahaan elit di negara ini. Siapa sih, yang nggak tergoda buat ngemilikin Adrian." “Kalau iya, wah, ini perempuan delusional banget sih,” sambung yang lain. “Masih berharap mantan ngajak balikan setelah lima tahun? Wake up, girl.” Nadine hanya berdiri. Pundaknya tampak kaku, matanya mengilat. Semua tamu undangan dalam pesta ini, jelas dari kalangan elit. Namun, setiap kata yang terucap dari bibir mereka seperti kotoran yang dilempar ke wajahnya. “Aku tidak peduli kalian percaya atau tidak,” kata Nadine akhirnya. Suaranya lirih, tapi tak goyah. “Aku tidak datang untuk dilihat. Aku hanya datang untuk mengembalikan sesuatu yang seharusnya tak lagi bersamaku.” Ia meletakkan kotak beludru itu di meja terdekat. Sejenak, ia memandang Adrian—tatapan yang penuh luka, tapi juga keputusan. “Kau bilang dulu, aku selalu punya tempat dalam hidupmu,” katanya perlahan. “Sekarang aku tahu... tempat itu sudah ditutup. Digembok. Dan kau bahkan lupa di mana kuncinya.” Adrian, yang ingin menunjukkan dirinya sebagai pria baik, justru ikut mempermalukan Nadine. “Nadine, aku harap kau datang ke sini bukan untuk membuat keributan. Apalagi kamu sampai memalsukan undangan begini. Jangan sampai orang-orang berpikir kau ini mantan gila yang tidak bisa menerima kenyataan.” Semua tamu tertawa, seakan mendukung Evelyn dan Adrian. Tawa yang bergema di ruangan itu tak ubahnya peluru-peluru halus yang menghujam harga diri Nadine. Semua mata tertuju padanya, bukan dengan kagum, tapi penuh cemooh. "Dia pikir ini film ya?" Xenia kembali menyindir sambil menunjuk Nadine dengan kamera ponselnya. "Plot twist: mantan datang ke nikahan dengan undangan palsu dan drama gagal." “Dasar pencuri perhatian,” tambah wanita bergaun merah. “Atau... pencuri undangan? Itu undangan VVIP, lho. Kamu nyolong dari mana?” “Kalau aku jadi panitia, udah kulempar dia keluar dari tadi,” sahut seorang pria tinggi, lalu menatap Nadine dengan jijik. “Nggak tahu malu.” “Pantas aja undangannya lusuh. Mungkin dia ambil dari tong sampah,” ucap Evelyn sambil tertawa angkuh, lalu menatap Adrian, seolah minta disetujui. Adrian menghela napas. "Nadine, tolong… ini hari penting buat kami. Kamu datang tanpa izin, dan membawa sesuatu yang bukan milikmu. Aku minta kau pergi sebelum ini jadi lebih buruk." Nadine menatap Adrian, matanya tak berair, tapi penuh luka. Sebelum Nadine sempat mundur, suara tegas terdengar di balik kerumunan. “Cukup!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN