Cinta dan cerita hanif

1691 Kata

Hanif menahan senyum, mati-matian nggak mau tertawa. Gimana ia harus bereaksi? Ini adalah masakan pertama istrinya di rumah baru mereka. Nilam hanya nyengir, ia nggak menyadari ekspresi terkejut suaminya. "Mas, ini aku kasih nama Steak Kuntilanak Laper. Aku nggak punya pisau steak, jadi aku potongnya pakai pisau dapur biasa," jelas Nilam polos. "Wah, namanya unik banget, Sayang!" puji Hanif, berusaha nggak melihat steak itu terlalu lama. "Coba, sini aku suapin! Biar romantis kayak di film-film yang suka aku tonton di desa!" kata Nilam, mengambil potongan steak yang paling kecil, lalu menyuapi masakannya ke dalam mulut Hanif. Hanif mengunyahnya perlahan. Matanya memejam. Sumpah, rasa yang campur aduk ini benar-benar nggak bisa dijelaskan. Teksturnya keras seperti karet gelang, rasanya a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN