Hanif hanya bisa mendengus lagi, kali ini disertai sedikit rengekan. “Udah ah, jangan dibahas. Mending fokus. Kita ada rapat penting. Tender 200 Miliar kan? Harus clear semua detail anggarannya sebelum Abiyan balik.” “Setuju, Bapak Zombi. Ayo. Tapi serius, kalau lo tiba-tiba ngeong atau berubah jadi werewolf, gue nggak ikut-ikutan lho,” goda Aryan, akhirnya bangkit dan menepuk bahu Hanif. Mereka pun berjalan menuju Ruang Rapat Merah, ruangan terbesar dan paling mewah di lantai itu. Di sana, sudah berkumpul para kepala divisi—Divisi Keuangan yang dipimpin Bu Shinta yang selalu rapi seperti penggaris, Divisi Legal dengan Pak Bima yang kacamata tebalnya selalu melorot, dan tentu saja, Divisi Arsitek dan Proyek yang kali ini membawa Ardhana, arsitek muda yang terkenal brilliant tapi super s

