“Apa kamu sudah dapat sekretaris atau asisten yang akan membantu pekerjaan kamu, Kayra?” tanya Dito setelah menikmati hidangan makan malam.
“Belum kak. Belum ada yang cocok buat Kayra,” balas Kayra.
“Bagaimana kalau kakak yang akan mencarikan asisten buat kamu, Kayra?” sambung Dito.
“Tidak masalah sih buat Kayra. Tapi apa tidak akan mengganggu kerja kakak? Kakak kan sibuk,” seru Kayra
“Tidak apa-apa sayang. Insha Allah besok asisten itu sudah ada di kantor. Kamu tenang saja Kina,” tukas Dito
Kedua alis Kayra saling bertautan saat mendengarkan sang kakak mengucapkan dengan sangat santai tentang asisten yang akan membantu pekerjaan Kinara di kantor. “Besok?”
“Iya sayang. Besok asisten yang akan membantu pekerjaan kamu di kantor kakak pastikan sudah datang,” terang Dito.
“Baiklah. Terserah kakak saja. Kayra tidak ingin membantah ucapan kakak lagi,” seru Kayra.
“Iya sayang.. Kakak juga pasti tidak akan mengecewakan kamu. Kamu itu adik kesayangan kakak, Kayra. Kebahagiaan kamu itu kebahagiaan kakak juga,” pungkas Dito.
“Iya kak. Terima kasih kak,” balas Kayra.
Setelah berbincang santai Kayra kembali ke kamar untuk beristirahat. Namun tampaknya istirahat Kayra terganggu oleh suara dering ponsel yang berbunyi. Ponsel di atas nakas diraih oleh Kayra. Helaan nafas kasar terdengar dari bibir Kayra saat melihat ID pemanggil orang yang sangat dibenci oleh Kayra. Orang yang telah mengkhianati dan menyakiti Kayra, Endra laki-laki yang masih menjadi suaminya. Kayra kembali meletakan ponsel di atas nakas setelah mengubah setelan menjadi hening lalu Kayra memutuskan untuk kembali beristirahat.
***
Kayra yang sedang fokus memeriksa berkas mengalihkan pandangan saat sang kakak masuk dengan seorang pria yang tampan secara visual. Tidak dipungkiri oleh Kayra, sosok laki-laki yang kini bersama sang kakak di depan dirinya ini bak dewa Yunani. Tubuh menjulang tinggi, hidung mancung, kulit putih, rahang tegas, mata tajam bak elang. Kinara menatap sang kakak dengan tatapan penuh tanda tanya. Mengerti dengan arti tatapan sang adik, lantas sang kakak menjelaskan kepada Kayra tentang apa yang menjadi pertanyaan dalam benak Kayra saat ini dengan tersenyum hangat.
“Ini asisten baru kamu yang akan membantu kamu mengerjakan pekerjaan kantor Kayra,” ucap sang kakak, Dito.
“Laki-laki?” Tidak menjawab pertanyaan sang kakak. Namun Kayra mengajukan pertanyaan kepada sang kakak.
“Iya Kayra. Apa kamu keberatan? Apa kamu ada masalah jika asisten pribadi kamu seorang laki-laki?” balas Dito.
Kayra menghela nafas berat sebelum menjawab pertanyaan sang kakak. “Apa tidak ada yang perempuan kak? Kakak kan tahu kalau Kayra masih --. Ah.. Sudahlah. Kayra akan terima apapun keputusan kakak.” Kayra menyerah setelah mengingat janji yang telah diucapkan kepada sang kakak.
“Kayra.. Perkenalkan ini asisten baru kamu namanya Rendra. Rendra perkenalkan ini adik saya dan atasan kamu sekarang namanya Kayra. Saya biasa memanggil adik saya, Kayra.” Dito memperkenalkan Kayra kepada Rendra asisten barunya dan juga sebaliknya.
Kedua tangan itu saling bertemu untuk berjabat tangan. Entah mengapa ada yang berdesir dalam hati Rendra setelah menyentuh kulit tangan Kayra. Rendra menatap lekat ke arah Kayra sehingga Kayra merasa risi dengan tatapan Ethan.
‘Wanita yang cantik,’ batin Rendra
Melihat interaksi antara Rendra dan Kayra lantas sang kakak mengulum senyuman penuh arti sembari menatap ke arah Kayra.
‘Semoga rencana aku berhasil. Aamiin...’ batin Dito.
“Kalau begitu kakak tinggal ke perusahaan kakak iya Kayra. Kamu kan sudah ada yang membantu di sini. Percaya sama pilihan kakak, Kayra. Rendra akan membantu kamu di sini dengan baik,” ucap Dito.
“Iya kak. Terima kasih. Kakak hati-hati iya Kayra. jalan. Jangan main ngebut kak,” balas Kayra.
“Iya sayang. Kakak pergi dulu iya sayang.. Assalamu’alaikum,” pamit Dito.
“Wa'alaikumsalam..” Kayra dan Rendra membalas salam sang kakak dengan kompak.
Dito pergi meninggalkan ruangan Kayra setelah berpamitan dengan sang adik dan Rendra. Perasaan tenang menyelimuti dalam diri Dito setelah kehadiran Rendra di kantor yang dikelola Kayra. Dito telah lama mengenal Rendra dan Dito yakin Rendra akan membawa pengaruh yang baik kepada sang adik, Kayra.
Kayra dan Rendra kini sedang membahas pekerjaan di ruangan meeting. Ethan juga mulai merencanakan jadwal Kayra dan program kerja ke depan. Kayra dan Rendra sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing walaupun berada di ruangan yang sama, namun mereka sama sekali belum berinteraksi satu sama lain.
“Hari ini meeting jam berapa Rendra?” tanya Kayra tanpa mengalihkan perhatian dari layar pipih di depan dirinya.
“Setelah makan siang bu. Tapi nanti jam sembilan ada kunjungan ke proyek di daerah Jakarta Pusat. Apa ibu akan ke sana atau diwakilkan okeh saya?” jawab Rendra.
“Kita ke sana bersama sebentar lagi. Saya menyelesaikan pekerjaan ini sedikit lagi,” sambung Kayra.
“Baik bu. Saya permisi ke ruangan dulu bu,” pamit Rendra dengan sopan.
“Iya..” Kayra membalas ucapan Rendra sembari menganggukkan kepala.
Rendra keluar dari ruangan Kinara setelah mendapatkan ijin dari atasannya untuk kembali ke ruangan yang berada di samping ruangan Kayra. Sementara itu Kayra kembali berkutat dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya itu.
***
Disinilah Kayra dan Rendra berada saat ini, proyek pembangunan hotel yang berada di kawasan Jakarta Pusat. Kayra sedang memeriksa hasil kerja anak buahnya didampingi oleh Rendra. Namun sial, Kayra harus bertemu dengan orang yang sangat dibencinya karena telah mengkhianati cinta tulus dari dirinya, Endra laki-laki yang masih berstatus suaminya itu kini sedang berjalan ke arah Kayra dengan menyunggingkan senyum bahagia karena dapat melihat wajah wanita yang sangat dicintainya itu setelah beberapa hari tidak melihat Kayra. Melihat Endra yang sedang berjalan menuju ke arah dirinya, lantas Kayra memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu dan menitip pesan kepada Rendra asistennya untuk menangani proyek hotel saat ini.
“Kamu tolong periksa proyek ini. Saya akan tinggalkan kamu di sini. Tolong jangan bilang ke orang itu kalau saya pemilik proyek ini. Bilang saja ke dia kalau kamu atasan di sini,” ucap Kinara sembari menunjuk ke arah Endra sebelum pergi meninggalkan Rendra tanpa menunggu balasan dari asistennya itu.
Rendra yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa menganggukkan kepala menjawab ucapan atasannya yang telah pergi meninggalkan dirinya di sana. Rendra mendengus kesal melihat sikap wanita yang kini menjadi atasannya itu.
“Halo.. Apa boleh saya bertanya?” ucap Endra menyapa hangat Rendra.
“Iya Pak. Apa ada yang bisa saya bantu Pak?” jawab Rendra dengan sopan.
“Apa anda mengenal dengan wanita yang tadi bersama anda?” sambung Endra.
“Kayra?” balas Rendra seolah sedang bertanya kepada Endra.
“Iya.. Kayra. Apa anda mengenal Kayra?” lanjut Endra.
“Iya.. Saya mengenal Kayra. Wanita yang anda maksud itu sekretaris pribadi saya. Apa bapak mengenal Kayra? Maksud saya ada urusan apa bapak dengan sekretaris pribadi saya? Mohon maaf jika saya lancang ingin tahu lebih jauh tentang hubungan bapak dan sekretaris pribadi saya,” terang Rendra.
“Sekretaris?” tanya Endra dengan tatapan tidak percaya.
“Iya. Apa ada yang salah dengan ucapan saya pak?” jawab Rendra.
“Tidak ada pak. Saya permisi,” pamit Endra.
Endra pergi meninggalkan Rendra dengan raut wajah penuh kekecewaan karena tidak dapat bertemu dengan Kayra, wanita yang saat ini masih menjadi istrinya. Ya. Kayra benar-benar menghindari bertemu dengan Endra suaminya. Kayra telah memutuskan untuk move on. Namun Kayra merasa tidak sudi jika harus bertemu dengan Endra, laki-laki yang kini masih berstatus sebagai suaminya.