Nadine menegang. “Maaf?” “Kau cuma beban,” potong Alexander tajam. “Kau mungkin berhasil menyihir rakyat bodoh dengan wajah polos dan gaya hidup sederhana itu, tapi bagiku, kau hanya pengganggu. Kau membuat Leonard terlihat lemah. Terlalu banyak drama murahan di sekelilingnya.” Victoria menyambung, dengan suara lebih halus tapi tak kalah menusuk, “Anakku akan menjadi presiden negeri ini. Ia butuh wanita yang setara, bukan pustakawan dari pinggiran yang terseret dalam skandal hotel dan dibela netizen karena dikasihani.” Nadine menahan napas. Luka-luka lama seperti dikorek kembali. Ia berusaha tenang. “Leonard yang memilih bertahan. Saya tidak pernah minta semua ini.” Alexander berdiri. “Aku tidak akan membiayai satu sen pun lagi untuk kampanye Leonard jika kau tetap berada di sisinya. A

