Kayra menghempaskan tubuh di atas kursi kebesarannya setelah tiba di perusahaan. Emosi Kayra seketika naik setelah melihat Ega, suaminya di proyek beberapa saat yang lalu.
Argghhh..
Kayra menghempaskan barang yang berada di atas meja kerjanya ke lantai. Emosi Kayra tidak dapat dikontrol kali ini. Rasa sakit yang sempat lenyap beberapa hari ini seketika hadir saat bertemu dengan Endra. Apalagi melihat senyum Endra yang seakan tidak ada rasa bersalah di sana. Dia laki-laki pertama yang membuat Kayra mengenal cinta. Dia laki-laki pertama yang mengajak Kayra menjalani hubungan pacaran dan menikah. Dia laki-laki pertama dalam hidup Kayra. Dia laki-laki pertama juga yang telah menyakiti hati Kayra. Mengkhianati cinta Kayra sekaligus menghancurkan hidup Kayra.
Rendra menatap sudut ruangan Kayra yang bak kapal pecah itu. Barang berserakan di atas lantai. Benda pecah belah sudah tidak berwujud lagi mengenaskan teronggok di sana. Rendra memberanikan diri menghampiri atasannya yang sedang tanpa kacau.
“Saya tidak tahu masalah apa yang sedang ibu Kina alami. Tapi rasanya tidak pantas jika ibu Kinara seperti ini,” ucap Rendra.
Jeder..
Kayra tercengang mendengar suara Rendra. Kayra mendongakkan wajah menatap ke arah Rendra dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
“Tahu apa kamu tentang hidup saya?” tanya Kayra dengan tatapan menyalang.
“Saya memang tidak tahu apa-apa tentang hidup bu Kayra. Bahkan saya juga tidak ingin tahu tentang masalah hidup bu Kayra. Tapi kalau saya jadi bu Kayra. Berada di posisi bu Kayra, bukan begini cara melampiaskan kekesalan atau amarah,” jawab Rendra dengan sikap tenang.
Kayra masih menatap ke arah Rendra dengan tatapan menyalang, “Pergi kamu dari sini! Jangan pernah ikut campur urusan saya!”
“Baik bu. Tapi saya harap bu Kayra tidak melakukan hal bodoh lagi. Saya percaya bu Kayra orang yang cerdas. Kalau bu Kayra tidak cerdas, tidak mungkin bu Kayra dapat memenangkan proyek besar ini,” sambung Rendra sebelum pergi meninggalkan ruangan Kayra.
“Pergi!” teriak Kayra dengan lantang mengusir Rendra dari ruangannya.
Rendra pergi meninggalkan ruangan Kinara setelah menasehati atasannya itu. Ya. Rendra memiliki misi sendiri bersama dengan Dito selain sebagai asisten pribadi Kayra. Dito memang tidak menceritakan detail masalah Kayra. Namun Dito telah menceritakan tentang rumah tangga sang adik yang kini sedang dalam proses perpisahan. Rendra mengetahui laki-laki yang ditemuinya tadi itu suami Kayra. Namun Rendra memilih untuk memainkan drama seperti apa yang telah direncanakan dengan Dito sehingga Rendra berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi di antara Kayra dan Endra.
Kayra menghela nafas berat setelah Rendra meninggalkan ruangannya. Kayra berusaha mencerna apa yang diucapkan oleh Rendra kepada dirinya beberapa saat yang lalu. Dengan bersandar pada punggung kursi kerja kebesarannya, Kayra memejamkan mata sembari mengatur pernafasan dengan pelan. Pikirannya menerawang akan pengkhianatan Endra, suaminya. Ucapan Rendra seketika terngiang dalam benak Kayra. Apa yang diucapkan oleh Rendra benar adanya jika tidak seharusnya Kayra seperti ini. Kayra tidak hanya harus bangkit. Tapi Kayra juga harus membuktikan dan balas dendam kepada dia pengkhianat itu.
Huh..
Satu helaan nafas berat kembali keluar dari bibir Kayra. Baiklah. Kayra tidak akan seperti ini lagi. Kayra harus bangkit dan balas dendam kepada Endra. Kayra dan Endra memang masih berstatus suami istri karena proses persidangan perpisahan mereka baru akan dimulai beberapa hari lagi. Tapi bagi Kayra, Endra itu mantan suaminya sekarang dan selamanya.
***
Endra membanting tas kerjanya ke atas tempat tidur setelah tiba di rumah. Emosi melanda Endra mengingat peristiwa siang tadi. Pertemuannya dengan Kayra yang masih menjadi istrinya saat ini membawa kebahagiaan sekaligus kesedihan. Bahagia, Endra dapat melihat sang istri kembali setelah beberapa hari tidak melihat sang istri. Sedih karena sang istri menghindari dirinya. Bahkan Endra tidak dapat percaya jika sang istri kini bekerja sebagai sekretaris mengingat keluarga sang istri merupakan keluarga kaya atau berada. Tidak mungkin sang istri bekerja di perushaan lain. Sang kakak ipar pasti akan membantu Kayra bekerja di perusahaan keluarga. Entahlah. Endra tidak dapat berpikir jernih hari ini.
Suara dering ponsel membangunkan Endra dari istirahatnya petang ini. Diambilnya ponsel yang berada di dalam tas kerja. Endra menghela nafas kasar saat mengetahui ID pemanggil yang tertera di layar ponsel.
Mayang..
Endra meletakan dengan asal ponsel yang berada di genggaman tangan dan kembali memejamkan mata tanpa menjawab panggilan dari wanita yang kini telah menjadi istri kedua Endra. Suara dering ponsel terus terdengar sehingga semakin menambah perasaan kesal dalam hati Endra. Dengan terpaksa Endra menerima panggilan telepon dari istri keduanya itu.
Mayang : Mas.. Dari mana saja sih seharian tidak ada kabar? Telepon Mayang tidak ada yang diangkat dari siang tadi?
Endra : Mas sibuk di proyek. Ada apa?
Mayang : Ada apa bagaimana? Mas kapan pulang ke Bandung?
Huft..
Satu helaan nafas terdengar dari bibir Endra sebelum menjawab pertanyaan Mayang. Ya. Endra menyadari perbedaan di antara Kayra dan Mayang sangat jauh. Bahkan jauh sekali. Namun nasi telah menjadi bubur dan Endra tidak dapat mengulang waktu. Endra hanya dapat berandai-andai tentang malam yang seharusnya tidak terjadi beberapa waktu yang lalu. Namun itu semua telah terjadi dan Endra tidak dapat memperbaikinya. Kayra telah menggugat cerai Endra. Kayra telah membenci Endra. Cinta pertamanya telah pergi karena kebodohannya. Cinta pertamanya telah sakit karena kesalahannya.
Endra mengacuhkan Mayang yang sedari tadi memanggil dirinya di seberang line. Endra masih larut dalam pikirannya tentang Kayra, wanita yang sangat dicintainya.
“Kenapa sih? Mas lelah baru pulang kerja. Mas mau istirahat dulu..” Endra menutup sambungan telepon tanpa menunggu balasan dari Mayang yang berada di seberang line lalu kembali memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya saat ini.
Bagaimana dengan Mayang?
Mayang tampak emosi dengan sikap Endra. Walaupun Mayang tahu jika Kinara telah meninggalkan rumah Endra. Namun kepergian Kayra tidak dapat membuat Mayang merasa tenang. Mayang percaya Endra masih mencintai Kayra. Mayang percaya Endra masih terbayang Kayra. Mayang merasa kesal karena dirinya selalu kalah dari Kayra sejak dulu. Rasa iri dalam diri Mayang membuat Mayang melakukan segala cara untuk menghancurkan kehidupan Kayra. Salah satunya merebut suami Kayra.
“Kamu tidak akan pernah bahagia Kayra. Aku akan menghancurkan hidup kamu lebih dari ini!” ucap Mayang dengan seringainya.
***
Rendra menautkan kedua alis saat melihat Kinara sedang berdiri di samping mobil sembari menghubungi seseorang. Rendra menepikan mobil lalu keluar dari mobil menghampiri Kayra.
“Ada yang bisa saya bantu bu Kayra?” tanya Rendra.
Kayra tersentak saat mendengar suara bariton yang tidak asing bagi dirinya lalu Kinara menoleh ke arah sumber suara. Apa yang ada dipikiriannya saat ini benar. Suara bariton itu milik asisten pribadi Kayra yang sedang berdiri sembari memasukan kedua telapak tangan ke dalam saku celananya.
“Apa ada yang bisa saya bantu bu Kayra? Sepertinya mobil bu Kayra mengalami masalah?” tanya Rendra.
Kayra menampilkan wajah datar sembari menatap ke arah Rendra. "Mobil saya mogok..”
“Saya akan mengantarkan bu Kayra pulang. Nanti mobil bu Kayra akan diurus oleh montir bengkel langganan saya. Itu juga kalau bu Kayra percaya. Ini sudah malam bu Kayra. Tidak baik wanita di tempat sepi seperti ini sendirian,” sambung Rendra.
Kayra tampak melipat dahi mempertimbangkan penawaran dari Rendra. Ada keraguan dalam pendar netra Kayra. Setelah berpikir cukup lama, Kayra menerapkan tawaran dari Rendra mengingat hari sudah malam dan tidak ada kendaraan umum yang melewati tempat di mana Kayra berada saat ini.
Senyum tipis tertampil dari wajah Rendra saat Kayra menerima tawaran untuk mengantarkan pulang. Namun Kayra tidak dapat melihat senyum di wajah Rendra. Rendra memutar kemudi mobil meninggalkan tempat itu setelah dirasa Kayra menggunakan seat belt dengan benar. Rendra juga telah menghubungi anak buahnya untuk memperbaiki mobil milik Kayra yang ditinggalkan di tempat itu.
“Bismillah..”