10

1295 Kata
Seketika itu juga, ballroom yang sebelumnya dipenuhi denting gelas dan tawa mewah berubah menjadi ruang yang membeku dalam hening menegangkan. Semua mata terarah pada sosok pria berwibawa yang kini melangkah masuk—Leonard Sinclair, tokoh politik karismatik yang dikenal luas di media nasional sebagai pria yang licin, berbahaya, dan hampir selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Suara langkah sepatunya menggema di atas marmer ballroom. Nadine yang tadinya hendak melangkah mundur terhenti begitu saja, tubuhnya menegang. Ia mengenali suara itu. Tidak salah lagi. Tapi ia tidak mengerti 'apa yang Leonard lakukan di sini?' Evelyn terkejut bukan main. Wajahnya seketika pucat saat menyadari siapa yang berdiri hanya beberapa meter darinya. Sementara Adrian tampak gelisah. Jelas sekali ia mengenal Leonard. Bahkan pernah menjalin kedekatan politik yang sangat rahasia dengannya. Tapi yang membuat jantungnya berdegup lebih keras adalah kenyataan bahwa Leonard tak pernah muncul tanpa alasan. Leonard berhenti tepat di depan Evelyn dan Adrian. Tatapannya gelap. Napasnya tenang, tapi aura tekanannya begitu kuat, membuat semua orang secara naluriah menjauh. “Cukup,” ulangnya lagi, kali ini lebih pelan namun penuh ancaman. Matanya menelusuri wajah Evelyn, lalu berhenti di dagu wanita itu. Tanpa banyak bicara, Leonard mencengkeram dagu Evelyn dengan satu tangan—erat, mendadak, dan kasar. Evelyn tersentak kaget, kedua matanya membulat dalam teror. Beberapa tamu berteriak kecil. Seorang wanita tua bahkan menutup mulutnya, terkejut oleh keberanian Leonard. “Menarik,” ujar Leonard pelan namun tajam. “Kau berbicara seperti wanita kelas atas, Evelyn. Sombong, berlagak punya derajat. Tapi kenyataannya... kau hanya menikahi pria murahan ini demi status.” Adrian tersinggung, melangkah maju. “Leonard, apa maksudmu bicara seperti itu? Ini hari pernikahan kami.” Namun Leonard tidak mengalihkan tatapannya. Ia hanya mencibir dan berkata dengan nada mematikan, “Pernikahanmu adalah lelucon. Dan kau bahkan tak menyadarinya.” Evelyn mencoba melepaskan dagunya, tapi cengkeraman Leonard makin erat. “Kamu kira kamu sudah menang, ya? Setelah menjatuhkan perempuan sebaik Nadine dan menjadikan pernikahan ini sebagai panggung kesombonganmu?” Semua orang terkejut dengan keberanian Leonard. Evelyn menggertakkan gigi, wajahnya mulai memerah. “Lepaskan aku!” “Dengan senang hati,” jawab Leonard sinis. Ia melepaskan dagunya kasar, membuat Evelyn terhuyung sedikit. Lalu Leonard berbalik ke arah Nadine. Tatapannya melunak—sedikit saja, cukup untuk menunjukkan bahwa niatnya bukan menjatuhkannya. Ia mendekat, lalu berbicara dengan suara rendah, namun terdengar oleh semua orang yang kini menahan napas. Evelyn merah padam, Adrian terlihat tegang, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena siapa pun tahu bahwa Leonard bukan orang yang bisa dia lawan. Leonard mengulurkan tangan ke arah Nadine, seakan mengklaimnya di depan semua orang. “Aku tidak punya waktu untuk berada di tempat rendahan seperti ini. Ayo pergi, Nadine.” Ruangan tetap terdiam. Tidak ada musik, tidak ada tepuk tangan, tidak ada senyum yang tersisa di antara gaun-gaun mahal dan jas-jahitan Italia. Yang tersisa hanyalah ketegangan yang begitu padat, seolah udara pun enggan bergerak. Nadine mematung. Matanya menatap tangan Leonard yang terulur padanya. Ia bisa merasakan tatapan semua orang menusuk ke arahnya. Tatapan menghakimi, penasaran, takut, dan... beberapa bahkan kagum. Bahkan Evelyn pun membeku, tak menyangka Leonard Sinclair akan membela Nadine, wanita yang baru saja mereka singkirkan dari hidup mereka. “Ayo pergi, Nadine,” ulang Leonard, lebih pelan, namun nada suaranya mengandung ultimatum. "Apa kamu ingin menghancurkan pesta ini dan seisinya?" Ucapan itu meledak seperti petir di siang bolong. Beberapa tamu langsung menoleh ke arah wartawan yang berdiri di sisi ruangan, menurunkan kameranya dengan gugup. Ia sadar, ini lebih dari sekadar pesta. Ini potensi bom politik. Tangan Nadine terulur perlahan. Leonard menyambarnya dan meninggalkan ballroom yang penuh kemerlapan bertoreh sampah. Di sini hanya terisi orang sombong yang mendongakkan dagu serta bermulut tajam. "Dia dibawa pergi Mendagri. Luar biasa!" sahut tamu lain yang takjub melihat pemandangan tersebut. BEberapa pengawal Leonard berkeliling memastikan tidak ada yang mendokumentasikan kejadian barusan. Begitu pula anak buah Adrian. "Pastikan tidak ada yang mengambil foto dan video dari kejadian barusan!" perintah pengantin pria. Dia merasa dipermalukan dengan sikap Mendagri barusan. Bisa-bisa citranya hancur, karena kejadian tadi. Adrian yang melihat mantan kekasihnya dibawa pergi, mengeratkan tangan. Emosinya mendidih. "Ada apa antara Nadine dan Leonard?" batinnya bergejolak. Ia menatap nyalang ke arah mereka. "Aku tidak akan membiarkanmu jatuh ke tangan siapapun Nadine! Sekalipun aku menikah dengan wanita lain, kamu tetap milikku." Ekspresi pria itu menegang, batinnya mendidih. "Kenapa Nadine bisa bersama Leonard?" Evelyn ikut membatin menatap kepergian mantan sahabatnya. Namun, saat menoleh ke arah suaminya, Evelyn menangkap gelagat aneh. "Tidak mungkin..." Di sisi lain, Nadine terseret oleh langkah panjang Leonard. Leonard tak menyangka akan menghadiri acara yang sangat menjijikkan begini. Tak ada martabat sama sekali, tetapi keberadaan Nadine cukup membuatnya puas. Akhirnya dia menemukan wanita yang ia cari selama beberapa bulan ini. Nadine yang terseret oleh langkah Leonard, mendadak limbung. "Agh!" ringinsnya sembari memegang perut. Leonard yang sebelumnya bak kesetanan segera menoleh dan mendapati Nadine menunduk. Di pelipis wanita itu terdapat keringat seukuran jagung, wajahnya sudah pucat pasi. "Kenapa?!" Belum sempat mendapat jawaban, Nadine sudah tersungkur. Mata Leo melebar. Ia berteriak, "bukakan kamar! Panggil dokter!" Leonard mengangkat tubuh Nadine ke dalam pelukannya secepat mungkin. Ia bisa merasakan betapa ringan dan rapuh wanita itu. Tubuhnya dingin, napasnya pendek-pendek, dan wajahnya pucat seperti lembaran kertas. Dalam langkah-langkah panjang, Leonard menerobos lorong hotel mewah milik ibunya yang dipenuhi pengawal dan staf yang segera membungkuk memberi jalan. “Kamar utama. Sekarang!” perintahnya tajam kepada salah satu asistennya yang langsung mengisyaratkan ke arah lift pribadi. Begitu pintu lift tertutup, Leonard menatap wajah Nadine yang lemas bersandar di dadanya. "Nadine... bangun. Kumohon." Suaranya tak lagi mengandung ancaman atau dingin seperti tadi. Kini hanya ada kekhawatiran yang mengental. Salah satu pengawalnya berbicara lewat earphone, “Dokter dalam perjalanan. Lima menit.” Begitu tiba di kamar, Leonard langsung membaringkan Nadine di atas ranjang king size yang terbuat dari satin putih. Ia mengambil bantal tambahan dan mengganjal kepala wanita itu, lalu melepas sepatunya dengan gerakan terburu-buru. "Nadine... kau dengar aku?" Gadis itu membuka mata pelan, kelopak matanya bergetar. Bibirnya kering, dan suaranya hanya terdengar lirih seperti bisikan angin, “Sakit... perutku... sesak...” Leonard menunduk, mengelus dahi Nadine yang basah keringat dingin. “Tenang, dokter akan segera datang.” Nadine mencoba menelan ludah tapi kesulitan. “Aku belum makan dari tadi pagi...” katanya nyaris tak terdengar. Mata Leonard memejam tajam sejenak. Ia merasa ingin menghantam dinding. “Kau ke pesta seperti ini tanpa makan apa pun?” Ia menggertakkan gigi. Nadine hanya mengerjap, kesakitan. Perutnya seperti ditusuk dari dalam. d**a dan tenggorokannya panas, sesak seperti dicekik dari dalam. Rasa nyeri itu menjalar hingga punggung dan menjalar ke bahu. Ia menggenggam seprai, berusaha menahan rasa terbakar itu. Tak lama, pintu kamar terbuka. Seorang dokter pria paruh baya masuk tergesa, membawa tas medis. Di belakangnya, dua asisten medis mengikuti dengan peralatan tambahan. Leonard berdiri cepat. “Tangani dia sekarang.” Dokter segera mendekat, memeriksa tekanan darah, mendengarkan detak jantung, dan menginstruksikan asisten untuk memasang infus. “Dia kena serangan gerd berat. Kemungkinan lambungnya luka karena stres dan tidak makan. Kombinasi yang sangat buruk,” jelas dokter cepat sambil menyuntikkan obat antasida intravena. Leonard mengangguk tanpa berkata. Matanya tetap tertuju pada Nadine yang kini mulai bernafas lebih pelan dan teratur setelah disuntik. Tubuhnya masih lemah, tapi setidaknya kesakitan itu sedikit mereda. Setelah dokter memastikan Nadine dalam kondisi stabil, Leonard baru bergerak. Ia duduk di sisi tempat tidur, mengusap pelipisnya yang berkeringat karena tegang. Nadine membuka mata tipis, menatap Leonard lemah. “Maaf.” “Jangan minta maaf. Istirahat saja,” kata pria itu lembut. "Tapi jadilah kekasihku, Nadine." Kalimat itu terdengar sayup-sayup di telingat Nadine. "Kekasih?" batin wanita itu, "Aku tidak bisa memikirkan apapun." Kesadarannya pun menghilang. Di luar kamar, para pengawal berjaga ketat, menjaga agar tak satu pun orang dari pesta mendekat. ENtah apa yang terjadi esok hari, bisa saja skandal panas menerpa dua insan yang terpisah oleh kesadaran. Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN